Minggu, 22 September 2013

dewata nawa sanga



TIMUR LAUT
Urip : 6;
Dewa : Sambu;
Sakti : Maha Dewi;
Senjata : Trisula;
Warna : Biru;
Aksara : Wa;
Bhuwana Alit : Ineban;
Tunggangannya : Wilmana;
Bhuta : Pelung;


Tastra : Pa dan Ja;
Sabda : Mang mang;
Wuku : Kulantir,Kuningan,Medangkungan,Kelawu;
Caturwara : Sri;
Sadwara : Urukung;
Saptawara : Sukra;
Astawara : Sri;
Sangawara : Tulus;
Dasawara : Sri;
Banten : Dewata-dewati, Sesayut Telik Jati, Tirta Sunia Merta;
Mantra : Ong trisula yantu namo tasme nara yawe namo namah, ersanya desa raksa baya kala raja astra, jayeng satru, Ong kalo byo namah.

PURWA / TIMUR
Urip : 5;
Dewa : Iswara;
Sakti : Uma Dewi;
Senjata : Bajra;
Warna : Putih;
Aksara : Sa (Sadhya);
Bhuwana Alit : Pepusuh;
Tunggangannya : Gajah;
Bhuta : Jangkitan;
Tastra : A dan Na;
Sabda : Ngong ngong;
Wuku : Taulu, Langkir, Matal, Dukut;
Dwiwara : Menga;
Pancawara : Umanis;
Sadwara : Aryang;
Saptawara : Redite;
Astawara : Indra;
Sangawara : Dangu;
Dasawara : Pandita;
Banten : Penyeneng, Sesayut Puja Kerti;
Mantra : Ong bajra yantuname tasme tikna rayawe namo namah purwa desa, raksana ya kala rajastra sarwa, satya kala byoh namah namo swaha.

GENYA / TENGGARA
Urip : 8;
Dewa : Mahesora;
Sakti : Laksmi Dewa;
Senjata : Dupa;
Warna : Dadu/Merah Muda;
Aksara : Na;
Bhuwana Alit ; Peparu;
Tunggangannya : Macan;
Bhuta : Dadu;
Tastra : Ca dan Ra;
Sabda : Bang bang;
Wuku : Uye, Gumbreg, Medangsia, Watugunung;
Caturwara : Mandala;
Sadwara : Paniron;
Saptawara : Wraspati;
Astawara : Guru;
Sangawara : Jangu;
Dasawara : Raja;
Banten : Canang, sesayut Sida Karya, Tirta Pemarisuda;
Mantra : Ong dupa yantu namo tasme tiksena nara yawe namo namah, genian dasa raksa raksa baya kala rajastra, jayeng satru kala byoh namo namah.


DAKSINA / SELATAN
Urip : 9;
Dewa : Brahma;
Sakti: Saraswati Dewi;
Senjata : Gada / Danda;
Warna : Merah;
Aksara : Ba;
Bhuwana Alit : Hati;
Tunggangannya : Angsa;
Bhuta : Langkir;
Tastra : Ka dan Da;
Sabda : Ang ang;
Wuku : Wariga, Pujut, Menail;
Triwara : Pasah;
Pancawara : Paing;
Sadwara : Was;
Saptawara : Saniscara;
Astawara : Yama;
Sangawara : Gigis;
Dasawara : Desa;
Banten : Daksina, Sesayut Candra Geni, Tirta Kamandalu;
Mantra : Ong danda yantu namo tasme tiksena nara yawe namo namah, daksina desa raksa baya, kala rajastra jayeng satru, Ong kala byoh nama swaha.

NORITYA / BARAT DAYA
Urip : 3;
Dewa : Rudra;
Sakti : Santani Dewi;
Senjata : Moksala;
Warna : Jingga;
Aksara : Ma;
Bhuwana Alit : Usus;
Tunggangannya : Kebo;
Bhuta : Jingga;
Tastra : Ta Dan Sa;
Sabda : Ngi ngi;
Wuku : Warigadian, Pahang, Prangbakat;
Caturwara : Laba;
Sadwara : Maulu;
Saptawara : Anggara;
Astawara : Ludra;
Sangawara : Nohan;
Dasawara : Manusa
Banten : Dengen dengen, Sesayut Sida Lungguh, Tirta Merta Kala, Tempa pada Usus;
Mantra : Ong moksala yantu namo tasme tiksena nara yawe namo namah, noritya desanya raksa baya kala rajastra, jayeng satru Ong kala byoh nama swaha.

PASCIMA / BARAT
Urip : 7;
Dewa : Mahadewa;
Sakti : Saci Dewi;
Senjata : Nagapasa;
Warna : Kuning;
Aksara : Ta;
Bhuwana Alit : Ungsilan;
Tunggangannya : Naga;
Bhuta : Lembu Kanya;
Tastra : Wa dan La;
Sabda : Ring ring;
Wuku : Sinta, Julungwangi, Krulut, Bala;
Triwara : Kajeng;
Pancawara : Pon;
Sadwara : Tungleh;
Saptawara : Buda;
Astawara : Brahma;
Sangawara : Ogan;
Dasawara : Pati;
Banten : Danan, Sesayut tirta merta sari, Tirta Kundalini;
Mantra : Ong Naga pasa yantu namo tasme tiksena nara yawe namo, pascima desa raksa bala kala rajastra, jayeng satru, Ong kala byoh namo namah swaha.

WAYABYA / BARAT LAUT
Urip : 1;
Dewa : Sangkara;
Sakti : Rodri Dewi;
Senjata : Angkus /Duaja;
Warna : Wilis / Hijau;
Aksara : Si;
Bhuwana Alit : Limpa;
Tunggangannya : Singa;
Bhuta : Gadang/Hijau;
Tastra : Ma dan Ga;
Sabda : Eng eng;
Wuku : Landep, Sungsang, Merakih, Ugu;
Ekawara : Luang;
Caturwara : Jaya;
Astawara : Kala;
Sangawara : Erangan;
Dasawara : Raksasa;
Banten : Caru, Sesayut candi kesuma, Tirta Mahaning;
Mantra : Ong duaja yantu namo tiksena nara yawe namo, waybya desa raksa baya kala rajastra, jayeng satru, Ong kalo byoh namo namah swaha.

UTTARA / UTARA
Urip : 4;
Dewa : Wisnu;
Sakti : Sri Dewi;
Senjata : Cakra;
Warna : Ireng / Hitam;
Aksara : A;
Bhuwana Alit : Ampru;
Tunggangannya : Garuda;
Bhuta : Taruna;
Tastra : Ba dan Nga;
Sabda : Ung;
Wuku : Ukir, Dungulan, Tambir, Wayang;
Dwiwara : Pepet;
Triwara : Beteng;
Pancawara : Wage;
Saptawara : Soma;
Astawara : Uma;
Sangawara : Urungan;
Dasawara : Duka;
Banten : Peras, Sesayut ratu agung ring nyali, Tirta Pawitra;
Mantra : Ong cakra yantu namo tasme tiksena ra yawe namo namah utara desa raksa baya, kala raja astra jayeng satru, Ong kala byoh namo namah swaha.


MADYA / TENGAH
Urip : 8;
Dewa : Siwa;
Sakti : Uma Dewi (Parwati);
Senjata : Padma;
Warna : Panca Warna;
Aksara : I (Isana) dan Ya;
Bhuwana Alit : Tumpuking Hati;
Tunggangannya : Lembu;
Bhuta : Tiga Sakti;
Tastra : Ya dan Nya;
Sabda : Ong;
Saptawara : Kliwon;
Sangawara : Dadi;
Banten : Suci, Sesayut Darmawika, Tirta Siwa Merta, Sunia Merta, Maha Merta;
Mantra : Ong padma yantu namo tasme tiksena nara yawe namo namah, madya desa raksa baya, kala rajastra jayeng satru kala byoh namo swaha.

Sabtu, 21 September 2013

saiva sidhanta II



PENYATUAN SAIVA SIDDHANTA DI SANGGAH MERAJAN
(Oleh: Ni Kadek Nita Purnamiasih)


2.1        Sejarah Sanggah Merajan Pasek Gelgel Desa Selat
Pada zaman Kerajaan Klungkung di ceritakan bahwa leluhur yang pertama dari Klungkung, pergi ke Bali Utara yaitu Kabupaten Buleleng  sekarang pertamanya beliau tinggal disebelah Utara Pasar Buleleng sekarang, disana beliau menikah dan mendirikan sebuah Merajan, beliau memiliki 3 orang anak  yaitu 2 orang laki-laki dan 1 orang perempuan.  Setelah putra Beliau besar Beliau pergi kebarat, yang diikuti oleh putra beliau yang nomer 2 dan putrinya yang bungsu. Sedangkan putra beliau yang pertama tetap tinggal di Utara Pasar Buleleng hingga saat ini.
Bersama kedua anaknya belau pergi menuju kebarat dan sampai di sebuah desa yang bernama Desa Selat, serta menetap tinggal disana. Putra belau yang kedua inilah yang menurunkan putra-putranya sampai sekarang dan menjadi banyak dan mendirikan sanggah Merajan di sebelah timur Desa Selat. Lama-kelamaan entah karena apa terjadilah konflik kecil dalam keluarga sehingga tanah beserta merajannnya dijual, dan sempat ikut nyungsung Merajan istrinya yang ada di banjar Gambuh Desa Selat selama beberapa tahun lamanya.
Pada tahun 1963 terjadilah musibah yang menyebabkan banyak keluarga yang sakit, kemudian para penglingsir mencoba mencari tahu penyebab musibah itu terjadi dengan menanyakan pada orang pintar ( dukun) yang dipercaya, disanalah para penglingsir itu mendapatkan informasi atau petunjuk dari  leluhur atau Ida Bhatara Kawitan bahwasannya tidak membenarkan ikut menyungsung Merajan pihak Ibu karena tidak ada kaitan leluhur disana dan seharusnya merajan yang disungsung (mong) adalah Merajan Purusa dan diminta memdirikan Merajan di tempat tinggal yaitu di Desa Selat, bila tidak ditepati apa  petunjuk dari leluhur itu, musibah yang menimpa tidak akan berhenti malah bisa berkibat fatal yaitu akan menyebabkan kematian.
Berdasarkan adanya petunjuk tersebut maka didirikan dua buah Palinggih yang disebut kemulan untuk memuja leluhur yang dibuat dari bambu dan carang dapdap, yang kemudian berangsur-angsur dilengkapi dengan Palinggih yang lain hingga taun 1965 ditambah lagi dengan Palinggih Ida Bhatara Kawitan beserta Piasannya. Kemudian pada tahun 2007 baru bisa dilaksanakan upacara Dewa Yadnya yaitu upacara Nampi Linggih atau Ngenteg Linggih maka dilengkapilah dengan bangunan Gedong simpen yang Fungsinya sebagai tempat menyimpan Prelingga Ida Bhatara.

Pelinggih Kemulan Turus Lumbung
Kemulan turus lumbung adalah sanggah kemulan darurat, kerena satu dan lain hal belum mampu membuat yang permanen. Bahannya dari turus kayu dapdap (kayu sakti) ataupun bambu,fungsinya hanyalah untuk ngelumbung atau ngayeng Hyang Kamulan atau Hyang Kawitan. Satu tahun setelah membuka karang baru diharapkan sudah membangun Kamulan yang permanen. (Wikarman,1998 : 23)
Pelinggih ini ada dua buah bangunan yang masih menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, yang masing-masing bangunan berbeda bahan pembuatannya. Ada yang dibuat dari bambu dan ada yang dibuat dari dapdap, hal yang melatarbelakangi perbedaan bahan pembuat pelinggih ini tidak ada yang tahu karena pelingsir-penglingsirnya sudah meninggal. Walaupun bangunannya berbeda bahan pembuatannya namun memiliki 1 fungsi yaitu untuk memuja rwa bhineda, yag disimbolisasikan sebagai akasa dan pertiwi atau ayah dan ibu (Purusa dan Pradana), Pelinggih ini berada disebelah timur dan menghadap ke barat.
Banten yang digunakan dalam pemujaannya di tiap-tiap pelinggih yang ada di sanggah jajaran tidak ada ketentuan, semuanya diserahkan kepada pemedek mau menghaturkan banten apa, disesuaikan dengan kemampuan para pemedek itu sendiri agar tidak terjadi keterpaksaan, tapi kebanyakan pemedek menghaturka canang rake istilah pemedek, banten ini terbuat dari canang, buah, pisang, jaje.
Untuk penggunaan mantram dalam memuja dan menghaturkan banten ditiap-tiap pelinggi disanggah jajaran biasanya pemanggku menggunakan mantra see yang diucapkan oleh pemengku tanpa menggunakan ketentuan sastra, tapi ada juga pemangku yang mengguhnkan mantra yang bersumber dari, perbedaan ini terjadi karena perbedaan pengetahuan para pemangku terhadap sumber sastra.
Pelinggih Suring Kelapa (Ida Bhatara Suring Kelapa)
Pelinggih ini terbuat dari kayu Cendana dan atapnya terbuat dari seng, pelinggih ini berada disebelah selatan dari Pelinggih Kemulan Turus lumbung. Pelinggih ini berfungsi untuk memuja Ida Bhatara Suring Kelapa yang berstana di kubutambahan.
Pelinggih Pucak Manik Gunung Sinunggal.
Pelinggih ini terbuat dari bahan kayu Cendana dan atapnya terbuat dari seng, Pelinggih ini dibangun disebelah timur menghadap ke barat dan letaknya berada disebelah selatan dari Pelinggih Suring kelapa. Pelinggih ini memiliki fungsi sebagai penyewangan dalam memuja Manifestasi Ida Bhatara yang berstana di parahyangan / Pucak Manik Gunung Sinunggal yang berada di Desa Tajun Kecamatan kubutambahan.
Pelinggih Idewa Ayu Manik Toya
Pelinggih ini terbuat dari bahan kayu Cendana dan beratapkan seng, pelinggih ini berada disebelah selatan dari pelinggih pucak manik gunung sinunggal taju, pelinggih ini berada disebelah timur dan menghadap ke sebelah barat. Pelinggih ini dipergunakan untuk memuja dan menghormati Ida Sang Hyang Widhi yang dalam perwujudannya nyata adalah air sebagai sumber kehidupan semua makhluk ciptaan tuhan, dengan kata lain pelinggih ini dipergunakan sebagai tempat pemujaan kepada dewa Wisnu.
Pelinggih Idewa Ayu Manik Galih / Rambut Sedana
Pelinggih ini terbuat dari bahan kayu  Cendana dengan atap yang terbuat dari seng, pelinggih ini berada disebelah timur dan menghadap ke barat. Pelinggih ini memiliki fungsi untuk memuja Dewi sri sebagai sati dari Dewa Wisnu, dimana Dewi Sri merupakan Dewi kesuburan atau Dewinya Padi/ beras yang menjadi makanan kita.
Banten yang digunakan dalam pemujaannya tidak ada ketentuan, semuanya diserahkan kepada pemedek mau menghaturkan banten apa, disesuaikan dengan kemampuan para pemedek itu sendiri agar tidak terjadi keterpaksaan, tapi kebanyakan pemedek menghaturka canang rake istilah pemedek, banten ini terbuat dari canang, buah, pisang, jaje.
Untuk penggunaan mantram dalam memuja dan menghaturkan bantennya secara khusus biasanya pemanggku menggunakan mantra see yang diucapkan oleh pemengku tanpa menggunakan ketentuan sastra, tapi ada juga pemangku yang mengguhnkan mantra yang bersumber dari, perbedaan ini terjadi karena perbedaan pengetahuan para pemangku terhadap sumber sastra.
Pelinggih Idewa Bagus Gegelang
Pelinggih ini terbuat dari bahan kayu Cendana dan atap yang terbuat dari seng, pelinggih ini berada disebelah timur dan menghadap ke barat. Pelinggih ini memiliki fungsi sebagai pemujaan dan penyawangan terhadap leluhur yang dulu pernah tinggal dijawa pada masa pemerintahan Kerajaan Gegelang.

Pelinggih Ida Bhatara Puncak Manik Gunung Agung.
Pelinggih ini terbuat dari bahan kayu  Cendana dan atap yang terbuat dari seng, pelinggih ini berada disebelah timur dan menghadap ke sebelah barat. Pelinggih ini memiliki fungsi sebagai tempat penyawangan pemujaan terhadap Ida Bhatara yang berstana di puncak Gunung Agung yang berada di kabupaten Karangasem.
Pelinggih Kemulan Rong Tiga Sakti
Pelinggih ini terbuat dari kayu Cendana dan beratap yang terbuat dari seng, pelinggih ini berada disebelah timur dan menghadap kesebelah barat, pelinggih ini memiliki fungsi sebagai tempat pemujaan tri murti yaitu Brahma, Wisnu dan Siwa, yang masing-masing meliki fungsi sebagai pencipta, pemelihara dan pemralina (Uttpeti, Stithi dan Pralina).
Beliau yang bergelar Tri Murti, Tri Purusa dengan wujud Trilingganya, yaitu Siwa adalah Tuhan dalam dimensi imanen (sakala), Sadasiwa adalah Tuhan dalam dimensi sakala-niskala (Ardanareswara) dan Paramasiwa adalah Tuhan dalam dimensi niskala (Transendental). Oleh karena Siwa eraspek tiga sebagai Tri Purusa maka Guru pun ada tiga aspek pula, yakni Guru Purwam, Guru Madyam, dan Guru Rupam. Guru Purwam adalah guru dalam dimensi Niskala, Guru Madyam adalah guru dalam dimensi Sakala-Niskala sedangkan Guru Rupam adalah guru dalam dimensi Sakala (imanen).(Wikarman, 1998 : 13)
 Adapun mantramnya secara umum yaitu:
Om Guru Dewa Guru Rupam
Guru Madyam Guru Purwam,
Guru Pantaram Dewam,
Guru Dewa Sudha nityam
                                             (Anandakusuma ,Dewayadnya : 45)
Yang artinya:
“Om Guru Dewa, yaitu Guru Rupam (sakala), Guru madya (Sakala-Niskala) dan Guru Purwa (niskala) adalah guru para dew. Dewa Guru Suci selalu.
Pelinggih Sang Hyang Surya / padmasana / Surya Padma Capah
Pelinggih ini jika disanggah tunggalan saya lebih mengenal pelinggih ini sebagai pelinggih surya, pelinggih ini terbuat dari bahan batu paras tanpa dilenggkapi dengan nagabanda. Pelinggih ini berada disebelah tenggara dan menghadap ke sebelah barat laut,berfungsi sebagai tempat pemujaan Sang hyang  Surya sebagai dewa penguasa sinar.
Pelinggih Dewa Bagus Natarawes
Pelinggih ini terbuat dari kayu cendana dan beratap yang terbuat dari seng, pelinggih ini berada disebelah selatan dan menghadap ke utara. Memiliki fungsi sebagai tempat pemujaan untuk meminta petunjuk saat melakukan kegiatan keluarga seperti parumaan agar kagiatan bisa berjalan dengan lancar dan tanpa ada gangguan apapun yang bisa membuat misalnya pertengkaran dan lain-lain.
Pelinggih Dewa Ayu Mas Nganten
Pelinggih ini terbuat dari bahan kayu cendana dengan atap yang terbuat dari bahan seng, pelinggih ini berada disebelah selatan dan menghadap ke sebelah utara, pelinggih ini berfungsi sebagai simbol keluarga bagi yang ingin berkeluarga, sebagai tempat pemujaan kepada Ida Semara Ratih bagi yang ingi menikah agar kehidupannya nanti pas setelah menikah bisa damai, rukun, bahagia, sejahtra dan rukun sehingga kehidupan berkeluarganya kelak terhindar dari yang namanya percekcokan.
Pelinggih Ida Bhatara mataung
Pelinggih ini terbuat dari bahan kayu cendana dengan atap yang beratapkan dari bahan seng, pelinggih ini berada di sebelah selatan dan menghadap kesebelah Utara. Memiliki fungsi sebagai tempat penyawangan dan memuja Ida Bhatara Baruna yang berstana di pura Segara yang juga merupakan sumber kehidupan manusia.
Pelinggih Dewa bagus majapahit
Pelinggih ini disebut juga sebagai Pelinggih Manjangan salwang, pelinggih ini merupakan stana Mpu Kuturan  dengan bhiseka limaspahit, pnyebar dan penyempurna agama Hindudi Bali abad-10. (Pasek Gunawan,2012 : 23).
Pelinggih ini terbuat dari bahan kayu Cendana dan atapnya terbuat dari bahan seng, pelinggih ini berada didepan pelinggih Ida Bhatara Mataung,yang berada disebelah selatang dan menghadap ke utara. Pelinggih ini juga dilengkapi dengan patung kepala Rusa atau Manjangan lengkap dengan tanduknya, patung ini terbuat dari kayu Cendana juga. Pelinggih ini juga berfungsi yang sama dengan Pelinggih manik Gegelang yaitu sebagai penyawangan memuja leluhur yang berasal dari kerajaan majapahit yang dulunya berada di Jawa.
Gedong Simpen
Bangunan ini berada disebelah selatan dan menghadap ke utara tepatnya berada didepan Piasan merajan. Bangunan ini terbuat dari beton dan kayu cendana dengan atap yang tebuat dari genteng, bangunan ini berfungsi sebagai tempat penyimpana Pralingga Ida Bhatara dan leluhur.
Pelinggih Taksu
 
Taksu adalah nama sebuah pelinggih yang terdapat di samping pelinggih kamulan Rong tiga, Gedong Siwa maupun Gedong Kawitan. Taksu berarti magic atau sakti. Sakti adalah simbol dari pada Bala atau Kekuatan (Swastika,2007:19)
Pelinggih ini ada dua, ada yang berada di sebelah timur dan menghadap ke barat dan ada juga yang berada disebelah selatan dan menghadap ke utara. Pelinggih ini terbuat dari batu paras. Pelinggih ini berfungsi sebagai pengiring Ida Bhatara yang berstana di merajan.
Fungsi lain dari taksu ini yaitu (1) Untuk Memohon kekuatan Gaib untuk pekerjaan yang digeluti bagi siapa yang mendirikan bangunan tersebut, (2) untuk menerima tamu yang di undang dalam suatu upacara yaitu Dewa, Leluhur, Para Bhuta dan lain sebagainya, (3), Sebagai tempat “transit” Ida Bhatara ketika diadaka suatu piodalan. (pasek Gunawaan, 2012:21).
Piasan/ Pangruman Ida Bhatara Sami
Banguna ini berada disebelah utara dari Gedong Simpen, pelinggih ini berada diselatan dan menhgadap ke utara, pelinggih ini terbuat dari bahan kayu Cendana dan atap yang etrbuat dari bahan seng. Banguna ini berfungsi sebagai tempat Pangruman ida Bhatara dan tempat menghias Pralingga bila akan ada odalan.
Piasan merupakan stana Bhatara dan Bhatari ketika dipersembahkan piodalan atau ayaban jangkep (harum-haruman).sering juga disebut sebagai Balai Piasan (Pahyasan) karena Pralingga-pralingga dihias ketika dilinggihkan disini. (Pasek Gunawan, 2012:23).


Palinggih Pakanden Agung
Pelinggih ini berada di luar sanggah merajan, pelinggih ini terbuat dari batu bata dan campuran antara pasir dan semen. Pelinggih ini berda disebelah pintu masuk dan menghadap ke utara. Fungsi banguna ini yaitu sebagai pelinggih pengaman atau jaga-jaga ida bhatara.

b.      Komplek Kawitan.
Pelinggih Kawitan
Pelinggih ini terbuat dari kayu Cendana dengan atapnya terbuat dari duk yang bertumpang tiga. Pelinggih ini berbentuk meru tumpang 3 (tiga). Bangunan ini berada di luar dari pada komplek sanggah merajan,  pelinggih ini berada disebelah timur dan menghadap ke barat. Fungsi dari bangunan ini yaitu sebagai pemujaan Ida Bhatara Kawitan yang mempunyai klam Pasek Gel-gel atau mawiwit dari Pasek gel-gel. Penggunaan meru tumpang 3 (tiga) yaitu untuk memuja tuhan sebagai Siwa, Sadasiwa dan Paramasiwa, atau maksudnya penyungsungnya berawal dari Sang hyang Tiga yaitu Bhatara Putranjaya yang berstana di Gunung Agung, Bhatara Ganijaya yang berstana di Pura Lempuyang Luhur dan Dewi Danu yang berstana di Pura Batur Bangli.
Banten yang digunakan dalam pemujaannya di tiap-tiap pelinggih yang ada di kawitan tidak ada ketentuan, semuanya diserahkan kepada pemedek mau menghaturkan banten apa, disesuaikan dengan kemampuan para pemedek itu sendiri agar tidak terjadi keterpaksaan, tapi kebanyakan pemedek menghaturka canang rake istilah pemedek, banten ini terbuat dari canang, buah, pisang, jaje.
Untuk penggunaan mantram dalam memuja dan menghaturkan banten ditiap-tiap pelinggi dikawitan biasanya pemanggku menggunakan mantra see yang diucapkan oleh pemengku tanpa menggunakan ketentuan sastra, tapi ada juga pemangku yang mengguhnkan mantra yang bersumber dari, perbedaan ini terjadi karena perbedaan pengetahuan para pemangku terhadap sumber sastra.
Piasan Kawitan
Banguna ini berada ditimur dan menhgadap ke barat, pelinggih ini terbuat dari bahan kayu Cendana dan atap yang etrbuat dari bahan seng. Piasan Kawitan ini jauh lebih Kecil dibandingkan dengan Piasan Merajan Banguna ini berfungsi sebagai tempat Pangruman ida Bhatara Kawitan beserta para Pengikutnya dan tempat menghias Pratima  bila akan ada odalan.

Pelinggih Taksu Kawitan
Taksu adalah nama sebuah pelinggih yang terdapat di samping pelinggih kamulan Rong tiga, Gedong Siwa maupun Gedong Kawitan. Taksu berarti magic atau sakti. Sakti adalah simbol dari pada Bala atau Kekuatan (Swastika,2007:19)
Pelinggih ini berada di sebelah timur dan menghadap ke barat. Pelinggih ini terbuat dari batu paras. Pelinggih ini berfungsi sebagai pengiring Ida Bhatara yang berstana di Kawitan.
Fungsi lain dari taksu ini yaitu (1) Untuk Memohon kekuatan Gaib untuk pekerjaan yang digeluti bagi siapa yang mendirikan bangunan tersebut, (2) untuk menerima tamu yang di undang dalam suatu upacara yaitu Dewa, Leluhur, Para Bhuta dan lain sebagainya, (3), Sebagai tempat “transit” Ida Bhatara ketika diadaka suatu piodalan. (pasek Gunawaan, 2012:21).
Pelinggih Pekandel Agung
Pelinggih ini berada di luar Komplek Kawitan, pelinggih ini terbuat dari batu bata dan campuran antara pasir dan semen. Pelinggih ini berda disebelah pintu masuk dan menghadap ke utara. Fungsi banguna ini yaitu sebagai pelinggih pengaman atau jaga-jaga ida bhatara Kawitan.

c.       Komplek Paibon
Pelinggih Paibon
Pelinggih ini berada di tingkat paling bawah, pelinggih ini terbuat dari bangunan dan kayu Cendana, banguna ini menjadi satu dengan piasannya. Pelinggih ini berada di sebelah selatan dan menghadap ke utara. Fungsi banguna pelinggih ini yaitu sebagai pemujaan terhadap leluhur, dan tempat paruman dan peristirahatan bagi para leluhur. Piodalannya pada rahinan hyang tepatnya 2 minggu sebelum Galungan yaitu pada hari Budha Umanis wuku Julungwangi.
Banten yang digunakan dalam pemujaannya menghaturka penek istilah pemedek, banten ini terbuat dari canang yang tidak menggunkan bunga warna merah, buah yang tidak berduri, pisang, jaje.
Untuk penggunaan mantram dalam memuja dan menghaturkan bantennya secara khusus biasanya pemanggku menggunakan mantra see yang diucapkan oleh pemengku tanpa menggunakan ketentuan sastra, tapi ada juga pemangku yang mengguhnkan mantra yang bersumber dari, perbedaan ini terjadi karena perbedaan pengetahuan para pemangku terhadap sumber sastra.
Candi bentar

Candi Bentar
Orang Bali membangun tempat sembahyang mereka menyerupai pura-pura yang merupakan simbol Gunung MahaMeru. Pangkal gunung dilukiskan dengan Candi Bentar, yaitu pintu terpisah. Sedangkan madya atau bagian tengah gunung tersebut dilukiskan dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang hutan seperti misalnya Bhoma yang melambangkan pohon kayu yang besar. Bhoma artinya kayu yang tumbuh dari bumi. Bongkol kayu diumpamakan kepala dengan ranting-rantingnya berupa tangan yang memegang daun-daun dan bunga-bungaan. Di samping itu, di dalam Kori Agung digambarkan pula binatang hutan seperti gajah atau Karang Asti, singa atau Karang Sae, burung gagak atau Karang Guak, dan sebagainya.
Gunung MahaMeru itu memiliki banyak puncak. Salah satu yang tertinggi adalah puncak MahaMeru atau Kailasa sebagai tempat bertahtanya Batara Siwa. Dari kata MahaMeru itulah timbul kata Meru sehingga pura di Bali itu sebenarnya adalah simbol Gunung MahaMeru tempat bertahtanya Batara Siwa. Sebab itu bentuk Kori Agung sangat disucikan dan dikeramatkan. Sedangkan Candi Bentar dianggap kurang sakral daripada Meru karena merupakan simbol pangkal gunung. Namun, di dalam komposisinya Candi Bentar merupakan satu kesatuan dengan Kori Agung dan Meru. Tegasnya, pura adalah simbol dari gunung yang merupakan tempat simbolis bersemayamnya Ida Sang Hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa. Sebab itu, Candi Bentar, Kori Agung, dan Meru hanya bisa dibuat untuk melukiskan gunung atau pura.(http://baliblide.blogspot.com/2008/08/candi-bentar-dan-meru.htm :20:53)
Candi Bentar merupakan simbol dari gunung yang terbelah yang biasanya dapat kita lihat ada disamping kiri dan kanan pintu masuk, disanggah merajan saya ada tiga buah Candi Bentar yang terpasang dimasing-masing kompleks sanggah Jajaran, Kawitan dan juga Paibon, halo ini dikarenakan kawitan dan Paibon da sanggah merajan saya letaknya berjauhan dan masing-masing ada kompleknya tetapi masih dalam satukesatuan sanggah merajan. Fungsi dari Candi Bentar ini adalah berfungsi untuk pintu masuk ke halaman pertama dari pura. Untuk memasuki halaman kedua (jeroan pura) melalui candi kurung atau kori agung dengan berbagai macam bentuk variasi dan hiasannya.( http://www.babadbali.com/pura/pura-kahyangan-tiga-2.htm:21:15)
Pelinggih Lebuh
Pelinggih penuun Karang/Lebuh adalah pelinggih hyang ibu Pertiwi (Dewi Sri) juga Ratu Nyoman Sakti Pagadangan, raja dari segala Bhuta, dalam mitologi Hindu beliau tiada lain adlah Ganapati (Dewa Ganesa). Fungsinya adalah sebagai tempat untuk memuja yang memiliki pekarangan yang ditempat tinggali dalam tataran niskala.(Pasek Gunawan,2012:22) dan juga sebagai penjaga pertama sebelum memasuki kompleks sanggah Merajan, jika di ibaratkan seperti satpamnya para Dewa dan Para Leluhur, saat ingin masuk kerumah beliau harus minta ijin dulu kepada-Nya.

2.4        Konsep Penyatuan Siwa Sidhanta di Sanggah Merajan Dadia Pasek Gel-gel
Dari penjelasan saya diatas dapat kita lihat konsep penyatuan Siwa Siddhanta di Sanggah Merajan secara umum yaitu di mulai dari:
a.       Pelinggih Idewa Ayu Manik toya dapat kita lihat adanya pemujaan terhadap sekte Waisnawa dimana pada pelinggih ini terdapat pemujaan terhadap Dewa Wisnu yang merupakan dewa yang dipuja pada Sekte Waisnawa tersebut.
b.      Pelinggih Idewa Ayu Manik Galih, pada pelinggih ini terdapat pemujaan yang dilakukan terhadap sekte Waisnawa yang mana pada pelinggih ini terdapat pemujaan terhadap sakti dari Deewa Wisnu yaitu Dewi Sri sebagai Dewi Kesuburan, Kemakmuran dan kejayaan.
c.       Pelinggih Kemulan Tiga Sakti, pada pelinggih ini terdapat pemujaan yang dilakukan terhadap sekte Agni, sekte Siva, dan sekte Waisnawa yang digabungkan dalam pemujaannya sebagai Tri Murti.
d.      Pelinggih Sang hyang Surya atau Padmasana atau Padmonoja yang mana pada pelinggih ini terdapat pemujaan terhadap sekte Saiva Siddhanta yaitu pemujaan terhadap Siwa Raditya yaitu Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
e.       Pelinggih Taksu, pelinggih ini terdapat pemujaan terhadap sekte Sakta (sakti Tuhan).
f.       Pelinggih Ida Bhatara Mataung, pada pelinggih ini terdapat pemujaan terhadap sekte baruna yaitu pemujaan terhadap Dewa Baruna sebagai dewa Penguasa Lautan.
g.      Pelinggih pekandel Agung dan juga pelinggih lebuh, pada Pelinggih ini terdapat pemujaan terhadap sekte Ganapatya karena merupakan penjaga dari pelinggih Merajan dan Kawitan yang merupakan Raja dari para Bhuta (Ganapati).
Namun proses penyatuan secara khusus tidak ada yang tahu kapan terjadinya dikarenakan para penglingsir yang tahu akan sejarah pura merajan ini sudah Banyak yang meninggal Dunia. Sehingga tidak ada keterangan bagaimana prosesnya sehingga bisa terjadi.

III. PENUTUP
3.1.  Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat saya simpulkan bahwa:
a.       Sejarah merajan saya berawal dari leluhur saya yang berasal dari Klungkung dan pergi kesingaraja untuk merantau, sampai di bali Utara tepatnya Buleleng sekarang beliau menikah dan mempunyai 3 orang anak yaitu 2 orang putra dan 1 orang putra dan mendirikan sebuah merajan di sebelah utara dari pasar buleleng sekarang. Kemudian pergi menuju kebarat dan sampailah ke desa selat yang diikuti oleh anak kedua dan yang ketiga, disana beliau mendirikan merajan yang diteruskan oleh keturunannya, entah karena ada konflik sanggah beserta tanahnya dijual dan sempat ikut menyungsung merajan dari pihak pradana. Karena hal itu tidak benar maka terjadilah musibah yang menimpa para anak cucu beliau ini yaitu mereka terkene wabah penyakit, yang bisa hilang apabila mereka membangun merajan yang baru. Karena petunjuk itulah akhirnya mereka berhenti menyungsung merajan pradana, dan mendirikan merajan baru yang terletak disebelah barat dari pertigaan desa selat hingga saat ini.
b.      Proses penyatuan Saiva Siddhanta secara umum tidak ada yang  mengetahui hal itu disebabkan karena penglingsir-penglingsir yang tahu akan sejarah berdirinya merajan sudah banyak yang meninggal dunia. Tapi sekilas dapat saya jelaskan bahwa penyatuan Saiva Siddhanta ada dimerajan saya hal itu dapat dilihat dari pemujaan terhadap beberapa sekte yang ada di pelinggih-pelinggih seperti pemujaan terhadap sekte Waisnawa, Siva, Brahma/ Agni, Baruna, Siva Sidhantha, Sora dan ganaptya.
Daftar Pustaka

Anonim. http://www.babadbali.com/pura/pura-kahyangan-tiga-2.htm, di akses 07 Desember 2012,21:15
Anonim. http://www.baliblide.blogspot.com/2008/08/candi-bentar-dan-meru.htm, diakses 07 Desember, 20:53
Anonim. http://stitidharma.org/pura-dan-sanggah-pamrajan, diakses 18 Agustus 2012, 10:12
Anonim. http://stitidharma.org/pura-dan-sanggah-pamrajan/, diakses 23 Agustus 2012, 11:44
Gunawan, I Ketut Pasek. 2012. Siva Siddhanta II. Tanpa Penerbit.
Subagiasta, I Ketut. 2008. Pengantar Acara Agama Hindu.Surabaya:Paramitha
Wikarman,I Nyoman Singgin.1998. Sanggah Kamulan Fungsi dan Pengertiannya. Surabaya: Paramita