PENYATUAN
SAIVA SIDDHANTA DI SANGGAH MERAJAN
(Oleh: Ni
Kadek Nita Purnamiasih)
2.1
Sejarah
Sanggah Merajan Pasek Gelgel Desa Selat
Pada zaman Kerajaan Klungkung
di ceritakan bahwa leluhur yang
pertama dari Klungkung, pergi ke Bali Utara yaitu Kabupaten Buleleng sekarang pertamanya beliau tinggal disebelah
Utara Pasar Buleleng sekarang, disana beliau menikah dan mendirikan sebuah Merajan, beliau memiliki 3 orang anak yaitu 2 orang laki-laki dan 1 orang
perempuan. Setelah putra Beliau besar
Beliau pergi kebarat, yang diikuti oleh putra beliau yang nomer 2 dan putrinya
yang bungsu. Sedangkan putra beliau yang pertama tetap tinggal di Utara Pasar
Buleleng hingga saat ini.
Bersama kedua anaknya belau
pergi menuju kebarat dan sampai di sebuah desa yang bernama Desa Selat, serta
menetap tinggal disana. Putra belau yang kedua inilah yang menurunkan
putra-putranya sampai sekarang dan menjadi banyak dan mendirikan sanggah Merajan di sebelah timur Desa Selat.
Lama-kelamaan entah karena apa terjadilah konflik kecil dalam keluarga sehingga
tanah beserta merajannnya dijual, dan sempat ikut nyungsung Merajan istrinya yang ada di banjar
Gambuh Desa Selat selama beberapa tahun lamanya.
Pada tahun 1963 terjadilah
musibah yang menyebabkan banyak keluarga yang sakit, kemudian para penglingsir
mencoba mencari tahu penyebab musibah itu terjadi dengan menanyakan pada orang
pintar ( dukun) yang dipercaya, disanalah para penglingsir itu mendapatkan
informasi atau petunjuk dari leluhur atau Ida Bhatara Kawitan bahwasannya tidak membenarkan ikut menyungsung Merajan pihak Ibu karena tidak ada
kaitan leluhur disana dan seharusnya merajan yang disungsung (mong) adalah Merajan Purusa dan diminta memdirikan Merajan di tempat tinggal yaitu di Desa
Selat, bila tidak ditepati apa petunjuk
dari leluhur itu, musibah yang menimpa tidak akan berhenti malah bisa berkibat
fatal yaitu akan menyebabkan kematian.
Berdasarkan adanya petunjuk
tersebut maka didirikan dua buah Palinggih
yang disebut kemulan untuk memuja leluhur
yang dibuat dari bambu dan carang dapdap, yang kemudian berangsur-angsur
dilengkapi dengan Palinggih yang lain
hingga taun 1965 ditambah lagi dengan Palinggih
Ida Bhatara Kawitan beserta Piasannya. Kemudian pada tahun 2007 baru
bisa dilaksanakan upacara Dewa Yadnya yaitu upacara Nampi Linggih atau Ngenteg
Linggih maka dilengkapilah dengan bangunan Gedong simpen yang Fungsinya sebagai
tempat menyimpan Prelingga Ida Bhatara.
Pelinggih
Kemulan Turus Lumbung
Kemulan turus lumbung adalah sanggah kemulan darurat,
kerena satu dan lain hal belum mampu membuat yang permanen. Bahannya dari turus
kayu dapdap (kayu sakti) ataupun bambu,fungsinya hanyalah untuk ngelumbung atau
ngayeng Hyang Kamulan atau Hyang Kawitan. Satu tahun setelah membuka karang
baru diharapkan sudah membangun Kamulan yang permanen. (Wikarman,1998 : 23)
Pelinggih
ini ada dua buah bangunan yang masih menjadi satu kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan, yang masing-masing bangunan berbeda bahan pembuatannya. Ada yang
dibuat dari bambu dan ada yang dibuat dari dapdap, hal yang melatarbelakangi
perbedaan bahan pembuat pelinggih ini tidak ada yang tahu karena
pelingsir-penglingsirnya sudah meninggal. Walaupun bangunannya berbeda bahan
pembuatannya namun memiliki 1 fungsi yaitu untuk memuja rwa bhineda, yag disimbolisasikan
sebagai akasa dan pertiwi atau ayah dan ibu (Purusa dan Pradana), Pelinggih ini berada disebelah timur dan menghadap ke
barat.
Banten
yang digunakan dalam pemujaannya di tiap-tiap pelinggih yang ada di sanggah
jajaran tidak ada ketentuan, semuanya diserahkan kepada pemedek mau
menghaturkan banten apa, disesuaikan dengan kemampuan para pemedek itu sendiri
agar tidak terjadi keterpaksaan, tapi kebanyakan pemedek menghaturka canang
rake istilah pemedek, banten ini terbuat dari canang, buah, pisang, jaje.
Untuk
penggunaan mantram dalam memuja dan menghaturkan banten ditiap-tiap pelinggi
disanggah jajaran biasanya pemanggku menggunakan mantra see yang diucapkan oleh
pemengku tanpa menggunakan ketentuan sastra, tapi ada juga pemangku yang
mengguhnkan mantra yang bersumber dari, perbedaan ini terjadi karena perbedaan
pengetahuan para pemangku terhadap sumber sastra.
Pelinggih Suring Kelapa (Ida Bhatara Suring Kelapa)
Pelinggih
ini terbuat dari kayu Cendana dan atapnya terbuat dari seng, pelinggih ini
berada disebelah selatan dari Pelinggih Kemulan Turus lumbung. Pelinggih ini
berfungsi untuk memuja Ida Bhatara Suring Kelapa yang berstana di kubutambahan.
Pelinggih Pucak Manik Gunung Sinunggal.
Pelinggih
ini terbuat dari bahan kayu Cendana dan atapnya terbuat dari seng, Pelinggih
ini dibangun disebelah timur menghadap ke barat dan letaknya berada disebelah
selatan dari Pelinggih Suring kelapa. Pelinggih ini memiliki fungsi sebagai
penyewangan dalam memuja Manifestasi Ida Bhatara yang berstana di parahyangan /
Pucak Manik Gunung Sinunggal yang berada di Desa Tajun Kecamatan kubutambahan.
Pelinggih Idewa Ayu Manik Toya
Pelinggih
ini terbuat dari bahan kayu Cendana dan beratapkan seng, pelinggih ini berada
disebelah selatan dari pelinggih pucak manik gunung sinunggal taju, pelinggih
ini berada disebelah timur dan menghadap ke sebelah barat. Pelinggih ini
dipergunakan untuk memuja dan menghormati Ida Sang Hyang Widhi yang dalam
perwujudannya nyata adalah air sebagai sumber kehidupan semua makhluk ciptaan
tuhan, dengan kata lain pelinggih ini dipergunakan sebagai tempat pemujaan
kepada dewa Wisnu.
Pelinggih Idewa Ayu Manik Galih / Rambut Sedana
Pelinggih
ini terbuat dari bahan kayu Cendana dengan
atap yang terbuat dari seng, pelinggih ini berada disebelah timur dan menghadap
ke barat. Pelinggih ini memiliki fungsi untuk memuja Dewi sri sebagai sati dari
Dewa Wisnu, dimana Dewi Sri merupakan Dewi kesuburan atau Dewinya Padi/ beras
yang menjadi makanan kita.
Banten
yang digunakan dalam pemujaannya tidak ada ketentuan, semuanya diserahkan
kepada pemedek mau menghaturkan banten apa, disesuaikan dengan kemampuan para
pemedek itu sendiri agar tidak terjadi keterpaksaan, tapi kebanyakan pemedek
menghaturka canang rake istilah pemedek, banten ini terbuat dari canang, buah,
pisang, jaje.
Untuk
penggunaan mantram dalam memuja dan menghaturkan bantennya secara khusus biasanya
pemanggku menggunakan mantra see yang diucapkan oleh pemengku tanpa menggunakan
ketentuan sastra, tapi ada juga pemangku yang mengguhnkan mantra yang bersumber
dari, perbedaan ini terjadi karena perbedaan pengetahuan para pemangku terhadap
sumber sastra.
Pelinggih Idewa Bagus Gegelang
Pelinggih
ini terbuat dari bahan kayu Cendana dan atap yang terbuat dari seng, pelinggih
ini berada disebelah timur dan menghadap ke barat. Pelinggih ini memiliki
fungsi sebagai pemujaan dan penyawangan terhadap leluhur yang dulu pernah
tinggal dijawa pada masa pemerintahan Kerajaan Gegelang.
Pelinggih Ida Bhatara Puncak Manik Gunung Agung.
Pelinggih
ini terbuat dari bahan kayu Cendana dan
atap yang terbuat dari seng, pelinggih ini berada disebelah timur dan menghadap
ke sebelah barat. Pelinggih ini memiliki fungsi sebagai tempat penyawangan
pemujaan terhadap Ida Bhatara yang berstana di puncak Gunung Agung yang berada
di kabupaten Karangasem.
Pelinggih Kemulan Rong Tiga Sakti
Pelinggih
ini terbuat dari kayu Cendana dan beratap yang terbuat dari seng, pelinggih ini
berada disebelah timur dan menghadap kesebelah barat, pelinggih ini memiliki
fungsi sebagai tempat pemujaan tri murti yaitu Brahma, Wisnu dan Siwa, yang
masing-masing meliki fungsi sebagai pencipta, pemelihara dan pemralina
(Uttpeti, Stithi dan Pralina).
Beliau
yang bergelar Tri Murti, Tri Purusa dengan wujud Trilingganya, yaitu Siwa
adalah Tuhan dalam dimensi imanen (sakala), Sadasiwa adalah Tuhan dalam dimensi
sakala-niskala (Ardanareswara) dan Paramasiwa adalah Tuhan dalam dimensi
niskala (Transendental). Oleh karena Siwa eraspek tiga sebagai Tri Purusa maka
Guru pun ada tiga aspek pula, yakni Guru Purwam, Guru Madyam, dan Guru Rupam.
Guru Purwam adalah guru dalam dimensi Niskala, Guru Madyam adalah guru dalam
dimensi Sakala-Niskala sedangkan Guru Rupam adalah guru dalam dimensi Sakala
(imanen).(Wikarman, 1998 : 13)
Adapun mantramnya secara umum yaitu:
Om Guru Dewa
Guru Rupam
Guru Madyam
Guru Purwam,
Guru
Pantaram Dewam,
Guru Dewa
Sudha nityam
(Anandakusuma ,Dewayadnya : 45)
Yang
artinya:
“Om Guru Dewa, yaitu Guru Rupam (sakala), Guru madya
(Sakala-Niskala) dan Guru Purwa (niskala) adalah guru para dew. Dewa Guru Suci
selalu.
Pelinggih Sang Hyang Surya / padmasana / Surya Padma
Capah
Pelinggih
ini jika disanggah tunggalan saya lebih mengenal pelinggih ini sebagai
pelinggih surya, pelinggih ini terbuat dari bahan batu paras tanpa dilenggkapi
dengan nagabanda. Pelinggih ini berada disebelah tenggara dan menghadap ke
sebelah barat laut,berfungsi sebagai tempat pemujaan Sang hyang Surya sebagai dewa penguasa sinar.
Pelinggih Dewa Bagus Natarawes
Pelinggih
ini terbuat dari kayu cendana dan beratap yang terbuat dari seng, pelinggih ini
berada disebelah selatan dan menghadap ke utara. Memiliki fungsi sebagai tempat
pemujaan untuk meminta petunjuk saat melakukan kegiatan keluarga seperti
parumaan agar kagiatan bisa berjalan dengan lancar dan tanpa ada gangguan
apapun yang bisa membuat misalnya pertengkaran dan lain-lain.
Pelinggih
Dewa Ayu Mas Nganten
Pelinggih
ini terbuat dari bahan kayu cendana dengan atap yang terbuat dari bahan seng,
pelinggih ini berada disebelah selatan dan menghadap ke sebelah utara,
pelinggih ini berfungsi sebagai simbol keluarga bagi yang ingin berkeluarga,
sebagai tempat pemujaan kepada Ida Semara Ratih bagi yang ingi menikah agar
kehidupannya nanti pas setelah menikah bisa damai, rukun, bahagia, sejahtra dan
rukun sehingga kehidupan berkeluarganya kelak terhindar dari yang namanya
percekcokan.
Pelinggih Ida Bhatara mataung
Pelinggih
ini terbuat dari bahan kayu cendana dengan atap yang beratapkan dari bahan
seng, pelinggih ini berada di sebelah selatan dan menghadap kesebelah Utara.
Memiliki fungsi sebagai tempat penyawangan dan memuja Ida Bhatara Baruna yang
berstana di pura Segara yang juga merupakan sumber kehidupan manusia.
Pelinggih Dewa bagus majapahit
Pelinggih
ini disebut juga sebagai Pelinggih Manjangan salwang, pelinggih ini merupakan
stana Mpu Kuturan dengan bhiseka
limaspahit, pnyebar dan penyempurna agama Hindudi Bali abad-10. (Pasek
Gunawan,2012 : 23).
Pelinggih
ini terbuat dari bahan kayu Cendana dan atapnya terbuat dari bahan seng,
pelinggih ini berada didepan pelinggih Ida Bhatara Mataung,yang berada
disebelah selatang dan menghadap ke utara. Pelinggih ini juga dilengkapi dengan
patung kepala Rusa atau Manjangan lengkap dengan tanduknya, patung ini terbuat
dari kayu Cendana juga. Pelinggih ini juga berfungsi yang sama dengan Pelinggih
manik Gegelang yaitu sebagai penyawangan memuja leluhur yang berasal dari
kerajaan majapahit yang dulunya berada di Jawa.
Gedong Simpen
Bangunan
ini berada disebelah selatan dan menghadap ke utara tepatnya berada didepan
Piasan merajan. Bangunan ini terbuat dari beton dan kayu cendana dengan atap
yang tebuat dari genteng, bangunan ini berfungsi sebagai tempat penyimpana Pralingga
Ida Bhatara dan leluhur.
Pelinggih Taksu
Taksu
adalah nama sebuah pelinggih yang terdapat di samping pelinggih kamulan Rong
tiga, Gedong Siwa maupun Gedong Kawitan. Taksu berarti magic atau sakti. Sakti
adalah simbol dari pada Bala atau Kekuatan (Swastika,2007:19)
Pelinggih
ini ada dua, ada yang berada di sebelah timur dan menghadap ke barat dan ada
juga yang berada disebelah selatan dan menghadap ke utara. Pelinggih ini
terbuat dari batu paras. Pelinggih ini berfungsi sebagai pengiring Ida Bhatara
yang berstana di merajan.
Fungsi
lain dari taksu ini yaitu (1) Untuk Memohon kekuatan Gaib untuk pekerjaan yang
digeluti bagi siapa yang mendirikan bangunan tersebut, (2) untuk menerima tamu
yang di undang dalam suatu upacara yaitu Dewa, Leluhur, Para Bhuta dan lain
sebagainya, (3), Sebagai tempat “transit”
Ida Bhatara ketika diadaka suatu piodalan. (pasek Gunawaan, 2012:21).
Piasan/ Pangruman Ida Bhatara Sami
Banguna
ini berada disebelah utara dari Gedong Simpen, pelinggih ini berada diselatan
dan menhgadap ke utara, pelinggih ini terbuat dari bahan kayu Cendana dan atap
yang etrbuat dari bahan seng. Banguna ini berfungsi sebagai tempat Pangruman
ida Bhatara dan tempat menghias Pralingga bila akan ada odalan.
Piasan
merupakan stana Bhatara dan Bhatari ketika dipersembahkan piodalan atau ayaban
jangkep (harum-haruman).sering juga disebut sebagai Balai Piasan (Pahyasan)
karena Pralingga-pralingga dihias ketika dilinggihkan disini. (Pasek Gunawan,
2012:23).
Palinggih Pakanden Agung
Pelinggih
ini berada di luar sanggah merajan, pelinggih ini terbuat dari batu bata dan
campuran antara pasir dan semen. Pelinggih ini berda disebelah pintu masuk dan
menghadap ke utara. Fungsi banguna ini yaitu sebagai pelinggih pengaman atau
jaga-jaga ida bhatara.
b.
Komplek Kawitan.
Pelinggih
Kawitan
Pelinggih ini terbuat dari kayu Cendana dengan atapnya
terbuat dari duk yang bertumpang tiga. Pelinggih ini berbentuk meru tumpang 3
(tiga). Bangunan ini berada di luar dari pada komplek sanggah merajan, pelinggih ini berada disebelah timur dan
menghadap ke barat. Fungsi dari bangunan ini yaitu sebagai pemujaan Ida Bhatara
Kawitan yang mempunyai klam Pasek Gel-gel atau mawiwit dari Pasek gel-gel.
Penggunaan meru tumpang 3 (tiga) yaitu untuk memuja tuhan sebagai Siwa, Sadasiwa
dan Paramasiwa, atau maksudnya penyungsungnya berawal dari Sang hyang Tiga
yaitu Bhatara Putranjaya yang berstana di Gunung Agung, Bhatara Ganijaya yang
berstana di Pura Lempuyang Luhur dan Dewi Danu yang berstana di Pura Batur
Bangli.
Banten
yang digunakan dalam pemujaannya di tiap-tiap pelinggih yang ada di kawitan
tidak ada ketentuan, semuanya diserahkan kepada pemedek mau menghaturkan banten
apa, disesuaikan dengan kemampuan para pemedek itu sendiri agar tidak terjadi
keterpaksaan, tapi kebanyakan pemedek menghaturka canang rake istilah pemedek,
banten ini terbuat dari canang, buah, pisang, jaje.
Untuk
penggunaan mantram dalam memuja dan menghaturkan banten ditiap-tiap pelinggi
dikawitan biasanya pemanggku menggunakan mantra see yang diucapkan oleh
pemengku tanpa menggunakan ketentuan sastra, tapi ada juga pemangku yang
mengguhnkan mantra yang bersumber dari, perbedaan ini terjadi karena perbedaan
pengetahuan para pemangku terhadap sumber sastra.
Piasan Kawitan
Banguna
ini berada ditimur dan menhgadap ke barat, pelinggih ini terbuat dari bahan
kayu Cendana dan atap yang etrbuat dari bahan seng. Piasan Kawitan ini jauh
lebih Kecil dibandingkan dengan Piasan Merajan Banguna ini berfungsi sebagai
tempat Pangruman ida Bhatara Kawitan beserta para Pengikutnya dan tempat
menghias Pratima bila akan ada odalan.
Pelinggih Taksu Kawitan
Taksu
adalah nama sebuah pelinggih yang terdapat di samping pelinggih kamulan Rong
tiga, Gedong Siwa maupun Gedong Kawitan. Taksu berarti magic atau sakti. Sakti adalah
simbol dari pada Bala atau Kekuatan (Swastika,2007:19)
Pelinggih
ini berada di sebelah timur dan menghadap ke barat. Pelinggih ini terbuat dari
batu paras. Pelinggih ini berfungsi sebagai pengiring Ida Bhatara yang berstana
di Kawitan.
Fungsi
lain dari taksu ini yaitu (1) Untuk Memohon kekuatan Gaib untuk pekerjaan yang
digeluti bagi siapa yang mendirikan bangunan tersebut, (2) untuk menerima tamu
yang di undang dalam suatu upacara yaitu Dewa, Leluhur, Para Bhuta dan lain
sebagainya, (3), Sebagai tempat “transit”
Ida Bhatara ketika diadaka suatu piodalan. (pasek Gunawaan, 2012:21).
Pelinggih Pekandel Agung
Pelinggih
ini berada di luar Komplek Kawitan, pelinggih ini terbuat dari batu bata dan
campuran antara pasir dan semen. Pelinggih ini berda disebelah pintu masuk dan
menghadap ke utara. Fungsi banguna ini yaitu sebagai pelinggih pengaman atau
jaga-jaga ida bhatara Kawitan.
c.
Komplek Paibon
Pelinggih
Paibon
Pelinggih ini berada di tingkat paling bawah, pelinggih
ini terbuat dari bangunan dan kayu Cendana, banguna ini menjadi satu dengan
piasannya. Pelinggih ini berada di sebelah selatan dan menghadap ke utara.
Fungsi banguna pelinggih ini yaitu sebagai pemujaan terhadap leluhur, dan
tempat paruman dan peristirahatan bagi para leluhur. Piodalannya pada rahinan
hyang tepatnya 2 minggu sebelum Galungan yaitu pada hari Budha Umanis wuku
Julungwangi.
Banten
yang digunakan dalam pemujaannya menghaturka penek istilah pemedek, banten ini
terbuat dari canang yang tidak menggunkan bunga warna merah, buah yang tidak
berduri, pisang, jaje.
Untuk
penggunaan mantram dalam memuja dan menghaturkan bantennya secara khusus biasanya
pemanggku menggunakan mantra see yang diucapkan oleh pemengku tanpa menggunakan
ketentuan sastra, tapi ada juga pemangku yang mengguhnkan mantra yang bersumber
dari, perbedaan ini terjadi karena perbedaan pengetahuan para pemangku terhadap
sumber sastra.
Candi bentar
Candi Bentar
Orang Bali membangun tempat
sembahyang mereka menyerupai pura-pura yang merupakan simbol Gunung MahaMeru. Pangkal gunung dilukiskan dengan
Candi Bentar, yaitu pintu
terpisah. Sedangkan madya atau bagian tengah gunung tersebut dilukiskan dengan
tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang hutan seperti misalnya Bhoma yang
melambangkan pohon kayu yang besar. Bhoma artinya kayu yang tumbuh dari bumi.
Bongkol kayu diumpamakan kepala dengan ranting-rantingnya berupa tangan yang
memegang daun-daun dan bunga-bungaan. Di samping itu, di dalam Kori Agung digambarkan pula binatang
hutan seperti gajah atau Karang Asti, singa atau Karang Sae, burung gagak atau
Karang Guak, dan sebagainya.
Gunung MahaMeru itu memiliki banyak puncak. Salah
satu yang tertinggi adalah puncak MahaMeru
atau Kailasa sebagai tempat bertahtanya Batara Siwa. Dari kata MahaMeru itulah timbul kata Meru sehingga pura di Bali itu
sebenarnya adalah simbol Gunung MahaMeru
tempat bertahtanya Batara Siwa. Sebab itu bentuk Kori Agung sangat disucikan dan dikeramatkan. Sedangkan Candi Bentar dianggap kurang sakral
daripada Meru karena merupakan
simbol pangkal gunung. Namun, di dalam komposisinya Candi Bentar merupakan satu kesatuan dengan Kori Agung dan Meru. Tegasnya, pura adalah simbol dari gunung yang merupakan
tempat simbolis bersemayamnya Ida Sang Hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa.
Sebab itu, Candi Bentar, Kori Agung,
dan Meru hanya bisa dibuat untuk melukiskan gunung atau pura.(http://baliblide.blogspot.com/2008/08/candi-bentar-dan-meru.htm :20:53)
Candi
Bentar merupakan simbol dari gunung yang terbelah yang biasanya dapat kita
lihat ada disamping kiri dan kanan pintu masuk, disanggah merajan saya ada tiga
buah Candi Bentar yang terpasang dimasing-masing kompleks sanggah Jajaran,
Kawitan dan juga Paibon, halo ini dikarenakan kawitan dan Paibon da sanggah
merajan saya letaknya berjauhan dan masing-masing ada kompleknya tetapi masih
dalam satukesatuan sanggah merajan. Fungsi dari Candi Bentar ini adalah berfungsi untuk pintu masuk ke
halaman pertama dari pura. Untuk memasuki halaman kedua (jeroan pura) melalui
candi kurung atau kori agung dengan berbagai macam bentuk variasi dan
hiasannya.( http://www.babadbali.com/pura/pura-kahyangan-tiga-2.htm:21:15)
Pelinggih Lebuh
Pelinggih penuun Karang/Lebuh adalah
pelinggih hyang ibu Pertiwi (Dewi Sri) juga Ratu Nyoman Sakti Pagadangan, raja
dari segala Bhuta, dalam mitologi Hindu beliau tiada lain adlah Ganapati (Dewa
Ganesa). Fungsinya adalah sebagai tempat untuk memuja yang memiliki pekarangan
yang ditempat tinggali dalam tataran niskala.(Pasek Gunawan,2012:22) dan juga
sebagai penjaga pertama sebelum memasuki kompleks sanggah Merajan, jika di
ibaratkan seperti satpamnya para Dewa dan Para Leluhur, saat ingin masuk
kerumah beliau harus minta ijin dulu kepada-Nya.
2.4
Konsep
Penyatuan Siwa Sidhanta di Sanggah Merajan Dadia Pasek Gel-gel
Dari
penjelasan saya diatas dapat kita lihat konsep penyatuan Siwa Siddhanta di
Sanggah Merajan secara umum yaitu di mulai dari:
a.
Pelinggih Idewa Ayu Manik toya dapat kita lihat adanya
pemujaan terhadap sekte Waisnawa dimana pada pelinggih ini terdapat pemujaan
terhadap Dewa Wisnu yang merupakan dewa yang dipuja pada Sekte Waisnawa
tersebut.
b.
Pelinggih Idewa Ayu Manik Galih, pada pelinggih ini
terdapat pemujaan yang dilakukan terhadap sekte Waisnawa yang mana pada
pelinggih ini terdapat pemujaan terhadap sakti dari Deewa Wisnu yaitu Dewi Sri
sebagai Dewi Kesuburan, Kemakmuran dan kejayaan.
c.
Pelinggih Kemulan Tiga Sakti, pada pelinggih ini terdapat
pemujaan yang dilakukan terhadap sekte Agni, sekte Siva, dan sekte Waisnawa
yang digabungkan dalam pemujaannya sebagai Tri Murti.
d.
Pelinggih Sang hyang Surya atau Padmasana atau Padmonoja
yang mana pada pelinggih ini terdapat pemujaan terhadap sekte Saiva Siddhanta
yaitu pemujaan terhadap Siwa Raditya yaitu Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang
Hyang Widhi Wasa.
e.
Pelinggih Taksu, pelinggih ini terdapat pemujaan terhadap
sekte Sakta (sakti Tuhan).
f.
Pelinggih Ida Bhatara Mataung, pada pelinggih ini
terdapat pemujaan terhadap sekte baruna yaitu pemujaan terhadap Dewa Baruna
sebagai dewa Penguasa Lautan.
g.
Pelinggih pekandel Agung dan juga pelinggih lebuh, pada Pelinggih
ini terdapat pemujaan terhadap sekte Ganapatya karena merupakan penjaga dari
pelinggih Merajan dan Kawitan yang merupakan Raja dari para Bhuta (Ganapati).
Namun
proses penyatuan secara khusus tidak ada yang tahu kapan terjadinya dikarenakan
para penglingsir yang tahu akan sejarah pura merajan ini sudah Banyak yang
meninggal Dunia. Sehingga tidak ada keterangan bagaimana prosesnya sehingga
bisa terjadi.
III. PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat saya simpulkan bahwa:
a.
Sejarah merajan saya berawal dari leluhur saya yang
berasal dari Klungkung dan pergi kesingaraja untuk merantau, sampai di bali
Utara tepatnya Buleleng sekarang beliau menikah dan mempunyai 3 orang anak yaitu
2 orang putra dan 1 orang putra dan mendirikan sebuah merajan di sebelah utara
dari pasar buleleng sekarang. Kemudian pergi menuju kebarat dan sampailah ke
desa selat yang diikuti oleh anak kedua dan yang ketiga, disana beliau
mendirikan merajan yang diteruskan oleh keturunannya, entah karena ada konflik
sanggah beserta tanahnya dijual dan sempat ikut menyungsung merajan dari pihak
pradana. Karena hal itu tidak benar maka terjadilah musibah yang menimpa para
anak cucu beliau ini yaitu mereka terkene wabah penyakit, yang bisa hilang
apabila mereka membangun merajan yang baru. Karena petunjuk itulah akhirnya
mereka berhenti menyungsung merajan pradana, dan mendirikan merajan baru yang
terletak disebelah barat dari pertigaan desa selat hingga saat ini.
b.
Proses penyatuan Saiva Siddhanta secara umum tidak ada
yang mengetahui hal itu disebabkan
karena penglingsir-penglingsir yang tahu akan sejarah berdirinya merajan sudah
banyak yang meninggal dunia. Tapi sekilas dapat saya jelaskan bahwa penyatuan
Saiva Siddhanta ada dimerajan saya hal itu dapat dilihat dari pemujaan terhadap
beberapa sekte yang ada di pelinggih-pelinggih seperti pemujaan terhadap sekte
Waisnawa, Siva, Brahma/ Agni, Baruna, Siva Sidhantha, Sora dan ganaptya.
Daftar Pustaka
Anonim. http://www.baliblide.blogspot.com/2008/08/candi-bentar-dan-meru.htm, diakses 07 Desember, 20:53
Gunawan, I Ketut Pasek. 2012. Siva Siddhanta II. Tanpa Penerbit.
Subagiasta, I Ketut. 2008. Pengantar Acara Agama Hindu.Surabaya:Paramitha
Wikarman,I
Nyoman Singgin.1998. Sanggah Kamulan Fungsi dan Pengertiannya. Surabaya:
Paramita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar