Kamis, 26 Desember 2013

darsana


Metafisika Nyaya

Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa sistem Nyaya di kelompokkan dalam kelompok Astika karena sistem Nyaya mengakui kewenangan Weda. Dalam metafisika Nyaya, yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita yang akan dibicarakan di bagian ini. Yang menjadi pembicaraan dalam metafisikan Nyaya adalah :
a.       Terjadinya alam semesta.
b.      Ketuhanan dalam ajaran Nyaya.
                                                                                                           
A.       Terjadinya alam semesta menurut Nyaya.
Sistem Nyaya mengakui adanya pramana dan prameya. Pramana adalah cara untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, dan prameya adalah obyek dari pengetahuan itu sendiri. Yang termasuk obyek dari pengetahuan itu adalah jiwa atau atman, badan, indriya, pikiran, aktivitas,dosa,kelahiran kembali (samsara), perasaan suka dan duka (phala), penderitaan (dukha) dan kebebasan dari segala macam penderitaan (apawarga). Disamping itu masih ada tujuh kategori obyek dari pengetahuan itu yakni sustansi (drawya), kualitas (guna), aktivitas (karma), sifat umum (samanya), sifat perserongan (wisesa), pelekatan (samawaya) dan ketidakadaan (abhawa).
Semua prameya itu bukanlah sebagai bagian dari terwujudnya alam semesta, karena ia hanyalah obyek pengetahuan. Sebagai halnya jiwa, pengetahuan dan pikiran itu bukanlah benda demikian pula waktu dan ruang yang merupakan dua substansi yang berbeda dengan benda. Akasa atau eter yang merupakan suatu substansi tetapi tidak dapat memproduksi sesuatu apapun. Menurut ajaran Nyayaalam semesta atau dunia ini disusun oleh empat substansi (catur bhuta) yakni tanah, air, api dan uadara, yang sifat dari substansi ini adalah kekal dengan susunan atom-atom yang berbeda satu dengan yang lainnya. Sedangkan unsur lainnya, yakni akasa, waktu dan ruang dipandang oleh Nyaya sebagai substansi yang abadi dan tidak terbatas. Gabungan atom-atom dari keempat substansi tadi (catur bhuta) dengan tiga substansi yang tak terbatas (akasa, waktu dan ruang) maka terbentuklah atau terjadilah dunia beserta segala isinya.
Sepintas dapat dikatakan di sini kalau teori Nyaya mengenai terjadinya alam semesta memiliki kesamaan dengan teori yang dikemukakan oleh Waisasika. Kesamaannya dapat dilihat dari tujuh kategori yang termasuk obyek dari pengetahuan yang benar itu yakni drawya (substansi) kualitas (guna), aktivitas (karma), sifat umum (samanya), sifat perorangan (wisesa), pelekatan (samawaya) dan ketidakadaan (abhawa). Tujuh kategori inilah yang juga dipakai Waisasika di dalam teorinya tentang terbentuknya alam semesta beserta isinya. Sehingga Nyaya dan Waisasika memiliki teori yang sama dengan terjadinya alam semesta. Maka kedua ajaran ini disebut Nyaya-Waisasika. Namun demikian terdapat perbedaan penting antara keduanya. Pertama, sementara Waisasika mengakui tujuh kategori (padartha) dan mengklasifikasikan semua yang riil dibawah kategori-kategori tersebut, Nyaya mengakui keenam belas kategori dan termasuk ketujuh kategori tersebut dari Waisasika, di dalam satu dari mereka dan disebut Prameya atau yang benar atau obyek dari pengetahuan yang benar yakni “kenyataan”. Kedua, sementara Waisasika mengakui adanya sistem ini panca indriya atau melalui pengamatan terhadap sesuatu, kemudian memberikan pengetahuan secara langsung, maupun dengan pikiran, dan inferensi (anumana) yakni penyimpulan yang dicapai oleh subyek sebagai yang mengamati obyek atau sasaran yang diamati subyek, dan mengurangi komparasi atau perbandingan (upamana) dan testimoni verbal (sabda), Nyaya mengakui semuanya yaitu persepsi (pramana), inferensi (anumana), komparasi (upamana) dan otoritas verbal (sabda).
Namun keduanya setuju di dalam memandang kehidupan di dunia ini penuh dengan penderitaan (dukha), sebagai belenggu roh dan didalam hal memandang pembebasan (moksa) yang merupakan penghilang absolut semua jenis penderitaan sebagai tujuan hidup tertinggi. Mereka setuju pula kalau penderitaan ada karena kebodohan atas realitas.

B.        Ketuhanan Dalam Nyaya
Nyaya-Waisasika memberikan penjelasan yang rinci mengenai Tuhan dan hubunganya dengan pembebasan atau apvarga. Menurut pemikir-pemikir sistem ini javatman dapat mencapai pengetahuan sejati tentang realitas, dan dengan memiliki pengetahuan seperti ini maka pembebasan dapat dicapai hanya melalui anugerah Tuhan. Atau dengan kata lain semua jiwa perseorangan akan dapat mencapai pengetahuan yang benar dan kelepasan bila Tuhan berkenan menghanugrahinya. Bila Tuhan tidak berkenan, maka seseorang tidak akan dapat mencapai hal tersebut dalam hidupnya. Lalu bagaimanakah konsepsi Tuhan di dalam Nyaya Darsana, apakah tuhan itu dan bagaimana manusia mengetahui kebenaranNya. Terhadap pertanyaan-pertanyaan ini dijelaskan Nyaya sebagai berikut:
Menurut Nyaya, Tuhan adalah penyebab tertinggi penciptaan, pemeliharaan dan peleburan dunia. Tuhan adalah yang sangat istimewa yang menciptakan memelihara dan melebur alam semesta ini. Ia tidak menciptakan dunia ini dari ketiadaan, tetapi ia menciptakan dunia ini dari gabungan atom-atom “catur butha” ditambah dengan ruang, waktu dan eter. Penciptaan alam semesta ini bersifat permanen yang keberadaanya selalu dihubungkan dengan Tuhan sebagai jiwa alam semesta. Bagi Nyaya terciptanya dunia ini adalah untuk sang jiwa menikmati kesangan dan pahala dari perbuatannya dalam hidup ini.
Tuhan menurut Nyaya tunggal adanya yang memiliki sifat tak terbatas, kekal, mengatasi waktu, ruang pikiran, jiwa dan tidak ada sesuatupun yang membatasi keberadaanya, tetapi tuhan dengan semua yang ada sebagai halnya badan dengan jiwa yang tidak dapat dipisahkan.
Tuhan merupakan penyebab direktif tindakan-tindakan semua makhluk hidup.tidak ada makhluk hidup di dunia ini  yang bebas dari kerja. Tindakan-tindakan yang dilakukan mereka (makhluk hidup) di bawah direksi dan arahan Tuhan. Seperti halnya dengan seorang ayah yang arif dan pemurah mengarahkan anak-anaknya mengerjakan semua aktivitas, demikian juga halnya denga Tuhan, yang menurut Nyaya mengarahkan semua makhluk hidup melakukan Tindakan-tindakan.
Tuhan adalah maha kuasa, penurun, dan menetukan pahala baik dan buruk dari semua perbuatan makhluk. Dia maha tahu, hanya Tuhan yang mengetahui atau memiliki pengetahuan yang benar tentang sesuatu  dari semua peristiwa. Tuhan memiliki kesadaran atau pengamatan yang kekal sebagai kekuatan yang langsung terhadap semua objek.
Menurut Nyaya kesadaran yang abadi adalah wujud Tuhan  yang berpribadi (Personal God) dalam artian dapat ditangkap oleh pikiran dan perasaan manusia, bukan wujud Tuhan yang transenden sebagai yang dikemukakan oleh Adwaita Wedanta.
Tuhan dikatakan sebagai yang memiliki enam macam kesempurnaan yang disebut “sadiswarya” yakni keagungan, kemahakuasaan, maha mulia, maha indah, maha tahu, dan maha sempurna. Sebagai penyebab yang direktif, maka tidak ada satu makhlukpun yang bebas dari pengawasanNya. Semua yang ada di alam semesta ini berhubungan erat denganNya. Ia menuntun perkembangan semua makhluk kearah kesempurnaan. Semua perbuatan manusia diketahui dan dituntun olehNya melalui ajaranNya agar manusia dapat mencapai kebahagian dalam hidupnya. Olek karena itu Tuhan dipandang sebagai raja yang memerintah alam semesta beserta segala isinya dengan penuh kasih sayang dan adil atas anugerah dari semua pahala perbuatan manusia yang berupa kenikmatan dan pnderitaan didunia ini.

C.        Beberapa Bukti Eksistensi Tuhan
Simpal saja pertanyaan yang lahir dan penting dalam ajaran Nyaya adalah bagaimana caranya membuktikan eksistensi atau keberadaan Tuhan? Atau dengan kata lain yakni Bagaimana caranya membuktikan bahwa Tuhan itu ada?
Nyaya memberikan penjelasan yang mendalam di dalam upaya membuktikan keberadaan Tuhan. Ajaran Nyaya memiliki car tersendiri untuk membuktikan keberadaan Tuhan yakni:
1.      Adanya sebab akibat
Alam semesta ini terjadi dari penggabungan atom-atom “catur butha” dengan unsur rohani seperti jiwa, manas dan substansi yang tak terbats yakni waktu, ruang dan akasa. Jika kita menghayati adanya gunung-gunung, laut, bulan dan alam semesta ini tentulah ada yang membuatnya. Adanya benda-benda dan makhluk di dunia ini merupakan suatu akibat dari suatu sebab. Sebab ini tentulah sesuatu yang memiliki kesadaran, bukan yang tidak sadar, dan merupakan sebab yang pertama dari segala yang ada. Segala yang ada di alam semesta ini sangat teratur tentulah pengadaannya berlangsung secara teratur dan rapi yang  dibimbing oleh sebab yang pertama yang memiliki kesadaran itu. Semua benda-benda alam seperti gunung, bulan, bintang, matahari dan yang lain merupakan suatu akibat dari suatu sebab yang memiliki suatu kesadaran, kekuatan dan kesempurnaan yang memiliki segala isinya. Ia merupakan awal dan akhir dari segala yang ada. Ia pulalah yang menyatukan atom-atom untuk menjadikan alam ini beserta segala isinya. Sebab pertama yang memiliki kesadaran, kekuatan, maha sempurna dan maha tahu itu tiada lain adalah Tuhan Yang Maha Esa.
2.      Pembuktian nyaya tentang adanya Tuhan adalah terdapatnya beberapa keanehan di dunia ini, yakni banyak adanya perbedaan-perbedaan yang ada dan tidak terhitung di alam semesta ini. Ada yang menderita, bahagia, bijaksana, dungu dan ada orang yang cebol serta yang lainnya yang saling berbeda satu dengan yang lain. Timbul pertanyaan “apakah yang menyebabkan adanya perbedaan-perbedaan itu?”. Kita mengetahui bahwa setiap memiliki sebab-sebab tersendiri. Sebab-sebab yang menimbulkan kesenangan, penderitaan, dan yang lainnya dalam hidup ini,berasal dari perbuatan manusia itu sendiri pada masa kehidupan sekarang atauterdahulu. Menurut hukum kehidupan di alam semesta ini demikian Nyaya mengatakan kalau setiap individu akan menerima akibat perbuatannya bila buah dan perbuatannya telah masak. Tentulah tidak mengherankan kalau secara rasional semua yang ada di dunia ini tentu ada sebab akibat. Dengan demikian sesungguhnya kebahagian dan penderitaan ditentukan oleh manusia itu sendiri.pertanyaan lain adalah bagaimana akibat perilaku kita itu sampai pada kita sepanjang waktu? Apa yang kita terima (kebahagiaan atau kesusahan) dala hidup ini bukan saja berasal dari perbuatan kita yang sekarang, tetapi juga berasal dari perbuatan kita yang terdahulu. Baik buruk perbuatan yang kita lakukan akan bisa  diterima pahalanya di kehidupan sekarang dan yang akan datang. Pahala perbuatan baik dari satu kehidupan ke kehidupan yang lainnya disebut “punya”. Sedangkan segala perbuatan yang tidak baik dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain disebut “papa”. Kumpulan perbuatan baik dan buruk disebut “adrsta”. Kemudian bagaimanakah phala baik dan buruk sampai kepada manusia dengan tepat? Terpenentuan tersebuthadap hal ini Nyaya mengatakan tidak dapat mengetahui karena itu bersifat tersendiri. Pada hal yang muncul dari “adrsta” adalah dituntun dan ditentukan oleh Tuhan sampai kepada yang melakukan perbuatan itu. Dengan adanya penentuan tersebut maka hasil dari perbuatan itu akan tepat waktu karena Tuhan telah mengetahui baik buruknya perbuatan itu.
3.      Pernyataan yang diberikan oleh kitab suci Weda
Alasan lain yang dikemukakan Nyaya tentang adanya Tuhan adalah berasal dari pernyataan-pernyataan yang diberikan oleh kitab suci weda. Kitab suci Weda menyatakan bahwa Tuhan itu ada. Pernyataan-pernyataan kitab suci aaaaweda tentang adanya Tuhan adalah suatu pernyataan yang dapat diterima oleh siapa saja yang percaya dan yakin akan kebenaran kitab suci Weda. Muncul pertanyaan apakah yang menjadi sumber dari pernyataan Weda itu?
Nyaya mengatakan yang menjadi sumber dari pernyataan Weda adalah dari yang tertinggi yang diterima oleh para penulisnya. Keistimewaan dari kitab suci adalah memberikan motivasi positif bagi siapa saja untuk mendapatkan sesuatu yang bersifat kebaikan yang bertentangan dengan kebenaran. Pernyataan kebenaran yang ada dalam Weda sangat berbeda dengan  pernyataan yang dikemukakan oleh pengetahuan biasa, karena berasal dari sumber yang tertinggi. Kitab suci, Weda bersifat apuruseya dalam artian sebagai himpunan sabda atau wahyu yang bukan dari purusa atau maanusia.ia adalah wahyu/sabda Tuhan Yang Maha Esa yang disebut sruti yang artinya didengar (revealed teaching) oleh yang memiliki kesadaran tinggi dan pengetahuan yang sempurna. Mereka adalah para Rsi penerima wahyu yang berfungsi sebagai instrument (sarana) dari Tuhan Yang Maha Esa untuk menyampaikan ajaran Suci-Nya.
I Made Titib yang menulis buku Veda Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan, mengutip Yajurveda XXX.7 sebagai acuan Svami Dayana sebagai berikut:

Tasmad yajnat sarvahuta
Rcah samadni jajnire,
Chandamsi jajnire tasmad
Yajus tasmadajyata

Artinya:
“Dari Tuhan Yang Maha Agung dan kepada-Nya umat manusia mempersembahkan berbagai yajna dan dari pada-Nya muncul Regveda dan Samaveda. Dari pada-Nya muncul Yajuveda dan Samaveda”


Dikutip juga dari seorang filogist dan penyusun kitab Nirukta 1.19, tentang para rsi yang menerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa dan menyampaikan secara lisan tradisi kuno yakni Perguruan yang disebut “Parampara”, menyatakan:
Saksat krta dharmana rsayo
Bubhuveste saksat krta dharmabhya
Upadesena mantran sampraduh


Artinya:
“para rsi adalah mereka yang memahami dan mampu merealisasikan  dharma dengan sempurna. Beliau mengajarkan hal tersebut kepada mereka yang mencari kesempurnaan yang belum merealisasikan hal tersebut”.

Beberapa ayat lain dari Weda yang menyatakan tentang Sabda Tuhan yang mesti di patuhi oleh umat manusia bhakti kepada-Nya:

Aham manur abhavam suryas ca
Aham kaksivam rsir asmi viprah,
Aham kutsam arjuneyam ny rnje
Aham kavir usana pasyanta ma.

Artinya:
“aku bersabda sebagai kesadaran tertinggi, Aku adalah sumber utama merupakan pusat orbit alam semesta. Aku mempertajam intelek. Aku seorang penyair, oleh karena itu, wahai engkau manusia, patuhlah kepada Aku”.

Di bawah ini juga merupakan Ayat Weda yang menyatakan tentang Tuhanyang dikutip dari buku Pengantar Agama Hindi Jilid I untuk Perguruan Tinggi karangan G Pudja MA,SH sebagai berikut:

Jamadhyasya yatah, artinya Tuhan ialah dari mana mula (asal) semua ini (Pudja,1985:40)

Sat Citta Ananda Brahma, artinya sesungguhnya Tuhan adalah kebenaran pengetahuan tak terbatas, (Pudja,1985:41)

Ekam sad wiprah nahudha wadanti
Agni yaman matariswanam ahuh.

Artinya:
Tuhan Yang Maha Esa, para arif bijaksana mengatakan dengan banyak nama, Agni,Yama,Matrariswa, (Pudja,1985:42).

Dalam “Weda Sabda Suci, Pedoman Praktis Kehidupan oleh I Made Titib juga dikutip lagi  beberapa ayat Weda tentang Tuhan:

Aham bhumim adadam aryaya,
Aham vrsthim disuse martyaya,
Aham apo anayam vavasana,
Mama devaso anu ketam ayam
Rgveda IV.26.1
Artinya:
“Aku anugrahkan bumi kepada orang yang mulia, Aku turunkan hujan yang bermanfaat bagi makhluk, Aku alirkan terus gemuruhnya air dan hukum alam tunduk kepada perintahh-Ku”.

Karena Nyaya meyakini kebenaran Weda, maka penganut Nyaya (Naiyayika) percaya adanya Tuhan, dan Tuhan itu sendiri disamakan dengan Siwa. Untuk membuktikan adanya Tuhan dipergunakan juga oleh Nyaya melalui dua macam pembuktian, selain tersebut sebelumnya, yakni:
1.      Pembuktian secara kosmologis:
Pembuktian ini menyatakan bahwa dunia ini adalah akibat dari suatu akibat. Oleh karena itu tentu saja yang pertama dan utama. Sebab itulah Tuhan. Tidak ada sebab yang pertama kecuali Tuhan karena segala sesuatu yang diketahui oleh manusia memiliki kemampuan terbats selain Tuhan. Tidak ada sesuatu sebagai penciptanya sendiri kecuali Tuhan.
2.      Pembuktian Teleogis:
Loren Bagus dalam kamus Filsafat memberi beberapa difinisi tentang teologi, salah satu dari defnisi itu dikutip disiniyakni merupakan ajaran filosofis-religius tentang eksistensi tujuan-tujuan dan “kebijaksanaan” obyektif” di luar manusia. Ia terungkap dalam antrofomorfisme idealistic dari obyek-obyek dan proses-proses alamiah. Ia mengaitkan hal-hal itu dengan tindakan prinsip-prinsip penetapan sasaran (target-setting principle) untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang ditentukan sebelumnya. Dengan demikian pembuktian teology Nyaya tentang Tuhan bahwa didunia ini ada suatu tata tertib dan aturan tertentu sehingga  dunia ini menampakkan suatu rencana yang berdasarkan pemikiran dan tujuan tertentu. Tentu ada yang mengadakan rencana dan tujuan itu, yang tiada lain adalah Tuhan itu sendiri.
Oleh Nyaya Tuhan disebut juga paratman karena Tuhan termasuk golongan jiwa tertinggi yang bersifat kekal abadi, berada dimana-mana, memenuhi alam semesta dan merupakan kesadaran Agung. Tuhan menjadi sebab pertama adanya alam semesta. Tuhan sebagai penggerak utam atom-atom yang menjadikan alam ini. Tuhan pula yang menjadi pengatur dan mengkodratkan hukum kepada alam semesta sehingga berlakunya hukum alam (Rta). Penciptaan alam ini adalah untuk kebahagian semua makhuk . juga untuk penderitaan apabila dalam perjalanan hidup makhluk ciptaan-Nya menyalahi kebenaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar