Metafisika
Nyaya
Seperti
telah disebutkan sebelumnya bahwa sistem Nyaya di kelompokkan dalam kelompok
Astika karena sistem Nyaya mengakui kewenangan Weda. Dalam metafisika Nyaya,
yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita yang akan dibicarakan di bagian ini.
Yang menjadi pembicaraan dalam metafisikan Nyaya adalah :
a. Terjadinya
alam semesta.
b. Ketuhanan
dalam ajaran Nyaya.
A. Terjadinya
alam semesta menurut Nyaya.
Sistem Nyaya
mengakui adanya pramana dan prameya. Pramana adalah cara untuk mendapatkan
pengetahuan yang benar, dan prameya adalah obyek dari pengetahuan itu sendiri.
Yang termasuk obyek dari pengetahuan itu adalah jiwa atau atman, badan,
indriya, pikiran, aktivitas,dosa,kelahiran kembali (samsara), perasaan suka dan
duka (phala), penderitaan (dukha) dan kebebasan dari segala macam penderitaan
(apawarga). Disamping itu masih ada tujuh kategori obyek dari pengetahuan itu
yakni sustansi (drawya), kualitas (guna), aktivitas (karma), sifat umum
(samanya), sifat perserongan (wisesa), pelekatan (samawaya) dan ketidakadaan
(abhawa).
Semua
prameya itu bukanlah sebagai bagian dari terwujudnya alam semesta, karena ia
hanyalah obyek pengetahuan. Sebagai halnya jiwa, pengetahuan dan pikiran itu
bukanlah benda demikian pula waktu dan ruang yang merupakan dua substansi yang
berbeda dengan benda. Akasa atau eter yang merupakan suatu substansi tetapi
tidak dapat memproduksi sesuatu apapun. Menurut ajaran Nyayaalam semesta atau
dunia ini disusun oleh empat substansi (catur bhuta) yakni tanah, air, api dan
uadara, yang sifat dari substansi ini adalah kekal dengan susunan atom-atom
yang berbeda satu dengan yang lainnya. Sedangkan unsur lainnya, yakni akasa,
waktu dan ruang dipandang oleh Nyaya sebagai substansi yang abadi dan tidak
terbatas. Gabungan atom-atom dari keempat substansi tadi (catur bhuta) dengan
tiga substansi yang tak terbatas (akasa, waktu dan ruang) maka terbentuklah
atau terjadilah dunia beserta segala isinya.
Sepintas
dapat dikatakan di sini kalau teori Nyaya mengenai terjadinya alam semesta
memiliki kesamaan dengan teori yang dikemukakan oleh Waisasika. Kesamaannya
dapat dilihat dari tujuh kategori yang termasuk obyek dari pengetahuan yang
benar itu yakni drawya (substansi) kualitas (guna), aktivitas (karma), sifat
umum (samanya), sifat perorangan (wisesa), pelekatan (samawaya) dan
ketidakadaan (abhawa). Tujuh kategori inilah yang juga dipakai Waisasika di
dalam teorinya tentang terbentuknya alam semesta beserta isinya. Sehingga Nyaya
dan Waisasika memiliki teori yang sama dengan terjadinya alam semesta. Maka
kedua ajaran ini disebut Nyaya-Waisasika. Namun demikian terdapat perbedaan
penting antara keduanya. Pertama, sementara Waisasika mengakui tujuh kategori
(padartha) dan mengklasifikasikan semua yang riil dibawah kategori-kategori
tersebut, Nyaya mengakui keenam belas kategori dan termasuk ketujuh kategori
tersebut dari Waisasika, di dalam satu dari mereka dan disebut Prameya atau
yang benar atau obyek dari pengetahuan yang benar yakni “kenyataan”. Kedua,
sementara Waisasika mengakui adanya sistem ini panca indriya atau melalui
pengamatan terhadap sesuatu, kemudian memberikan pengetahuan secara langsung,
maupun dengan pikiran, dan inferensi (anumana) yakni penyimpulan yang dicapai
oleh subyek sebagai yang mengamati obyek atau sasaran yang diamati subyek, dan
mengurangi komparasi atau perbandingan (upamana) dan testimoni verbal (sabda),
Nyaya mengakui semuanya yaitu persepsi (pramana), inferensi (anumana),
komparasi (upamana) dan otoritas verbal (sabda).
Namun
keduanya setuju di dalam memandang kehidupan di dunia ini penuh dengan
penderitaan (dukha), sebagai belenggu roh dan didalam hal memandang pembebasan
(moksa) yang merupakan penghilang absolut semua jenis penderitaan sebagai
tujuan hidup tertinggi. Mereka setuju pula kalau penderitaan ada karena
kebodohan atas realitas.
B.
Ketuhanan Dalam Nyaya
Nyaya-Waisasika
memberikan penjelasan yang rinci mengenai Tuhan dan hubunganya dengan
pembebasan atau apvarga. Menurut pemikir-pemikir sistem ini javatman dapat
mencapai pengetahuan sejati tentang realitas, dan dengan memiliki pengetahuan
seperti ini maka pembebasan dapat dicapai hanya melalui anugerah Tuhan. Atau
dengan kata lain semua jiwa perseorangan akan dapat mencapai pengetahuan yang
benar dan kelepasan bila Tuhan berkenan menghanugrahinya. Bila Tuhan tidak
berkenan, maka seseorang tidak akan dapat mencapai hal tersebut dalam hidupnya.
Lalu bagaimanakah konsepsi Tuhan di dalam Nyaya Darsana, apakah tuhan itu dan
bagaimana manusia mengetahui kebenaranNya. Terhadap pertanyaan-pertanyaan ini
dijelaskan Nyaya sebagai berikut:
Menurut
Nyaya, Tuhan adalah penyebab tertinggi penciptaan, pemeliharaan dan peleburan
dunia. Tuhan adalah yang sangat istimewa yang menciptakan memelihara dan
melebur alam semesta ini. Ia tidak menciptakan dunia ini dari ketiadaan, tetapi
ia menciptakan dunia ini dari gabungan atom-atom “catur butha” ditambah dengan
ruang, waktu dan eter. Penciptaan alam semesta ini bersifat permanen yang
keberadaanya selalu dihubungkan dengan Tuhan sebagai jiwa alam semesta. Bagi
Nyaya terciptanya dunia ini adalah untuk sang jiwa menikmati kesangan dan
pahala dari perbuatannya dalam hidup ini.
Tuhan
menurut Nyaya tunggal adanya yang memiliki sifat tak terbatas, kekal, mengatasi
waktu, ruang pikiran, jiwa dan tidak ada sesuatupun yang membatasi
keberadaanya, tetapi tuhan dengan semua yang ada sebagai halnya badan dengan
jiwa yang tidak dapat dipisahkan.
Tuhan
merupakan penyebab direktif tindakan-tindakan semua makhluk hidup.tidak ada
makhluk hidup di dunia ini yang bebas
dari kerja. Tindakan-tindakan yang dilakukan mereka (makhluk hidup) di bawah
direksi dan arahan Tuhan. Seperti halnya dengan seorang ayah yang arif dan
pemurah mengarahkan anak-anaknya mengerjakan semua aktivitas, demikian juga
halnya denga Tuhan, yang menurut Nyaya mengarahkan semua makhluk hidup
melakukan Tindakan-tindakan.
Tuhan adalah
maha kuasa, penurun, dan menetukan pahala baik dan buruk dari semua perbuatan
makhluk. Dia maha tahu, hanya Tuhan yang mengetahui atau memiliki pengetahuan
yang benar tentang sesuatu dari semua
peristiwa. Tuhan memiliki kesadaran atau pengamatan yang kekal sebagai kekuatan
yang langsung terhadap semua objek.
Menurut
Nyaya kesadaran yang abadi adalah wujud Tuhan
yang berpribadi (Personal God) dalam artian dapat ditangkap oleh pikiran
dan perasaan manusia, bukan wujud Tuhan yang transenden sebagai yang
dikemukakan oleh Adwaita Wedanta.
Tuhan
dikatakan sebagai yang memiliki enam macam kesempurnaan yang disebut
“sadiswarya” yakni keagungan, kemahakuasaan, maha mulia, maha indah, maha tahu,
dan maha sempurna. Sebagai penyebab yang direktif, maka tidak ada satu
makhlukpun yang bebas dari pengawasanNya. Semua yang ada di alam semesta ini
berhubungan erat denganNya. Ia menuntun perkembangan semua makhluk kearah
kesempurnaan. Semua perbuatan manusia diketahui dan dituntun olehNya melalui
ajaranNya agar manusia dapat mencapai kebahagian dalam hidupnya. Olek karena
itu Tuhan dipandang sebagai raja yang memerintah alam semesta beserta segala
isinya dengan penuh kasih sayang dan adil atas anugerah dari semua pahala
perbuatan manusia yang berupa kenikmatan dan pnderitaan didunia ini.
C.
Beberapa Bukti Eksistensi Tuhan
Simpal saja
pertanyaan yang lahir dan penting dalam ajaran Nyaya adalah bagaimana caranya
membuktikan eksistensi atau keberadaan Tuhan? Atau dengan kata lain yakni
Bagaimana caranya membuktikan bahwa Tuhan itu ada?
Nyaya
memberikan penjelasan yang mendalam di dalam upaya membuktikan keberadaan
Tuhan. Ajaran Nyaya memiliki car tersendiri untuk membuktikan keberadaan Tuhan
yakni:
1. Adanya
sebab akibat
Alam semesta ini terjadi dari
penggabungan atom-atom “catur butha” dengan unsur rohani seperti jiwa, manas
dan substansi yang tak terbats yakni waktu, ruang dan akasa. Jika kita
menghayati adanya gunung-gunung, laut, bulan dan alam semesta ini tentulah ada
yang membuatnya. Adanya benda-benda dan makhluk di dunia ini merupakan suatu
akibat dari suatu sebab. Sebab ini tentulah sesuatu yang memiliki kesadaran,
bukan yang tidak sadar, dan merupakan sebab yang pertama dari segala yang ada.
Segala yang ada di alam semesta ini sangat teratur tentulah pengadaannya
berlangsung secara teratur dan rapi yang
dibimbing oleh sebab yang pertama yang memiliki kesadaran itu. Semua
benda-benda alam seperti gunung, bulan, bintang, matahari dan yang lain
merupakan suatu akibat dari suatu sebab yang memiliki suatu kesadaran, kekuatan
dan kesempurnaan yang memiliki segala isinya. Ia merupakan awal dan akhir dari
segala yang ada. Ia pulalah yang menyatukan atom-atom untuk menjadikan alam ini
beserta segala isinya. Sebab pertama yang memiliki kesadaran, kekuatan, maha
sempurna dan maha tahu itu tiada lain adalah Tuhan Yang Maha Esa.
2. Pembuktian
nyaya tentang adanya Tuhan adalah terdapatnya beberapa keanehan di dunia ini,
yakni banyak adanya perbedaan-perbedaan yang ada dan tidak terhitung di alam
semesta ini. Ada yang menderita, bahagia, bijaksana, dungu dan ada orang yang
cebol serta yang lainnya yang saling berbeda satu dengan yang lain. Timbul
pertanyaan “apakah yang menyebabkan adanya perbedaan-perbedaan itu?”. Kita
mengetahui bahwa setiap memiliki sebab-sebab tersendiri. Sebab-sebab yang
menimbulkan kesenangan, penderitaan, dan yang lainnya dalam hidup ini,berasal
dari perbuatan manusia itu sendiri pada masa kehidupan sekarang atauterdahulu.
Menurut hukum kehidupan di alam semesta ini demikian Nyaya mengatakan kalau
setiap individu akan menerima akibat perbuatannya bila buah dan perbuatannya
telah masak. Tentulah tidak mengherankan kalau secara rasional semua yang ada
di dunia ini tentu ada sebab akibat. Dengan demikian sesungguhnya kebahagian
dan penderitaan ditentukan oleh manusia itu sendiri.pertanyaan lain adalah
bagaimana akibat perilaku kita itu sampai pada kita sepanjang waktu? Apa yang
kita terima (kebahagiaan atau kesusahan) dala hidup ini bukan saja berasal dari
perbuatan kita yang sekarang, tetapi juga berasal dari perbuatan kita yang
terdahulu. Baik buruk perbuatan yang kita lakukan akan bisa diterima pahalanya di kehidupan sekarang dan
yang akan datang. Pahala perbuatan baik dari satu kehidupan ke kehidupan yang
lainnya disebut “punya”. Sedangkan segala perbuatan yang tidak baik dari satu
kehidupan ke kehidupan yang lain disebut “papa”. Kumpulan perbuatan baik dan
buruk disebut “adrsta”. Kemudian bagaimanakah phala baik dan buruk sampai
kepada manusia dengan tepat? Terpenentuan tersebuthadap hal ini Nyaya
mengatakan tidak dapat mengetahui karena itu bersifat tersendiri. Pada hal yang
muncul dari “adrsta” adalah dituntun dan ditentukan oleh Tuhan sampai kepada
yang melakukan perbuatan itu. Dengan adanya penentuan tersebut maka hasil dari
perbuatan itu akan tepat waktu karena Tuhan telah mengetahui baik buruknya
perbuatan itu.
3. Pernyataan
yang diberikan oleh kitab suci Weda
Alasan lain yang dikemukakan
Nyaya tentang adanya Tuhan adalah berasal dari pernyataan-pernyataan yang
diberikan oleh kitab suci weda. Kitab suci Weda menyatakan bahwa Tuhan itu ada.
Pernyataan-pernyataan kitab suci aaaaweda tentang adanya Tuhan adalah suatu
pernyataan yang dapat diterima oleh siapa saja yang percaya dan yakin akan
kebenaran kitab suci Weda. Muncul pertanyaan apakah yang menjadi sumber dari
pernyataan Weda itu?
Nyaya mengatakan yang menjadi
sumber dari pernyataan Weda adalah dari yang tertinggi yang diterima oleh para
penulisnya. Keistimewaan dari kitab suci adalah memberikan motivasi positif
bagi siapa saja untuk mendapatkan sesuatu yang bersifat kebaikan yang
bertentangan dengan kebenaran. Pernyataan kebenaran yang ada dalam Weda sangat berbeda
dengan pernyataan yang dikemukakan oleh
pengetahuan biasa, karena berasal dari sumber yang tertinggi. Kitab suci, Weda
bersifat apuruseya dalam artian
sebagai himpunan sabda atau wahyu yang bukan dari purusa atau maanusia.ia adalah wahyu/sabda Tuhan Yang Maha Esa yang
disebut sruti yang artinya didengar
(revealed teaching) oleh yang memiliki kesadaran tinggi dan pengetahuan yang
sempurna. Mereka adalah para Rsi penerima wahyu yang berfungsi sebagai
instrument (sarana) dari Tuhan Yang Maha Esa untuk menyampaikan ajaran
Suci-Nya.
I Made Titib yang menulis buku Veda Sabda Suci Pedoman Praktis
Kehidupan, mengutip Yajurveda XXX.7 sebagai acuan Svami Dayana sebagai berikut:
Tasmad yajnat sarvahuta
Rcah samadni jajnire,
Chandamsi jajnire tasmad
Yajus tasmadajyata
Artinya:
“Dari Tuhan Yang Maha Agung dan kepada-Nya umat manusia
mempersembahkan berbagai yajna dan dari pada-Nya muncul Regveda dan Samaveda.
Dari pada-Nya muncul Yajuveda dan Samaveda”
Dikutip juga dari seorang
filogist dan penyusun kitab Nirukta 1.19, tentang para rsi yang menerima wahyu
Tuhan Yang Maha Esa dan menyampaikan secara lisan tradisi kuno yakni Perguruan
yang disebut “Parampara”, menyatakan:
Saksat krta dharmana rsayo
Bubhuveste saksat krta dharmabhya
Upadesena mantran sampraduh
Artinya:
“para rsi
adalah mereka yang memahami dan mampu merealisasikan dharma dengan sempurna. Beliau mengajarkan hal
tersebut kepada mereka yang mencari kesempurnaan yang belum merealisasikan hal
tersebut”.
Beberapa ayat lain dari Weda yang menyatakan tentang Sabda Tuhan yang mesti
di patuhi oleh umat manusia bhakti kepada-Nya:
Aham manur
abhavam suryas ca
Aham
kaksivam rsir asmi viprah,
Aham kutsam
arjuneyam ny rnje
Aham kavir
usana pasyanta ma.
Artinya:
“aku
bersabda sebagai kesadaran tertinggi, Aku adalah sumber utama merupakan pusat
orbit alam semesta. Aku mempertajam intelek. Aku seorang penyair, oleh karena
itu, wahai engkau manusia, patuhlah kepada Aku”.
Di bawah ini juga merupakan Ayat Weda yang menyatakan tentang Tuhanyang
dikutip dari buku Pengantar Agama Hindi Jilid I untuk Perguruan Tinggi karangan
G Pudja MA,SH sebagai berikut:
Jamadhyasya
yatah, artinya Tuhan ialah dari mana
mula (asal) semua ini (Pudja,1985:40)
Sat Citta
Ananda Brahma, artinya sesungguhnya
Tuhan adalah kebenaran pengetahuan tak terbatas, (Pudja,1985:41)
Ekam sad
wiprah nahudha wadanti
Agni yaman
matariswanam ahuh.
Artinya:
Tuhan Yang
Maha Esa, para arif bijaksana mengatakan dengan banyak nama,
Agni,Yama,Matrariswa, (Pudja,1985:42).
Dalam “Weda Sabda Suci, Pedoman Praktis Kehidupan oleh I Made Titib juga
dikutip lagi beberapa ayat Weda tentang
Tuhan:
Aham bhumim
adadam aryaya,
Aham vrsthim
disuse martyaya,
Aham apo
anayam vavasana,
Mama devaso
anu ketam ayam
Rgveda
IV.26.1
Artinya:
“Aku
anugrahkan bumi kepada orang yang mulia, Aku turunkan hujan yang bermanfaat
bagi makhluk, Aku alirkan terus gemuruhnya air dan hukum alam tunduk kepada
perintahh-Ku”.
Karena Nyaya meyakini kebenaran Weda, maka penganut Nyaya
(Naiyayika) percaya adanya Tuhan, dan Tuhan itu sendiri disamakan dengan Siwa.
Untuk membuktikan adanya Tuhan dipergunakan juga oleh Nyaya melalui dua macam
pembuktian, selain tersebut sebelumnya, yakni:
1. Pembuktian
secara kosmologis:
Pembuktian ini menyatakan bahwa
dunia ini adalah akibat dari suatu akibat. Oleh karena itu tentu saja yang
pertama dan utama. Sebab itulah Tuhan. Tidak ada sebab yang pertama kecuali
Tuhan karena segala sesuatu yang diketahui oleh manusia memiliki kemampuan
terbats selain Tuhan. Tidak ada sesuatu sebagai penciptanya sendiri kecuali
Tuhan.
2. Pembuktian
Teleogis:
Loren Bagus dalam kamus Filsafat memberi beberapa
difinisi tentang teologi, salah satu dari defnisi itu dikutip disiniyakni
merupakan ajaran filosofis-religius tentang eksistensi tujuan-tujuan dan
“kebijaksanaan” obyektif” di luar manusia. Ia terungkap dalam antrofomorfisme
idealistic dari obyek-obyek dan proses-proses alamiah. Ia mengaitkan hal-hal
itu dengan tindakan prinsip-prinsip penetapan sasaran (target-setting
principle) untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang ditentukan sebelumnya. Dengan
demikian pembuktian teology Nyaya tentang Tuhan bahwa didunia ini ada suatu
tata tertib dan aturan tertentu sehingga
dunia ini menampakkan suatu rencana yang berdasarkan pemikiran dan tujuan
tertentu. Tentu ada yang mengadakan rencana dan tujuan itu, yang tiada lain
adalah Tuhan itu sendiri.
Oleh Nyaya
Tuhan disebut juga paratman karena Tuhan termasuk golongan jiwa tertinggi yang
bersifat kekal abadi, berada dimana-mana, memenuhi alam semesta dan merupakan
kesadaran Agung. Tuhan menjadi sebab pertama adanya alam semesta. Tuhan sebagai
penggerak utam atom-atom yang menjadikan alam ini. Tuhan pula yang menjadi
pengatur dan mengkodratkan hukum kepada alam semesta sehingga berlakunya hukum
alam (Rta). Penciptaan alam ini adalah untuk kebahagian semua makhuk . juga
untuk penderitaan apabila dalam perjalanan hidup makhluk ciptaan-Nya menyalahi
kebenaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar