PEMBAHASAN
1.1.Metafisika
: μετά
(meta) = "setelah atau di balik",
φύσικα (phúsika) = "hal-hal di alam") adalah cabang filsafat
yang mempelajari penjelasan
asal atau hakekat objek (fisik) di dunia.
Metafisika
adalah studi keberadaan
atau realitas. Metafisika
mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah sumber dari
suatu realitas? Apakah Tuhan
ada? Apa
tempat manusia di dalam semesta? Cabang utama metafisika adalah ontologi,
studi mengenai kategorisasi benda-benda di alam dan
hubungan antara satu dan lainnya. Ahli metafisika juga berupaya memperjelas pemikiran-pemikiran manusia mengenai dunia, termasuk keberadaan, kebendaan,
sifat,
ruang,
waktu,
hubungan sebab
akibat, dan kemungkinan.
Penggunaan istilah "metafisika" telah berkembang untuk merujuk pada
"hal-hal yang di luar dunia fisik".
"Toko buku
metafisika", sebagai contoh, bukanlah menjual buku mengenai
ontologi, melainkan lebih kepada buku-buku
mengenai ilmu gaib,
pengobatan alternatif,
dan hal-hal sejenisnya. Beberapa Tafsiran Metafisika Dalam menafsirkan hal ini, manusia
mempunyai beberapa pendapat mengenai tafsiran metafisika. Tafsiran yang pertama yang dikemukakan oleh manusia terhadap
alam ini adalah bahwa terdapat
hal-hal gaib (supernatural)
dan hal-hal tersebut bersifat lebih tinggi atau
lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata. Pemikiran seperti ini disebut
pemikiran supernaturalisme.
Dari sini lahir
tafsiran-tafsiran cabang misalnya animisme.
Selain paham di atas,
ada juga paham yang disebut paham naturalisme. paham ini
amat bertentangan dengan paham supernaturalisme.
Paham naturalisme menganggap bahwa gejala-gejala alam tidak disebabkan
oleh hal-hal yang bersifat gaib, melainkan karena kekuatan yang terdapat dalam itu sendiri,
yang dapat dipelajari dan dapat diketahui.
Orang-orang yang menganut paham
naturalisme ini beranggapan seperti itu karena standar
kebenaran yang mereka gunakan hanyalah logika akal semata,
sehingga mereka mereka menolak keberadaan hal-hal yang bersifat gaib itu.
Dari paham naturalisme
ini juga muncul paham materialisme
yang menganggap bahwa alam semesta dan
manusia berasal dari materi. Salah satu pencetusnya ialah Democritus (460-370 S.M). Adapun bagi
mereka yang mencoba mempelajari mengenai makhluk hidup. Timbul dua tafsiran yang masing saling bertentangan
yakni paham mekanistik dan paham vitalistik. Kaum mekanistik melihat gejala alam (termasuk
makhluk hidup) hanya merupakan gejala kimia-fisika semata. Sedangkan bagi kaum vitalistik hidup adalah sesuatu yang unik yang berbeda secara substansif dengan hanya sekedar
gejala kimia-fisika semata.
Berbeda halnya dengan telaah mengenai
akal dan pikiran, dalam hal ini ada
dua tafsiran yang juga saling berbeda
satu sama
lain. Yakni paham monoistik
dan dualistik. sudah merupakan
aksioma bahwa proses berpikir manusia menghasilkan pengetahuan tentang zat (objek) yang ditelaahnya. Dari sini aliran monoistik mempunyai pendapat yang tidak membedakan antara pikiran dan zat, keduanya
(pikiran dan zat) hanya berbeda
dalam gejala disebabkan proses yang berlainan namun mempunyai subtansi yang sama. Pendapat ini
ditolak oleh kaum yang menganut paham dualistik. Dalam metafisika, penafsiran
dualistik membedakan antara zat dan
kesadaran (pikiran) yang bagi mereka berbeda
secara substansif. Aliran ini berpendapat bahwa yang ditangkap oleh pikiran adalah
bersifat mental. Maka yang bersifat
nyata adalah pikiran, sebab dengan berpikirlah maka sesuatu itu
lantas ada.
1.2.Nyaya
Nyaya (Sanskerta: न्याय) adalah salah satu aliran dalam filsafat Hindu. Ajaran Nyaya didirikan oleh Maharsi Aksapada Gotama
yang menyusun Nyayasutra, terdiri atas 5 adhyaya (bab) yang
dibagi atas 5 pada (bagian). Kata Nyaya berarti penelitian analitis dan
kritis. Ajaran ini berdasarka pada ilmu logika, sistematis, kronologis dan analitis. Sistem ini barangkali timbul karena
adanya pembicaraan dan perdebatan diantara para ahli pikir di dalam mereka
berusaha mencari arti yang benar dari sloka-sloka Veda. Demikian timbul
patokan-patokan bagaimana mengadakan penelitian yang benar. Sistem filsafat
Nyaya sering juga disebut Tarkavada atau Ilmu berdebat, Vada-Vidya atau Ilmu Diskusi. Tarka adalah fitur khusus dari Nyaya. Jadi beberapa fitur
dan kategori lebih baik dipahami
dari perspektif itu. Gotama kadang-kadang diberi
gelar kehormatan "Akṣapāda" (mungkin
dalam arti "memiliki matanya tetap dalam abstraksi
di kakinya") dan "Dīrghatapas"
("penebusan dosa lama melakukan"). Ia juga kadang-kadang diberikan judul agama
"Rsi" atau "Maharsi". Dalam Nyaya Sutra Gotama dikembangkan dan diperluas sistem Vaiśeṣika epistemologis
dan metafisik melalui 528 aforisme. Kemudian komentar
diperluas, dijabarkan, dan kritis dibahas
kerja Gotama, yang sedang oleh Vatsyayana
pertama (c.450-500 CE), diikuti
oleh Nyāyavārttika
dari Uddyotakāra (c. abad ke-6-7), Vācaspati
Misra's Tātparyatīkā
(abad 9), Udayana
Tātparyapariśuddhi (abad
10), dan Jayanta's
Nyāyamañjarī (abad
ke-10).
1.3.Metafisika Nyaya
Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa sistem Nyaya di kelompokkan dalam
kelompok Astika karena sistem Nyaya mengakui kewenangan Weda. Dalam metafisika
Nyaya, yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita yang akan dibicarakan di
bagian ini. Yang menjadi pembicaraan dalam metafisikan Nyaya adalah :
1.3.1. Terjadinya
alam semesta menurut Nyaya.
Sistem Nyaya
mengakui adanya pramana dan prameya. Pramana adalah cara untuk mendapatkan
pengetahuan yang benar, dan prameya adalah obyek dari pengetahuan itu sendiri.
Yang termasuk obyek dari pengetahuan itu adalah jiwa atau atman, badan,
indriya, pikiran, aktivitas,dosa,kelahiran kembali (samsara), perasaan suka dan
duka (phala), penderitaan (dukha) dan kebebasan dari segala macam penderitaan
(apawarga). Disamping itu masih ada tujuh kategori obyek dari pengetahuan itu
yakni sustansi (drawya), kualitas (guna), aktivitas (karma), sifat umum
(samanya), sifat perserongan (wisesa), pelekatan (samawaya) dan ketidakadaan
(abhawa).
Semua
prameya itu bukanlah sebagai bagian dari terwujudnya alam semesta, karena ia
hanyalah obyek pengetahuan. Sebagai halnya jiwa, pengetahuan dan pikiran itu
bukanlah benda demikian pula waktu dan ruang yang merupakan dua substansi yang
berbeda dengan benda. Akasa atau eter yang merupakan suatu substansi tetapi
tidak dapat memproduksi sesuatu apapun. Menurut ajaran Nyayaalam semesta atau
dunia ini disusun oleh empat substansi (catur bhuta) yakni tanah, air, api dan
uadara, yang sifat dari substansi ini adalah kekal dengan susunan atom-atom
yang berbeda satu dengan yang lainnya. Sedangkan unsur lainnya, yakni akasa,
waktu dan ruang dipandang oleh Nyaya sebagai substansi yang abadi dan tidak
terbatas. Gabungan atom-atom dari keempat substansi tadi (catur bhuta) dengan
tiga substansi yang tak terbatas (akasa, waktu dan ruang) maka terbentuklah
atau terjadilah dunia beserta segala isinya.
Sepintas
dapat dikatakan di sini kalau teori Nyaya mengenai terjadinya alam semesta
memiliki kesamaan dengan teori yang dikemukakan oleh Waisasika. Kesamaannya
dapat dilihat dari tujuh kategori yang termasuk obyek dari pengetahuan yang
benar itu yakni drawya (substansi) kualitas (guna), aktivitas (karma), sifat
umum (samanya), sifat perorangan (wisesa), pelekatan (samawaya) dan
ketidakadaan (abhawa). Tujuh kategori inilah yang juga dipakai Waisasika di
dalam teorinya tentang terbentuknya alam semesta beserta isinya. Sehingga Nyaya
dan Waisasika memiliki teori yang sama dengan terjadinya alam semesta. Maka
kedua ajaran ini disebut Nyaya-Waisasika. Namun demikian terdapat perbedaan
penting antara keduanya. Pertama, sementara Waisasika mengakui tujuh kategori
(padartha) dan mengklasifikasikan semua yang riil dibawah kategori-kategori
tersebut, Nyaya mengakui keenam belas kategori dan termasuk ketujuh kategori
tersebut dari Waisasika, di dalam satu dari mereka dan disebut Prameya atau
yang benar atau obyek dari pengetahuan yang benar yakni “kenyataan”. Kedua,
sementara Waisasika mengakui adanya sistem ini panca indriya atau melalui
pengamatan terhadap sesuatu, kemudian memberikan pengetahuan secara langsung,
maupun dengan pikiran, dan inferensi (anumana) yakni penyimpulan yang dicapai
oleh subyek sebagai yang mengamati obyek atau sasaran yang diamati subyek, dan
mengurangi komparasi atau perbandingan (upamana) dan testimoni verbal (sabda),
Nyaya mengakui semuanya yaitu persepsi (pramana), inferensi (anumana),
komparasi (upamana) dan otoritas verbal (sabda).
Namun
keduanya setuju di dalam memandang kehidupan di dunia ini penuh dengan
penderitaan (dukha), sebagai belenggu roh dan didalam hal memandang pembebasan
(moksa) yang merupakan penghilang absolut semua jenis penderitaan sebagai
tujuan hidup tertinggi. Mereka setuju pula kalau penderitaan ada karena
kebodohan atas realitas.
1.3.2. Ketuhanan
Dalam Nyaya
Nyaya-Waisasika
memberikan penjelasan yang rinci mengenai Tuhan dan hubunganya dengan
pembebasan atau apvarga. Menurut pemikir-pemikir sistem ini javatman dapat
mencapai pengetahuan sejati tentang realitas, dan dengan memiliki pengetahuan
seperti ini maka pembebasan dapat dicapai hanya melalui anugerah Tuhan. Atau
dengan kata lain semua jiwa perseorangan akan dapat mencapai pengetahuan yang
benar dan kelepasan bila Tuhan berkenan menghanugrahinya. Bila Tuhan tidak
berkenan, maka seseorang tidak akan dapat mencapai hal tersebut dalam hidupnya.
Lalu bagaimanakah konsepsi Tuhan di dalam Nyaya Darsana, apakah tuhan itu dan
bagaimana manusia mengetahui kebenaranNya. Terhadap pertanyaan-pertanyaan ini
dijelaskan Nyaya sebagai berikut:
Menurut
Nyaya, Tuhan adalah penyebab tertinggi penciptaan, pemeliharaan dan peleburan
dunia. Tuhan adalah yang sangat istimewa yang menciptakan memelihara dan
melebur alam semesta ini. Ia tidak menciptakan dunia ini dari ketiadaan, tetapi
ia menciptakan dunia ini dari gabungan atom-atom “catur butha” ditambah dengan
ruang, waktu dan eter. Penciptaan alam semesta ini bersifat permanen yang
keberadaanya selalu dihubungkan dengan Tuhan sebagai jiwa alam semesta. Bagi
Nyaya terciptanya dunia ini adalah untuk sang jiwa menikmati kesangan dan
pahala dari perbuatannya dalam hidup ini.
Tuhan menurut
Nyaya tunggal adanya yang memiliki sifat tak terbatas, kekal, mengatasi waktu,
ruang pikiran, jiwa dan tidak ada sesuatupun yang membatasi keberadaanya,
tetapi tuhan dengan semua yang ada sebagai halnya badan dengan jiwa yang tidak
dapat dipisahkan. Tuhan merupakan penyebab direktif tindakan-tindakan semua
makhluk hidup.tidak ada makhluk hidup di dunia ini yang bebas dari kerja. Tindakan-tindakan yang
dilakukan mereka (makhluk hidup) di bawah direksi dan arahan Tuhan. Seperti
halnya dengan seorang ayah yang arif dan pemurah mengarahkan anak-anaknya
mengerjakan semua aktivitas, demikian juga halnya denga Tuhan, yang menurut
Nyaya mengarahkan semua makhluk hidup melakukan tindakan-tindakan.
Tuhan adalah
maha kuasa, penurun, dan menetukan pahala baik dan buruk dari semua perbuatan
makhluk. Dia maha tahu, hanya Tuhan yang mengetahui atau memiliki pengetahuan
yang benar tentang sesuatu dari semua
peristiwa. Tuhan memiliki kesadaran atau pengamatan yang kekal sebagai kekuatan
yang langsung terhadap semua objek. Menurut Nyaya kesadaran yang abadi adalah
wujud Tuhan yang berpribadi (Personal
God) dalam artian dapat ditangkap oleh pikiran dan perasaan manusia, bukan
wujud Tuhan yang transenden sebagai yang dikemukakan oleh Adwaita Wedanta.
Tuhan
dikatakan sebagai yang memiliki enam macam kesempurnaan yang disebut
“sadiswarya” yakni keagungan, kemahakuasaan, maha mulia, maha indah, maha tahu,
dan maha sempurna. Sebagai penyebab yang direktif, maka tidak ada satu
makhlukpun yang bebas dari pengawasanNya. Semua yang ada di alam semesta ini
berhubungan erat denganNya. Ia menuntun perkembangan semua makhluk kearah
kesempurnaan. Semua perbuatan manusia diketahui dan dituntun olehNya melalui
ajaranNya agar manusia dapat mencapai kebahagian dalam hidupnya. Olek karena itu
Tuhan dipandang sebagai raja yang memerintah alam semesta beserta segala isinya
dengan penuh kasih sayang dan adil atas anugerah dari semua pahala perbuatan
manusia yang berupa kenikmatan dan pnderitaan didunia ini.
1.3.3. Beberapa
Bukti Eksistensi Tuhan
Simpal saja
pertanyaan yang lahir dan penting dalam ajaran Nyaya adalah bagaimana caranya
membuktikan eksistensi atau keberadaan Tuhan? Atau dengan kata lain yakni
Bagaimana caranya membuktikan bahwa Tuhan itu ada?
Nyaya
memberikan penjelasan yang mendalam di dalam upaya membuktikan keberadaan
Tuhan. Ajaran Nyaya memiliki car tersendiri untuk membuktikan keberadaan Tuhan
yakni:
A.
Adanya sebab akibat
Alam semesta
ini terjadi dari penggabungan atom-atom “catur butha” dengan unsur rohani
seperti jiwa, manas dan substansi yang tak terbats yakni waktu, ruang dan
akasa. Jika kita menghayati adanya gunung-gunung, laut, bulan dan alam semesta
ini tentulah ada yang membuatnya. Adanya benda-benda dan makhluk di dunia ini
merupakan suatu akibat dari suatu sebab. Sebab ini tentulah sesuatu yang
memiliki kesadaran, bukan yang tidak sadar, dan merupakan sebab yang pertama
dari segala yang ada. Segala yang ada di alam semesta ini sangat teratur
tentulah pengadaannya berlangsung secara teratur dan rapi yang dibimbing oleh sebab yang pertama yang
memiliki kesadaran itu. Semua benda-benda alam seperti gunung, bulan, bintang,
matahari dan yang lain merupakan suatu akibat dari suatu sebab yang memiliki
suatu kesadaran, kekuatan dan kesempurnaan yang memiliki segala isinya. Ia
merupakan awal dan akhir dari segala yang ada. Ia pulalah yang menyatukan
atom-atom untuk menjadikan alam ini beserta segala isinya. Sebab pertama yang
memiliki kesadaran, kekuatan, maha sempurna dan maha tahu itu tiada lain adalah
Tuhan Yang Maha Esa.
B.
Adanya Adrsta
Pembuktian nyaya tentang adanya Tuhan adalah terdapatnya
beberapa keanehan di dunia ini, yakni banyak adanya perbedaan-perbedaan yang
ada dan tidak terhitung di alam semesta ini. Ada yang menderita, bahagia,
bijaksana, dungu dan ada orang yang cebol serta yang lainnya yang saling
berbeda satu dengan yang lain. Timbul pertanyaan “apakah yang menyebabkan
adanya perbedaan-perbedaan itu?”. Kita mengetahui bahwa setiap memiliki
sebab-sebab tersendiri. Sebab-sebab yang menimbulkan kesenangan, penderitaan,
dan yang lainnya dalam hidup ini,berasal dari perbuatan manusia itu sendiri
pada masa kehidupan sekarang atauterdahulu. Menurut hukum kehidupan di alam
semesta ini demikian Nyaya mengatakan kalau setiap individu akan menerima
akibat perbuatannya bila buah dan perbuatannya telah masak. Tentulah tidak
mengherankan kalau secara rasional semua yang ada di dunia ini tentu ada sebab
akibat. Dengan demikian sesungguhnya kebahagian dan penderitaan ditentukan oleh
manusia itu sendiri.pertanyaan lain adalah bagaimana akibat perilaku kita itu
sampai pada kita sepanjang waktu? Apa yang kita terima (kebahagiaan atau
kesusahan) dala hidup ini bukan saja berasal dari perbuatan kita yang sekarang,
tetapi juga berasal dari perbuatan kita yang terdahulu. Baik buruk perbuatan
yang kita lakukan akan bisa diterima
pahalanya di kehidupan sekarang dan yang akan datang. Pahala perbuatan baik
dari satu kehidupan ke kehidupan yang lainnya disebut “punya”. Sedangkan segala
perbuatan yang tidak baik dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain disebut
“papa”. Kumpulan perbuatan baik dan buruk disebut “adrsta”. Kemudian
bagaimanakah phala baik dan buruk sampai kepada manusia dengan tepat?
Terpenentuan tersebuthadap hal ini Nyaya mengatakan tidak dapat mengetahui
karena itu bersifat tersendiri. Pada hal yang muncul dari “adrsta” adalah
dituntun dan ditentukan oleh Tuhan sampai kepada yang melakukan perbuatan itu.
Dengan adanya penentuan tersebut maka hasil dari perbuatan itu akan tepat waktu
karena Tuhan telah mengetahui baik buruknya perbuatan itu.
C.
Pernyataan yang diberikan oleh kitab suci Weda
Alasan lain
yang dikemukakan Nyaya tentang adanya Tuhan adalah berasal dari
pernyataan-pernyataan yang diberikan oleh kitab suci weda. Kitab suci Weda
menyatakan bahwa Tuhan itu ada. Pernyataan-pernyataan kitab suci aaaaweda
tentang adanya Tuhan adalah suatu pernyataan yang dapat diterima oleh siapa
saja yang percaya dan yakin akan kebenaran kitab suci Weda. Muncul pertanyaan
apakah yang menjadi sumber dari pernyataan Weda itu?
Nyaya
mengatakan yang menjadi sumber dari pernyataan Weda adalah dari yang tertinggi
yang diterima oleh para penulisnya. Keistimewaan dari kitab suci adalah
memberikan motivasi positif bagi siapa saja untuk mendapatkan sesuatu yang
bersifat kebaikan yang bertentangan dengan kebenaran. Pernyataan kebenaran yang
ada dalam Weda sangat berbeda dengan
pernyataan yang dikemukakan oleh pengetahuan biasa, karena berasal dari
sumber yang tertinggi. Kitab suci, Weda bersifat apuruseya dalam artian sebagai himpunan sabda atau wahyu yang bukan
dari purusa atau maanusia.ia adalah
wahyu/sabda Tuhan Yang Maha Esa yang disebut sruti yang artinya didengar (revealed teaching) oleh yang memiliki
kesadaran tinggi dan pengetahuan yang sempurna. Mereka adalah para Rsi penerima
wahyu yang berfungsi sebagai instrument (sarana) dari Tuhan Yang Maha Esa untuk
menyampaikan ajaran Suci-Nya.
I Made Titib
yang menulis buku Veda Sabda Suci Pedoman
Praktis Kehidupan, mengutip Yajurveda XXX.7 sebagai acuan Svami Dayana sebagai
berikut:
Tasmad
yajnat sarvahuta
Rcah
samadni jajnire,
Chandamsi
jajnire tasmad
Yajus
tasmadajyata
Artinya:
“Dari Tuhan Yang Maha Agung dan kepada-Nya umat manusia
mempersembahkan berbagai yajna dan dari pada-Nya muncul Regveda dan Samaveda.
Dari pada-Nya muncul Yajuveda dan Samaveda”
Dikutip juga
dari seorang filogist dan penyusun kitab Nirukta 1.19, tentang para rsi yang
menerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa dan menyampaikan secara lisan tradisi kuno
yakni Perguruan yang disebut “Parampara”, menyatakan:
Saksat
krta dharmana rsayo
Bubhuveste
saksat krta dharmabhya
Upadesena
mantran sampraduh
Artinya:
“Para rsi adalah mereka yang memahami dan mampu merealisasikan dharma dengan sempurna. Beliau mengajarkan
hal tersebut kepada mereka yang mencari kesempurnaan yang belum merealisasikan
hal tersebut”.
Beberapa ayat lain dari Weda yang menyatakan tentang
Sabda Tuhan yang mesti di patuhi oleh umat manusia bhakti kepada-Nya:
Aham manur abhavam suryas ca
Aham kaksivam rsir asmi viprah,
Aham kutsam arjuneyam ny rnje
Aham kavir usana pasyanta ma.
Artinya:
“Aku bersabda sebagai kesadaran tertinggi, Aku adalah sumber utama
merupakan pusat orbit alam semesta. Aku mempertajam intelek. Aku seorang
penyair, oleh karena itu, wahai engkau manusia, patuhlah kepada Aku”.
Di bawah ini juga merupakan Ayat Weda yang menyatakan
tentang Tuhanyang dikutip dari buku Pengantar Agama Hindi Jilid I untuk
Perguruan Tinggi karangan G Pudja MA,SH sebagai berikut:
Jamadhyasya yatah, artinya
Tuhan ialah dari mana mula (asal) semua ini (Pudja,1985:40)
Sat Citta Ananda Brahma, artinya
sesungguhnya Tuhan adalah kebenaran pengetahuan tak terbatas, (Pudja,1985:41)
Ekam sad
wiprah nahudha wadanti
Agni yaman
matariswanam ahuh.
Artinya:
Tuhan Yang Maha Esa, para arif bijaksana mengatakan dengan banyak nama, Agni,Yama,Matrariswa,
(Pudja,1985:42).
Dalam “Weda Sabda Suci, Pedoman Praktis Kehidupan oleh I
Made Titib juga dikutip lagi beberapa
ayat Weda tentang Tuhan:
Aham bhumim adadam aryaya,
Aham vrsthim disuse martyaya,
Aham apo anayam vavasana,
Mama devaso anu ketam ayam
( Rgveda IV.26.1 )
Artinya:
“Aku anugrahkan bumi kepada orang yang mulia, Aku turunkan hujan yang
bermanfaat bagi makhluk, Aku alirkan terus gemuruhnya air dan hukum alam tunduk
kepada perintahh-Ku”.
Karena Nyaya meyakini kebenaran Weda, maka penganut Nyaya
(Naiyayika) percaya adanya Tuhan, dan Tuhan itu sendiri disamakan dengan Siwa.
Untuk membuktikan adanya Tuhan dipergunakan juga oleh Nyaya melalui dua macam
pembuktian, selain tersebut sebelumnya, yakni:
a.
Pembuktian secara kosmologis:
Pembuktian
ini menyatakan bahwa dunia ini adalah akibat dari suatu akibat. Oleh karena itu
tentu saja yang pertama dan utama. Sebab itulah Tuhan. Tidak ada sebab yang
pertama kecuali Tuhan karena segala sesuatu yang diketahui oleh manusia
memiliki kemampuan terbats selain Tuhan. Tidak ada sesuatu sebagai penciptanya
sendiri kecuali Tuhan.
b.
Pembuktian Teleogis:
Loren Bagus
dalam kamus Filsafat memberi beberapa difinisi tentang teologi, salah satu dari
defnisi itu dikutip disiniyakni merupakan ajaran filosofis-religius tentang
eksistensi tujuan-tujuan dan “kebijaksanaan” obyektif” di luar manusia. Ia
terungkap dalam antrofomorfisme idealistic dari obyek-obyek dan proses-proses
alamiah. Ia mengaitkan hal-hal itu dengan tindakan prinsip-prinsip penetapan
sasaran (target-setting principle) untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang
ditentukan sebelumnya. Dengan demikian pembuktian teology Nyaya tentang Tuhan
bahwa didunia ini ada suatu tata tertib dan aturan tertentu sehingga dunia ini menampakkan suatu rencana yang berdasarkan
pemikiran dan tujuan tertentu. Tentu ada yang mengadakan rencana dan tujuan
itu, yang tiada lain adalah Tuhan itu sendiri.
Oleh Nyaya Tuhan disebut juga paratman karena Tuhan
termasuk golongan jiwa tertinggi yang bersifat kekal abadi, berada dimana-mana,
memenuhi alam semesta dan merupakan kesadaran Agung. Tuhan menjadi sebab
pertama adanya alam semesta. Tuhan sebagai penggerak utam atom-atom yang
menjadikan alam ini. Tuhan pula yang menjadi pengatur dan mengkodratkan hukum
kepada alam semesta sehingga berlakunya hukum alam (Rta). Penciptaan alam ini
adalah untuk kebahagian semua makhuk . juga untuk penderitaan apabila dalam
perjalanan hidup makhluk ciptaan-Nya menyalahi kebenaran.
BAB III
PENUTUP
2.1.
Simpulan
Tuhanlah yang menciptakan alam
semesta beserta isinya dengan menggabungkan atom-atom catur bhuta dengan
substansi yang abstrak. Tujuan diciptakan alam semesta ini menurut Nyaya adalah
untuk tempat sang jiwa menikmati karmawasananya yang berupa kedukaan dan
kesenangan. Keberadaan Tuhan oleh Naiyayikas disebutkan bahwa Tuhan bersifat
pribadi atau imanen dalam artian wujud Tuhan dapat ditangkap oleh pikiran,
perasaan dan dapat diberi atribut.
Dalam sistem Nyaya ada empat alat
untuk mendapatkan pengetahuan yang benar yaitu, pratyaksa, anumana, upamana dan
sabda. Disamping pramana ada pula yang disebut dengan apramana yaitu,
smrti(ingatan), samsaya(keragu-raguan), bhrama atau wiparyaya (kesalahan), dan
tarka (hipotesa). Yang menjadi obyek dari pengetahuan yang benar itu adalah
jiwa atau Atman, badan, indriya, budhi, pikiran (manas), perasaan, dosa
(perbuatan yang tidak baik), pratyabhawa (kelahiran kembali), phala (buah
perbuatan), dukha (penderitaan) dan apawarga (bebas dari penderitaan).
2.2. Saran
Sebagai penganut Hindu marilah
kita mulai berfikir secara rasio dalam melakukan segala sesuatu untuk
mendapatkan suatu tujuan melalui kebenaran Agama. Agama Hindu dengan kitab
sucinya yaitu weda merupakan suatu ajaran kebenaran yang dapat diuji secara
metode ilmiah. Dengan demikian kita patut untuk memahami serta menjalankan
ajaran suci yang terkandung dalam kitab suci weda tersebut. Apabila kita mampu
untuk menjalankannya, niscaya kita akan mencapai kelepasan atau setidaknya kita
akan mengalami mukti atau kebahagiaan yang abadi karena kebebasan semasa hidup.
DAFTAR PUSTAKA
Titib, I Made. 2001.Pengantar
Weda Untuk Program D.II. Jakarta : Hanuman Sakti
Sumawa, I Wayan,DKK.Th. Modul
Pembelajaran Pengantar Darsana.
Tim. 2005. Panca Yadnya. Badung : tim penggerak PKK Kabupaten
Badung Dalam Rangka Pendalaman Sraddha
Ngurah, I Gusti Made dkk. 2006. Buku
Pendidikan Agama Hindu Untuk Perguruan Tinggi. Surabaya : Paramita
Sudarsana, I Ketut. 2006. Pengantar
Upanisad. IHDN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar