Kamis, 26 Desember 2013

mimamsa


MĪMĀṀSĀ DARŚANA
( PŪRWA MĪMĀṀSĀ )

Pūrva Mīmāṁśā atau Karma Mīmāṁśā, adalah penyelidikan ke dalam bagian yang lebih awal dari kitab suci Veda; suatu pencarian kedalam ritual-ritual Veda atau bagian Veda yang hanya berurusan dengan masalah Mantra dan Brāhmaṇa saja. Disebut Pūrva Mīmāṁśā karena ia lebih awal (pūrva) daripada Uttara Mīmāṁśā (Vedānta), dalam pengertian logika, dan tidak demikian banyak dalam pengertian kronologis.
Mīmāṁśā sebenarnya bukanlah cabang dari suatu sistem filsafat, tetapi lebih tepat kalau disebutkan sebagai satu sistem penafsiran Veda dimana diskusi filosofisnya sama dengan semacam ulasan kritis pada Brāhmaṇa atau bagian ritual dari Veda, yang menafsirkan kitab Veda dalam pengertian berdasarkan arti yang sebenarnya. Masalah utama dari Pūrva Mīmāṁśā adalah masalah ritual ṛṣi Jaimini yang merupakan salah seorang murid mahāṛṣi Vyāsa telah mensistematisir aturan-aturan dari Mīmāṁśā dan menetapkan keabsahannya dalam karyanya itu dimana aturan-aturannya sangat penting guna menafsirkan hukum-hukum Hindu.
Bagi Jaimini, kitab suci Veda secara praktis hanyalah Tuhan semata, dan Veda yang abadi tersebut tidak memerlukan dasar apapun untuk sandarannya. Tak ada pewahyu Ilahi, karena Veda itu sendiri merupakan otoritasnya, yang merupakan satu-satunya sumber pengetahuan Dharma kita, dalam sistem Mīmāṁśā tak diperlukan adanya Tuhan. Sūtra pertama dari Mīmāṁśā sūtra berbunyi: “Athato Dharmajijna”. Yang menyatakan keseluruhan tujuan dari sistemnya, yaitu: satu keinginan untuk mengetahui Dharma atau kewajiba, yang terkandung dalam pelaksanaan upacara-upacara dan kurban-kurban yang diuraikan kitab suci Veda. Dharma itu sendiri memberikan ganjarannya, tujuan Pūrva Mīmāṁśā adalah untuk menyelidiki kedalam sifat Dharma.
Dharma yang diperintahkan kitab suci Veda, dikenal sebagai Śruti yang pelaksanaannya memberikan kebahagian. Apabila terjadi perbedaan Śruti dan Smṛti dapat diabaikan, dan pelaksanaan oleh orang-orang suci atau kebiasan-kebiasaan yang munculnya belakangan didalam kitam Smṛti. Seorang Hindu hendaknya menjalani kehidupannya sesuai dengan aturan-aturan kitab suci Veda; dimana ia harus melaksanakan Nitya Karma seperti Saṅdhyā-Vandana dsb. Serta Naimitika Karma selama ada kesempatan, untuk mendapatkan pembebasan, yang dapat dikatakan sebagai kewajiban tanpa syarat. Bila ia lalai melakukannya, maka ia terkena dosa kelalaian (Pratyavāya doṣa). Ia melakukan Kamya Karma untuk mencapai akhir yang istimewa. Bila ia menghindari perbuatan yang dilarang (Nisiddha Karma), ia akan terhindar dari neraka dan bila ia melaksanakan kewajibannya tanpa syarat ia akan mencapai kelepasan.
Beberapa orang pengikut filsafat Mīmāṁāsā yang kemudian menetapkan bahwa semua pekerjaan seharusnya dilaksanakan sebagai suatu persembahan kepada Tuhan atau Keberadaan Tertinggi, sehingga memungkinkan untuk mendapatkan pembebasan. Apabila pekerjaan atau upacara kurban dilakukan dalam suatu cara mekanis tanpa perasaan, śraddhā (keyakinan) dan kepatuhan (bhakti), maka hasil yang dicapai tak akandapat membantu seseorang untuk mencapai kelepasan, dan yang dikehendaki sebenarnya adalah pengurbanan kepentingan diri sendiri, keakuan dan rāga-dveṣa (rasa suka dan benci) dan bukannya kurban itu sendiri. Hasil atau ganjaran dari upacara kurban tidak ditentukan oleh suatu manfaat  bagi Tuhan.
Pelaksanaan apūrva memberikan ganjaran pada sipelaksana kurban, karena apūrva merupakan mata rantai atau hubungan yang diperlukan antara kerja dan hasilnya. Apūrva adalah Adṛṣta, yang merupakan kekuatan-kekuatan yang tak terlihat, yang sifatnya positif dan diciptakan oleh kegiatan itu sendiri, yang akan membawa pada pencapaian buah perbuatan. Inilah pandangan ṛṣi Jaimini.
Namun para penulis lainnya mengeritik sama sekali bahwa apūrva yang tanpa kecerdasan tak dapat memberikan ganjran. Sistem filsafat Mīmāṁāsā tak dapat memuaskan orang-orang bijak dan mereka yang cerdas; karena itu para pengikut filsafat Mīmāṁāsā yang belakangan secara perlahan-lahan memasukkan masalah Tuhan dan mereka menyatakan bahwa apabila upacara kurban dilaksanakan untuk mengormati keberadaan Tertinggi (Tuhan), ia akan membawa pada pencapaian kebaikan tertinggi. Apūrva tak dapat berbuat, kecuali digerakkan oleh Tuhan.
Sang diri berbeda dengan badan, indra-indra dan kecerdasan dan ia merupakan si penikmat atau yang mengalami. Badan merupakan tempat untuk mengalami, sedangkan indra-indra adalah peralatan untuk menikmati atau mengalami. Sang diri hanya dapat merasakan apabila ia menyatu dengan pikiran. Sang diri bukan indra-indra, karena ia tetap ada walaupun indra-indra dihancurkan atau dilukai, sedangkan badan terbuat dari materi dan merupan pelayan bagi Diri.
Jaimini tidak mempercayai adanya Moksa dan hanya mempercayai keberadaan Svarga (surga), yang dapat dicapai melalui karma atau kurban. Kitab suci Veda menjanjikan ganjaran sipelakasana upacara kurban untuk dapat dinikmati di alam dunia lainnya. Para penulis yang belakangan seperti Prambhākara dan kumārila, tak dapat menghindari tentangmasalah pembebasan akhir, karena ia menarik perhatian para pemikir filsafat lainnya.
Prambhākara menyatakan bahwa penghentian mutlak dari badan yang disebabkan hilangnya Dharma dan A-dharma secara total, yang kerjanya disebabkan oleh kelahiran kembali, merupakan kelepasan atau pembebasan mutlak, karena hanya dengan Karma saja tak akan dapat mencapaipembebasan akhir. Untuk itu diperlukan pengetahuan yang sesungguhnyatentang sang Diri yang dapat menghalangi timbunan Karma, yang dapat membebaskan dirinya dari kelahiran kembali.
Pandangan Kumārila mendekati pandanga Advaita Vedānta yang menetapkan bahwa Veda disusun oleh Tuhan dan merupakan Brahman dalam wujud Suara. Moksa adalah keadaan yang positif baginya, yang merupakan realisasi dari Ātman. Ia berpendapat bahwa pengetahuan tidak cukup guna pembebasan, tetapi harus digabungkan dengan Karma (kegiatan).
Menurut Jaimini, pelaksanaan kegiatan yang dilarang oleh kitab suci Veda merupakan sādhanā atau cara pencapaian surga. Karma-kānda merupakan bagian pokok dari Veda dan penyebab belenggu adalah pelaksanaan dari kegiatan yang dilarang (nisidha karma). Sang Diri adalah jada-cetana, gabungan dari kecerdasan tanpa perasaan. Roh jumlahnya tak terhingga dan merupakan sipelaku dan sipenikmat, yang meresapi segalanya. Jaimini tidak percaya akan penciptaan alam dunia ini dan hanya mempercayai derajat kebahagian di surga dan pada sad-ācara atau perilaku yang benar, yaitu Satyam Vāda (berbicara benar) dan Dharma cara (melaksakan kewajiban). Jadi secara singkat dapat dikatakan bahwa isi pokok ajaran Jaimini adalah “Laksanakanlah upacara kurban dan nikmatilah hasilnya disurga”.
Mīmāṁśā-Sūtra, yang terdiri dari 12 buku atau bab oleh mahāṛṣi Jaimini merupakan dasar dari filsafat Mīmāṁśā, sedangkan ulasan-ulasan lain selain dari Prabhākara dan Kumārila, juga dari berbagai penulis lain seperti Bhava-nātha Miṡra, Śbarasvāmin, Nila-kaṇṭha, Raghavānanda dan lain-lainnya.
Prabhākara menyatakan bahwa sumber pengetahuan kebenaran (pramāna) menurut Mīmāṁśā adalah sebagai berikut:
1.   Pratyaksa  : pengamatan langsung
2.   Anumāna  : dengan penyimpulan
3.   Upamāna  : mengadakan perbandingan
4.   Śabda       : kesaksian kitab suci atau orang bijak
5.   Arthāpatti : penyimpulan dari keadaan
Dan oleh Kumārila ditambah dengan:
6.   An-upalabdhi atau abhava-pratyaksa : yaitu pengamatan ketidakadaan
Empat cara pengamatan diatas hampir sama dengan cara pengamatan dari Nyāya, hanya pada pengamatan upamāna ada sedikit tambahan, dimana perbandingan yang dipergunakan disini tidak sepenuhnya sama dengan contoh yang telah diketahui, misalnya seekor kera dipersamakan dengan seekor lutung; atau seekor bison dipersamakan dengan seekor sapi dsb.
Pengamatan Athāpatti adalah pengamatan dengan penyimpulan dari keadaan, misalnya bila kita melihat seseorang yang tidak pernah makan di siang hari tetapi badannya tidak pernah bertambah kurus, malahan bertambah gemuk, maka ia dapat mengambil kesimpulan bahwa orang tersebut pasti makan di waktu malam hari.
Pengamatan An-upalabdhi, yaitu pengamatan ketidak adaan obyek, jadi suatu cara pembuktian bahwa obyek yang dimaksudkan itu benar-benar tidak ada. Misalnya: “ pergilah dan lihat apakah ada seekor gajah dibangsal itu; kita pergi dan melihat bahwa memang benar tidak ada gajah sama sekali disana, karena kita tidak melihat seekor gajahpun ada disana. Kita dapat menarik kesimpulan bahwa disana memang tidak ada gajah. Inilah yang disebut sebagai pengamatan An-upalabdhi”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar