SVECCHAYA
SVABHITTAU VISVAMUMILAYATI
Yang artinya : “dengan daya dail kehendaknya sendiri (saja), ia (citi)
membeberkan alam semestapada layarnya sendiri (yaitu pada dirinya sendiri
sebagai dasar alam semesta)
Jadi sutra 2
ini menjelaskan bahwa alam semesta ini terbentang oleh daya dari kehendaknya
yang bebas dan bukan oleh suatu penyebab luar. Alam semesta siap diisi secara
diam-diam dan Dia membuatnya menjadi jelas.
Kata “Tattwa”
sebenarnya tidak dapat diterjemahkan, namun sebagai pendekatan dapat
diterjemahkan dengan kata : “prinsip”. Kita telah melihat bahwa Parama Siva memiliki 2 aspek, yaitu yang
transendental (visvottirna) dan yang
immanent (visvamaya) atau yang
kreatif dan aspek kreatif dari Parama
Sivaa ini disebut siwa tattwa.
Kategori-kategori dalam saiva Monistik Kasmir berjumlah 36 buah, dan 5 buah yang pertama
disebut sebagai tattva pengalaman
universal, 5 buah berikutnya disebut tattva
pengalaman pribadi yang terbatas, 2 buah sebagai tattva pribadi terbatas, 3 buah tattva
operasi mental, 15 buah berikutnya sebagai tattva
pengalaman yang dapat dirasakan dan 5 buah terakhir sebagai tattva material.
1. Tattva
pengalaman Universal, adalah
1.1
Siva
tattva, merupakan gerakan kreatif awal (prathama spanda) dari parama
siva. Seperti telah dikatakan dalam sattrimsat
tattva sadoha, sloka1, apabila Anuttara
ata Yang Mutlak oleh svatantrya atau
kehendak mutlakNya merasakan seperti hendak memnculkan alam semesta yang
terkandung dalam diriNya, getaran yang pertama dari kehendak ini dikenal sebaga
Siva.
1.2
Sakti
tattva, yang merupakan enerji dari Siva. Dalam Cit atau parasamvit, Siva (Aku) dan dalam semesta
(Ini) merupakan kesatuan yang tak terpisahkan. Dalam Siva Tattva, sisi obyektif dari pengalaman dari Siva ditarik melalui operasi dari sakti tattva, sehingga yang tertinggal
hanya sisi “Aku”nya saja. Keadaan ini disebut Anasrita-Siva, oleh Ksemaraja. Dalam Sakti Tattva, aspek ananda dari Yang tertinggi lebih menguasai,
Siva dan Sakti tattva, tak dapat dipisahkan dan mereka merupakan kesatuanbaik
dalam penciptaan maupun dalam peleburan (pengembalian) dan Siva sebagai “prisip mengalami”, mengalami dirinya sendiri sebagai
“Aku” yang murni dan Sakti sebagai
pemberi kebahagian. Tegasnya, Siva-Sakti
tattva bukan sebagai suatu emanasi atau abhasa,
tetapi benih dari segala emanasi.
1.3
Sadasiva
tattva atau Sadakhya
tattva. –Kehendak (Iccha) untuk
menekan sisi “Ini” dari pengalaman universal, disebut sebagai Sada Siva tattva atau sadakhya ttattva. Dimana Iccha atau kehendak lebih menguasai.
Pengalaman pada tahapan ini adalah : “Aku adalah” dan karena “adalah” atau
“menjadi” ditekankan pada tahapan ini, ia disebut Sadakhya
Tattva (Sat artinya “menjadi”)
tetapi “adalah” di sini menyatakan “Ini” (Aku adalah, tetap[i adalah apa? – Aku
adalah “Ini”). Oleh karena itu pengalaman pada tahapan ini adalah “Aku adalah
ini”, tetapi “Ini” hanyalah suatu pengalaman yang kabur (asphuta) dan sisi yang lebih menguasai masih tetap “Aku”. Alam
semesta yang di cita-citakan dialami sebagai sesuatu yang tak berbeda di
kedalaman kesadaran, sehingga disebut sebagai “nimesa”.
1.4
Isvara
tattva atau Aisvarya
tattva. –yang merupakan tahp lanjutan dari pengalaman Tuhan, di mana sisi Idam (ini) dari pengalaman total menjadi
sedikit lebih jelas (sphuta) dan pada
tahapan ini aspek jnana atau pengetahuan lebih menonjol dan terjadi suatu
pemikiran yang jelas tentang apa yang harus diciptakan. Kalau pengalaman pada Sadasiva tattva adalah “Aku adalah ini”,
maka pada Isvara tattva menjadi “Ini
adalah Aku.
1.5
Sadavidya
tattva atau Suddhavidya
tattva. – di mana pada tahapan ini sisi “Aku” atau “Ini”, dari pengalaman Siva menjadi seimbang (samadhrtatulaputanyayena) dan pada
tahapan Kriya Sakti lebih menonjol.
Pengalaman kegiatan pada tahapan ini dapat disebut “keanekaragaman dalam
kesatuan” (bhedabhedavimarsanatmaka),
yaitu sementara “Ini” secara jelas berbeda dengan “Aku”, ia masih merasakan
sebagai satu bagian dari “Aku” atau sang Diri dan keduanya menunjukkan hal yang
sama, yang dikatakan memiliki samanadhikaranya.
Kelima tattva
pada tahapan ini merupakan pengalaman dalam bentuk pemikiran, sehingga disebut
tahapan murni atau “suddhadhvan”,
yaitu suatu manifestasi di mana svarupa
atau sifat Tuhan yang sebenarnya belum terselubungi
2. Tattva
dari pengalaman pribadi terbatas.
2.6
Pada tahapan ini, Maya
mulai berperan dan selanjutnya terjadi Asuddhadhva
atau susunan yang tidak murni, dimana yang lebih tinggi, yaitu hakekat Tuhan
yang sesungguhnya terselubungi, yang disebabkan oleh Maya dan Kancuka. Kata Maya berasal dari akar kata “Ma”, yang artinya mengukur, yang membuat
semua pengalaman dapat diukur, menjadi terbatas dan memisahkan sisi “Ini” dari
sisi “Aku” dan sebaliknya, serta yang memisahkan sesuatu dari yang satu dengan
yang lainnya, itulah Maya.
Sampai pada tahapan Sadvidya,
pengalaman itu bersifat Semesta, di mana pernyataan “Ini” berarti “semuanya
ini”, yaitu segenap alam semesta. Setelah dibawah pengaruh Maya, maka pernyataan ini hanya berarti “Ini” semata-mata; yang
berbeda dengan sesuatu lainnya, sehingga sejak saat itu terjadilah pembatasan
atau Sankoca. Di sini Maya membentuk selubung (avarana) pada sang Diri, sehingga ia
lupa pada hakekat yang sebenarnya; oleh karena itu Maya menyebabkan perasaan berbeda.
Adapun produk dari Maya,
berupa Panca Kancuka (penutup) yang
berfungsi sebagai berikut
2.7
Kala;
yang mengurangi daya penciptaan alam semesta (sarvakartrtva) dari kesadaran semesta dan menyebabkan terjadi
pembatasan yang berkaitan dengan daya penciptaan.
2.8
Vidya; yang mengurangi sifat kematahuan (sarvajnatva)
dari kesadaran semesta yang menyebabkan terjadinya pembatasan pengetahuan.
2.9
Raga;
yang mengurangi segala kepuasan (purnatva)
dari kesadaran semesta dan menyebabkan terjadinya keinginan terhadap yang ini
maupun yang itu.
2.10 Kala, yang mengurangi sifat keabadian (nityatva) dari kesadaran semesta dan menyebabkan terjadinya
pembatasan yang berkaitan dengan masalah waktu, yaitu terjadinya pembagian
waktu lampau, sekarang dan yang akan datang.
2.11 Niyatr, yang mengurangi kemerdekaan dan sifat penyusupan (svatantrara dan vyapakatva) dari kesadaran semesta dan menyebabkan pembatasan yang
berkaitan dengan masalah penyebab dan ruang.
3
Tattva dari pribadi yang terbatas (subyek-obyek)
3.12 Purusa, - Siva melalui Maya Sakti yang membatasi pengetahuan dan daya kekuatan semesta-Nya
menjadi Purusa atau subyek pribadi,
dimana dalam konteks ini, Purusa
berarti mahluk hidup yang juga dikenal sebagai “Anu” dalam semesta ini. Kata “Anu”
dipergunakan dalam pengertian dari kesempurnaan Tuhan (Siva).
3.13 Prakerti - Sementara Purusa
merupakan manifestasi subyektif dari Siva,
maka Prakrti merupakan manifestasi
obyektifNya. Prakrti memiliki tiga guna (triguna), yaitu: Sattvam, Rajas dan Tamas, di mana ketiga guna
ini berada dalam keseimbangan yang sempurna. Prakrti merupakan Santa Sakn
dari Siva dan triguna hanyalah perkutuban dari jnana sakti, iccha sakti dan Kriya
sakti-Nya.
4
Tattva dari kegiatan mental
Yaitu Buddhi,
Ahamkara dan Manas, yang
merupakan kategori 14-16.
Prakrti
dibedakan menjadi Antahkarana
(peralatan psikhis), indriyas
(indra-indra) dan bhuta (materi). Antahkarana, yang berarti peralatan
dalam, yaitu peralatan psikhis dari pribadi, mengandung tattva-tattva Buddhi, Ahamkara dan Manas.
4.14. Buddhi, merupakan penentu kecerdasan (vyavasayatmika), dimana obyek-obyek yang dipantulkan dalam Buddhi tersebut ada 2 macam, yaitu:
a)
Yang bersifat eksternal – misalnya seperti sebuah kendi
yang diamati melalui penglihatan (mata).
b)
Yang bersifat Internal – gambaran yang dibangun dari samskara (kesan-kesan yang tertinggal di
dalam pikiran).
4.15. Ahamkara, yang merupakan produk dari Buddhi, yang membuat prinsip “keakuan” dan “kemilikan” diri.
4.16. Manas, yang merupakan produk dari Ahamkara, yang dalam kerjasamanya dengan indra-indra membangun
pengamatan, yang dengan sendirinya membangun gambaran serta konsep-konsep.
5.
Tattva dari pengalaman yang dapat dirasakan,
yaitu kategori 17 sampai kategori 31.
5.a)
17-21 Lima daya dari indra pengamatan yang merupakan produk dari Ahamkara, yaitu Jnanendriya atau Buddhindriya, merupakan tattva dari pengalaman yang dapat diindra, yaitu:
17.
Membau (ghranendriya)
18. Mengecap
(rasanendriya)
19.
Melihat (caksunendriya)
20. Menyentuh
(parsendriya)
21. Mendengar
(sravanendriya)
5.b)
22-26. Lima daya kegiatan, yang juga merupakan produk
dari Ahamkara, yaitu Karmendriya, yaitu:
17. Daya
ucap (vagindriya)
18. Daya
menangani (hastendriya)
19.
Daya penggerak (padendriya)
20.
Daya pengeluaran (payvindriya)
21. Daya
seksual (upasthendriya)
Indra-indra
ini bukanlah peralatan indra , tetapi daya yang menggerakkan melalui peralatan
indra.
5.c)
27-31. Lima unsur utama dari pengamatan (panca tanmatra), yang juga merupakan
produk dari Ahamkara, yaitu:
27. Suara
(sabda-tanmatra)
28. Raba
(sparsa-tanmatra)
29. Warna
(rupa-tanmatra)
30. Aroma
atau Rasa (rasa-tanmatra)
31. Bau (gandha-tanmatra)
Yang mutlak
dalam sistem ini disebut Cit atau Parama Siva atau Mahesvara. Ia disebut
Mahesvara karena memiliki kekuasaan mutlakatas kehendak (svantrata atau svantantrya).
Kekuasaan Mutlak atau kehendak bebas ini bukan suatu kekuatan bhuta tetapi
merupakan svabhava (keberadaannya sendiri)
dari Kesadaran Universal (Cit), dan
kekuasaan kehendak inilah yang mewujudkan pemikiran objektif sehingga ia bebas
dan tak tergantung kepada segala sesuatu yang ada di luar dirinya. Ia melampaui
segala kategori tentang waktu, ruang, penyebab dsb. Karena semuanya ini
bersumber dari padaNya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kekuasaan
kehendak yang bebas ini merupakan inti dari Keberadaan Tuhan (Parama Siva).
Parama Siva (Realitas Mutlak) yang
keberadaan-Nya sendiri merupakan kesadaran yang sifat Prakasa danVimarsa, yang
sebagai realitas yang tidak dapat disangkal dan selalu hadir tampak sebagai
subyek dari Rudra menurun sampai
kepada kesatuan yang tidak bergerak, juga sebagai obyek seperti kesenangan,
biru dsb. Yang tampak seakan-akan terpisah, walaupun pada dasarnya mereka tak
terpisahkan melalui kemuliaan kekuasaan darisvatantrya
(kehendak bebas), yang tidak dapat dipisahkan dengan samvit (kesadaran universal) dan yang tak menyembunyikan hakekat
sebenarnya dari yang tertnggi. Ini merupakan pernyataan dari svantantrya vada (ajaran svantantrya).
Dari titik
pandang kretifitas dari Realitas tertinggi, filsafat ini dikenal sebagai svantryavada dan dari titik pandang
perwujudannya, ia dikenal sebagai abhasavada.
Dalam Realitas terakhir segenap perwujudan yang beraneka ragam ini berada dalam
kesatuan yang sempurna, yaitu suatu kumpulan yang tak terbedakan, seperti bulu
burung merak yang beraneka ragam dengan segala keindahan warnanya terbaring
dalam keadaan tak terbedakan di dalam plasma telurny. Sistem yang dipersamakan
dengan plasma telur burung merak ini disebut mayurandarasanyaya.
Prinsp yang
mendasari semua persujudan ini adalah Cit atau kesadaran universal murni dari
penampakan alam yang tak berubahini hanyalah suatu pernyataan dari Cit atau
Samvid. Semua yang tampak dalam berbagai bentuk ini apakah sebagai subyek atau
obyek ataupun pengetahuan, cara pengetahuan, indra-indra dan semua yang ada
dengan berbagai cara, hanya merupakan suatu abhasa dalam manifestasi atau penampakan dalam cara
yang terbatas dan abhasa tiada lain
merupakan pemikiran dari kesadaran universal yang tampak sebagai eksternal
terhadap subyek empiris.
Seperti
suatu obyek yang beraneka ragam tampak di dalam sebuah cermin, demikian juga
segenap alam semesta di dalam kesadaran atau sang diri. Bagaimana juga dari
kesadarandiri mengetahui alam semesta, bukan seperti penmpakan dalam cermin.
Semua abhasa muncul sperti ombak dilautan
kesadaran universal, dan seperti muncu dan lenyapnya ombak dilautan yang tida
hilang maupun bertambah, demikian pula keadaan dengan kesadaran universal.
Disebabkan oleh penampakan dan lenyapnya abhasa.
Abhasa tiada lain adalah proyeksi eksternal dari pemikiran Ilahi.
Keberadaan
Ilahi (Parama Siva) tidak menciptakan
seperti seorang pengerajin gerabah yang membentuk tanah liat menjadi periuk. Srstti hanyalah cara perwujudan luar
dari apa yang terkandung didalamnya dan Yang Ilahi tidak memerlukan material
luar untuk keperluan ini. Kesadaran Universal itu sendirilah yang tampak dalam
bentuk subyek dan obyek. Oleh karena itu penampakan ini tak dapat dikatakan
sebagai palsu. Penampakan ini membuat ketidak berbedaan terhadap kesempurnaan
dari Kesadaran Universal. Svantantryavada
dari filsafat ini berpegang pada kontradiksi terhadap vivartavada dan abhasavada
pada parinamavada.
Dari titik
pandangan yang lainnya, misalnya dari parasakti,
manifestasi atau asal ciptaan diuraikan dengan cara berikut ini: Terdapat
potensi yang tak terikat atau kekuatan dasar yang berkelanjutan yang dikenal
sebagai nada, yang menempatkan
dirinya kedalam titik atau pudat dinamis, yang disebut bindu. Penempatan disini bukan suatu proses dalam waktu dan ruang
dan ini merupakan sumber dari segala manifestasi. Dalam tahapan manifestasi
tertinggi, vacaka dan vacya (indukatordan yang ditunjuk; atau
kata dan obyek) adalah satu. Kemudian ada 6 adhva
(sadhava) atau 6 langkah asal usul ciptaan; Yang pertama, terjadi pengkutuban
varna dan kala. Terutama sekali Kala
yang merupakan aspek dari realitas, yang mewujudkan dirinya sebagai daya
pengembangan alam semesta. Aspek transendental dari realitas atau Parama Siva dikenal sebagai niskala kerena ia mengatasi Kala atau kreatifitas; sedangkan aspek
immanent dari Siva adalah Sakala, karena ia dikaitkan dengan
kretifitas.
Tetapi dalam
konteks sekarang ini, yang muncul setelah nada-bindu,
kala artinya suatu tahapan dan aspek dari kreatifitas. Disinilah sesuatu mulai
dibedakan dari keseluruhan yang integral. Vacaka
dan Vacya (indeks dan obyek) yang
merupakan hal yang satu pada tahapan paravak mulai dibedakan. Adhava atau langkah pertama dari
pembedaan ini merupakan pengkutuban dari varna
dan kala.
Seperti
pendapatdari Svami Pratyagatmananda, bahwa varna
dalam konteks ini bukan berarti huruf, warna atau kelas, tetapi suatu “bentuk
fungsi” dari obyek yang diproyeksikan dari bindu.
Oleh karena itu, varna menyatakan
ciri-ciri indeks ukuran dari bentuk fungsi yang dihubungkan denngan obyek. Varna adalah bentuk fungsi dan Kala adalah yang daapat diukur.
Adhva selanjutnya dalam bidang halus, adalah yang sari mantra dan tattva. Mantra merupakan
“bentuk fungsi yang pantas” atau “rumusan dasar” dari asal penciptaan lanjutan,
yaitu tattva; sedabngakan tattva sendiri merupakan prinsip yang
bersatu padu atau sumber dan asal usul dari bentuk struktur halus.
Pengkutuban
akhir atau yang ketiga, adalah dari Pada
dan Bhuvana. Bhuvana adalah alam semesta yang tampak seperti penglihatan kita
sendiri. Pada adalah perumusan
sebenarnya dari alam semesta oleh reaksi pikiran dan perkataan. Selanjutnya
Sadadhava dapat dinyatakan secara ringkas sebagai berikut:
Vacaka atau Sabda Vacya
atau Artha
Varna Kala
Mantra Tattva
Pada Bhuvana
Trika atau tiga serangkai pada sisi Vacaka, dikenal sebagai Kaladhva;
sedangkan pada sisi Vacya dikenal
sebagai Desadhva.
Varnadhva merupakan hakekat dari prama, yang merupakan tempat bersandar
dari prameya (obyek), pramana (cara pengetahuan) dan pramata (pengamatan). Varna ada 2 macam, yaitu: non-mayiya dan mayiya. Mayiya varna muncul dari non-mayiya, dimana non-mayiya
varna itu murni, alami, tanpa batasan dan tak terhitung banyaknya.
Vacaka sakti (daya penunjukkan) dari non-mayiya varna bersatu padu dalam mayiya varna, bahkan sebagai daya panas
yang bersatu padu dalam api.
Kala jumlahnya ada 5 buah, yaitu:
1.
Nivatti
kala, 2. Pratistha kala, 3. Vidya kala, 4. Santa atau Santi kala dan 5. Santyatita kala.
Menurut Abhinavagupta, ada 118 buah bhuvana, sedangkan orang lainnya
menyatakan 224 bhuvana.
Keseluruhan manifestasi dibagi menjadi 5 Kala atau tahapan dan yang terbawah
adalah:
1. Nirvrtti kala : yang terbentuk terutama dari
prthivi tattva dan memiliki 16 bhuvana atau planet keberadaan. Bidang
terendah dari Nivrtti Kala disebut Kalagni rudra bhuvana yang dinyatakan oleh ksemaraja
sebagai Kalagnyadeh.
2. Pratistha Kala: yang merupakan Kala kedua, dihitung dari Kala yang terendah, yaitu Nivrtti Kala. Ia mengandung 23 tattva, dari jala tattva menaik sampai prakrti tattva dan mengadung 56 bhuvana.
3. Vidya Kala: yang merupakan Kala ketiga, yang terdiri dari 7 tattva, dari purusa tattva menaik sampai maya
tattva dan 28 bhuvana.
4. Santa Kala: yang merupakan Kala ke empat, yang terdiri atas 3 tattva, yaitu suddha vidya.
Isvara dan sada Siva, serta
mengandung 18 bhuvana
5.
Santatita
Kala: yaitu Kala
kelima, yang hanya diperbandingkan dengan Siva
dan Sakti tattva, serta tidak
memiliki bhuvana.
Parama
Siva melampaui semua Kala
ini. Total dari bhuvana tersebut
adalah : 16 + 56 + 28 + 18 = 118 buah.
Perbandingan dan perbedaan pandangan filsafat Vedanta Sankara (santabrahmavada) dan
filsafat Saiva Monistik Kasmir (Isvaradvayavada).
|
No.
|
Santabrahmavada
|
Isvaradvayavada
|
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
|
Cit atau brahman
hanya prakasa (sinar) atau jnana (pengetahuan), yang tidak aktif (niskriya).
Kegiatan
hanya milik dari maya atau avidya. Isvara melakukan kegiatan hanya
apabila ia di pengaruhi oleh avidya
atau maya.
Maya merupakan anirvacaniya (tak dapat didefinisikan)
Maya menjadi dapat
didefinisikan apabila penggabungan dengan Isvara
dan analisa akhir adalah tidak nyata. Maya
tampaknya memainkan peranan sebagai suatu prinsip pemisah, sehingga advaita sankara menjadi eksklusif.
Dalam hal
keakuan atau jiva empiris, atma tidak
aktif. Semua kegiatan menjadi milik Buddhi,
produk dari prakrti.
Alam
semesta adalah mithya atau tidak
nyata. Perwujudan hanyalah nama-rupa dan tak dapat dianggap sebagai nyata
dalam pengertian yang sebenarnya, advaita
Sankara tidak termasuk alam semesta.
Dalam
pembebasan, alam semesta dimusnakan
Menurut sankara vedanta, avidya dilepaskan
oleh vidya, dan apabila hal ini
terjadi, mukti atau pembebasan tercapai. Vidya
adalah hasil dari sravana, manana dan nididhyasana.
|
Cit adalah prakasa dan vimarsa (sinar dan kegiatan), karena itu ia memiliki jnatrtva (pengetahuan) dan kartrtva (kegiatan), yaitu 5 macam
kegiatan.
Mahesvara memiliki svantantrya, sehingga kegiatan
merupakan milikNya. Maya tidak mempengaruhi Mahesvara atau Siva. Maya
merupakan sakti-Nya sendiri untuk
membuat kejamakan dan merasakan perbedaan.
Maya menjadi Sakti dari Ilahi adalah benar-benar
nyata.
Maya adalah Siva-mayi atau cinmayi dan merupakan saktiNya
Siva, yang merupakan prinsip yang tidak bisa terpisah, sehingga Saiva monistis adalah insklusif dan
integral.
Bahkan
dalam masalah jiva, 5 macam kegiatan Siva
tak pernah berhenti.
Alam
semesta adala SivaRupa sehingga
nyata dan merupakan pernyataan dari kemuliaan yang Ilahi. Abhasa yang menjadi pemikiran Siva tak dapat palsu. Filsafat siva
termasuk alam semesta dan monistik
yang sebenarnya.
Dalam
pembebasan alam semesta tampak sebagai suatu wujud dari kesadaran Siva atau kesadaran aku yang
sebenarnya
Menurut filsafat siva
monistik ada 2 macam ajnana,
yaitu yang berada bersama purusa atau
anu dan bauddha-ajnana yang merupakan kecerdasan. Dengan vidya hanya bauddha-ajnana saja yang dapat dilepaskan; purusa-ajnana tetap tinggal. Orang seperti itu akan diangkat
hanya pada abstraksi kosong dan ia tidak akan mewujudkan sivatman. Oleh karena itu purusa-ajnana
yang diperoleh dengan anugrah Tuhan atau insiasi oleh seorang guru.
|
Pribadi
menurut sistem ini bukan semata-mata suatu keberadaan psiko-fisik saja tetapi sesuatu yang lebih dari itu. Aspek fisiknya
sendiridari 5 mahabhuta atau unsur
kasar, yang tersusun dengan baik dan dikenal sebagai shtulasarira-Nya. Ia juga memiliki peralatan psikis yang dikenal sebagai antahkarana
(peralatan dalam), yang terdiri dari buddhi,
ahamkara dan manas.
Buddhi, ahamkara dan manas secara bersama-sama dengan 5 tanmtra membentuk suatu kelompok delapan
yang dikenel sebagai puryastaka dan
inilah yang disebut sebagai suksmasarira,
dimana roh meninggalkan badan pada saat kematian.
Didalam
badan juga bekerja prana sakti, yang
merupakan sakti Ilahi yang bekerja
dialam semesta dan juga pada pribadi. Dengan prana sakti inilah segala sesuatunya dihidupi dan dipelihara.
Juga
terdapat kundalini, yang merupakan
bentuk atau perwujudan dari sakti,
yang berbaring tertidur paqda makhluk manusia yang normal. Akhirnya terdapat caitannya atau Siva ditengah-tengah keberadaannya yang merupakan sang Diri.
Meskipun pada dasarnya sang Diri dalam diri manusia adalah Siva, ia menjadi sebuah Anu
atau pribadi terbatas, akibat dari adanya anava
mala.
Belenggu
dari pribadi disebabkan ketidak tahuan bawaan yang dikenal sebagai anava mala, yang merupakan kondisi
pembatasan utama, yang mengurangi kesadarn universal menjadi anu atau aspek
terbatas. Hal itu terjadi karena pembatas dari Iccha Sakti dari yang tertinggi, sehingga jiwa menganggap dirinya
sendiri sebagai suatu kesatuan yang terpisah, yang terputus dari aliran
kesadarn universal dan ini merupakan kesadarn dari pembatas diri.
Perhubungan
dengan kategori-kategori dari asuddha
adhva atau susunan dari manifestasi luar, ia selanjutnya menjadi terbatas
oleh mayiya mala dan karma mala. Mayiya mala adalah pembatas
kondisi yang diakibatkan oleh maya.
Bhinna vedya pratha lah yang memberikan kesadaran tentang perbedaan yang
disebabkan beda batasan yang diberikan
pada badan, dsb. Yang disebabkan oleh pembatasan dari Jnana Sakti yang Tertinggi.
Pembebasan
menurut sistem Saivadvaita (monistik)
Kasmir, artinya pengenalan kembali (pratyabhijna)
hakekat sebenarnya dari seseorang, atau dengan kata lain pencapaian
aktrima-aham-vimarsa, yaitu pencapaian kesadaran Aku (Siva) yang murni. Kesadarn Aku
yang murni bukanlah hakekat dari vikalpa
(absennya pikiran), karena vikalpa
menurut yang kedua yaitu semua vikalpa
saling berhubungan. Yang normal, kesadarn Aku
psikhologis adalah saling berhubungan, yaitu kesadarn diri berlawanan dengan
yang bukan diri dan kesadarn Aku yang
murni bukanlah saling hubungan semacam ini. Ia merupaan kesadaran langsung dan
apabila seseorang memiliki kesadaran ini, ia mengetahui hakekatnya yang sejati.
Moksa (pembebasan) tiada lain adalah kesadaran seseorang akan
hakekatnya yang sejati dan dengan kesadaran Aku yang sebenarnya ini, seseorang
mencapai Cidananda, yaitu kebahagian
dari Cit atau kesadaran unversal. Citta atau pikiran pribadi, sekarang
dirubah kedalam Cit, sehingga
pencapaian kesadaran Aku yang murni juga merupakanpencapaian kesadaran Siva, dimana seluruh alam semesta tampak
sebagai Siva.
Menurut
sistem ini, bentuk tetinggi dari ananda
atau kebahagian adalah jagadananda,
yaitu kebahagian alam semesta, dimana seluruhalam semesta tampak sebagai Roh bebas
segai Cit atau Siva.pembebasan ini hanya dapat dicapai dengan saktipata atau anugraha, yaitu anugrah Tuhan.
Mereka yang
dikarenakan samskara dari kelahiran
masa lalu, merupakan roh yang sangat maju menerima tivra atau saktipata
mendalam dan mereka dibebaskan tanpa banyak melakukan sadhana atau disiplin spiritual.
Mereka yang
kurang mampu, menerima madhyama saktipata,
yang mengantarnya untuk mencari seorang guru spiritual, untuk mendapatkan
inisiasi dan melakukan yoga, sehingga
mereka memperoleh pembebasan.
Mereka yang
tetap kurang kemampuannya menerima manda
saktipata, yang menciptakan keteguhan murni guna pengetahuan spiritualdan
meditasi dan mereka juga akan mendapatkan pembebasan pada waktunya nanti,
sesuai dengan tahapan spritualnya.
Anugrah
tuhan bukanlah hasil dari tingkah laku, melainkan harus dicapai dengan disiplin
moral dan spiritual. Cara perolehan anugrah telah dipisahkan menjadi 4 macam
anugrah utama, yaitu: Anavopaya,
Saktopaya, Sambhavopaya dan Anupaya.
Upaya-upaya ini dianjurkan untuk mendapatkan pelepasan dari mala-mala sehingga layak untuk menerima
anugrah.
Anavopaya, adalah cara atau upaya yang
dilakuka seorang pribadi dengan mempergunakan karana atau peralatan untuk merubahnya kedalam realisasi diri;
termasuk disiplin pengaturan prana,
ritual konsentrasi pada istadevata-nya
masing-masing dan akhirnya ia akan memberikan realisasi diri dengan pembukaan
dari madhya-dharma atau susumna, yang juga dikenal sebagai Kriyopaya, karena kriya seperti pengulangan sebuah mantra dan melaksanakan ritual, dsb. –memainkan peranan yang cukup
penting. Ia juga disebut bhedopaya,
karena disiplin ini dimulai dengan pengertian tentang Bheda atau perbedaan (antara dirinya dengan alam semesta).
Saktopaya dikaitkan dengan mereka yang
melakukan kegiatan psikhologis, yang merubah kekuatan didalam serta memberikan
sama vesa pribadi atau penyelaman dari kesadaran pribadi dalam yang Ilahi.
Dalam hal ini kebanyakan mantra sakti
ikut berperan, sehingga pribadi mendapatkan pratibha jnana atau pengetahuan
sejati yang secara pelan-pelan perasaan dualitanya berkurang dan kesadarannya
bergabung dalam para-samvid. Dalam
disiplin ini seseorang harus bermeditasi sesuatu seperti “Aku adalah Siva” (sivo ham). “seluruh alam semesta
ini hanyalah suatu pengembangan dari Diri-ku yang sesungguhnya”.
Dalam Anavopaya, indra-indra, prana dan manas di tekan kedalam sifat pelayanan, sedang dalam Saktopaya, hanya manas saja yang berfungsi secara aktif. Ia juga
dikenal sebagai jnanopaya, karena
kegiatan mental memainkan peranan penting di sini. Ia juga dikenal sebagai
bhedabheda-upaya, karena ia didasarkan pada kesamaan dan perbedaan. Dengan Saktopaya, kundalini muncul dari muladhara cakra tanpa banyak usaha untuk mengendalikan prana dan memberikan
realisasi diri.
Sambhavopaya, adalah cara memajukan para
calon spiritual atau para sadhaka,
yang dengan meditasi pada sivattva
mencapai kesadaran-Nya. Ini adalah jalan “Kesadaran yang terus menerus”, dimana
seseorang mengawali dengan menganalisa panca-krtya,
sadhana dari vikalpa-ksaya dan
pelaksanaan kesadaran bahwa alam semesta hanyalah refleksi (pantulan) dari Cit, tetapi selanjutnya hal ini pun
harus ditinggalkan. Hal ini akan menuntun secara mudah menuju kesadaran Aku
yang murni.
Anupaya, secara jelas dapat disebut sebagai tanpa upaya (usaha),
yang secara penuh tergantung pada anugrah, yang dapat muncul melalui satu kata
dari guru spiritual dan sinar dapat turun pada para sadhaka sehingga ia dapat memperoleh suatu pengalaman tentang diri
sesungguhnya dalam sekejap mata atau anugrah Ilahi dapat dicurahkan padanya
secara langsung dan ia seketika dapat merealisir dirinya sendiri.
Pratyabhina menekankan pada meditasi pada panca-krtya dan melaksanakan vikalpa ksaya dan ia mengemukakan bahwa
lima macam kegiatan Siva yaitu: srsti, sthti, samhara, vilaya dan anugraha berjalan secara terus menerus,
bahkan juga dalam pribadi. Para sadhaka harus secara terus menerus merenungkan makna esoterik
dari kelima kegiatan ini agar muncul pada kesadaran yang lebih tinggi.
Persepsi mental dari pribadi dengn referensi pada suatu tempat dan waktu
tertentu merupakan srsti dala
dirinya; penahanan dan penikmatan dari
apa yang diterima, adalah sthiti atau
pemeliharaan pada saat menikmati kesadaran Aku, ia terserap dalam kesadaran dan
ini adalah samhara. Apabila setelah
penarikan, kesan-kesannya muncul kedalam
kesadran kembali, hal itu berhubungan dengn vilaya
dan apabila terserap secara penuh ke dalam Cit
atau diri yang sebenarnya, dengan proses
hantha-paka, maka itu adalah anugrah. Pelaksanaan ini membatasi
kemampuan para sadhalka terhadap cidananda murni.
Pribadi
normal dikenal sebagai sakala, yang
memiliki ketiga mala, yaitu karma, mayiya dan anava. Setelah mengalami banyak kelahiran, dimana selama masa itu
ia mengembangkan pengetahuan tentang hakekat sang diri dan mencoba untuk
mengetahui dari mana dan hendak kemana dari kehidupan ini, maka hal ini
merupakan pernyataan awal tentang znugrah dari Siva.
Apabila ia
tidak begitu perhatian dan bermanja-manja dalam jenis yoga yang lebih rendah, ia dapat menjadi seorang pralayaka. Ia
bebas dari Karma mala dan hanya
memiliki karma dan anava mala, tetapi ia tidak memiliki
jnana maupun kriya dan hal ini bukan
keadaan yang dapat diharapkan. Pada saat pralaya, ztu penarikan alam semesta,
setiap pribadi sakala menjadi seorang pralayakala.
Vijnakala adalah seseorang yang mengalami tahapan yang lebih tinggi, dimana
ia telah mengatasi maya tetapi masih dibawah pengaruh suddha vidya. Ia terbebas dari karma dan mayiya mala tetapi masih memiliki anawa mala dan ia memiliki Iccha
dan jnana, tetapi kriya belum.
Diatas Vijnanakala adalah yang mengalami
keberhasilan dalam penaikan yang dikenal sebagai Mantra, Mantresvara, Mantra-mahesvara dan Sivapramata dan mereka terbebas dari segala mala, tetapi mereka
memiliki beraneka macam pengalaman dari satu kesatuan kesadaran. Hanya pada Siva pramata sajalah segala sesuatunya
akan tampak sebagai Siva
( I Wayan Maswinara, Sistem Filsafat Hindu:221-238)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar