Kamis, 26 Desember 2013

SVECCHAYA SVABHITTAU VISVAMUMILAYATI


SVECCHAYA SVABHITTAU VISVAMUMILAYATI



Yang artinya : “dengan daya dail kehendaknya sendiri (saja), ia (citi) membeberkan alam semestapada layarnya sendiri (yaitu pada dirinya sendiri sebagai dasar alam semesta)

            Jadi sutra 2 ini menjelaskan bahwa alam semesta ini terbentang oleh daya dari kehendaknya yang bebas dan bukan oleh suatu penyebab luar. Alam semesta siap diisi secara diam-diam dan Dia membuatnya menjadi jelas.
            Kata “Tattwa” sebenarnya tidak dapat diterjemahkan, namun sebagai pendekatan dapat diterjemahkan dengan kata : “prinsip”. Kita telah melihat bahwa Parama Siva memiliki 2 aspek, yaitu yang transendental (visvottirna) dan yang immanent (visvamaya) atau yang kreatif dan aspek kreatif dari Parama Sivaa ini disebut siwa tattwa.
            Kategori-kategori dalam saiva Monistik Kasmir berjumlah 36 buah, dan 5 buah yang pertama disebut sebagai tattva pengalaman universal, 5 buah berikutnya disebut tattva pengalaman pribadi yang terbatas, 2 buah sebagai tattva pribadi terbatas, 3 buah tattva operasi mental, 15 buah berikutnya sebagai tattva pengalaman yang dapat dirasakan dan 5 buah terakhir sebagai tattva material.

1.      Tattva pengalaman Universal, adalah

1.1           Siva tattva, merupakan gerakan kreatif awal (prathama spanda) dari parama siva. Seperti telah dikatakan dalam sattrimsat tattva sadoha, sloka1, apabila Anuttara ata Yang Mutlak oleh svatantrya atau kehendak mutlakNya merasakan seperti hendak memnculkan alam semesta yang terkandung dalam diriNya, getaran yang pertama dari kehendak ini dikenal sebaga Siva.

1.2           Sakti tattva, yang merupakan enerji dari Siva. Dalam Cit atau parasamvit, Siva (Aku) dan dalam semesta (Ini) merupakan kesatuan yang tak terpisahkan. Dalam Siva Tattva, sisi obyektif dari pengalaman dari Siva ditarik melalui operasi dari sakti tattva, sehingga yang tertinggal hanya sisi “Aku”nya saja. Keadaan ini disebut Anasrita-Siva, oleh Ksemaraja. Dalam Sakti Tattva, aspek ananda dari Yang tertinggi lebih menguasai, Siva dan Sakti tattva, tak dapat dipisahkan dan mereka merupakan kesatuanbaik dalam penciptaan maupun dalam peleburan (pengembalian) dan Siva sebagai “prisip mengalami”, mengalami dirinya sendiri sebagai “Aku” yang murni dan Sakti sebagai pemberi kebahagian. Tegasnya, Siva-Sakti tattva bukan sebagai suatu emanasi atau abhasa, tetapi benih dari segala emanasi.


1.3           Sadasiva tattva atau Sadakhya tattva. –Kehendak (Iccha) untuk menekan sisi “Ini” dari pengalaman universal, disebut sebagai Sada Siva tattva atau sadakhya ttattva. Dimana Iccha atau kehendak lebih menguasai. Pengalaman pada tahapan ini adalah : “Aku adalah” dan karena “adalah” atau “menjadi” ditekankan pada tahapan ini, ia disebut  Sadakhya Tattva (Sat artinya “menjadi”) tetapi “adalah” di sini menyatakan “Ini” (Aku adalah, tetap[i adalah apa? – Aku adalah “Ini”). Oleh karena itu pengalaman pada tahapan ini adalah “Aku adalah ini”, tetapi “Ini” hanyalah suatu pengalaman yang kabur (asphuta) dan sisi yang lebih menguasai masih tetap “Aku”. Alam semesta yang di cita-citakan dialami sebagai sesuatu yang tak berbeda di kedalaman kesadaran, sehingga disebut sebagai “nimesa”.

1.4           Isvara tattva atau Aisvarya tattva. –yang merupakan tahp lanjutan dari pengalaman Tuhan, di mana sisi Idam (ini) dari pengalaman total menjadi sedikit lebih jelas (sphuta) dan pada tahapan ini aspek jnana atau pengetahuan lebih menonjol dan terjadi suatu pemikiran yang jelas tentang apa yang harus diciptakan. Kalau pengalaman pada Sadasiva tattva adalah “Aku adalah ini”, maka pada Isvara tattva menjadi “Ini adalah Aku.

1.5           Sadavidya tattva atau Suddhavidya tattva. – di mana pada tahapan ini sisi “Aku” atau “Ini”, dari pengalaman Siva menjadi seimbang (samadhrtatulaputanyayena) dan pada tahapan Kriya Sakti lebih menonjol. Pengalaman kegiatan pada tahapan ini dapat disebut “keanekaragaman dalam kesatuan” (bhedabhedavimarsanatmaka), yaitu sementara “Ini” secara jelas berbeda dengan “Aku”, ia masih merasakan sebagai satu bagian dari “Aku” atau sang Diri dan keduanya menunjukkan hal yang sama, yang dikatakan memiliki samanadhikaranya.

Kelima tattva pada tahapan ini merupakan pengalaman dalam bentuk pemikiran, sehingga disebut tahapan murni atau “suddhadhvan”, yaitu suatu manifestasi di mana svarupa atau sifat Tuhan yang sebenarnya belum terselubungi

2.      Tattva dari  pengalaman pribadi terbatas.

2.6           Pada tahapan ini, Maya mulai berperan dan selanjutnya terjadi Asuddhadhva atau susunan yang tidak murni, dimana yang lebih tinggi, yaitu hakekat Tuhan yang sesungguhnya terselubungi, yang disebabkan oleh Maya dan Kancuka. Kata Maya berasal dari akar kata “Ma”, yang artinya mengukur, yang membuat semua pengalaman dapat diukur, menjadi terbatas dan memisahkan sisi “Ini” dari sisi “Aku” dan sebaliknya, serta yang memisahkan sesuatu dari yang satu dengan yang lainnya, itulah Maya.

Sampai pada tahapan Sadvidya, pengalaman itu bersifat Semesta, di mana pernyataan “Ini” berarti “semuanya ini”, yaitu segenap alam semesta. Setelah dibawah pengaruh Maya, maka pernyataan ini hanya berarti “Ini” semata-mata; yang berbeda dengan sesuatu lainnya, sehingga sejak saat itu terjadilah pembatasan atau Sankoca. Di sini Maya membentuk selubung (avarana) pada sang Diri, sehingga ia lupa pada hakekat yang sebenarnya; oleh karena itu Maya menyebabkan perasaan berbeda.
Adapun produk dari Maya, berupa Panca Kancuka (penutup) yang berfungsi sebagai berikut
2.7           Kala; yang mengurangi daya penciptaan alam semesta (sarvakartrtva) dari kesadaran semesta dan menyebabkan terjadi pembatasan yang berkaitan dengan daya penciptaan.

2.8           Vidya; yang mengurangi sifat kematahuan (sarvajnatva) dari kesadaran semesta yang menyebabkan terjadinya pembatasan pengetahuan.
2.9           Raga; yang mengurangi segala kepuasan (purnatva) dari kesadaran semesta dan menyebabkan terjadinya keinginan terhadap yang ini maupun yang itu.

2.10       Kala, yang mengurangi sifat keabadian (nityatva) dari kesadaran semesta dan menyebabkan terjadinya pembatasan yang berkaitan dengan masalah waktu, yaitu terjadinya pembagian waktu lampau, sekarang dan yang akan datang.

2.11       Niyatr, yang mengurangi kemerdekaan dan sifat penyusupan (svatantrara dan vyapakatva) dari kesadaran semesta dan menyebabkan pembatasan yang berkaitan dengan masalah penyebab dan ruang.

3        Tattva dari pribadi yang terbatas (subyek-obyek)
3.12       Purusa, - Siva melalui Maya Sakti yang membatasi pengetahuan dan daya kekuatan semesta-Nya menjadi Purusa atau subyek pribadi, dimana dalam konteks ini, Purusa berarti mahluk hidup yang juga dikenal sebagai “Anu” dalam semesta ini. Kata “Anu” dipergunakan dalam pengertian dari kesempurnaan Tuhan (Siva).

3.13       Prakerti -  Sementara Purusa merupakan manifestasi subyektif dari Siva, maka Prakrti merupakan manifestasi obyektifNya. Prakrti memiliki tiga guna (triguna), yaitu: Sattvam, Rajas dan Tamas, di mana ketiga guna ini berada dalam keseimbangan yang sempurna. Prakrti merupakan Santa Sakn dari Siva dan triguna hanyalah perkutuban dari jnana sakti, iccha sakti dan Kriya sakti-Nya.

4          Tattva dari kegiatan mental

Yaitu Buddhi, Ahamkara dan Manas, yang merupakan kategori 14-16.
Prakrti dibedakan menjadi Antahkarana (peralatan psikhis), indriyas (indra-indra) dan bhuta (materi). Antahkarana, yang berarti peralatan dalam, yaitu peralatan psikhis dari pribadi, mengandung tattva-tattva Buddhi, Ahamkara dan Manas.

4.14.     Buddhi, merupakan penentu kecerdasan (vyavasayatmika), dimana obyek-obyek yang dipantulkan dalam Buddhi tersebut ada 2 macam, yaitu:

a)         Yang bersifat eksternal – misalnya seperti sebuah kendi yang diamati melalui penglihatan (mata).

b)         Yang bersifat Internal – gambaran yang dibangun dari samskara (kesan-kesan yang tertinggal di dalam pikiran).

4.15.     Ahamkara, yang merupakan produk dari Buddhi, yang membuat prinsip “keakuan” dan “kemilikan” diri.

4.16.     Manas, yang merupakan produk dari Ahamkara, yang dalam kerjasamanya dengan indra-indra membangun pengamatan, yang dengan sendirinya membangun gambaran serta konsep-konsep.

5.          Tattva dari pengalaman yang dapat dirasakan,
yaitu kategori 17 sampai kategori 31.

5.a)         17-21 Lima daya dari indra pengamatan yang merupakan  produk dari Ahamkara, yaitu Jnanendriya atau Buddhindriya, merupakan tattva dari pengalaman yang dapat diindra, yaitu:

17.     Membau (ghranendriya)
18.     Mengecap (rasanendriya)
19.     Melihat (caksunendriya)
20.     Menyentuh (parsendriya)
21.     Mendengar (sravanendriya)

5.b)         22-26. Lima daya kegiatan, yang juga merupakan produk dari Ahamkara, yaitu Karmendriya, yaitu:

17.     Daya ucap (vagindriya)
18.     Daya menangani (hastendriya)
19.     Daya penggerak (padendriya)
20.     Daya pengeluaran (payvindriya)
21.     Daya seksual (upasthendriya)

Indra-indra ini bukanlah peralatan indra , tetapi daya yang menggerakkan melalui peralatan indra.

5.c)         27-31. Lima unsur utama dari pengamatan (panca tanmatra), yang juga merupakan produk dari Ahamkara, yaitu:

27.     Suara (sabda-tanmatra)
28.     Raba (sparsa-tanmatra)
29.     Warna (rupa-tanmatra)
30.     Aroma atau Rasa (rasa-tanmatra)
31.     Bau (gandha-tanmatra)

Yang mutlak dalam sistem ini disebut Cit atau Parama Siva atau Mahesvara. Ia disebut Mahesvara karena memiliki kekuasaan mutlakatas kehendak (svantrata atau svantantrya). Kekuasaan Mutlak atau kehendak bebas ini bukan suatu kekuatan bhuta tetapi merupakan svabhava (keberadaannya sendiri) dari Kesadaran Universal (Cit), dan kekuasaan kehendak inilah yang mewujudkan pemikiran objektif sehingga ia bebas dan tak tergantung kepada segala sesuatu yang ada di luar dirinya. Ia melampaui segala kategori tentang waktu, ruang, penyebab dsb. Karena semuanya ini bersumber dari padaNya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kekuasaan kehendak yang bebas ini merupakan inti dari Keberadaan Tuhan (Parama Siva).
Parama Siva (Realitas Mutlak) yang keberadaan-Nya sendiri merupakan kesadaran yang sifat Prakasa danVimarsa, yang sebagai realitas yang tidak dapat disangkal dan selalu hadir tampak sebagai subyek dari Rudra menurun sampai kepada kesatuan yang tidak bergerak, juga sebagai obyek seperti kesenangan, biru dsb. Yang tampak seakan-akan terpisah, walaupun pada dasarnya mereka tak terpisahkan melalui kemuliaan kekuasaan darisvatantrya (kehendak bebas), yang tidak dapat dipisahkan dengan samvit (kesadaran universal) dan yang tak menyembunyikan hakekat sebenarnya dari yang tertnggi. Ini merupakan pernyataan dari svantantrya vada (ajaran svantantrya).
Dari titik pandang kretifitas dari Realitas tertinggi, filsafat ini dikenal sebagai svantryavada dan dari titik pandang perwujudannya, ia dikenal sebagai abhasavada. Dalam Realitas terakhir segenap perwujudan yang beraneka ragam ini berada dalam kesatuan yang sempurna, yaitu suatu kumpulan yang tak terbedakan, seperti bulu burung merak yang beraneka ragam dengan segala keindahan warnanya terbaring dalam keadaan tak terbedakan di dalam plasma telurny. Sistem yang dipersamakan dengan plasma telur burung merak ini disebut mayurandarasanyaya.
Prinsp yang mendasari semua persujudan ini adalah Cit atau kesadaran universal murni dari penampakan alam yang tak berubahini hanyalah suatu pernyataan dari Cit atau Samvid. Semua yang tampak dalam berbagai bentuk ini apakah sebagai subyek atau obyek ataupun pengetahuan, cara pengetahuan, indra-indra dan semua yang ada dengan berbagai cara, hanya merupakan suatu abhasa  dalam manifestasi atau penampakan dalam cara yang terbatas dan abhasa tiada lain merupakan pemikiran dari kesadaran universal yang tampak sebagai eksternal terhadap subyek empiris.
Seperti suatu obyek yang beraneka ragam tampak di dalam sebuah cermin, demikian juga segenap alam semesta di dalam kesadaran atau sang diri. Bagaimana juga dari kesadarandiri mengetahui alam semesta, bukan seperti penmpakan dalam cermin.
Semua abhasa muncul sperti ombak dilautan kesadaran universal, dan seperti muncu dan lenyapnya ombak dilautan yang tida hilang maupun bertambah, demikian pula keadaan dengan kesadaran universal. Disebabkan oleh penampakan dan lenyapnya abhasa. Abhasa tiada lain adalah proyeksi eksternal dari pemikiran Ilahi.
Keberadaan Ilahi (Parama Siva) tidak menciptakan seperti seorang pengerajin gerabah yang membentuk tanah liat menjadi periuk. Srstti hanyalah cara perwujudan luar dari apa yang terkandung didalamnya dan Yang Ilahi tidak memerlukan material luar untuk keperluan ini. Kesadaran Universal itu sendirilah yang tampak dalam bentuk subyek dan obyek. Oleh karena itu penampakan ini tak dapat dikatakan sebagai palsu. Penampakan ini membuat ketidak berbedaan terhadap kesempurnaan dari Kesadaran Universal. Svantantryavada dari filsafat ini berpegang pada kontradiksi terhadap vivartavada dan abhasavada pada parinamavada.
Dari titik pandangan yang lainnya, misalnya dari parasakti, manifestasi atau asal ciptaan diuraikan dengan cara berikut ini: Terdapat potensi yang tak terikat atau kekuatan dasar yang berkelanjutan yang dikenal sebagai nada, yang menempatkan dirinya kedalam titik atau pudat dinamis, yang disebut bindu. Penempatan disini bukan suatu proses dalam waktu dan ruang dan ini merupakan sumber dari segala manifestasi. Dalam tahapan manifestasi tertinggi, vacaka dan vacya (indukatordan yang ditunjuk; atau kata dan obyek) adalah satu. Kemudian ada 6 adhva (sadhava) atau 6 langkah asal usul ciptaan; Yang pertama, terjadi pengkutuban varna dan kala. Terutama sekali Kala yang merupakan aspek dari realitas, yang mewujudkan dirinya sebagai daya pengembangan alam semesta. Aspek transendental dari realitas atau Parama Siva dikenal sebagai niskala kerena ia mengatasi Kala atau kreatifitas; sedangkan aspek immanent dari Siva adalah Sakala, karena ia dikaitkan dengan kretifitas.
Tetapi dalam konteks sekarang ini, yang muncul setelah nada-bindu, kala artinya suatu tahapan dan aspek dari kreatifitas. Disinilah sesuatu mulai dibedakan dari keseluruhan yang integral. Vacaka dan Vacya (indeks dan obyek) yang merupakan hal yang satu pada tahapan paravak mulai dibedakan. Adhava atau langkah pertama dari pembedaan ini merupakan pengkutuban dari varna dan kala.
Seperti pendapatdari Svami Pratyagatmananda, bahwa varna dalam konteks ini bukan berarti huruf, warna atau kelas, tetapi suatu “bentuk fungsi” dari obyek yang diproyeksikan dari bindu. Oleh karena itu, varna menyatakan ciri-ciri indeks ukuran dari bentuk fungsi yang dihubungkan denngan obyek. Varna adalah bentuk fungsi dan Kala adalah yang daapat diukur.
Adhva selanjutnya dalam bidang halus, adalah yang sari mantra dan tattva. Mantra merupakan “bentuk fungsi yang pantas” atau “rumusan dasar” dari asal penciptaan lanjutan, yaitu tattva; sedabngakan tattva sendiri merupakan prinsip yang bersatu padu atau sumber dan asal usul dari bentuk struktur halus.
Pengkutuban akhir atau yang ketiga, adalah dari Pada dan Bhuvana. Bhuvana adalah alam semesta yang tampak seperti penglihatan kita sendiri. Pada adalah perumusan sebenarnya dari alam semesta oleh reaksi pikiran dan perkataan. Selanjutnya Sadadhava dapat dinyatakan secara ringkas sebagai berikut:

Vacaka atau Sabda                            Vacya atau Artha
           Varna                                                  Kala
           Mantra                                                 Tattva
           Pada                                                    Bhuvana

Trika atau tiga serangkai pada sisi Vacaka, dikenal sebagai Kaladhva; sedangkan pada sisi Vacya dikenal sebagai Desadhva.
Varnadhva merupakan hakekat dari prama, yang merupakan tempat bersandar dari prameya (obyek), pramana (cara pengetahuan) dan pramata (pengamatan). Varna ada 2 macam, yaitu: non-mayiya dan mayiya. Mayiya varna muncul dari non-mayiya, dimana non-mayiya varna itu murni, alami, tanpa batasan dan tak terhitung banyaknya.
Vacaka sakti (daya penunjukkan) dari non-mayiya varna bersatu padu dalam mayiya varna, bahkan sebagai daya panas yang bersatu padu dalam api.
Kala jumlahnya ada 5 buah, yaitu:
1.               Nivatti kala, 2. Pratistha  kala, 3. Vidya kala, 4. Santa atau Santi kala dan 5. Santyatita kala. Menurut Abhinavagupta, ada 118 buah bhuvana, sedangkan orang lainnya menyatakan 224 bhuvana.
Keseluruhan manifestasi dibagi menjadi 5 Kala atau tahapan dan yang terbawah adalah:
1.      Nirvrtti kala : yang terbentuk terutama dari prthivi tattva dan memiliki 16 bhuvana atau planet keberadaan. Bidang terendah dari Nivrtti Kala disebut Kalagni rudra bhuvana yang dinyatakan oleh ksemaraja sebagai Kalagnyadeh.
2.      Pratistha Kala: yang merupakan Kala kedua, dihitung dari Kala yang terendah, yaitu Nivrtti Kala. Ia mengandung 23 tattva, dari jala tattva menaik sampai prakrti tattva dan mengadung 56 bhuvana.
3.      Vidya Kala: yang merupakan Kala ketiga, yang terdiri dari 7 tattva, dari purusa tattva menaik sampai maya tattva dan 28 bhuvana.
4.      Santa Kala:  yang merupakan Kala ke empat, yang terdiri atas 3 tattva, yaitu suddha vidya. Isvara dan sada Siva, serta mengandung 18 bhuvana
5.      Santatita Kala: yaitu Kala kelima, yang hanya diperbandingkan dengan Siva dan Sakti tattva, serta tidak memiliki bhuvana.

Parama Siva melampaui semua Kala ini. Total dari bhuvana tersebut adalah : 16 + 56 + 28 + 18 = 118 buah.
Perbandingan dan perbedaan pandangan filsafat Vedanta Sankara (santabrahmavada) dan filsafat Saiva Monistik Kasmir (Isvaradvayavada).
No.
Santabrahmavada
Isvaradvayavada
1.



2.




3.

4.





5.


6.




7.


8.
Cit atau brahman hanya prakasa (sinar) atau jnana (pengetahuan), yang tidak aktif (niskriya).

Kegiatan hanya milik dari maya atau avidya. Isvara melakukan kegiatan hanya apabila ia di pengaruhi oleh avidya atau maya.


Maya merupakan anirvacaniya (tak dapat didefinisikan)
Maya menjadi dapat didefinisikan apabila penggabungan dengan Isvara dan analisa akhir adalah tidak nyata. Maya tampaknya memainkan peranan sebagai suatu prinsip pemisah, sehingga advaita sankara menjadi eksklusif.
Dalam hal keakuan atau jiva empiris, atma tidak aktif. Semua kegiatan menjadi milik Buddhi, produk dari prakrti.
Alam semesta adalah mithya atau tidak nyata. Perwujudan hanyalah nama-rupa dan tak dapat dianggap sebagai nyata dalam pengertian yang sebenarnya, advaita Sankara tidak termasuk alam semesta.
Dalam pembebasan, alam semesta dimusnakan


Menurut sankara vedanta, avidya dilepaskan oleh vidya, dan apabila hal ini terjadi, mukti atau pembebasan tercapai. Vidya adalah hasil dari sravana, manana dan nididhyasana.
Cit adalah prakasa dan vimarsa (sinar dan kegiatan), karena itu ia memiliki jnatrtva (pengetahuan) dan kartrtva (kegiatan), yaitu 5 macam kegiatan.
Mahesvara memiliki svantantrya, sehingga kegiatan merupakan milikNya. Maya tidak mempengaruhi Mahesvara atau Siva. Maya merupakan sakti-Nya sendiri untuk membuat kejamakan dan merasakan perbedaan.
Maya menjadi Sakti dari Ilahi adalah benar-benar nyata.
Maya adalah Siva-mayi atau cinmayi dan merupakan saktiNya Siva, yang merupakan prinsip yang tidak bisa terpisah, sehingga Saiva monistis adalah insklusif dan integral.


Bahkan dalam masalah jiva, 5 macam kegiatan Siva tak pernah berhenti.

Alam semesta adala SivaRupa sehingga nyata dan merupakan pernyataan dari kemuliaan yang Ilahi. Abhasa yang menjadi pemikiran Siva tak dapat palsu. Filsafat siva termasuk alam semesta dan monistik yang sebenarnya.
Dalam pembebasan alam semesta tampak sebagai suatu wujud dari kesadaran Siva atau kesadaran aku yang sebenarnya
Menurut filsafat siva monistik ada 2 macam ajnana, yaitu yang berada bersama purusa atau anu dan bauddha-ajnana yang merupakan kecerdasan. Dengan vidya hanya bauddha-ajnana saja yang dapat dilepaskan; purusa-ajnana tetap tinggal. Orang seperti itu akan diangkat hanya pada abstraksi kosong dan ia tidak akan mewujudkan sivatman. Oleh karena itu purusa-ajnana yang diperoleh dengan anugrah Tuhan atau insiasi oleh seorang guru.

Pribadi menurut sistem ini bukan semata-mata suatu keberadaan psiko-fisik saja tetapi sesuatu yang lebih dari itu. Aspek fisiknya sendiridari 5 mahabhuta atau unsur kasar, yang tersusun dengan baik dan dikenal sebagai shtulasarira-Nya. Ia juga memiliki peralatan psikis yang dikenal sebagai antahkarana (peralatan dalam), yang terdiri dari buddhi, ahamkara dan manas.
Buddhi, ahamkara dan manas secara bersama-sama dengan 5 tanmtra membentuk suatu kelompok delapan yang dikenel sebagai puryastaka dan inilah yang disebut sebagai suksmasarira, dimana roh meninggalkan badan pada saat kematian.
Didalam badan juga bekerja prana sakti, yang merupakan sakti Ilahi yang bekerja dialam semesta dan juga pada pribadi. Dengan prana sakti inilah segala sesuatunya dihidupi dan dipelihara.
Juga terdapat kundalini, yang merupakan bentuk atau perwujudan dari sakti, yang berbaring tertidur paqda makhluk manusia yang normal. Akhirnya terdapat caitannya atau Siva ditengah-tengah keberadaannya yang merupakan sang Diri. Meskipun pada dasarnya sang Diri dalam diri manusia adalah Siva, ia menjadi sebuah Anu atau pribadi terbatas, akibat dari adanya anava mala.
Belenggu dari pribadi disebabkan ketidak tahuan bawaan yang dikenal sebagai anava mala, yang merupakan kondisi pembatasan utama, yang mengurangi kesadarn universal menjadi anu atau aspek terbatas. Hal itu terjadi karena pembatas dari Iccha Sakti dari yang tertinggi, sehingga jiwa menganggap dirinya sendiri sebagai suatu kesatuan yang terpisah, yang terputus dari aliran kesadarn universal dan ini merupakan kesadarn dari pembatas diri.
Perhubungan dengan kategori-kategori dari asuddha adhva atau susunan dari manifestasi luar, ia selanjutnya menjadi terbatas oleh mayiya mala dan karma mala. Mayiya mala adalah pembatas kondisi yang diakibatkan oleh maya. Bhinna vedya pratha lah yang memberikan kesadaran tentang perbedaan yang disebabkan  beda batasan yang diberikan pada badan, dsb. Yang disebabkan oleh pembatasan dari Jnana Sakti yang Tertinggi.
Pembebasan menurut sistem Saivadvaita (monistik) Kasmir, artinya pengenalan kembali (pratyabhijna) hakekat sebenarnya dari seseorang, atau dengan kata lain pencapaian aktrima-aham-vimarsa, yaitu pencapaian kesadaran Aku (Siva) yang murni. Kesadarn Aku yang murni bukanlah hakekat dari vikalpa (absennya pikiran), karena vikalpa menurut yang kedua yaitu semua vikalpa saling berhubungan. Yang normal, kesadarn Aku psikhologis adalah saling berhubungan, yaitu kesadarn diri berlawanan dengan yang bukan diri dan kesadarn Aku yang murni bukanlah saling hubungan semacam ini. Ia merupaan kesadaran langsung dan apabila seseorang memiliki kesadaran ini, ia mengetahui hakekatnya yang sejati.
Moksa (pembebasan) tiada lain adalah kesadaran seseorang akan hakekatnya yang sejati dan dengan kesadaran Aku yang sebenarnya ini, seseorang mencapai Cidananda, yaitu kebahagian dari Cit atau kesadaran unversal. Citta atau pikiran pribadi, sekarang dirubah kedalam Cit, sehingga pencapaian kesadaran Aku yang murni juga merupakanpencapaian kesadaran Siva, dimana seluruh alam semesta tampak sebagai Siva.
Menurut sistem ini, bentuk tetinggi dari ananda atau kebahagian adalah jagadananda, yaitu kebahagian alam semesta, dimana seluruhalam semesta tampak sebagai Roh bebas segai Cit atau Siva.pembebasan ini hanya dapat dicapai dengan saktipata atau anugraha, yaitu anugrah Tuhan.
Mereka yang dikarenakan samskara dari kelahiran masa lalu, merupakan roh yang sangat maju menerima tivra atau saktipata mendalam dan mereka dibebaskan tanpa banyak melakukan sadhana atau disiplin spiritual.
Mereka yang kurang mampu, menerima madhyama saktipata, yang mengantarnya untuk mencari seorang guru spiritual, untuk mendapatkan inisiasi dan melakukan yoga, sehingga mereka memperoleh pembebasan.
Mereka yang tetap kurang kemampuannya menerima manda saktipata, yang menciptakan keteguhan murni guna pengetahuan spiritualdan meditasi dan mereka juga akan mendapatkan pembebasan pada waktunya nanti, sesuai dengan tahapan spritualnya.
Anugrah tuhan bukanlah hasil dari tingkah laku, melainkan harus dicapai dengan disiplin moral dan spiritual. Cara perolehan anugrah telah dipisahkan menjadi 4 macam anugrah utama, yaitu: Anavopaya, Saktopaya, Sambhavopaya dan Anupaya. Upaya-upaya ini dianjurkan untuk mendapatkan pelepasan dari mala-mala sehingga layak untuk menerima anugrah.
Anavopaya, adalah cara atau upaya yang dilakuka seorang pribadi dengan mempergunakan karana atau peralatan untuk merubahnya kedalam realisasi diri; termasuk disiplin pengaturan prana, ritual konsentrasi pada istadevata-nya masing-masing dan akhirnya ia akan memberikan realisasi diri dengan pembukaan dari madhya-dharma atau susumna, yang juga dikenal sebagai Kriyopaya, karena kriya seperti pengulangan sebuah mantra dan melaksanakan ritual, dsb. –memainkan peranan yang cukup penting. Ia juga disebut bhedopaya, karena disiplin ini dimulai dengan pengertian tentang Bheda atau perbedaan (antara dirinya dengan alam semesta).
Saktopaya dikaitkan dengan mereka yang melakukan kegiatan psikhologis, yang merubah kekuatan didalam serta memberikan sama vesa pribadi atau penyelaman dari kesadaran pribadi dalam yang Ilahi. Dalam hal ini kebanyakan mantra sakti ikut berperan, sehingga pribadi mendapatkan pratibha jnana atau pengetahuan sejati yang secara pelan-pelan perasaan dualitanya berkurang dan kesadarannya bergabung dalam para-samvid. Dalam disiplin ini seseorang harus bermeditasi sesuatu seperti “Aku adalah Siva” (sivo ham). “seluruh alam semesta ini hanyalah suatu pengembangan dari Diri-ku yang sesungguhnya”.
Dalam Anavopaya, indra-indra, prana dan manas di tekan kedalam sifat pelayanan, sedang dalam Saktopaya, hanya manas  saja yang berfungsi secara aktif. Ia juga dikenal sebagai jnanopaya, karena kegiatan mental memainkan peranan penting di sini. Ia juga dikenal sebagai bhedabheda-upaya, karena ia didasarkan pada kesamaan dan perbedaan. Dengan Saktopaya, kundalini muncul dari muladhara cakra tanpa banyak usaha untuk mengendalikan prana  dan memberikan realisasi diri.
Sambhavopaya, adalah cara memajukan para calon spiritual atau para sadhaka, yang dengan meditasi pada sivattva mencapai kesadaran-Nya. Ini adalah jalan “Kesadaran yang terus menerus”, dimana seseorang mengawali dengan menganalisa panca-krtya, sadhana dari vikalpa-ksaya dan pelaksanaan kesadaran bahwa alam semesta hanyalah refleksi (pantulan) dari Cit, tetapi selanjutnya hal ini pun harus ditinggalkan. Hal ini akan menuntun secara mudah menuju kesadaran Aku yang murni.
Anupaya, secara jelas dapat disebut sebagai tanpa upaya (usaha), yang secara penuh tergantung pada anugrah, yang dapat muncul melalui satu kata dari guru spiritual dan sinar dapat turun pada para sadhaka sehingga ia dapat memperoleh suatu pengalaman tentang diri sesungguhnya dalam sekejap mata atau anugrah Ilahi dapat dicurahkan padanya secara langsung dan ia seketika dapat merealisir dirinya sendiri.
Pratyabhina menekankan pada meditasi pada panca-krtya dan melaksanakan vikalpa ksaya dan ia mengemukakan bahwa lima macam kegiatan Siva yaitu: srsti, sthti, samhara, vilaya dan anugraha berjalan secara terus menerus, bahkan juga dalam pribadi. Para sadhaka  harus secara terus menerus merenungkan makna esoterik  dari kelima kegiatan ini agar muncul pada kesadaran yang lebih tinggi. Persepsi mental dari pribadi dengn referensi pada suatu tempat dan waktu tertentu merupakan srsti dala dirinya; penahanan dan penikmatan  dari apa yang diterima, adalah sthiti atau pemeliharaan pada saat menikmati kesadaran Aku, ia terserap dalam kesadaran dan ini adalah samhara. Apabila setelah penarikan, kesan-kesannya  muncul kedalam kesadran kembali, hal itu berhubungan dengn vilaya dan apabila terserap secara penuh ke dalam Cit atau diri  yang sebenarnya, dengan proses hantha-paka, maka itu adalah anugrah. Pelaksanaan ini membatasi kemampuan para sadhalka terhadap cidananda murni.
Pribadi normal dikenal sebagai sakala, yang memiliki ketiga mala, yaitu karma, mayiya dan anava. Setelah mengalami banyak kelahiran, dimana selama masa itu ia mengembangkan pengetahuan tentang hakekat sang diri dan mencoba untuk mengetahui dari mana dan hendak kemana dari kehidupan ini, maka hal ini merupakan pernyataan awal tentang znugrah dari Siva.
Apabila ia tidak begitu perhatian dan bermanja-manja dalam jenis yoga yang lebih rendah, ia dapat menjadi seorang pralayaka. Ia bebas dari Karma mala dan hanya memiliki karma dan anava mala, tetapi ia tidak memiliki jnana maupun kriya dan hal ini bukan keadaan yang dapat diharapkan. Pada saat pralaya, ztu penarikan alam semesta, setiap pribadi sakala menjadi seorang pralayakala. Vijnakala adalah seseorang yang mengalami tahapan yang lebih tinggi, dimana ia telah mengatasi maya tetapi masih dibawah pengaruh suddha vidya. Ia terbebas dari karma dan mayiya mala tetapi masih memiliki anawa mala dan ia memiliki Iccha dan jnana, tetapi kriya belum.
Diatas Vijnanakala adalah yang mengalami keberhasilan dalam penaikan yang dikenal sebagai Mantra, Mantresvara, Mantra-mahesvara dan Sivapramata dan mereka terbebas dari segala mala, tetapi mereka memiliki beraneka macam pengalaman dari satu kesatuan kesadaran. Hanya pada Siva pramata sajalah segala sesuatunya akan tampak sebagai Siva
 ( I Wayan Maswinara, Sistem Filsafat Hindu:221-238)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar