BAB I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Albert Bandura sangat terkenal dengan teori pembelajaran social ( Social
Learning Teory ) salah satu konsep dalam aliran behaviorisme yang menekankan
pada komponen kognitif dari fikiran, pemahaman dan evaluasi. Ia seorang
psikologi yang terkenal dengan teori belajar social atau kognitif social serta
efikasi diri. Eksperimen yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang
menunjukkan anak – anak meniru seperti perilaku agresif dari orang dewasa
disekitarnya.
Teori kognitif sosial (social cognitive theory)
yang dikemukakan oleh Albert Bandura menyatakan bahwa faktor sosial dan kognitif serta
factor
pelaku
memainkan peran
penting
dalam pembelajaran. Faktor kognitif berupa ekspektasi/ penerimaan siswa untuk meraih keberhasilan,
factor social mencakup pengamatan siswa terhadap perilaku orangtuanya. Albert Bandura merupakan salah satu
perancang teori kognitif social. Menurut
Bandura
ketika
siswa belajar
mereka dapat merepresentasikan
atau mentrasformasi pengalaman mereka
secara kognitif. Bandura mengembangkan model deterministic resipkoral yang terdiri dari tiga faktor utama yaitu perilaku,
person/kognitif dan lingkungan. Faktor ini bisa saling berinteraksi dalam proses pembelajaran. Faktor
lingkungan mempengaruhi
perilaku, perilaku
mempengaruhi lingkungan, faktor person/kognitif mempengaruhi perilaku. Faktor person Bandura tak
punya kecenderungan kognitif terutama pembawaan personalitas dan temperamen. Faktor kognitif mencakup ekspektasi, keyakinan, strategi pemikiran dan kecerdasan.
Dalam model pembelajaran Bandura, faktor person (kognitif)
memainkan peranan penting. Faktor person (kognitif) yang dimaksud saat ini adalah self-efficasy atau efikasi diri.
Reivich dan
Shatté (2002)
mendefinisikan
efikasi diri sebagai keyakinan
pada
kemampuan diri
sendiri untuk menghadapi dan
memecahkan masalah dengan efektif.
Efikasi diri juga berarti meyakini diri sendiri mampu berhasil dan sukses. Individu dengan efikasi diri tinggi memiliki komitmen dalam memecahkan masalahnya dan tidak akan menyerah ketika menemukan bahwa strategi yang sedang digunakan itu tidak berhasil. Menurut Bandura (1994), individu yang memiliki efikasi diri yang tinggi akan sangat
mudah
dalam menghadapi tantangan.
Individu tidak merasa ragu
karena
ia memiliki kepercayaan
yang
penuh
dengan kemampuan
dirinya.
Individu ini
menurut Bandura (1994) akan
cepat menghadapi masalah dan mampu bangkit dari kegagalan yang ia alami.
Menurut Bandura proses mengamati dan meniru perilaku dan sikap orang
lain sebagai model merupakan tindakan belajar. Teori Bandura menjelaskan
perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal balik yang berkesinambungan
antara kognitif, perilaku dan pengaruh lingkungan. Kondisi lingkungan sekitar
individu sangat berpengaruh pada pola belajar social jenis ini. Contohnya,
seseorang yang hidupnya dan dibesarkan di dalam lingkungan judi, maka dia
cenderung untuk memilih bermain judi, atau sebaliknya menganggap bahwa judi itu
adalah tidak baik.
1.2
RUMUSAN MASALAH
Dari
latar belakang di atas saya memperoleh
rumusan masalah sebagai berikut :
a.
Apa
latar belakang A. Bandura?
b.
Apa
devenisi Teori Belajar Sosial ?
c.
Apa
latar belakang teori yang di pakai A. Bandura ?
d.
Apa konsep dan implikasi teori belajar sosial bandura?
e.
Bagaimana
pandangan teori A. Bandura tentang belajar ?
f.
Aplikasi
dalam proses pembelajaran ?
g.
Apa kelemahan dan kelebihan teori A. Bandura?
1.3
TUJUAN MAKALAH
Makalah ini dirancang untuk mahasiswa Program S1 Pendidikan Agama Hindu. Oleh sebab itu dalam penyajiannya diharapkan dapat
meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang berbagai konsep model pembelajaran dan
penerapan model pembelajaran di kelas. Penyusunan
makalah bertujuan agar penulis mampu :
a.
Mengungkapkan
apa latar belakang tokoh (A. Bandura)
b.
Menjelaskan
pengertian teori belajar
sosial.
c.
Untuk
memahami latar belakang dari teori belajar sosial
d.
Untuk memehami konsep dan implikasi teori belajar sosial
bandura
e.
Untuk
menjelaskan pandangan teori A. Bandura tentang teori belajar sosial
f.
Untuk
mengetahui aplikasi teori yang di pakai dalam proses belajar.
g.
Untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan teori A. Bandura
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
LATAR
BELAKANG TOKOH
Albert Bandura
dilahirkan di Mundare Northern Alberta Kanada, pada 04 Desember 1925. Masa
kecil dan remajanya dihabiskan di desa kecil dan juga mendapat pendidikan
disana. Pada tahun 1949 beliau mendapat pendidikan di University of British
Columbia, dalam jurusan psikologi. Dia memperoleh gelar Master didalam bidang
psikologi pada tahun 1951 dan setahun kemudian ia juga meraih gelar doctor
(Ph.D). Bandura menyelesaikan program doktornya dalam bidang psikologi klinik,
setelah lulus ia bekerja di Standford University.Beliau banyak terjun dalam
pendekatan teori pembelajaran untuk meneliti tingkah laku manusia dan tertarik
pada nilai eksperimen.Pada tahun 1964 Albert Bandura dilantik sebagai professor
dan seterusnya menerima anugerah American Psychological Association untuk
Distinguished scientific contribution pada tahub 1980.
Pada tahun
berikutnya, Bandura bertemu dengan Robert Sears dan belajar tentang pengaruh
keluarga dengan tingkah laku social dan proses identifikasi. Sejak itu Bandura
sudah mulai meneliti tentang agresi pembelajaran social dan mengambil Richard
Walters, muridnya yang pertama mendapat gelar doctor sebagai asistennya.
Bandura berpendapat, walaupun prinsip belajar cukup untuk menjelaskan dan
meramalkan perubahan tingkah laku, prinsip itu harus memperhatikan dua fenomena
penting yang diabaikan atau ditolak oleh paradigma behaviorisme. Albert Bandura
sangat terkenal dengan teori pembelajaran social, salah satu konsep dalam
aliran behaviorime yang menekankan pada komponen kognitif dari pemikiran,
pemahaman, dan evaluasi.
2.2
LATAR BELAKANG TEORI
2.2.1
Pengertian Teori
Belajar Sosial Bandura
Teori Pembelajaran Sosial merupakan perluasan dari teori belajar
perilaku yang tradisional (behavioristik). Teori pembelajaran social ini
dikembangkan oleh Albert Bandura (1986). Teori ini menerima sebagian besar dari
prinsip – prinsip teori – teori belajar perilaku, tetapi memberikan lebih
banyak penekanan pada kesan dan isyarat – isyarat perubahan perilaku, dan pada
proses – proses mental internal. Jadi dalam teori pembelajaran social kita akan
menggunakan penjelasan – penjelasan reinforcement eksternal dan penjelasan –
penjelasan kognitif internal untuk memahami bagaimana belajar dari orang lain.
Dalam pandangan belajar social “manusia“ itu tidak
didorong oleh kekuatan – kekuatan dari dalam dan juga tidak dipengaruhi oleh
stimulus – stimulus lingkungan.
Teori belajar sosial yaitu cara
belajar meniru prilaku orang lain dan pengalkaman vicarius,yaitu belajar dari
keberhasilan dan kegagalan orang lain.Bandura menjelaska teori ini sebagain berikut:
a.
Sebagian
besar yang dialami oleh manusia tidak dibentuk dari konsekwensi melainkan
manusia itu belajar dari suatu model (contoh )
b.
Sebagian
besar orang belajar melalui pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah
laku orang lain.
Lebih lanjut bandura
mengungkapkan bahwa: “Belajar sangat menghasilkan
waktu dan tenaga bahkan berbhaya jika manusia neggantungkan diri sepenuhnya
pada hasil kegiatannya sendiri.ini memebentuk perhatian bahwa bagaimana
sesungguhnya melakukan tingkah laku baru,dan pada kesmpatan berikutnya.informsi
yang telah dikodekan berfungsih sebagai pemandu untuk tindakan,karna manusia
dapat belajar dari model (Contoh )”
Seperti yang dikembangakan oleh
Hull,Bandura dan Walters juga menyatakan bahwa:
“ Kalau seseorang melihat suatu rangsang dan suatu model beraksi secara tertentu terhadap rangsangan itu,maka dalam khyalan orang btersebut terjadi serangkaian simbol – simbol yang menggambarkan dari tingka laku vbalas tersebut”
“ Kalau seseorang melihat suatu rangsang dan suatu model beraksi secara tertentu terhadap rangsangan itu,maka dalam khyalan orang btersebut terjadi serangkaian simbol – simbol yang menggambarkan dari tingka laku vbalas tersebut”
Teori belajar social Bandura (1965a, 1965b,
1971, 1977) menguraikan kumpulan ide mengenai cara perilaku dipelajari dan
diubah. Penerapan teori ini hampir pada seluruh perilaku, dengan perhatian
khusus pada cara perilaku baru diperoleh melalui belajar mengamati
(observational learning). Teori ini digunakan dengan mudah untuk perkembangan
agresi, perilaku yang ditentukan, ketekunan, belajar loncatan ski, dan reaksi
psikologis yang datar pada emosi.Teori Bandura dengan jelas menggunakan sudut
pandang kognitif dalam menguraikan belajar dan perilaku.
Melalui
kognitif kita berarti Bandura berasumsi tentang pikiran manusia dan menafsirkan
pengalaman mereka. Contoh, Bandura (1977) membantsah bahwa belajar kompleks
hanya dapat terjadi ketika orang sadar dari apa yang dikuatkan. Rangkaian
kejadian itu merupakan perilaku ingin yang diikuti oleh penguatan),” tetapi
Bandura akan membantah bahwa penguatan seperti itu tidak akan memberikan
pengaruh yang kuat pada perilaku. Anak-anak pertama- tama harus mengerti
hubungan antara perilaku yang benar dan peristiwa penguatan.
Dalam perbedaan kedudukan Bandura, teori
belajar tradisional (seperti Skinner dan Hull) berasumsi tidak menerima proses
kognitif manusia. Agaknya masalah utama untuk mendapatkan perilaku dari manusia
supaya dapat dikuatkan . menurut kedudukan tradisional, penguatan “menguatkan”
perilaku, membantu perilaku lebih terjadi seterusnya. Hal utama dari pendekatan tradisional ini,
untuk terjadinya belajar, manusia harus melakukan performa/tampilan utama dan
kemudian diberi hadiah. Menurut teori belajar social, perbuatan melihat saja
menggunakan gambaran kognitif dari tindakan ,secara rinci dasar kognisi dalam
proses belajar dapat diringkas dalam 4 tahap yaitu :
a.
Atensi / Perhatian
Jika
reaksi baru yang dipelajari dari melihat/mendengar lainnya, maka hal itu jelas
bahwa tingkat memberi perhatian yang lain akan menjadi yang terpenting. Lebih mendalam
lagi berikut faktor-faktor untuk mendapatkan perhatian :
1)
Penekanan
penting dari perilaku menoonjol
2)
Memperoleh
perhatian dari ucapan /teguran
3)
Membagi
aktivitas umum dalam bagian –bagian yang wajar jadi komponen keterampilan dapat
menonjol.
b.
Retensi
Setiap gambaran perilaku disimpan dalam memori atau tidak, dan dasar untuk penyimpanan merupakan metode yang digunakan untuk penyandian atau memasukkan respon. Penyandian dalam symbol verbal dipermudah oleh berpikir aktif orang atau ringkasan secara verbal tindakan yang mereka amati. Waktu respon yang diamati disandikan, ingatan kesan visual atau symbol verbal dapat berlanjutdengan melatih kembali secara mental. Dengan begitu, penyandian akan mencoba untuk berpikir giat mengenai tindakan dan memikirkan kembali penyandian verbal.
Setiap gambaran perilaku disimpan dalam memori atau tidak, dan dasar untuk penyimpanan merupakan metode yang digunakan untuk penyandian atau memasukkan respon. Penyandian dalam symbol verbal dipermudah oleh berpikir aktif orang atau ringkasan secara verbal tindakan yang mereka amati. Waktu respon yang diamati disandikan, ingatan kesan visual atau symbol verbal dapat berlanjutdengan melatih kembali secara mental. Dengan begitu, penyandian akan mencoba untuk berpikir giat mengenai tindakan dan memikirkan kembali penyandian verbal.
c.
Reproduksi Gerak
Waktu
fakta-fakta dari tindakan baru disandikan dalam memori, mereka harus dirubah
kembali dalam tindakan yang tepat. Rangkaian tindakan baru merupakan symbol
pertama pengaturan dan berlatih, semua waktu dibandiungkan dengan
ingatan/memori dari perilaku model. Penyesuaian dibuat dalam rangkaian tindakan
baru, dan rangkaian perilaku awal.
Perilaku
sebenarnya dicatat oleh orang dan mungkin juga oleh pengamat yang memberikan
timbal balik yang benar dari perilaku suka meniru. Dasar penyesuaian dari
timbal balik membuat pengaturan simbolik rangkaian tindakan baru, dan rangkaian
perilaku dimulai lagi.
Teori
belajar social memperkenalkan tiga prasyarat utama untuk berhasil dalam proses
ini. Pertama, orng harus memiliki komponen keterampilan. Biasanya rangkaian
perilaku model dalam penelitian Bandura buatan dari komponen perilaku yang
sudah diketahui orang. Kedua, orang harus memiliki kapasitas fisik untuk
membawa komponen keterampilan dalam mengkoordinasikan gerakan. Terakhir, hasil
yang dicapai dalam koordinasi penampilan/ pertuntukan memerlukan pergerakan
individu yang dengan mudah tampak.
d. Penguatan
dan Motivasi
Pokok
persoalan dari atensi, retensi, dan reproduksi gerak sebagian besar berhubungan
dengan kemampuan orang untuk meniru perilaku penguatan menjadi relevan. Ketika
kita mencoba menstimulus orang untuk menunjukkan pengetahuan pada perilaku yang
benar. Walaupun teori belajar social mengandung penguatan untuk tidak menambah
pengetahuan guna “mengecap dalam perilaku”, itu peran utama memberi penguatan
(hadiah & hukuman) seperti seorang motivator.
Secara ringkas, teori belajar social Bandura memiliki 2 implikasi
penting :
1)
Respon
baru mungkin dipelajari tanpa having to perform them (learning by observation)
2)
Hadiah
dan hukuman terutama mempengaruhi pertunjukan (performance) dari perilaku yang
dipelajari: bagaimanapun ketika memberikan kemajuan, mereka memiliki pengaruh
tambahan / kedua dalam pengetahuan / belajar dari perilaku baru yang terus
pengaruhnya pada atensi dan latihan.
2.2.2
CONTOH-CONTOH PENELITIAN
Imitasi, Hadiah, dan Hukuman. Menurut pemikiran Bandura, hadiah dan hukuman
jauh lebih sesuai untuk menunjukkan perilaku baru daripada untuk belajar.
Prinsip ini ditunjukkan dalam percobaan klasik oleh Bandura (1956a), dimana
anak-anak belajar untuk menyerang boneka. Subjek
dalam penelitian adalah anak perempuan dan laki-laki kira-kira berumur 4 tahun.
Mereka disuruh duduk sebelum ada layar televisi dan mereka mengamati pria
dewasa (model) membawa boneka bobo plastik berukuran sebesar badan. Secara
verbal model mengkata-katai Bobo, menariknya ke bawah dan mendudukannya,
memukul di bagian hidung, memukul-mukul bagian
kepalanya dengan pemukul, dan menendangnya di sekeliling ruangan.
Pada akhir adegan kekrasan satu sisi ini,
beberapa subyek menyaksikan kedua orang dewasa mengulang adegan televisi dan
salah satunya memberi hadiah, menghukum atau tidak memberi tanggapan/umpan
balik untuk serangan model. Hadiah
yang mewah diperoleh dari perspektif 4 tahun lalu. Yang memberi reward
memanggil model sebagai juara kekerasan, beberapa model ditawarkan soft drink
dan permen, dan dilanjutkan dengan pujian. The punishing authority berteriak
dengan mencela model dan memberikan tamparan keras. Secara teoritis apa yang terjadi? Kita harus
mencoba untuk menguji cara pendirian /sudut diatas dari 4 tahap berikut:
a. hal
ini jelas bahwa subjek mengikuti. Televisi terkenal dari sifat menarik
perhatian, dan anak-anak melihat program dalam ruangan setengah gelap tanpa
selingan / gangguan.
b. bagaimana
gaya/cara itu disandikan ? apakah bayangan gambar atau penyandian verbal yang
digunakan ? Kemungkinan keduanya digunakan, tetapi mungkin anak kecil lebih
mengandalkan penyandian
bayangan daripada anak yang lebih tua dengan perkembangan kemampuan verbal yang
lebih tinggi. Pengamatanyang dilakukan Gerst (1971) menunjukkan bahwa bayangan
khayalan dan penyandian symbol keduanya cara yang efektif dalam penyandian
tetapi hati-hati penamaan verbal yang meringkas tindakan kemungkinan bentuk
sangat efektif dari penyandian.
c. Bagaimana
menerjemahkan pengetahuan dalam perilaku? Itu tidak menghalangi untuk
reproduksi gerak. Semua subjek mampu merespon komponen dari keperluan, dan
banyak kemungkinan menunjukkan beberapa respon agresif sebelumnya. Oleh karena
itu, akan memudahkan untuk menterjemahkan pengetahuan dalam reproduksi gerak
yang tepat.
d. Bagaimana
peran hadiah? Ini
merupakan pertanyaan utama yang ditujukan oleh percobaan the Bobo doll. Ketika
mereka diberi kesempatan untuk bermain dengan Bobo doll mereka, anak-anak
kurang agresif ketika mereka menyaksikan model yang mendapat hukuman. Pengaruh
hadiah membuktikan dapat diabaikan, meskipun dalam percobaan terdahulu dengan
manipulasi hadiah yang kuat (Rosenk-rans & Hartup, 1967), pemberian reward
pada model menunjukkan untuk memudahkan pengaruh tertentu pada peniruan agresi.
Jadi, nampaknya proses penguatan yang dilakukan untuk orang lain dengan jalan
mana pengamat dapat menjawab hadiah atau hukuman yang didatangkan oleh pemain
televisi.
e. Pertanyaan
sisa, apakah mengamati hadiah/hukuman mempengaruhi belajar/pengetahuan, performa
atau keduanya? Bandura
mengatur subjeknya terus pada sesi lebih jauh dimana mereka diberi beberapa
gambar yang sangat menarik untuk setiap respon agresif. Mereka dapat meniru
dengan sangat berhasil. Dengan
mengagumkan, contoh ini menunjukkan dorongan agresi meningkat dalam semua
kelompok percobaan, sama sekali menghapus dengan cepat pengaruh hadiah dan
hukuman pada model. Lebih jauh lagi semua mendukung tuntutan /klaim Bandura
bahwa hadiah lebih penting untuk performance dari pada untuk
pengetahuan/belajar.
2.2.3
Self Control dan Modeling
Satu hal utama dari penelitian Bandura
menguraikan kapasitas “self reactive” pada orang. Manusia tidak sesederhana
mesin yang dikendalikan stimulus dari luar, tetapi justru manusia menilai
upayanya, hadiah dan hukuman dirinya sendiri dan dapat mengatur perilakunya
tanpa kontrol dari luar. Banyak teori yang kita uji ini berasumsi seperti itu.
Kapasitas self reactive (contoh, motivasi berprestasi, kesadaran diri,
perbandingan social), tetapi mereka tidak membicarakan sumber pengaturan diri.
Perkembangan berbagai contoh self reward
dipelajari dalam konteks belajar social dengan beberapa peraturan. Cara belajar
ini berawal dari Gelfand (1962), yang membuat permainan bowling kecil untuk
anak-anak. Unsur-unsur dasar terdiri dari 3-ft jalur bowling, system umpan
balik dengan tanda cahaya yang memberitahu pemain bagaimana mengumpulkan poin,
dan mengumpulkan hadiah yang dekat. Hadiahnya merupakan token khusus yang dapat
ditukarkan dahulu untuk nilai hadiah.
Dalam pengamatan yang dilakukan oleh Bandura,
Grusec , dan Menlove (1967), subjek berusia 7-1 tahun diamati model dewasa yang
bermain bowling. Setelah setiap pertunjukkan unggul, model diajak memuji diri
dan juga menerima beberapa token—ciri perilaku model dalam paradigma bowling.
Agak lama subjek juga berkesempatan untuk bermain bowling, dan sebagain besar,
subjek membangun pola self reward mirip/menyerupai model dengan rapi.
2.2.4
TOPIK KHUSUS
2.2.4.1
Sifat Dasar dan Jangkauan •
Teori belajar social lebih umum dari beberapa
maksud teoritis yang akan kita uji. Hal itu dilakukan untuk belajar dan
menunjukkan bermacam-macam perilku seperti reaksi takut, reaksi fisiologis,
agresi dan perilaku mengatur diri. Memang,perilaku social itu sedikit dari
penggunaan teori belajar social yang dipisahkan. Dalam membedakannya, teori
ditinjau dalam bab lain yang berpusat pada golongan perilaku tunggal (seperti
prestasi) atau secara relatif dibatasi jumlah situasi yang menggunakan proses
tunggal.
Sebagai hasil yang luas, teori belajar social
lebih penuh konsep/pengertian dari teori-teori lain. Dibawah paying teori
belajar social Bandura maksud kita menemukan konsep-konsep seperti petunjuk
atensi/perhatian, belajar, motivasi untuk melakukan, emosi dan perbandingan
social.
2.2.4.2
Orientasi Teori Belajar Sosial
Orientasi teori belajar social sungguh berbeda
dari kebanyakan teori lain. Dengan penelitian seringkali mengarahkan terhadap
fenomena yang berhubungan secara klinis, hal itu lebih berat dengan penerapan
daripada memikirkan alasan teoritis yang tepat untuk fenomena ini. Tentu saja,
perhatian lebih pada penemuan perangkat yang tepat dengan syarat bahwa akan
menghasilkan perubahan maksimal dalam perilaku Kekuatan kedua dibelakang
penelitian Bandura adalah reaksi kritisnya pada teori belajar tradisional.
Pada catatan sebelumnya, banyak tulisan dan
penelitiannya yang mendokumentasikan pentingnya modeling dalam perilaku social
yang penting. Bandura juga menunjukkan bahwa belajar dapat terjadi tanpa arahan
penguatan dari pengamat, perbedaan yang tajam dalam teori belajar tradisional.
Dengan respon kritis yang membantah bahwa teori belajar mekanis tidak
menjelaskan perilaku seperti itu. Sebagai self denial atau daya cipta. Bandura
menjelaskan bahwa kuat atau lemahnya self reward dan beberapa tipe daya cipta
dapat dengan menularkan /terus modeling. Dengan demikian, sejumlah fenomena
pemikiran pembahas diluar bidang teori belajar social, tentu saja dapat
diperoleh melalui modeling.
2.2.4.3
Hasil Orientasi
Diskusi terdahulu menyatakan secara tidak
langsung bahwa teori belajar social memberikan analisis umum mengenai cakupan
masalah penting, seperti idenifikasi, agresi, dan perilaku moral. Hal itu juga
bermanfaat sebagai titik pangkal dalam membuat pola intervensi yang mengandung
nilai pengobatan melibatkan perubahan perilaku. Dalam waktu yang sama, hal itu
akan diakui bahwa keserbaragaman dari proses belajar teori pasti terlepas dari
sebagian besar teori lain, dalam beberapa hal, focus penelitian ini tidak khas
tujuan membuat faktor penentu yang memberikan satu proses psikologis.
Boleh jadi pokok persoalan kritis untuk teori
ini adalah bagaimana variable mempengaruhi setiap tahap proses belajar yang
digabungkan. Penelitian biasanya memperkenalkan sejumlah subproses (atensi, penyandian,
reproduksi gerak, motivasi) dan sejumlah variable tertentu yang mempengaruhi
secara umum setiap subproses. Ini menempuh maksud teoritis luar biasa dimana
subproses seperti perhatian yang ditegaskan, diikuti oleh daftar variable yang
mungkin mempengaruhi subproses ini (model yang menarik, pengasuhan model, memberikan
hadiah, sajian televisi)
2.3
TEORI
A. BANDURA
TENTANG BELAJAR SOSIAL
Bandura
(1977) menghipotesiskan bahwa baik tingkah laku (B), lingkungan (E) dan
kejadian-kejadian internal pada pembelajar yang mempengaruhi persepsi dan aksi
(P) adalah merupakan hubungan yang saling berpengaruh (interlocking), Harapan
dan nilai mempengaruhi tingkah laku. Tingkah laku sering dievaluasi, bebas dari
umpan balik lingkungan sehingga mengubah kesan-kesan personal. Tingkah laku
mengaktifkan kontingensi lingkungan. Karakteristik fisik seperti ukuran, ukuran
jenis kelamin dan atribut sosial menumbuhkan reaksi lingkungan yang berbeda.
Pengakuan sosial yang berbeda mempengaruhi konsepsi diri individu. Kontingensi
yang aktif dapat merubah intensitas atau arah aktivitas.
Tingkah
laku dihadirkan oleh model. Model diperhatikan oleh pelajar (ada penguatan oleh
model) Tingkah laku (kemampuan dikode dan disimpan oleh pembelajar). Pemrosesan
kode-kode simbolik. Skema hubungan segitiga antara lingkungan, faktor-faktor
personal dan tingkah laku, (Bandura, 1976).
Selain
itu proses perhatian (atention) sangat penting dalam pembelajaran karena
tingkah laku yang baru (kompetensi) tidak akan diperoleh tanpa adanya perhatian
pembelajar. Proses retensi sangat penting agar pengkodean simbolik tingkah laku
ke dalam visual atau kode verbal dan penyimpanan dalam memori dapat berjalan
dengan baik. Dalam hal ini rehearsal (ulangan ) memegang peranan penting.
Proses motivasi yang penting adalah penguatan dari luar, penguatan dari dirinya
sendiri dan Vicarius Reinforcement (penguatan karena imajinasi).
Karena
melibatkan atensi, ingatan dan motifasi, teori Bandura dilihat dalam kerangka
Teori Behaviour Kognitif. Teori belajar sosial membantu memahami terjadinya
perilaku agresi dan penyimpangan psikologi dan bagaimana memodifikasi
perilaku. Teori Bandura menjadi dasar dari perilaku pemodelan yang digunakan
dalam berbagai pendidikan secara massal.
Lebih
lanjut menurut Bandura (1982) penguasaan skill dan pengetahuan yang kompleks
tidak hanya bergantung pada proses perhatian, retensi, motor reproduksi dan
motivasi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur yang berasal dari
diri pembelajar sendiri yakni “sense of self Efficacy” dan “self – regulatory
system”. Sense of self efficacy adalah keyakinan pembelajar bahwa ia dapat
menguasai pengetahuan dan keterampilan sesuai standar yang berlaku.
Self
regulatory adalah menunjuk kepada 1) struktur kognitif yang memberi referensi
tingkah laku dan hasil belajar, 2) sub proses kognitif yang merasakan,
mengevaluasi, dan pengatur tingkah laku kita (Bandura, 1978). Dalam
pembelajaran sel-regulatory akan menentukan “goal setting” dan “self
evaluation” pembelajar dan merupakan dorongan untuk meraih prestasi belajar
yang tinggi dan sebaliknya.
Menurut
Bandura agar pembelajar sukses instruktur/guru/dosen/guru harus dapat
menghadirkan model yang mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pembelajar,
mengembangkan “self of mastery”, self efficacy, dan reinforcement bagi
pembelajar.
2.4
KONSEP DAN IMPLIKASI TEORI BELAJAR SOSIAL BANDURA
Teori
Belajar Sosial disebut Teori Observational Learning (Belajar Observasional
dengan pengamatan ).Tokoh utama teori ini adalah Albert Bandura. Bandura
memandang tingkah laku manusia bukan semata-mata refleks otomatis atas stimulus
,melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara
lingkungan dengan skema kognitip manusia itu sendiri.
2.4.1
Prinsip
Dasar Social learning :
a.
Sebagian
besar dari yang dipelajari manusia melalui peniruan (Imitation),penyajian
contoh perilaku (modeling).
b.
Dalam hal
ini, peserta didik mengubah perilaku sendiri melalui penyaksian cara
orang/sekelompok orang bereaksi/merespon sebuah stimulus tertentu.
c.
Peserta
didik dapat mempelajari respon-respon baru dan deangan cara pengamatan terhadap
perilaku orang lain,misalnya guru/orang taunya
Pendekatan teori belajar sosial terhadap proses perkembangan sosial dan moral peserta didik ditekankan pada perlunya conditioning (pembiasaan merespons) dan imitation (peniruan).
Pendekatan teori belajar sosial terhadap proses perkembangan sosial dan moral peserta didik ditekankan pada perlunya conditioning (pembiasaan merespons) dan imitation (peniruan).
2.4.2
Prosedur-prosedur
Social learning :
a. Conditioning
Prosedur belajar dalam mengembangkan perilaku social dan moral pada dasarnya sama dengan prosedur belajar dalam mengembangkan perilaku-perilaku lainnya, yakni dengan ; Reward (hadiah), Punishment (hukuman). Dasar pemikirannya : Sekali seorang peserta didik mempelajari perbedaan antara perilaku-perilaku yang menghasilkan ganjaran (reward) dengan perilaku-perilaku yang mengakibatkan hukuman (punishment), sehingga dia bisa memutuskan sendiri perilaku mana yang akan dia perbuat. Komentar orang tua / guru : ketika mengganjar/menghukum peserta didik merupakan faktor yang penting untuk proses penghayatan peserta didik tersebut terhadap moral standards (patokan-patokan moral ). Orang tua dan guru diharapkan memberi penjelasan agar peserta didik tersebut benar-benar paham mengenai jenis perilaku mana yang menghasilkan ganjaran dan jenis perilaku mana yang menimbulkan sangsi. Reaksi-reaksi seorang peserta didik terhadap stimulus yang ia pelajari adalah hasil dari adanya pembiasaan merespons sesuai dengan kebutuhan.Melalui proses pembiasaan merespons (conditioning) ini, sehingga timbul pemahaman bahwa ia dapat menghindari hukuman dengan memohon maaf yang sebaik-baiknya agar kelak terhindar dari sanksi.
Prosedur belajar dalam mengembangkan perilaku social dan moral pada dasarnya sama dengan prosedur belajar dalam mengembangkan perilaku-perilaku lainnya, yakni dengan ; Reward (hadiah), Punishment (hukuman). Dasar pemikirannya : Sekali seorang peserta didik mempelajari perbedaan antara perilaku-perilaku yang menghasilkan ganjaran (reward) dengan perilaku-perilaku yang mengakibatkan hukuman (punishment), sehingga dia bisa memutuskan sendiri perilaku mana yang akan dia perbuat. Komentar orang tua / guru : ketika mengganjar/menghukum peserta didik merupakan faktor yang penting untuk proses penghayatan peserta didik tersebut terhadap moral standards (patokan-patokan moral ). Orang tua dan guru diharapkan memberi penjelasan agar peserta didik tersebut benar-benar paham mengenai jenis perilaku mana yang menghasilkan ganjaran dan jenis perilaku mana yang menimbulkan sangsi. Reaksi-reaksi seorang peserta didik terhadap stimulus yang ia pelajari adalah hasil dari adanya pembiasaan merespons sesuai dengan kebutuhan.Melalui proses pembiasaan merespons (conditioning) ini, sehingga timbul pemahaman bahwa ia dapat menghindari hukuman dengan memohon maaf yang sebaik-baiknya agar kelak terhindar dari sanksi.
b. Imitation
Imitation (peniruan). Dalam hal ini, orang tua dan guru diharapkan memainkan peran penting sebagai seorang model / tokoh yang dijadikan contoh berperilaku sosial dan moral bagi peserta didik. Contoh : Mula-mula seorang peserta didik mengamati model gurunya sendiri yang sedang melakukan sebuah sosial, umpamanya menerima tamu, lalu perbuatan menjawab salam, berjabat tangan, beramah-tamah, dan seterusnya yang dilakukan model itu diserap oleh memori peserta didik tersebut. Diharapkan, cepat/lambat peserta didik tersebut mampu meniru sebaik-baiknya perbuatan social yang dicontohkan oleh model itu. Kualitas kemampuan peserta didik dalam melakukan perilaku social hasil pengamatan terhadap model tersebut, antara lain bergantung pada ketajaman persepsinya mengenai ganjaran dan hukuman yang berkaitan dengan benar dan salahnya perilaku yang ia tiru dari model tadi. Selain itu, tingkat kualitas imitasi tersebut juga bergantung pada persepsi peserta didik “ siapa “ yang menjadi model. Maksudnya, semakin piawai dan berwibawa seorang model, semakin tinggi pula kualitas imitasi perilaku social dan moral peserta didik tersebut. Jadi dalam Social Learning, anak belajar karena contoh lingkungan. Interaksi antara anak dengan lingkungan akan menimbulkan pengalaman baru bagi anak-anak. Sebagai contoh hasil belajar ini adalah keagresifan anak bukan tidak mungkin disebabkan oleh tayangan kekerasan dalam film-film laga di Televisi. Anak-anak SLTP, SLTA cara memakai baju yang ketat, tidak rapi, gaya bicara yang prokem ternyata akibat nonton tayangan televisi yang menyajikan sinetron remaja. Anak-anak yang konsumerisme/suka jajan ternyata pengaruh lingkungan yang memberikan contoh konsumerisme. Maka disini perlu peran dari orang tua, dan guru sebagai panutan bagi anak. Agar kedua tokoh ini dapat memberikan bantuan penyelesaian masalah anak-anak dengan baik.
Imitation (peniruan). Dalam hal ini, orang tua dan guru diharapkan memainkan peran penting sebagai seorang model / tokoh yang dijadikan contoh berperilaku sosial dan moral bagi peserta didik. Contoh : Mula-mula seorang peserta didik mengamati model gurunya sendiri yang sedang melakukan sebuah sosial, umpamanya menerima tamu, lalu perbuatan menjawab salam, berjabat tangan, beramah-tamah, dan seterusnya yang dilakukan model itu diserap oleh memori peserta didik tersebut. Diharapkan, cepat/lambat peserta didik tersebut mampu meniru sebaik-baiknya perbuatan social yang dicontohkan oleh model itu. Kualitas kemampuan peserta didik dalam melakukan perilaku social hasil pengamatan terhadap model tersebut, antara lain bergantung pada ketajaman persepsinya mengenai ganjaran dan hukuman yang berkaitan dengan benar dan salahnya perilaku yang ia tiru dari model tadi. Selain itu, tingkat kualitas imitasi tersebut juga bergantung pada persepsi peserta didik “ siapa “ yang menjadi model. Maksudnya, semakin piawai dan berwibawa seorang model, semakin tinggi pula kualitas imitasi perilaku social dan moral peserta didik tersebut. Jadi dalam Social Learning, anak belajar karena contoh lingkungan. Interaksi antara anak dengan lingkungan akan menimbulkan pengalaman baru bagi anak-anak. Sebagai contoh hasil belajar ini adalah keagresifan anak bukan tidak mungkin disebabkan oleh tayangan kekerasan dalam film-film laga di Televisi. Anak-anak SLTP, SLTA cara memakai baju yang ketat, tidak rapi, gaya bicara yang prokem ternyata akibat nonton tayangan televisi yang menyajikan sinetron remaja. Anak-anak yang konsumerisme/suka jajan ternyata pengaruh lingkungan yang memberikan contoh konsumerisme. Maka disini perlu peran dari orang tua, dan guru sebagai panutan bagi anak. Agar kedua tokoh ini dapat memberikan bantuan penyelesaian masalah anak-anak dengan baik.
2.5
TEORI PENIRUAN ( MODELING )
Pada tahun 1941, dua orang ahli
psikologi, yaitu Neil Miller dan John Dollard dalam laporan hasil eksperimennya
mengatakan bahwa peniruan ( imitation ) merupakan hasil proses pembelajaran
yang ditiru dari orang lain. Proses belajar tersebut dinamakan “ social
learning “ – “pembelajaran social “ . Perilaku peniruan manusia terjadi karena
manusia merasa telah memperoleh tambahan ketika kita meniru orang lain, dan
memperoleh hukuman ketika kita tidak menirunya. Menurut Bandura, sebagian besar
tingkah laku manusia dipelajari melalui peniruan maupun penyajian, contoh
tingkah laku ( modeling ). Dalam hal ini orang tua dan guru memainkan peranan
penting sebagai seorang model atau tokoh bagi anak-anak untuk menirukan tingkah
laku membaca.
Dua puluh
tahun berikutnya ,” Albert Bandura dan Richard Walters ( 1959, 1963 ) telah
melakukan eksperimen pada anak – anak yang juga berkenaan dengan peniruan.
Hasil eksperimen mereka mendapati, bahwa peniruan dapat berlaku hanya melalui pengamatan terhadap perilaku model (orang
yang ditiru) meskipun pengamatan itu tidak dilakukan terus menerus. Proses
belajar semacam ini disebut “observationallearning”
atau pembelajaran melalui pengamatan. Bandura (1971), kemudian menyarankan agar
teori pembelajaran sosial diperbaiki memandang teori pembelajaran sosial yang
sebelumnya hanya mementingkan perilaku tanpa mempertimbangan aspek mental
seseorang.
Menurut
Bandura, perlakuan seseorang adalah hasil interaksi faktor dalam diri(kognitif)
dan lingkungan. pandangan ini menjelaskan, beliau telah mengemukakan teori
pembelajaran peniruan, dalam teori ini beliau telah menjalankan kajian bersama
Walter (1963) terhadap perlakuan anak-anak apabila mereka menonton orang dewasa
memukul, mengetuk dengan palu besi dan menumbuk sambil menjerit-jerit dalam
video. Setelah menonton video anak-anak ini diarah bermain di kamar permainan
dan terdapat patung seperti yang ditayangkan dalam video. Setelah anak-anak
tersebut melihat patung tersebut,mereka meniru aksi-aksi yang dilakukan oleh orang
yang mereka tonton dalam video.
Berdasarkan
teori ini terdapat beberapa cara peniruan yaitu meniru secara langsung.
Contohnya guru membuat demostrasi cara membuat kapal terbang kertas dan pelajar meniru secara langsung. Seterusnya
proses peniruan melalui contoh tingkah laku. Contohnya anak-anak meniru
tingkah laku bersorak dilapangan, jadi tingkah laku bersorak merupakan contoh
perilaku di lapangan. Keadaan sebaliknya jika anak-anak bersorak di dalam kelas
sewaktu guru mengajar,semestinya guru akan memarahi dan memberi tahu
tingkahlaku yang dilakukan tidak dibenarkan dalam keadaan tersebut, jadi
tingkah laku tersebut menjadi contoh perilaku dalam situasi tersebut. Proses
peniruan yang seterusnya ialah elisitasi.
Proses ini timbul apabila seseorang melihat perubahan pada orang lain.
Contohnya seorang anak-anak melihat temannya melukis bunga dan timbul keinginan
dalam diri anak-anak tersebut untuk melukis bunga. Oleh karena itu, peniruan
berlaku apabila anak-anak tersebut melihat temannya melukis bunga.
Perkembangan
kognitif anak-anak menurut pandangan pemikir islam yang terkenal pada abad
ke-14 yaitu Ibnu Khaldun perkembangan anak-anak hendaklah diarahkan dari
perkara yang mudah kepada perkara yang lebih susah yaitu mengikut
peringkat-peringkat dan anak-anak hendaklah diberikan dengan contoh-contoh yang
konkrit yang boleh difahami melalui pancaindera. Menrut Ibnu Khaldun, anak-anak
hendaklah diajar atau dibentuk dengan lemah lembut dan bukannya dengan
kekerasan. Selain itu, beliau juga mengatakan bahwa anak-anak tidak boleh
dibebankan dengan perkara-perkara yang di luar kemampuan mereka. Hal ini akan
menyebabkan anak-anak tidak mau belajar dan memahami pengajaran yang disampaikan.
2.5.1
Unsur Utama
dalam Peniruan (Proses Modeling/Permodelan)
Menurut teori belajar social,
perbuatan melihat saja menggunakan gambaran kognitif dari tindakan, secara
rinci dasar kognitif dalam proses belajar dapat diringkas dalam 4 tahap , yaitu
:
a.
Perhatian (’Attention’)
Subjek
harus memperhatikan tingkah laku model untuk dapat mempelajarinya. Subjek
memberi perhatian tertuju kepada nilai, harga diri, sikap, dan lain-lain yang
dimiliki. Contohnya, seorang pemain musik yang tidak percaya diri mungkin
meniru tingkah laku pemain music terkenal sehingga tidak menunjukkan gayanya sendiri.
Bandura & Walters(1963) dalam buku mereka “Sosial Learning &
Personality Development”menekankan
bahwa hanya dengan memperhatikan orang lain pembelajaran dapat dipelajari.
b.
Mengingat (’Retention’)
Subjek
yang memperhatikan harus merekam peristiwa itu dalam sistem ingatannya. Ini
membolehkan subjek melakukan peristiwa itu kelak bila diperlukan atau diingini.
Kemampuan untuk menyimpan informasi
juga merupakan bagian penting dari proses belajar.
c.
Reproduksi gerak (’Reproduction’)
Setelah
mengetahui atau mempelajari sesuatu tingkahlaku, subjek juga dapat menunjukkan
kemampuannya atau menghasilkan apa yang disimpan dalam bentuk tingkah laku.
Contohnya, mengendarai mobil, bermain tenis. Jadi setelah subyek memperhatikan model dan menyimpan
informasi, sekarang saatnya untuk benar-benar melakukan perilaku yang
diamatinya. Praktek lebih lanjut dari perilaku yang dipelajari mengarah pada
kemajuan perbaikan dan keterampilan.
d.
Motivasi
Motivasi
juga penting dalam pemodelan Albert Bandura karena ia adalah penggerak individu
untuk terus melakukan sesuatu.Jadi subyek
harus termotivasi untuk meniru perilaku yang telah dimodelkan.
2.5.2
Ciri – Ciri Teori Pemodelan Bandura
a.
Unsur
pembelajaran utama ialah pemerhatian dan peniruan
b.
Tingkah laku
model boleh dipelajari melalui bahasa, teladan, nilai dan lain – lain
c.
Pelajar
meniru suatu kemampuan dari kecakapan yang didemonstrasikan guru sebagai model
d.
Pelajar
memperoleh kemampuan jika memperoleh kepuasan dan penguatan yang positif
e.
Proses
pembelajaran meliputi perhatian, mengingat, peniruan, dengan tingkah laku atau
timbal balik yang sesuai, diakhiri dengan penguatan yang positif
2.5.3
Jenis –
jenis Peniruan (modelling)
a.
Peniruan
Langsung
Pembelajaran langsung dikembangkan
berdasarkan teori pembelajaran social Albert Bandura. Ciri khas pembelajaran
ini adalah adanya modeling , yaitu suatu fase dimana seseorang memodelkan atau
mencontohkan sesuatu melalui demonstrasi bagaimana suatu ketrampilan itu
dilakukan.
Meniru tingkah laku yang ditunjukkan
oleh model melalui proses perhatian. Contoh : Meniru gaya penyanyi yang
disukai.
b.
Peniruan Tak
Langsung
Peniruan Tak Langsung adalah melalui
imaginasi atau perhatian secara tidak langsung. Contoh : Meniru watak yang
dibaca dalam buku, memperhatikan seorang guru mengajarkan rekannya.
c.
Peniruan
Gabungan
Peniruan jenis ini adalah dengan
cara menggabungkan tingkah laku yang berlainan yaitu peniruan langsung dan
tidak langsung. Contoh : Pelajar meniru gaya gurunya melukis dan cara mewarnai
daripada buku yang dibacanya.
d.
Peniruan
Sesaat / seketika.
Tingkah laku yang ditiru hanya
sesuai untuk situasi tertentu saja.
Contoh : Meniru Gaya Pakaian di TV,
tetapi tidak boleh dipakai di sekolah.
e.
Peniruan
Berkelanjutan
Tingkah laku yang ditiru boleh
ditonjolkan dalam situasi apapun.
Contoh : Pelajar meniru gaya bahasa
gurunya.
Hal lain
yang harus diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip –
prinsip sebagai berikut :
a.
Tingkat
tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak
awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya. Proses
mengingat akan lebih baik dengan cara perilaku yang ditiru dituangkan dalam
kata – kata, tanda atau gambar daripada hanya melihat saja. Sebagai contoh :
Belajar gerakan tari dari pelatih memerlukan pengamatan dari berbagai sudut
yang dibantu cermin dan seterusnya ditiru oleh para pelajar pada masa yang
sama, kemudian proses meniru akan efisien jika gerakan tari tadi juga didukung dengan
penayangan video, gambar, atau kaedah yang ditulis dalam buku panduan.
b.
Individu
lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya.
c.
Individu
akan menyukai perilaku yang ditiru jika model tersebut disukai dan dihargai
serta perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat.
Teori belajar social dari Bandura
ini merupakan gabungan antara teori belajar behavioristik dengan penguatan dan
psikologi kognitif, dengan prinsip modifikasi tingkah laku. Proses belajar
masih berpusat pada penguatan, hanya terjadi secara langsung dalam berinteraksi
dengan lingkungannya. Sebagai contoh : Penerapan teori belajar social dalam
iklan sabun ditelevisi. Iklan selalu menampilkan bintang – bintang yang popular
dan disukai masyarakat, hal ini untuk mendorong konsumen agar membeli sabun
supaya mempunyai kulit seperti para “bintang “.
Motivasi banyak ditentukan oleh kesesuaian antara
karakteristik pribadi pengamat dengan karakteristik modelnya. Ciri – cirri
model seperti usia, status social, seks, keramahan, dan kemampuan, penting
dalam menentukan tingkat imitasi. Anak – anak lebih senang meniru model
seusianya daripada model dewasa. Anak – anak juga cenderung meniru model yang
sama prestasinya dalam jangkauannya. Anak – anak yang sangat dependen cenderung
imitasi model yang dependennya lebih ringan. Imitasi juga dipengaruhi oleh
interaksi antara ciri model dengan observernya.
2.6
TEORI BELAJAR VICARIAOUS
Telah kita ketahui, bahwa sebagian besar dari
belajar observasional termotivasi oleh harapan bahwa meniru model dengan baik
akan menuju pada reinforsemen. Tetapi ada orang yang belajar dengan melihat
orang diberi reinforsemen atau hukuman waktu terlibat dalam perilaku-perilaku
tertentu. Inilah yang disebutt dengan “Vicarious”.
Guru-guru dalam kelas selalu mengunakan prinsip
belajar vicarious. Bila seorang murid berkelakuan tidak baik, dan memuji mereka
karena pekerjaan mereka yang baik itu. Anak yang nakal itu melihat, bahwa
bekerja memperoleh reinforsemen, karena itu ia pun kembali bekerja.
Pengaturan-sendiri, konsep
penting lainya dalam belajar observasional ialah pengaturan sendiri atau
“self-regulation”. Bandura berhipotesis, bahwa manusia mengawasi perilakunya
sendiri, mempertimbangkan (judge) perilaku itu terhadap criteria yang disusunya
sendiri, dan kemudian memberi reinforsemen atau hukuman pada dirinya sendiri.
Kita semua mengetahui, bila kurang dari pada yang sebenarnya. Untuk dapat
membuat pertimbangan-pertimbangan (judgments) ini kita harus mempunyai harapan
tentang penampilan kita sendiri. Seorang siswa mungkin sudah merasa senang
sekali memperoleh 90% betul dalam situ tes, tetapi anak yang lain mungkin
sangat kecewa.
Yang menjadi pertanyaan ialah ,
dimana kita memperoleh kriteri yang kita gunakan untuk mempertimbangkan
penampilan kita? Kadang-kadang pertimbangan ini timbul sendiri seperti seorang
pelukis, penulis, atau seorang guru bekerja berulang kali untuk memperoleh
sebuah lukisan, karangan, atau suatu pelajaran yang baik. Tetapi teori belajar
social mengemukakan, bahwa sebagian besar dari criteria ya ng kita miliki untuk
penampilan kita, kita pelajari, sperti banyak hal-hal lain, dari model-model
dalam dunia social kita.
Kita belajar banyak dengan
dihadapkan pada model-model. Bila kita memperhatikan perilaku model, dan
menciptakan kode-kode imagery bagi apa yang telah kita amati, kita akan belajar
dari model itu. Baik pengulangan terbuka maupun pengulangan tertutup menolong
kita untuk dapat memiliki perilaku baru yang kita pelajari. Pada suatu saat
kita harus mencoba mereproduksi perilaku model itu. Umpan balik untuk
memperbaiki, diberikan jauh sebelum fase reproduksi belajar dari model-model,
mempunyai efek yang kuat dari perilaku. Reinforsemen dan hukuman yang
ditimbulkan sendiri secara langsung dan dialami secara vicarious, menentukan
sejauh mana perilaku yang baru itu akan ditampilkan. Dalam pandangan belajar
social, belajar dan penampilan adalah dua fenomena yang berbeda.
Respons-respons kognitif kita
terhadap perilaku kita sendiri mengizinkan kita untuk mengatur perilaku kita
sendiri. Dengan mengamati, kita mengumpulkan data tentang renpons-respons kita.
Melalui standar-standar penampilan yang sudah terinternalisasi, kerap kali
dipelajari melalui observasi, kita pertimbangkan perilaku kita. Dengan member
hadiah atau menghukum kita sendiri, kita dapat mengendalikan perilaku kita
secara efektif. Kita tidak perlu dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan lingkungan
atau keinginan-keinginan yang datang dari dalam. Ketika dapat belajar menjadi
manusia social yang berkpribadian. Dengan menerapkan gagasan-gagasan dari teori
belajar social pada diri kita sendiri, kita dapat menjadi guru dan siswa yang
lebih baik.
2.7
APLIKASI
TEORI TERHADAP PEMBELAJARAN.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan
teori belajar sosial adalah ciri-ciri kuat yang mendasarinya yaitu:
a.
Mementingkan
pengaruh lingkungan
b.
Mementingkan
bagian-bagian
c.
Mementingkan
peranan reaksi
d.
Mengutamakan
mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon
e.
Mementingkan
peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya
f.
Mementingkan
pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan
g.
Hasil
belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan.
Sebagai konsekuensi teori ini, para guru yang
menggunakan paradigma behaviorisme (teori belajar sosial) akan menyusun bahan
pelajaran dalam bentuk yang sudah siap, sehingga tujuan pembelajaran yang harus
dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. Guru tidak banyak memberi
ceramah, tetapi instruksi singkat yng diikuti contoh-contoh baik dilakukan
sendiri maupun melalui simulasi. Bahan pelajaran disusun secara hierarki dari
yang sederhana samapi pada yang kompleks.
Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian kecil yang
ditandai dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu. Pembelajaran
berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Kesalahan harus segera
diperbaiki. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan
dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori
behavioristik ini adalah tebentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku
yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai
mendapat penghargaan negatif. Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku
yang tampak.
Kritik terhadap behavioristik (teori belajar sosial)
adalah pembelajaran siswa yang berpusat pada guru, bersifaat mekanistik, dan
hanya berorientasi pada hasil yang dapat diamati dan diukur. Kritik ini sangat
tidak berdasar karena penggunaan teori behavioristik mempunyai persyartan
tertentu sesuai dengan ciri yang dimunculkannya. Tidak setiap mata pelajaran
bisa memakai metode ini, sehingga kejelian dan kepekaan guru pada situasi dan
kondisi belajar sangat penting untuk menerapkan kondisi behavioristik.
Metode behavioristik ini sangat cocok untuk
perolehan kemampaun yang membuthkan praktek dan pembiasaan yang mengandung
unsur-unsur seperti :
a.
Kecepatan,
spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya, contohnya:
percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang,
olahraga dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih
anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi
dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan
langsung seperti diberi permen atau pujian.
b.
Penerapan
teori behaviroristik yang salah dalam suatu situasi pembelajaran juga
mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan
bagi siswa yaitu guru sebagai central, bersikap otoriter, komunikasi
berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari
murid. Murid dipandang pasif , perlu motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi
oleh penguatan yang diberikan guru. Murid hanya mendengarkan denga tertib
penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara
belajar yang efektif. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oelh para tokoh
behavioristik justru dianggap metode yang paling efektif untuk menertibkan
siswa.
2.8
KELEMAHAN DAN KELEBIHAN TEORI ALBERT BANDURA
2.8.1
Kelemahan
Teori Albert Bandura
Teori pembelajaran Sosial Bandura
sangat tidak sesuai jika
diklasifikasikan dalam teori behavioristik. Ini karena, teknik pemodelan Albert
Bandura adalah mengenai peniruan tingkah laku dan adakalanya cara peniruan
tersebut memerlukan pengulangan dalam mendalami sesuatu yang ditiru.
Selain itu juga, jika manusia
belajar atau membentuk tingkah lakunya dengan hanya melalui peniruan ( modeling
), sudah pasti terdapat sebagian individu yang menggunakan teknik peniruan ini
juga akan meniru tingkah laku yang negative , termasuk perlakuan yang tidak
diterima dalam masyarakat.
2.8.2
Kelebihan
Teori Albert Bandura
Teori Albert Bandura lebih lengkap dibandingkan teori
belajar sebelumnya , karena itu menekankan bahwa lingkungan dan perilaku
seseorang dihubungkan melalui system kognitif orang tersebut. Bandura memandang
tingkah laku manusia bukan semata – mata reflex atas stimulus ( S-R bond),
melainkan juga akibat reaksi yang timbul akibat interaksi antara lingkungan
dengan kognitif manusia itu sendiri.
Pendekatan teori belajar social lebih ditekankan pada
perlunya conditioning (pembiasan merespon) dan imitation ( peniruan ). Selain
itu pendekatan belajar social menekankan pentingnya penelitian empiris dalam
mempelajari perkembangan anak – anak. Penelitian ini berfokus pada proses yang
menjelaskan perkembangan anak – anak, faktor social dan kognitif.
BAB III
PENUTUP
1.
KESIMPULAN
Teori Belajar Sosial , Teori ini dikembangkan oleh
Albert Bandura seorang ahli psikologi pendidikan dari Stanford University,USA.
Teori pembelajaran ini dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana seseorang
mengalami pembelajaran dalam lingkungan sekitarnya. Bandura (1977) menghipotesiskan bahwa tingkah laku lingkungan dan
kejadian – kejadian internal pada pembelajaran yang mempengaruhi persepsi dan
aksi adalah merupakan hubungan yang saling berpengaruh. Dari uraian tentang teori belajar sosial, dapat disimpulkan sebagai
berikut :
a.
Belajar
merupakan interaksi segitiga yang saling berpengaruh dan mengikat antara
lingkungan, faktor-faktor personal dan tingkah laku yang meliputi proses-proses
kognitif belajar. Komponen-komponen belajar terdiri
dari tingkah laku, konsekuensi-konsekuensi terhadap model dan proses-proses
kognitif pembelajar. Hasil belajar berupa kode-kode visual
dan verbal yang mungkin dapat dimunculkan kembali atau tidak (retrievel).
b.
dalam
perencanaan pembelajaran skill yang kompleks, disamping
pembelajaran-pembelajaran komponen-komponen skill itu sendiri, perlu
ditumbuhkan “sense of efficacy” dan self
regulatory” pembelajar. Dalam proses pembelajaran, pembelajar
sebaiknya diberi kesempatan yang cukup untuk latihan secara mental sebelum
latihan fisik, dan “reinforcement” dan hindari punishment yang tidak perlu. Perhatian (atention) sangat
penting dalam pembelajaran karena tingkah laku yang baru (kompetensi) tidak
akan diperoleh tanpa adanya perhatian pembelajar. Karena melibatkan atensi,
ingatan dan motifasi, teori Bandura dilihat dalam kerangka Teori belajar sosial
membantu memahami terjadinya perilaku agresi dan penyimpangan psikologi
dan bagaimana memodifikasi perilaku.
2.
SARAN
Pengertian, prinsip, dan perkembangan teori pembelajaran hendaknya
dipahami oleh para pendidik dan diterapkan dalam dunia pendidikan dengan benar,
sehingga tujuan pendidikan akan benar-benar dapat dicapai. Dengan memahami
berbagai teori belajar, prinsip-prinsip pembelajaran dan pengajaran, pendidikan
yang berkembang di bangsa kita niscaya akan menghasilkan out put yang
berkualitas
DAFTAR PUSTAKA
Fudianto, Ki. RBS : 2002 “PSIKOLOGI PENDIDIKAN dari
pendekatan baru”, Global Pustaka Utama. YOGJAKARTA
Asrori Mohammad, 2007 “ PSIKOLOGI PEMBELAJARAN “,
CV Wacana Prima. BANDUNG
Awisol, 2009. Psikologi kepribadian. UMM Perss
jogjakarta
Abu ahmadi, Drs. Psikologi belajar. Surabaya : rineka
cipta, 2003
Dahar Wilis Ratna. 1989.
Teori-Teori Belajar. Jakarta, Erlangga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar