Kamis, 26 Desember 2013

saiva nandi


SAIVA NANDI


Siva adalah dewa yang dalam mitologi agama Hindu dikenal sebagai dewa tertinggi dan banyak pemujanya. Mitos Siva dapat dijumpai dalam beberapa kitab suci agama Hindu yakni, kitab-kitab Brahmana, Mahabharata, Purana dan Agama (Garret 1871, Dowson 1957, Macdonell 1897, Fausboll 1903, Giri 1947, Bhattacharya 1921, Rao 1968, Thomas).
Dalam kitab Hindu tertua, Veda Samhita, walaupun nama Siva sendiri tidak pernah dicantumkan, namun sebenarnya benih-benih perwujudan tokoh Siva itu sendiri telah ada, yaitu Rudra (Dowson 1957:296, Thomas:21). Dalam Rg-Veda salah satu Veda Samhita, menyebutkan Rudra sebagai dewa perusak (Macdonell 1897:75), dan tergolong sebagai dewa bawahan (Garret 1871: 520). Rudra dikenal sebagai penyebab kematian, dewa penyebab dan penyembuh penyakit, dia juga dianggap sebagai dewa yang menguasai angin topan. Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang berakibat buruk tersebut, maka untuk ‘menenangkan’ dan menghilangkan kemarahannya (Dowson 1957:269, Rao 1968: 39). Namun sebagai dewa rendahan, walaupun banyak dipuja, Rudra belumlah merupakan dewa tertinggi dan dianggap penting. Pada waktu itu yang dianggap sebagai dewa tertinggi dan dianggap penting adalah dewa Indra. Baru dalam kitab Brahmana, Rudra diberi nama Siva, dan kedudukannya pun terus meningkat sehingga menjadi dewa utama.
Siva sebagai Mahadeva, yaitu Siva sebagai dewa tertinggi menurut kitab Silparatna dalam perwujudannya digambarkan bertangan empat, delapan, sepuluh dan enam belas. Bermata tiga (trinetra), berpakaian kulit harimau, memakai tali kasta (upavita) ular, mengenakan hiasan telinga (kundala) dan hiasan kepala (jatamakuta), kadang-kadang digambarkan berkendaraan sapi (Nandi) (Dubreuil 1937:18-22, Rao 1968:114-115). Di Jawa Siva Mahadewa digambarkan dalam sikap duduk atau berdiri di atas padmasana atau asana polos, bertangan dua atau empat.
Siva memiliki binatang kesayangan yang menjadi kendaraannya, yaitu seekor lembu bernama Nandini. Siva juga memiliki pakaian kulit harimau, melambangkan instink atau sifat binatang yang ada dalam diri manusia, yang telah mampu ditaklukkan oleh Siva. Kata sandi bagi Siva adalah "HARA" dan untuk Visnu adalah "HARI". Senjata Siva adalah trisula, atau tombak pendek bermata tiga. Ketiga mata trisula itu diartikan dengan berbagai makna mewakili tiga phase waktu (dulu, sekarang, masa yang akan datang); ketiga aspek yaitu penciptaan, pemeliharaan dan peleburan, ketiga guna (tiga sifat dasar suatu benda), yaitu satvam (kesucian), rajas (sifat yang aktif), tamas (sifat bodoh dan dungu). Ketiga guna inilah yang membuat wujud-wujud baru dari suatu bentuk. Dan untuk mencapai persatuan dengan Siva maka seseorang harus membakar habis semua sifat-sifat yang diwakili oleh ketiga guna itu. Semua konsep ini telah membentuk satu wujud yang maha memenuhi, universal dari Siva, yang merupakan penguasa hidup dan mati, baru dan yang lama, baik instink binatang maupun manusia. Keberadaan Siva yang bersifat abadi dinyatakan dalam istilah atau gelar Sadasiva.

Didalam Kitab Purana, Lembu atau sapi disebut Kamadhenu, juga disebut Nandini. Dalam Kitab Aranyaka Parwa bahwa Lembu Nandini adalah pertama dari semua ternak. Kamadhenu yang juga disebut Surabhi adalah sebagai dewi kekuatan dan kecakapan yang dapat memberikan susu kepada Deva atau Rsi. Lembu Nandini adalah binatang suci yang di hormati dan diagungkan karena Lembu Nandini lambang alam semesta, penegasan dalam kitab suci Rg Weda, yang selalu mengagungkan sapi :

"Gaurme mata virsabhah pitame divah sarva jagati me pratistha"
artinya :
"sapi betina adalah ibu kita, sapi jantan adalah bapak kita, kedua mkhluk ini memberi kebahagiaan kepada kita baik didunia maupun didunia setelah meninggal"

"dahamasvibhyam payo aghnycyam sa vardhatam mahate saubhagaya"
artinya:
"sapi ini yang tidak boleh dibunuh, mempersembahkan susu kepada Deva Asvini dan dia berkembang demi keuntungan kita."

bhakta dan penganut peradaban dan filsafat Veda tidak akan makan daging sapi karena memandang sapi sebagai ibu.
     
      Mahesa atau Mahadewa, Siva sebagai deva yang tertinggi atau maha agung; Siva dianggap sebagai deva dari pada para deva. Dalam gelar ini segala kemahatahuan berada pada Siva, sehingga disebut penguasa dari semua pengetahuan dan Paramajnani. Atas petunjuk Siva, Brahma membuat kitab suci Veda diturunkan ke dunia. Semua rsi, pertapa dan yogi memohon berkat atas pencerahan kepada Siva. Siva juga dikatakan sebagai penemu dari segala jenis suara termasuk aksara suci kesenangan Siva yaitu "OM" (AUM). Oleh karena itu Siva juga bergelar "OMKARA", artinya yang menemukan suku kata "OM". Suku kata OM juga disebut sebagai "Pranavaksara", suku kata ini juga berarti sejenis alat musik yang menyerupai drum. Banyak sarjana mengakui bahwa Siva adalah OMKARA, karena suara itu keluar dari alat musik gendang yang dimilikinya, yang
disebut "Damari" Suara ini diyakini sebagai suku kata pertama yang keluar ketika awal masa penciptaan. Mahesa atau Mahadeva merupakan tujuan dari segala jenis bhakti atau pemujaan. Umumnya ada tiga jenis pendekatan dalam pemujaan, yaitu dengan jnana atau pemujaan melalui pengetahuan, dengan jalan karma atau perbuatan, dan yang ketiga adalah dengan jalan bhakti atau pengabdian. Meskipun Siva dianggap sebagai penemu segala jenis pengetahuan, namun hanya dengan bhaktilah Siva dengan mudah berkenan pada pemujanya. Karena dalam bhakti faktor yang dibutuhkan adalah perasaan yang tulus tanpa ada pertimbangan karena faktor lain. Oleh karena itulah pemuja Siva tidak hanya manusia tetapi juga para raksasa. Kemudahan inilah yang membuat Siva sangat populer dalam masyarakat manusia, sehingga linggam Siva bisa ditemukan hampir di setiap tempat pemujaan dan bahkan di tempat yang tidak berhubungan
dengan pemujaan sekalipun.
Bhutesvara, personifikasi Siva sebagai penguasa para hantu, jin dan mahluk halus lainnya. Bhutesvara berarti penguasa segala hal yang ada di dunia material. Bhuta berarti telah menjadi, dan Isvara berarti deva yang terbaik atau utama.

[Image: 10-23.jpg]Nandini (Sansekerta:"yang menyenangkan") adalah seekor lembu betina. Lembu ini dipakai sebagai wahana Batara Siwa. Nandini juga melambangkan sebagai lembu kekayaan, milik Bagawan Wasista, konon terlahir dari Surabhi, sang lembu kemakmuran yang muncul ketika samudra diaduk. Nama lain Nandini yang dikenal di Indonesia adalah Andini dan Handini. Patungnya ada di Candi Prambanan. Lembu Nandini dikenal mempunyai sifat tak kenal takut.Nama Nandini juga umum dipakai untuk nama perempuan di India dengan harapan agar yang diberi nama akan menjadi kuat. Semakin giat  Dewa Nandi melayanani Dewa Siwa, semakin gembiralah dia. Estasi dalam tugas pelayanan selalu saja diperolehnya secara akumulatif. Kekuatan dewanya mulai dirasakan tiada cukup lagi untuk menopang tugas yang dicintainya, Nandi merubah tubuhnya menjadi seekor lembu yang luar biasa, dengan keempat kaki sekokoh sari keempat kitab Veda, bergerak, berjalan bahkan menari –nari kecil  seiring Tandava Sang  Nataraja. Bicaranya disampaikan dengan lafal jelas dan mencerahkan. Improvisasi adalah bagian dari keindahan yang selalu dinanti nanti Iswara. Lembu Nandi sungguh jugalah sastrawan, sejarawan , seniman , dan penghibur, ia membawa pendengarnya untuk melihat, menyelami dan merasuki sampai ke inti samudera semesta , sambil mengagungkan Brihaspati , dan lidahnya digerak gerakan oleh Dewi Saraswati. Ritme suaranya bagai kicau  burung Kalavinka di telinga Shambu,  membuat Sadyojata tak tahan ikut berbagi; tentang dharma, karakter, etika dan estetika. Tentang yang rasional dan yang empiristis, penciptaan dan pemeliharaan, perubahan yang seharusnya, tentang kesejahteraan lahir dan ketentraman batin. Lembu Nandi mengerti tuannya adalah sang Anugerah Murti, dan lewat pelayanan , pada diri sendiri juga yang dilayani, seisi semesta. Vocasional Lembu Nandi tidak sebatas penutur, tenaga fisik dan terlebih pikiran, berada didalam satu kesatuan peran profesionalisme. Sang pelayan yang selalu ingin membuat senang hati tuannya. Dan tak hendak membuat Bethara Guru menjadi Samhara Murti. Lembu Nandi siap bekerja siang malam, dengan dikawal  Surya dan Chandra.
Nandi atau Nandiswara adalah lembu yang menjadi kendaraan dari dewa Siwa dalam mitologi Hindu. Candi yang mempunyai arca Nandi biasanya dikategorikan sebagai candi untuk pemujaan agama Hindu Siwa.Candi yang mempunyai arca Nandi biasanya dikategorikan sebagai candi untuk pemujaan agama Hindu Siwa. Nandhi adalah lembu putih kendaraan Ciwa (Siwa) sehingga dalam satu perwujudannya siwa disebut Nandiswara. Candi yang mempunyai arca Nandhi biasanya dikategorikan sebagai candi untuk pemujaan agama Hindu aliran Siwa.
Melintas dihadapan Lembu Nandi yang sedang rebahan. Tempatnya tepat di ujung lapangan hijau yang luas terbuka. Di hadapannya ada kolam besar yang dipenuhi bunga teratai. Begitu anggun seperti yang selama ini digambarkan orang-orang. Konon kabarnya Lembu Nandi adalah penjaga gerbang dan kendaraan Siwa. Disebut sebagai binatang suci walaupun ada juga bangsa yang menyebutnya sebagai berhala.(google: 18 Maret 2011: 19.30)
NANDI atau Nanda merupakan nama lembu gumarang (lembu yang mempunyai dasar warna bulunya putih bertaburkan merah kuning keemasan). Dalam cerita pewayangan, Nandhi dikenal pula dengan nama Nandini atau Handini. Nandhi adalah anak raja jin bernama Prabu Patanam di negara Dahulagiri, sebelah timur laut Pegunungan Tengguru/Himalaya. Ia mempunyai saudara sekandung yang dilahirkan kembar berwujud raksasa masing-masing bernama Cingkarabala dan Balakupata, yang menjadi penjaga pintu gapura Selamatangkep di kahyangan Jonggringsaloka.
Nandi sangat sakti, kuat dan bengal. Karena kesaktiannya itu ia menobatkan diri sebagai penguasa jagad raya, disanjung dan dipuja rakyat di jasirah Dahulagiri. Mendengar pemujaan Nandi yang berkebihan itu, Sanghyang Manikmaya/Bathara Guru menjadi sangat murka. Karena di seluruh Tribuana (jagad Mayapada, Madyapada dan Arcapada) seharusnya tidak ada yang pantas dipuja dan disembah kecuali dirinya sebagai raja Dewata.  Nandi sang lembu, wahana Dewa Siwa, melambangkan kekuatan dan kejantanan.
Bathara Guru kemudian datang ke Dahulagiri untuk memerangi Nandi. Peperangan pun tejadilah. Dengan Aji Kamayan, Bathara Guru berhasil menundukkan Nandi. Ia menyerah dan mohon pengampunan. Oleh Bathara Guru, Nandi diampuni dan diboyong ke Suralaya, dijadikan tunggangan pribadi Bathara Guru. Nandi pernah dipinjam oleh Prabu Pandu, raja negara Astina, memenuhi permintaan Dewi Madrim, istrinya yang waktu itu sedang mengandung Nakula dan Sadewa, untuk dinaiki terbang berputar-putar di atas taman Kadilengleng negara Astina.
Sapi dalam Agama Hindu adalah binatang suci “Nandini” sebagai palinggihan Ida Bhatara Siwa oleh karenanya disakralkan, bukan diharamkan seperti babi dalam Agama Islam. Pantangan menyakiti, membunuh, memakan dagingnya adalah dalam kaitan sujud bhakti kita ke hadapan Ida Bhatara Siwa (Tuhan Yang Maha Esa). Bagaimana mungkin setiap hari kita memuja-Nya, lalu di kesempatan lain kita memakan daging binatang suci kesayangan-Nya?
Aturan-aturan mengenai tidak menyakiti, membunuh, dan memakan daging sapi ada dalam Parasara Dharmasastra (Smrti Kaliyuga) Bab IX.
Pasal 37:
IA YANG MENDORONG SEEKOR SAPI KE DALAM KOLAM ATAU SUMUR ATAU MENINDIH PUNGGUNGNYA DENGAN POHON ATAU MENJUALNYA KEPADA PENGGEMAR DAGING SAPI DINYATAKAN BERDOSA MEMBUNUH SAPI.
Pasal 62:
IA YANG TELAH MEMBUNUH SEEKOR SAPI MENCOBA MENYEMBUNYIKAN DOSANYA DALAM KEHIDUPAN INI SETELAH MATI DICAMPAKKAN DALAM KEPEDIHAN NERAKA KALASUTRAM.
Pasal 63:
TERLEPAS DARI NERAKA ITU IA DILAHIRKAN SEBAGAI SEORANG YANG DIKEBIRI (WANDU?) ATAU SEORANG PENDERITA PENYAKIT KUSTA (ATAU AIDS?) ATAU SEBAGAI SEORANG YANG MISKIN PADA TUJUH PENJELMAAN SECARA BERTURUT-TURUT.
Bagi seorang Pendeta/ Pandita (Brahmana Dwijati) tercantum dalam Bab XI pasal 1:
SETELAH (DENGAN TIDAK SENGAJA) MAKAN DAGING SAPI ATAU NASI SEORANG CANDALA ATAU MATERI ORGANIK KOTOR SEPERTI SPERMA DSB. SEORANG BRAHMANA HARUS MELAKUKAN UPACARA PENEBUSAN DOSA CANDRAYANA.
Selanjutnya unsur-unsur sapi disakralkan dalam upacara pembebasan dosa antara lain tercantum dalam Bab XI pasal 27:
KESUCIAN DAN PEMBEBAS DOSA ADALAH PANCAGAVYAM, YANG MERUPAKAN CAMPURAN DARI AIR KENCING SAPI, TAHI SAPI, SUSU SAPI, SUSU SAPI BEKU, MENTEGA MURNI DARI SUSU SAPI, DAN AIR CUCIAN RUMPUT KUSA.
Dalam lontar-lontar Kusumadewa dan Silakrama dicantumkan bahwa seorang Ekajati (Jero mangku) apalagi seorang Dwijati (Pandita) dilarang untuk: memegang tali sapi, melangkahi tali sapi, menginjak tahi sapi, dan kencing di atas tahi sapi, di samping larangan-larangan dalam Parasara Dharmasastra tersebut di atas. Sikap kita adalah menjalankan swadarma sebagai pemeluk Hindu yang baik antara lain meyakini kebenaran sastra Agama tersebut.
Untuk kesehatan dan pertumbuhan badan masih banyak sumber protein selain daging sapi yang bisa dimakan. Susu, mentega, dan keju dari sapi boleh diminum-dimakan. Juga masih ada kambing, bebek, ayam dan hewan lainnya. Bagi mereka yang sudah mewinten (Ekajati) dan yang sudah madiksa (Dwijati) selain daging sapi juga dilarang memakan daging babi, ayam, binatang melata, dan binatang lain yang tidak wajar dimakan dagingnya seperti anjing, kucing, tikus, dll.
Daging yang dimakan mempengaruhi perilaku yang memakannya, misalnya jika memakan daging babi akan menjadi malas seperti babi (tamas); jika makan daging ayam akan suka berkelahi seperti ayam (rajas); jika makan daging anjing akan terjangkit sipilis, dll.
Sesungguhnya menjadi vegetarian bagus, selain mencegah penumpukan kolesterol, juga menurut beberapa akhli kedokteran dikatakan bahwa manusia diciptakan sebagai mahluk yang tidak memakan daging karena susunan gigi dan sistem pencernaan ususnya tidak sesuai. Yang cocok adalah makan biji-bijian (beras, ketan, injin, tahu, tempe, dll), umbi-umbian (kentang, ubi, wortel, dll), sayur-sayuran, buah-buahan, susu, dan madu. (Google: 27 maret 2012: 18.30)
PRASASTI DAN DINASTI
Tidak dapat disangkal lagi, bahwa Nusantara adalah pusat kebudayaan Hindu pada masanya. Sebuah perkembangan peradaban budaya klasik yang membawa Nusantara dikenal sebagai bangsa berbudaya adiluhur tinggi. Penemuan-penemuan arkeologi membuktikan Nusantara pernah menjadi jalur pelayaran utama dari Asia Tenggara, Tiongkok, India hingga Asia Selatan. (Google: 27 maret 2012: 18.30)

HINDU SAIWA
Aliran agama Hindu yang memuja dewa Siwa sebagai dewa tertinggi, disebut aliran Saiwa atau Saiwisme menurut Rg Weda. Siwa adalah bentuk Santa (bersifat baik, tenang) dari Dewa Rudra, dewa pembinasa. Dalam kitab Mahabharata, Siwa sering disebut sebagai Maha Dewa, yaitu dewa tertinggi diantara para dewa. Di Indonesia, salah satu bukti yang menunjukkan kedudukan dewa Siwa lebih penting dan lebih tinggi dibanding dengan dewa lainnya adalah isi prasasti Canggal (654 Saka /732 Masehi) yang memuat puji-pujian kepada dewa Siwa sebanyak 3 bait, sedangkan untuk dewa Brahma dan Wisnu masing masing hanya 1 bait (Poerbatjaraka 1952:44)
PERAN UTAMA NANDI
Sebagai Dewa Utama Siwa dalam Aliran Hindu Saiwa memiliki kendaraan suci yaitu sebuah Lembu Kemakmuran yang bernama Nandi yang adalah dewa utama dari Peradaban Agraris Lembah Hindus. Nandi dikenal sebagai Pasupati, yang dipuja sebagai penjaga agraris. Beberapa Purana (kitab suci), menjelaskan Nandi atau Nandishwaram sebagai lembu sukacita yang memiliki aspek Siwa, maka tidak mengherankan jika Nandi digambarkan menyatu dan tersenyum bersama tuannya.
Arca Nandi adalah pertanda keberadaan agama Hindu Saiwa, Kuil Nandi selalu berada di depan Kuil Maha Dewa dan pemujaan terhadap Nandi merupakan awal pemujaan terhadap Siwa. Penemuan arkeologi arca arca pemujaan dari batu beralih ke perunggu membuktikan bahwa praktek menyembahan terhadap para dewa telah berkembang seiring dengan perkembangan teknologi pengecoran logam pada masanya.
Semakin giat  Dewa Nandi melayanani Dewa Siwa, semakin gembiralah dia. Estasi dalam tugas pelayanan selalu saja diperolehnya secara akumulatif. Kekuatan dewanya mulai dirasakan tiada cukup lagi untuk menopang tugas yang dicintainya, Nandi merubah tubuhnya menjadi seekor lembu yang luar biasa, dengan keempat kaki sekokoh sari keempat kitab Veda, bergerak, berjalan bahkan menari –nari kecil  seiring Tandava Sang  Nataraja. Bicaranya disampaikan dengan lafal jelas dan mencerahkan. Improvisasi adalah bagian dari keindahan yang selalu dinanti nanti Iswara. Lembu Nandi sungguh jugalah sastrawan, sejarawan , seniman , dan penghibur, ia membawa pendengarnya untuk melihat, menyelami dan merasuki sampai ke inti samudera semesta , sambil mengagungkan Brihaspati , dan lidahnya digerak gerakan oleh Dewi Saraswati. Ritme suaranya bagai kicau  burung Kalavinka di telinga Shambu,  membuat Sadyojata tak tahan ikut berbagi; tentang dharma, karakter, etika dan estetika. Tentang yang rasional dan yang empiristis, penciptaan dan pemeliharaan, perubahan yang seharusnya, tentang kesejahteraan lahir dan ketentraman batin. Lembu Nandi mengerti tuannya adalah sang Anugerah Murti, dan lewat pelayanan , pada diri sendiri juga yang dilayani, seisi semesta. Vocasional Lembu Nandi tidak sebatas penutur, tenaga fisik dan terlebih pikiran, berada didalam satu kesatuan peran profesionalisme. Sang pelayan yang selalu ingin membuat senang hati tuannya. Dan tak hendak membuat Bethara Guru menjadi Samhara Murti. Lembu Nandi siap bekerja siang malam, dengan dikawal  Surya dan Chandra. (Google: 27 maret 2012: 18.30)



Candi Siva dan Nandi
Candi NandiCandi Nandi. Candi ini mempunyai satu tangga masuk yang menghadap ke barat, yaitu ke Candi Syiwa. Nandi adalah lembu suci tunggangan Dewa Syiwa. Jika dibandingkan dengan Candi Garuda dan Candi Angsa yang berada di sebelah kanan dan kirinya, Candi Nandi mempunyai bentuk yang sama, hanya ukurannya sedikit lebih besar dan lebih tinggi. Tubuh candi berdiri di atas batur setinggi sekitar 2 m. Seperti yang terdapat di Candi Syiwa, pada dinding kaki terdapat dua motif pahatan yang letaknya berselang-seling. Yang pertama merupakan gambar singa yang berdiri di antara dua pohon kalpataru dan yang kedua merupakan gambar sepasang binatang yang berteduh di bawah pohon kalpataru. Di atas pohon bertengger dua ekor burung. Gambar-gambar semacam ini terdapat juga pada candi wahana lainnya. (Google: 27 maret 2012: 18.30)



Pemujaan Terhadap Lembu Nandi atau Nandini
sejak jaman purba banyak orang Hindu yang meninggalkan kehidupan yang ramai untuk menyendiri di hutan-hutan, agar mereka dapat bersemedi di tengeh-tengah suasana yang tenang dan damai. Orang ini dekat sekali dengan alam dan dengan penghuni hutan, binatang-binatang. Bagi mereka binatang-binatang bukanlah makhluk yang tolol, yang hyanya terdorong oleh naluri saja, melainkan makhluk yang cerdas dan berprikemanusian. Oleh karena itu hampir diseluruh kasustraan india, binatang-binatang mempunyai peranan yang penting. Terlebih-lebih pada jaman Ramayana. Disitu binatang-binatang bukan hanya dipandang sebagai manusia, tetapi bahkan dipandang sebagai titisan dewa-dewa.
Didalam Ramayana diceritakan, bahwa sebelum wisnu menjelma sebagai Rama, sudah diputuskan, bahwa para dewa dan makhluk sorgawi lainnya akan menitis sebagai kera. Demikianlah ada banyak sekali kera yang berkuasa, yang dipandang sebagai yang palng berkuasa. Diantara para kera itu adalah Hanoman. Kesetian Hanuman kepada Rama menjadi suri tauladan di seluruh india. Hanuman menjadi simbol kesetian dan penyerahan diri. Ia menjadi pelayan yang sempurana, yang dicita-citakan orang.
Sedangkan binatang Lembu, tidak diketahui bilamana lembu mulai dipuja. Sebab pada zaman purba agaknya Lembu tidak dipandang sebagai binatang yang suci. Tetapi sekarang Lembu dipandang sebagai binatang yang tersuci. Segla yang keluar yang kaluar darinya dianggap suci, bahkan kotoran dan kencingnya.
Lembu dipandang sebagai penjelmaan dewa, dan dianggap sama dengan kasta Brahmana. Disorga lembu mendapat penghormatan yang tertinggi, sehingga sorga Wisnu yang tertinggi, Golaka sebenarnya disebut menurut sebutan Lembu itu. Lembu jantan, Nandi dianggap suci juga, sebab menjadi kendaraan dewa Siwa. ( Harun Hadiwijono Dr: Agama Hindu-Buddha: 46-47)
Perkembangan Siva Nandi
Penanggalan secara relatif situs Patenggeng diperkirakan sejak zaman prasejarah hingga sekitar abad ke-16.  Beberapa tinggalan yang bersifat sakral seperti arca nandi dari Kampung Selaawi, Sagalaherang, arca dari Desa Mayang, arca ganesha dan bangunan berundak di Bukitunggul, serta tinggalan yang ada di Gunung Tampomas memperlihatkan kuatnya latar agama Siva. Untuk keperluan pemujaan, kadang-kadang Siva digambarkan dalam bentuk lingga. Penggambarannya dalam bentuk lingga terkandung juga dua dewa yang lain yaitu Brahma dan Wisnu. Sebuah linga yang lengkap adalah terdiri tiga bagian yaitu bagian bawah berbentuk segi empat disebut Brahmabhaga sebagai lambang Brahma, bagian tengah berbentuk segi delapan disebut Wisnubhaga sebagai lambang Wisnu, dan bagian atas (puncak) disebut Sivabhaga sebagai lambang Siva (Rao, 1916: 79).
Pada suatu bangunan pemujaan, lingga merupakan bagian inti dari bangunan itu. Lingga dan yoni merupakan sentral pemujaan karena merupakan lambang dewa tertinggi Siva dengan saktinya. Di samping itu, adakalanya ditemukan pula penggambaran atau lambang dewa pengiringnya. Salah satu pengiring dewa Siva adalah Nandisvara atau juga disebut Nandikesvara. Penggambaranya ada beberapa macam variasi misalnya sebagai seekor sapi jantan, manusia berkepala sapi atau sebagai duplikat dari Siva. Jika digambarkan dalam bentuk manusia berkepala sapi dan sebagai duplikat Siva, disebut Adhikaranandin (Shukla, 1958: 283). Arca nandi di Selaawi mungkin merupakan kelengkapan bangunan pemujaan. (Google: 29 Maret 2012: 20.30).


1 komentar: