SIVA
VISESADVAITA DARI SRIPATI
(
VIRASAIVA )
1.
Pendahuluan
Seperti diketahui bahwa ajaran Vira
Saiva merupakan sistem yang memandang tentang identitas roh ( jiva ) dan Siva
berjenjang sesuai dengan tingkat kemajuan spiritual penganutnya. Pada tahap
awal, dimana seseorang masih dalam tahapan bhakta ( penyembah ), ia merasakan
adanya perbedaan ( bheda ) antara si penyembah ( bhakta ) dengan yang disembah
( siva ) dan dengan semakin majunya tingkat perkembangan spiritual seseorang,
maka akan tercapailah abheda ( tiada perbedaan ) antara si penyembah ( roh )
dengan yang disembah ( siva ).
Kata “ Vira Saiva” tampaknya
memiliki makna historis yang menunjukkan sikap kepahlawanan dari para pengikut
Saivaisme dalam mempertahankan keyakinannya ( vira= kegigihan, keperwiraan ).
Dalam Siddhanta Sikhamani, terdapat suatu percakapan antara Renuka atau Revana
dengan Agastya tentang arti kata “Vira” tersebut, yaitu :
1). “Vi” artinya pengetahuan ( vidya ) yang menyatakan
bahwa subyek pribadi ( Jiva ) identik dengan Siva dan para pengikut Saivaisme
yang menemukan kepuasan dalam pengetahuan semacam itu adalah “Vira Saiva”.
2). Pengetahuan yang diperoleh seseorang dari
belajar Vedanta, yang ditunjukkan oleh kata “Vi” dan “Vira” adalah yang
menemukan kedamaian pikiran di dalamnya. Kriyasara memberikan arti tambahan
terhadap kata “Vira” tersebut, yaitu sebagai berikut :
3). “Vi” artinya “keragu-raguan” (vikalpa); “Ra”
artinya “tanpa” Jadi, Vira Saiva artinya “keyakinan dan filsafat Saiva yang
bebas dari keragu-raguan”.
Jadi Vira Saiva disini merupakan suatu
ajaran yang mampu menghentikan hasutan mental ( pikiran ), sehingga
memungkinkan untuk dapat mencapai unutk dapat mencapai mukti ( pembebasan ).
Maswinara ( 2006 : 280 ). Vira Saiva juga disebut Lingayata atau Lingavanta,
karena salah satu sraddha-nya adalah kepercayaan akan Linga, yang tiada lain
adalah Siva dan mereka yang sudah di inisiasi oleh guru spiritual menjadi sadar
bahwa pada dirinya bersemayam Linga atau Siva.
Ia juga disebut sebagai Dvaitadvaita,
karena ia berpendapat bahwa ketulusan ( bhakti ) merupakan cara yang utama
untuk penyatuan ( sayujya ) dengan realitas terakhir, yaitu Siva. Ketaatan
mengandaikan realitas dan mahluk, keduanya terpisah, yaitu subyek dan obyek, si
penyembah dan obyek yang disembah, si pemuja dengan obyek yang dipuja, si
perenung dengan yang direnungkannya ; tetapi akhir dari semuanya ini, yang
diwujudkan melalui hal-hal diatas, tidak menjadi satu, dimana subyek dan obyek
memiliki keberadaan yang terpisah.
Ia juga disebut “sesvaradvaita”, karena
katagori pertama menurut sistem ini adalah “pati” atau Tuhan dan konsepsi
tentang katagori terakhir bukanlah yang merupakan tanpa isis atau keberadaan
kosong, tetapi yang berkuasa sepenuhnya; dan segenap kejamakan dari alam
semesta, baik yang subyektif maupun yang obyektif, memiliki keberadaan di dalam
daya-Nya, persis seperti kejamakan yang menyusun sebatang pohon, yang ada di
dalam sebutir biji ( benih ), dari mana ia bertunas dan tumbuh berkembang dan
Ia adalah Tuhan atau Pati, karena Ia memiliki daya, walaupun ia tak berbeda
dengan-Nya, seperti sifat kehangatan dalam api.
Ia disebut visesadvaita atau
savisesadvaita, karena ia bertentangan dengan nirvisesadvaita dari Sankara,
yaitu Saguna-Brahmavada dan bertentangan dengan Nirguna-Brahmavada; juga
berlawanan dengan teori bahwa dunia empiris hanyalah khayalan; juga terhadap
perbedaan antara realitas praktis ( vyavaharika satya ) dan realitas nyata (
paramarthasatya ) dan terhadap pandangan bahwa pembebasan merupakan penolakan
terhadap sifatnya.
Ia disebut Sivadvaita, karena
berpendapat bahwa realitas terakhir adalah Siva, keberadaan universal yang
meresapi segalanya, dalam nama segenap kejamakan dari dunia obyektif memiliki
keberadaan secara potensial dan berkembang dariNya sebagai akibat dari
kehendakNya, dan karena kejamakan yang terpendam di dalamnya walaupun kejamakan
itu menjadi berwujud halus atau pun kasar, namun tidak berada di luar diriNya.
Ia juga disebut Sarvasrutisaramata,
karena ia menyatakan bahwa dasar pandangannya berasal dari semua naskah suci
dan mempertahankan secara konsisten dan selaras, penafsiran dari semua
pernyataan yang tampaknya bertentangan, yang diketemukan dalam Sruti.
Ia disebut Dualis Monistik, karena ia
berpendapat bahwa Dvaita dan Advaita, atau Dualis dan Monistik, walaupun
bertentangan satu sama lainnya, apabila dinyatakan pada tingkatan yang sama dan
dari titk pandang yang sama; namun keduanya akan dapat didamaikan apabila
keduanya dilihat dari sudut pandang yang berlainan. Ia menyatakan bahwa pribadi
berbeda dengan Siva pada tingkatan empiris, tetapi menjadi satu denganNya
apabila ia bergabung kedalamNya pada saat pembebasan, persis seperti perbedaan
antara sungai-sungai dan lautan pada bidang yang berlaina, tetap akan menjadi
sama atau menajdi satu apabila aliran sungai itu sudah bergabung dengan lautan.
Monisme menunjukkan tentang keadaan penyebab, sedangkan Dualisme menyatakan
tentang keadaan akibat.
Ia disebut Sakti Visistadvaita, karena
Vira Saiva menolak untuk menerima pernyataan bahwa dalam kesadaran diri,
perbedaan material dan bentuk dihapuskan, karena dalam kesadaran diri pun ia
membedakan sisi material dan sisi bentuk, momen potensial dan momen aktual.
Momen potensial dan material dari Yang Mutlak di istilahkan sebagai Siva dan
momen aktual dan momen formal dari Yang Mutlak di istilahkan dengan Sakti. Ia
membayangkan persekutuan antara Siva dan Sakti secara integral.
Kriya Sara oleh Nilakantha mengemukakan
Sakti visistadvaita yang diterima oleh para pengikut Vira Saiva dan menafsirkan
sloka-sloka Brahma Sutra dari Badarayana dalam pandangan Visistadvaita.
Vira Saiva mencela pandangan Sankara
mengenai Vedanta tentang teori pelapisan ( adhyasa ), kenyataan praktis (
vyavaharikasatya ), sifat khayal dari alam semesta dan teori tentang refleksi
atau pantulan. Menurut Vira Saiva, sesuai dengan pandangan dari Sripati
Panditaradhya, teori pelapisan yang dinyatakan oleh Sankara bertentangan dengan
pernyataan naskah suci, yang membicarakan tentang penyebab hubungan antara
Brahman dan alam semesta, Sehubungan dengan masalah kenyataan praktis, Sripati
mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :
1). Apakah itu berarti bahwa sesuatu yang hanya
kenyataan praktis semacam itu tidak berlanjut melalui hal-hal yang akan terjadi
( kalantaranavasthaytiva ), atau
2). Bahwa demikian itu berbeda dengan “keberadaan”
dan “bukan keberadaan”, atau
3). Bahwa yang semacam itu tak dapat dikatakan
sebagai “keberadaan” atau sebagai “bukan keberadaan”.
Menurut Sripati, pandangan yang demikian
itu tak dapat dipertahankan, karena perbedaan dapat ditarik hanya tentang
Brahman dan Prakrti dan argumentasi tentang hal ini sangatlah halus, sulit dan
sangat dalam artinya, sehingga memerlukan ruang pembahasan yang lebih luas.
Sripati membicarakan tentang Sankara
sebagai seorang Bauddha dalam pakaina seorang Vedantin ( pracchana bauddha ).
Ia menyebut Sankara Vednta “nirvisesadvaitamata”, karena ia berpendapat bahwa
Tuhan, alam semesta dan subyek pribadi, sebagai khayalan. Ia berpendapat bahwa
sistemnya Sankara disalahkan oleh Badarayana dalam “abhavadhikarana”nya Vedanta
Sutra. Ia bertanya : “Apakah penolakan ( abhava ) tentang Tuhan, alam semesta
dan subyek pribadi berarti bahwa mereka tidak memiliki keberadaan apapun,
seperti tanduk dari seekor kelinci ( truwelu ) atau anak dari seorang wanita
mandul; atau merupakan khayalan seperti kejamakan yang dialami dalam mimpi? Ia
menunjukkan bahwa penolakan jenis pertama itu bertentangan dengan kenyataan
pengalaman, karena kita secara aktual menerima kejamakan obyektif pada tingkat
empiris, tetapi tanduk dari seekor kelinci tak dapat diamati dan tidak tepat.
Subyek pribadi juga secara jelas dialami pada saat munculnya fenomena
pengetahuan yang berbeda dengan obyek dan caranya. Oleh karena itu, hanya
memandang pengetahuan ( jnana ) saja yang ada, tanpa perbedaan subyek-obyek dan
caranya, membuat diri seseorang menjadi suatu obyek cemohan. Dan Tuhan juga
merupakan obyek pengalaman keagamaan atau mistik. Oleh karena itu, penolakan
tentang dunia obyektif dan Tuhan, tak dapat diamati.
Atau, dapatkah dunia obyektif dinyatakan
khayalan ( mithya ) seperti sebuah mimpi, karena dunia obyektif pada keadaan
jaga sangat berbeda dengan yang kita lihat dalam mimpi. Mimpi dipertentangkan
dengan pengalaman jaga, karena kita tidak menemukan apa yang kita alami dalam
mimpi, ketika kita terbangun. Tetapi obyek yang kita alami dalam keadaan
terjaga, akan kita ketemukan, walaupun setelah bermimpi. Selanjutnya perbuatan
bajuk dan dosa yang dilakukan dalam mimpi, tak menghasilkan pahala atau
ganjaran terhadap hal yang sama dalam mimpi; tetapi perbuatan-perbuatan yang
sama, yang dilakukan dalam keadaan terjaga, akan menghasilkan pahala dan
ganjaran.
Karenanya penolakan terhadap realitas
dunia empiris, pada dasar perkiraan yang sama dengan dunia mimpi, adalah tidak
logis; sehingga salah untuk menyatakan bahwa pengalaman keadaan terjaga tanpa
menunjuk kepada kenyataan obyektif, sebagai di dalam mimpi. Selanjutnya,
apabila semua pengetahuan diskui tanpa adanya penunjukkan obyektif ( jnananam
arthasunyatva ), masalah yang hendak dibuktikan oleh para Vedantin tak dapat
dibuktikan; karena Advaita Vedantin berusaha untuk membuktikan keberadaan
Brahman dengan penyimpulan. Tetapi penyimpulan itu sendiri juga merupakan
sejenis pengetahuan. Sehingga tak dapat menunjukkan terhadap apa sebenarnya
keberadaan itu.
Tetapi Advaita Vedantin dapat mengatakan
bahwa keberadaan dunia obyektif yang sesungguhnya ditolak hanya karena ia
dipertentangkan oleh pengalaman mistik ( brahmajnana baddhyatvam ). Terhadap hal
ini, Sripati menjawab bahwa pengalaman dari dunia obyektif bukan berarti
penolakan atau pertentangan dari keberadaannya; karena hal itu disebabkan oleh
munculnya subyek yang mengatasi tingkatan kelekatan obyektif. Ketiadaan
pengalaman objektifitas pada tingkatan mistik sama dengan ketiadaan pengalaman
pada tingkatan tidur lelap tanpa mimpi. Maswinara ( 2006 : 284 ).
Atau, dapatkah Nirvisesa Vedantin
membuktikan keberadaan dari Nirvisesa Brahman berdasarkan naskah-naskah suci;
karena mereka juga merupakan cara pengetahuan ( sabda pramana ). Dan Advaintin
mengakui bahwa cara pengetahuan tidak memiliki referensi terhadap obyek yang
sebenarnya. Oleh karena itu, Brahman yang di buktikan dengan bantuan Sruti juga
tiada lain merupakan khayalan; dan segala sesuatunya kecuali Brahman menjadi
khayalan, demikian pula kitab suci harus diakui sebagai demikian itu, sehingga
tak dapat membuktikan Brahman menjadi bukan khayalan atau nyata.
Ada perbedaan pendapat diantara para
pengikut Vedanta mengenai konsepsi tentang Tuhan dan tentang subyek pribadi.
Menurut sebagian kelompok, baik Tuhan maupun roh pribadi, hantyalah pantulan
dari keberadaan universal tunggal, yang merupakan pantulan ( caitanyamatram
bimbam ); yang dipantulkan dalam Maya, sebagai kebodohan universal, adalah
Tuhan; tetapi yang dipantulkan dalam indra dalam ( antahkarana ) adalah roh
pribadi. Perbedaan antara Tuhan dan roh pribadi adalah bersifat kwantitatif,
seperti perbedaaan bayangan matahari pada sebuah kolam dan pada sebuah cangkir;
dimana yang pertama meresapi segalanya, tetapi roh pribadi sifatnya terbatas.
Berikut ini adalah kritik dari Sripati
terhadap pandangan tentang teori pantulan dari Sankara. Suatu Pandangan yang
dikemukakan harus selaras dengan kenyataan pengalaman, apabila hal itu untuk
menguasai penerimaan secara umum. Bagaimana pun juga, pandangan bahwa Tuhan dan
roh hanyalah pantulan dari keberadaan tunggal yang universal, bertentangan
dengan kenyataan, sehingga tak dapat diterima, karena hanya yang memberikan
pantulan dan yang menerima pantulan sajalah yang keberadaannya jelas.
Pembicaraan tentang pantulan ether ( akasa ) dalam kolam, tidak memiliki dasar
selain khayalan. Selanjutnya, pantulan diperlukan pada suatu ruang, dimana tak
ada pantulan. Tetapi Brahman adalah meresapi segalanya, sehingga tak mungkin
ada pantulannya. Dalam “guhah pravistavatmanau hi tad darsanat”, Jiva dan
Brahman dikatakan menempati ruang yang sama. Bukankah hal ini bertentangan
dengan teori pantulan? Bagaimana pantulan dan yang dipantulkan ada pada tempat
yang sama? Karena itu tak akan terjadi penghancuran Maya pada saat pembebasan,
yang berarti penghancuran dari Jiva, sehingga teori bahwa Jiva hanya merupakan
pantulan dari Brahma tak dapat dipertahankan.
Sripati Panditataradhya juga mencela
Visistadvaita, dalam penggunaan istilah “Visistadvaita” mengenai atribut dan
bahan yang dikaitkan dengan sang diri tertinggi dan roh-roh pribadi. Hubungan
antara diri tertinggi dan roh harus didefinisikan sebelum kita dapat
membicarakannya sebagai bahan dan atribut. Hal itu tak dapat dikatakan ada
bersamanya ( samavaya ), karena mereka ada dalam keadaan terisolasi satu sama
lain dan juga tak dapat dikatakan hanya kontak ( samyoga ) saja, karena apabila
dikatakan menjadi meresapi ( vyapyavrtti ), itu akan berarti pengakuan identitas
dari keduanya, karena keduanya tanpa bagian-bagian. Mengenai
“svarupasambandha”, hal itu tidak logis, sehingga umunya tidak diketahui dan
apabila toh diakui menjadi suatu hubungan, sehingga bergantung pada keduanya,
hal ini bertentangan dengan non dualis. Berdasarkan hal-hal ini, maka istilah
“Visistadvaita” juga bertentangan.
Sripati secara tegas menyalahkan
konsepsi tentang pembebasan ( moksa ) sebagai pencapaian penyamaan dengan Siva
dan menyatakan bahwa pembebasan adalah penyatuan dengan Siva ( sayujya ).
2.
Kepustakaan, Penulis dan Orang-orang Suci
2.1.
Kepustakaan
Otoritas ajaran Vira Saiva didasarkan pada 28
Saivagama seperti dinyatakan pada filsafat Saiva secara umum, dimana 10 buah
berasal dari Siva Dualis, sedangkan 18 buah berasal dari Dualis-cum Monistik
dan ke 28 Saivagama tersebut juga merupakan otoritas ajaran Saiva Siddhanta.
Berdasarkan otoritas 28 Saivagama, para bijak Vira
Saiva menuangkan pokok-pokok ajaran Saiva ke dalam Vacana Sastra, yang hidup
kembali dalam abad ke 11 dan berkembang sampai abad ke 18 dan diketahui ada 213
penulis Vacana Sastra. Vacana Sastra ini pada waktu sekarang sangat populer dan
mendapat tempat yang terhormat di hati para pengamat Vira Saiva. Vacana-vacana
ini dilagukan karena ia memiliki keindahan khusus, yang disusun dalam bahasa
sederhana dan mudah dimengerti sekalipun bagi mereka yang kurang terpelajar.
Tujuan utama penulisan vacana sastra tersebut bukan
menjelaskan secara mendalam prinsip-prinsip agama dan filsafat melainkan
ditekankan pada pengungkapan kondisi sosial dan praktek agama yang banyak
menyimpang pada waktu itu.
2.2.
Penulis
Wacana Sastra dan Orang-Orang Suci ( Acarya )
Para penulis Vacana Sastra berasal dari berbagai
lapisan sosial masyarakat, para brahmana, chandala, wanita dari semua golongan,
pedagang, pengrajin, dll. Nama-nama yang patut disebut sebagai penulis Vacana
Sastra adalah sebagai berikut :
1.
Jedara
Dasimayya ( 1040 Masehi )
2.
Ekadanta
Ramayya
3.
Siva
lenka Mancanna ( 1160 Masehi )
4.
Sripati
Panditaradhya ( 1160 Masehi )
5.
Mallikarjuna
Panditaradhya ( 1160 Masehi )
6.
Sakalesa
Madarasa ( 1150 Masehi )
7.
Prabhudeva
( 1160 Masehi )
8.
Basava
( 1160 Masehi )
9.
Cenna
Basava ( 1160 Masehi )
Tradisi keagamaan yang berlaku diantara kehidupan
Vira Saiva, mengatakan bahwa Vira Saiva didirikan oleh 5 orang acarya, yaitu :
1.
Ranukaradhya
atau Revanaradhya
2.
Darukaradhya
atau Marularadhya
3.
Ekoramaradhya
4.
Panditaradhya
5.
Visvaradhya
Kelima acarya ini dipercaya muncul dari Linga, yang
masing-masing berasal dari : 1. Siva-linga Somesvara di Kollipaki, 2. Dari
Vata-vrksa Siddhesvara, 3. Dari Ramanatha di Draksarama Ksetra, 4. Dari
Mallikarjuna di Srisaila dan 5. Dari Visvanatha di Kasi ( Benares ).
Ajaran unggulan dari sistem Vira Saiva adalah : 1).
Astavarana, yaitu 8 sraddha yang mencirikan penganut Vira Saiva, yang berbeda
dengan penganut lainnya; dan 2). Satsthala, yaitu 6 cara ( jenjang )
pengembangan spiritual. Maswinara ( 2006 : 287 ). Asvarana, atau 8 sraddha yang
mencirikan penganut Vira Saiva tersebut adalah sebagai berikut :
1.
Guru
Pembimbing spiritual yang akan melakukan diksa
kepada para pemula dan penghormatan kepadanya adalah tanpa batas. Seorang guru
kedudukannya lebih tinggi dibandingkan dengan orang tuanya sendiri, karena
seorang guru mampu mengantarkannya menuju pembebasan, sedangkan orang tuanya
sendiri hanya mampu memberinya badan kasar.
2.
Linga
Linga merupakan Para Siva sendiri dan bukan seperti
yang dipikirkan oleh para orientalis yang menyatakan bahwa linga dianggap
sebagai organ generatif dari laki-laki. Linga berasal dari akar kata “li” dan
“gam”. “Li” artinya mengembalikan, dan “gam” artinya pergi atau keluar atau
memproyeksikan. Jadi Linga, adalah Ia yang memproyeksikan alam semesta dan
mempralaya ( mengembalikan ) alam semesta tersebut ke dalam diri-Nya. Bagi
penganut Vira Saiva, linga adalah Siva itu sendiri dan bukan hanya sekedar
simbul belaka. Linga pada para sadhaka berbentuk Caitanya, yang diberikan oleh
seorang guru, melalui kekuatan spiritual untuk di puja. Linga berwujud sinar
cemerlang yang ditampakkan di depan mata seorang pemula dan Linga dipercaya
sama dengan seorang guru, meskipun ia disampaikan oleh guru. Ia dianggap sama
dengan Siva itu sendiri dan tidak boleh dipisahkan dengan badan, sebab sama
artinya dengan kematian spiritual. Siva tidak sembah dalam bentuk patung,
melainkan dalam bentuk pertama ketika diinisiasikan. Menyembah Siva dalam
bentuk lain dipantangkan.
3.
Jangama
Istilah ini hanya dikenal dalam Vira Saiva, yang
menyatakan seseorang yang bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya dengan
membawakan dharma vacana. Untuk menjadi seorang Jangam harus memiliki kemampuan
sebagai berikut yaitu sudah tidak terikat dengan wanita, harta benda, hawa
nafsu dan mereka dihormati seperti guru, sebagai Linga. Di dalam ajaran Buddha
kita mengenal Tri Ratna, dan dalam ajaran Vira Saiva, mereka itu adalah Guru,
Linga dan Jangam.
4.
Padodaka
Secara tersurat artinya “air dari kaki sang guru”
atau “air suci”. Penganut Vira Saiva memiliki keyakinan penuh terhadap kesucian
seorang Guru, Linga dan juga Padodaka sehingga semua obyek yang terkena
sentuhan ketiga hal tersebut, akan menjadi suci.
5.
Prasada
Berupa makanan yang diserahkan kepada seorang guru,
kemudian oleh guru, makanan tersebut dikembalikan kepada para bhakta sebagai
prasada, yang merupakan makanan yang telah mendapatkan berkah kesucian.
6.
Vibhuti
Yang merupakan “abu suci” yang dipersiapkan dengan
konsentrasi tinggi oleh seorang acarya dengan mengucapkan mantra-mantra
tertentu.
7.
Rudraksa
Yang merupakan sejenis biji buah yang dipercaya
berasal dari mata Siva dan untaian Rudraksa ( rudraksa mala ) dikalungkan di
leher, kepala, telinga dan dipakai selama melakukan japa.
8.
Mantra
Yaitu rumusan suci ( sakral ) yang terdiri atas 5
suku kata, yaitu : “Na-ma-si-va-ya”, yang disebut “Pancaksara-mahamantra”, dan
jika ditambah suku kata “Om” menjadi “Om namasivaya” dan disebut sadaksara.
Bagi penganut Siva, mantra, ‘om namasivaya’ merupakan maha-mantra, seperti
halnya Gayatri-mantra di dalam Veda.
3.
Konsepsi Tentang Tuhan
Konsepsi tentang Tuhan dalam sistem Vira Saiva,
adalah berjenjang ( sthala ), sesuai dengan pengembangan spiritual dari Jiva
dan dalam sistem Vira Saiva terdapat 6 jenjang ( satsthala ), yaitu : 1). Bhaktasthala,
2). Mahesvarasthala, 3). Prasadisthala, 4). Pranalingisthala, 5). Saranasthala,
dan 6). Aikyasthala. Setiap bagian memiliki sejumlah sub bagian lagi, yang
disebut dengan nama yang berbeda, yang jumlahnya 44 buah dan dikaitkan dengan
Siddhanta Sikhamapi, yaitu suatu ku mpulan percakapan antara Renuka dan Agastya.
Dengan naskah yang sama, berbagai jenis Linga, cara pemujaan dan perenungan
juga diberikan secara rinci, dan Sripati, dalam Srikara Bhasya, jilid II, 95,
96, 105, 106 dsb, juga menunjukkan Linga semacam itu.
Pada tahapan awal sebagai seorang bhakta (
bhaktasthala ) terdapat perbedaan yang jelas antara Jiva dengan Tuhan, dan pada
tahapan akhir atau Aikkyasthala, tercapai kesatuan diantara keduanya pada
tingkatan bhaktisthala, sang Jiva merupakan seorang bhakta yang melayani Guru,
Linga dan Jangama sehingga konsepsi tentang Tuhan sama seperti pada sistem
Saiva Siddhanta, dimana selamanya bertindak selaku pelayan jiwa, walaupun sudah
mencapai Mukti. Bagaimana penghayatan dualis berkembang menjadi non dualis,
akan diuraikan secara ringkas berikut ini.
Pada tahap awal kepercayaan terhadap Tuhan adalah
Satu riada duanya. Penganut Vira Saiva sangat teguh keyakinannya terhadap
keberadaan Tuhan Yang Maha Kuasa, yang mengatasi semuanya dan yang
diidentifikasikan sebagai Siva. Akka Mahadevi, seorang rsi wanita yang sangat
dihormati, yang hidup pada abad ke 12 Masehi mengatakan sebagai berikut;
“Siapakah yang memberi rasa asam pada jeruk mangga dan buah asam? Siapakah yang
memberi rasa manis pada batang tebu, tanam-tanaman, kelapa dsb? Siapakah yang
memberi zat-zat penghidup pada padi=-padian, gandum, jagung, dsb? Siapakah yang
memberikan keharuman pada bunga-bunga sedap malam, mawar, melati dsb. Itu? Air
adalah satu, tanah juga satu, langitpun satu adanya. Air yang satu dalam
persatuannya dengan obyek lain menghasilkan sifat-sifat yang berbeda, demikian
pula halnya dengan Tuhanku ‘cennamallikarjunayya’, meskipun bersatu dengan
dunia yang tak terbatas ini, memiliki hakekatnya sendiri”.
Vira Saiva tidak sependapat dengan ajaran
polytheisme, dan menolak keTuhanan Brahma, Visnu dan Rudra ( trimurti ),
seperti halnya Siva Siddhanta yang menggolong-golongkan Jiva. Vira Saiva menyatakan
bahwa hanya ada satu Tuhan, keberadaan yang paling berkuasa, yaitu Siva yang
pemurah. Maswinara ( 2006 : 290 ).
Seperti telah dikatakan di depan, apabila jiwa
seseorang mencapai bhaktasthala, sebagai jenjang yang pertama, yang merupakan
titik awal dari filsafat Vira Saiva, keyakinan terhadap Tuhan sebagai pribadi
secara perlahan-lahan menjadi subyek pengkajian hakekat sebenarnya dari
Kasunyataan, yang berlanjut sampai jiwa mencapai tahap kemajuan hingga jenjang
ke 5 ( saranasthala ), dimana pada periode ini sang jiwa mencapai kesimpulan
yang mirip sama dengan ajaran Siva Siddhanta, mengenai penafsiran filosofis
terhadap jiwa. Kekhususan ajaran Vira Saiva yang lain, bukan saja pada
pencapaian kesimpulan itu saja, tetapi dalam pencapaian apa yang dijelaskan
didalam pengkajian selanjutnya.
Dari jenjang pertama smapai jenjang terakhir, wahyu
tentang kebenaran dan pencapaiannya bergerak dari pengkajian jenjang awal
kejenjang berikutnya. Dengan kata lain, Vira Saiva dengan jelas membedakan
pengertian pencapaian dengan berjenjang, sementara Siva Siddhanta dan aliran
lainnya menyatukannya.
Dalam jenjang-jenjang spiritual sampai pada jenjang
terakhir tampak bahwa uraian tentang Tuhan di dalam mytologi kurang tepat
seperti yang dinyatakan oleh Caudayya sebagai berikut:
“Tak ada untaian tengkorak kepala manusia yang
dipakai oleh Tuhan, juga tidak memiliki trisula dan gendang tangan ( dhamaru ),
juga juga tidak melumuri badannya dengan abu suci dan dalam kenyataannya corak
samsara yang paling kecilpuntak dapat ditelusuri padanya. Ia, yang
satu-satunya, dengan nama apa dapat disebut ? Ia tidak memiliki nama sama
sekali”.
Tuhan tidak memiliki wujud atau pun berwujud dan
dalam kenyataannya, Ia tanpa wujud yang tak dipahami, tak dapat diamati, tak
dapat dibayang-bayangkan dsb. Sehingga Ia dikatakan sebagai intisari kemuliaan
dari kecemerlangan dalam semua kecemerlangan. Ia bukan dari dunia ini maupun
dari dunia sana. Dalam pengkajiannya para rsi Vira Saiva secara perlahan-lahan
masuk ke dalam rahasia alam semesta. Ia mencirikan bahwa rahasia Tuhan Yang
Maha Kuasa mencerminkan kepercayaan akan keberadaanNya, yang menempatkan bumi
dilautan tanpa menjadikannya cair dan menempatkan langit tanpa penopang. Disini
terdapat kesamaan pendapat dengan Saiva Siddhanta.
Siva meresapi segalanya dan mengatasi segalanya. Ia
ada di alam semesta, meresapi alam semesta sepenuhnya tanpa meninggalkan suatu
celah yang tak teresapi oleh-Nya, dalam wujud alam semesta itu sendiri dan
mengatasinya. Meskipun Siva meresapi semua hal dan tampak pada semua benda,
tetapi semua benda itu bukanlah Siva.
Seperti seorang petani yang menebarkan benih,
dapatkah npanenan disebut sebagai seorang petani? Demikian pula pengrajin
periuk, dimana periuk yang dihasilkannya tak dapat dikatakan menjadi si tukang
pembuat periuk; dan keduanya merupakan kesatuan yang berbeda yang tak
terpengaruh oleh akibat-akibat dalam alam semesta. Dalam hal ini Vira Saiva
sependapat dengan Siva Siddhanta, namun bukan merupakan kebenaran akhir. Untuk
mencapai kebenaran akhir, Jiva harus mencapai jenjang spiritual akhir, yang
akan memberikan cahaya kebenaran yang paling cerah, dimana pada tahapan ini
bukan saja tercapainya perwujudan bahwa dirinya adalah Siva, tetapi juga alam
semesta ini adalah Siva.
4.
Sakti atau Maya
Menurut Saiva Siddhanta, sakti
bukanlah Maya, tetapi faktor abadi yang penting, yang bekerja sama dengan Siva,
dimana tanpa ada kerja sama dengannya, Siva tidak memiliki daya dan tak mampu
menghasilkan keberadaan alam semesta yang tersembunyi dalam diri-Nya. Menurut
Trika, sakti tidak berbeda dengan Siva, bersumber didalam diri Siva dan
merupakan daya kekuatan dari Siva dan juga menjadi sumber Maya atau materi
kosmos. Dalam Pancaratra, Sakti atau Laksmi, memunculkan Kriya Sakti dan Bhuti
Sakti, yang sesungguhnya merupakan bagian kecil dari Kriya sakti dan merupakan
sumber dari materi, sehingga materi bermula dari Laksmi atau sakti. Vira Saiva
juga percaya akan perlunya Sakti guna mewujudkan alam semesta ini dan
sependapat dengan Trika dan Pancaratra dalam menelusuri sumber materi tersebut
dan sependapat pula mengenai asal sakti di dalam Siva; dimana Havinahala
Kallayya secara jelas mengatakan bahwa sakti berasal dari dalam Siva, sebagai
berikut :
“Bagaikan partikel air yang tak
dapat diamati di langit dirubah menjadi butiran-butiran es, demikianlah
pemikiran Siva yang mengenakan wujud Sakti dan merupakan langkah pertama dalam
pemunculan alam semesta”.
Menurut Maggeya Mayideva, sakti tak
terbandingkan dan dijelmakan dengan semua ciri-ciri ( dharma ) dari Siva,
karena ia disatukan secara abadi dengan Siva. Ia penyaksi segala sesuatu (
sarvasaksini ) yang merupakan kebenaran sepenuhnya ( satya-sampurna ), yang
terbebas dari perubahan ( nirvikalpa ) dan merupakan Isvari yang agung.
Melalui daya kekuatannya sendiri
yang bebas, ia ( sakti ) menjadi dua dan dinamakan Kalasakti dan Bhaktisakti.
Kalasakti yang terikayt dengan Linga ( para-brahman ), merupakan potensi ( kala
) dan membangun alam semesta. Dalam bentuk pemikiran atau buah pikiran ( vasana
rupa ), ia merupakan cara dari aktivitas ( pravrtti ), sehingga dari sakti ini,
prapanca atau alam semesta dengan segala permasalahannya ini terwujud.
Bhaktisakti mengikatkan dirinya dengan Anga, yang tiada lain adalah roh ( jiva
) dan menghancurkan segala keberadaan ( bhava ), yaitu belenggu yang disebabkan
oleh pepermasalahan alam semesta. Bagaikan sinar universal tersembunyi yang
tampak dalam wujud sebuah lampu dan mengusir kegelapan di depan mata kita,
demikian pula Mahesvari sakti, yang terbagi menjadi Bhaktisakti, yang merupakan
wujud dari Saccidananda yang lebih besar, murni, sangat halus, menguntungkan
dan tertinggi, serta pemberi karunia dari buah kenikmatan ( bhukti ) dan
pembebasan ( mukti ).
Bhakti yang tanpa vasana,
keinginan, dll merupakan cara dari penghentian ( nivrtti ), sehingga bhakti
membantu Jiva untuk melepaskan belenggu dalam wujud keberadaan duniawi,
menuntunnya untuk menuju Moksa, terserap ke dalam Siva. Sesungguhnya Bhakti dan
( Kala ) Sakti adalah satu dan sama, yang berbeda hanyalah pada akibatnya saja.
Sakti menekan Jiva kebawah dan melepaskan belenggu dari jiwa. Dengan kata lain,
menurut Vira Saiva, kedua aspek Sakti ini merupakan daya-daya yang mengarah
keatas dan kebawah. Penafsiran tentang Tirodhana sakti menurut Meykandadeva,
Umapati dan Srikumara, yang mempersamakannya dengan Prakrti, memiliki 2 fungsi,
yaitu membelenggu dan membebaskan roh, tampaknya benar-benar sependapat dengan
pemikiran Vira Saiva tentang Sakti.
Dari Kala sakti muncul 6 sub sakti,
yaitu: Cicchakti, Parasakti, Adi sakti, Iccha Sakti, Jnana sakti dan Kriya
sakti; jadi bukan 5 seperti yang dinyatakan Trika, atau 3 seperti yang
dinyatakan dalam Saiva Siddhanta, tetapi mereka memasukkan semuanya. Pembagian
ini disesuaikan dengan 6 sthala, yang masing-masing satu diperuntukkan bagi
sebuah Linga.
Dari Bhakti sakti muncul 6 sub
sakti juga, yaitu: Samarasa bhakti, anandabhakti, Anubhava bhakti, Avadhana
bhakti, Naisthiki bhakti dan Sad bhakti, yang mengikatkan dirinya pada 6 Anga
dari Angasthala. Menurut Vira Saiva, Kalasakti tampaknya menjadi Maya, yang
juga disebut Avidya, yang merupakan jurang pemisah antara Siva dan Jiva.
Nisthura Nanjanacarya tampaknya menganggap Maya sebagai Kriya sakti, yaitu sub
sakti ke 6 dari Kalasakti. Dalam Vacanasastra banyak hal-hal yang tampaknya
sama-sama mempersamakan Kala sakti dengan Maya, sedangkan menurut Vira Saiva,
Kala bukan hanya seni bangunan, seperti yang disarankan oleh Caterji, tetapi
juga merupakan potensi kosmis, Kalasakti tampaknya memasukkan semua fungsi dari
Maya dan hasil-hasilnya dari sistem Saiva Siddhanta dan Trika, dimana Kala
dinyatakan hanya satu produk penting dari Maya. Didalam Saiva Siddhanta, Maya
merupakan pemberi penerangan ( prakasavarupa ) dan membantu sang roh untuk
membebaskan dirinya dari cengkeraman belenggu; sedangkan Vira Saiva menganggap
Maya mengikat Jiva terus menerus. Dalam Siva Siddhanta Maya juga merupakan
kesatuan yang bersifat abadi, yang tak bersumber pada Siva sedang dalam Vira
Saiva, yang merupakan kesatuan yang abadi hanyalah Siva, dan segala sesuatunya
bersumber pada Siva juga.
Umumnya, kata Maya dipergunakan
dalam vacana sastra, dengan pengertian “keterikatan duniawi”, “yang menyebabkan
keterikatan dengan obyek duniawi”, “yang ada pada setiap roh laksana minyak
dalam biji wijen, ujung lancip dari duri dan keharuman pada bunga”, “kelupaan
yang disebabkan oleh samsara”dsb.
Maya dalam Advaita Vedanta
merupakan enerji dari Isvara yaitu daya yang bersatu padu denganNya, dengan
mana ia merubah potensinya menjadi 2 ragam, keinginan ( kama ) dan penentuan (
sankalpa ); yang merupakan daya penciptaan dari Tuhan yang abadi, sehingga ia (
maya ) juga bersifat abadi. Maya tidak memiliki tempat yang terpisah, dan ia
ada dalam Isvara, seperti panas dari api. Peniadaan Maya dengan pengetahuan dan
realisasi diri, dengan sendirinya diperoleh dari pelaksanaan Satsthala.
5.
Penampakan dan Realitas
Menurut Saiva Siddhanta, alam dunia
berasal dari Maya ( materi, yang tidak murni, potensi alam semesta ) yang
merupakan kesatuan nyata yang abadi, diakui sebagai nyata adanya. Tetapi
Meykandadeva menyatakan bahwa hal itu tidak nyata ( asattu ) dan
ketidaknyataannya ditafsirkan sebagai tidak sama dengan “khayalan” semacam
teori tali ular ( rajjusarpa-nyaya ) dari Advaita Cvedanta, tetapi mengandung
arti “tidak abadi” atau “subjek penciptaan dan penghancuran”.
Trika, walaupun sifatnya Advaita
mengakui realitas alam dunia dalam pengertian bahwa Maya sebagai sumber alam
dunia ini di akui nyata, disebabkan asalnya dari Paramasiva Yang Nyata. Vira
Saiva yang tampil sebagai suatu Advaita khusus, tampaknya mulai dengan
kepercayaan pada realitas alam dunia, tetapi realitas ini berangsur-angsur
lenyap sejalan dengan kemajuan spiritual dari roh pribadi tersebut.
Hal penting lainnya yang perlu
dicatat adalah tentang penjelasan mengapa dunia ( alam semesta ) ini diadakan.
Menurut Saiva Siddhanta, alam dunia ini diciptakan untuk membersihkan
ketidakmurnian awal yang dimiliki Jiva, yang berarti bahwa apabila jiwa
seluruhnya telah menjadi murni, maka alam dunia ini tak perlu ada sehingga tak
ada penciptaan maupun peleburan. Pemikiran ini sejalan dengan “Samkhya Karika”,
dimana Prakrti akan berakhir seperti pada akhir permainan dari seorang artis
panggung.
Menurut Trika, penciptaan alam
semsta adalah disebabkan oleh kehendak parama Siva itu sendiri, sebagai sport (
lila )-Nya, sehingga tidak ada awal dan akhir dari keberadaan alam semesta dan
setiap saat terdapat penciptaan serta peleburan ( pengembalian ). Pendapat Vira
Saiva sesuai denganpendapat dari Trika, yang beranggapan bahwa senuanya ini
beremanasi ( berasal ) dari Siva, dan Jiva tiada lain dari parama Siva dibawah
pembatasan ( kancuka ).
6.
Alam Semesta dan Jiva
Tentang proses evolusi dari alam
semesta dan susunan badan fisik mahluk hidup, Vira Saiva tampaknya memiliki
pandangan yang berbeda dan bebas dibandingkan dengan Saiva Siddhanta dan Trika
dan keduanya mempertahankan ajaran tentang 36 tattva, yang merupakan faktor
utama dalam membentuk alam semesta ini. Paling tidak pada abad ke 12 Masehi,
ketika Vira Saiva ditegakkan kembali, konsep tentang 36 tattva tidak mempenagruhi
ajaran Vira Saiva.
6.1.
Evolusi
Alam Semesta
Kepustakaan yang apling populer yang tersedia, yang
membicarakan proses evolusi alam semsta adalah tulisan Cennabasava, dalam
‘Karana Hasuge’. Cennabasava adalah kemenakan dari Basava, yang menjadi
pimpinan spiritual dari aturan kependetaan Vira Saiva ( virakta ) setelah
Prabhudeva. Menurut buku ini, evolusi alam semesta adalah sebagai berikut :
Pada awalnya secara logika dan bukan mengenai waktu
terdapat ketiadaan, yang merupakan suatu ketiadaan sepenuhnya ( sunya ), yang
tak terbayangkan dan tak dapat ditelusuri ( sarva-sunya ); tidak sesuatupun
yang ditopang ( niralamba ). Sunya ini dikenal sebagai Niralamba-Brahma (
Brahma tanpa penunjang ) dan selanjutnya menjadi Niranjana-Brahma, yaitu Brahma
tanpa noda, murni dan sederhana, tanpa emosi dan nafsu. Pemikiran ( nenahu )
dari Brahma ini dikenal sebagai Niranjana-Omkara-sakti, yaitu daya yang hanya
merupakan huruf murni “Om” yang tanpa emosi. Penamapakan dari pemikiran ini
dalam Niranjana Brahma mewujudkan Sunya-Linga, yaitu Linga dari ketiadaan yang
semata-mata merupakan sifat dari Pranava “om” Linga ini memiliki
Maha-jnana-Citta, yaitu pemikiran dalam wujud pengetahuan tertinggi sebagai
Anga atau badanya. Sebagai hasil dari pemikiran ini, muncullah Niskala-Brahma,
yaitu Brahma tanpa bagian-bagian, yang memiliki Jnana-Cittu, yakni pemikiran
dalam wujud pengetahuan sebagai badan ( Anga ) nya. Brahma ini, melalui
kerjasama Jnana-Cittu menghasilkan Cinnada, Cidbindu dan CitKala, yaitu Cit
sebagai suara, Cit sebagai potensialitas dan Cit sebagai seni membangun ( kala
), tetapi dalam semua hal tampaknya kata Cit dipergunakan bukan hanya dalam
pengertian pemikiran saja, tetapi juga dalam pengertian tentang sesuatu seperti
Caitanya.
Kemudian Cinnada, Cidbindu dan Cit-Kala secara
bersama-sama dengan sumbernya, yaitu Jnana-Cit, kesemuanya mengenakan bentuk
padat, menjadi Mahalinga ( linga yang agung ) yang keseluruhannya sempurna dan
tertinggi dalam kesemarakan, dalam wujud suatu tiang bulat menyala dengan
aksara “Om” sebagai landasannya. Selanjutnya Mahalinga merubah dirinya kedalam
wujud yang setelah mewujudkan lima linga, bersatu pada 5 Sadakhya, atau
kemegahan dari 5 linga, yaitu :
1.
Karma-Sadakhya,
atau kemegahan dari Acara-linga.
2.
Kartr-Sadakhya,
atau kemegahan dari Guru-linga.
3.
Murti-Sadakhya,
atau kemegahan dari Sivalinga.
4.
Amurti-Sadakhya,
atau kemegahan dari Jangama-linga.
5.
Siva-Sadakhya,
atau kemegahan dari Prasada-linga.
Kemegahan dari lima linga ini menjadi : Sadyojata,
Vamadewa, Aghora, Tatpurusa dan Isana, yaitu lima muka dari wujud yang
dikenakan oleh Mahalingga yang kemudian menjadi Sadasiva-murti. Dari kelima
muka ini muncul 5 aksara, yaitu : Na, Ma, Si, Va,dan Ya, yang dalam gilirannya
merupakan sumber dari Nivrtti, Pratistha, Vidya, Santi dan Santyatita. Kelima
Kala ini selanjutnya dikenal sebagai lima sakti, yaitu : Kriya, Jnana, Iccha,
Adi dan Para, dari muka rahasia Sadasiva Murti muncullah Atma.
Kemudian dari lima muka, mata dan pikiran
Sadasiva-murti dihasilkan 5 unsur utama, matahari, dan bulan; yang menjadi
sumber alam semesta, yang terdiri dari obyek-obyek yang bergerak maupun yang
tak bergerak. Unsur-unsur ini diterima bukan sebagai hasil tetapi sebagai
emanasi ( proyeksi ), yang kesemuanya, yaiut matahari bulan dan sang Diri (
Atma ) adalah jiwa dalam bentuk ini; sehingga digambarkan sebagai 8 wujud dari
Siva atau Sadasiva. Dari sini selanjutnya muncul dunia, lautan,
bintang-bintang, pegunungan dsb, yang disebut Brahmanda atau Ajanda, yaitu
telur Brahman.
6.2.
Jiva
Menurut Saiva Siddhanta, jumlah jiva adalah tak
terbatas dan dikelompokkan menjadi 3 golongan, yaitu: Sakala, Pralayakala dan
Vijnanakala, sesuai dengan pengaruh dari 3, 2 atau satu Kala masing-masing. Ia
merupakan kesatuan abadi yang berbeda dengan Tuhan ( Siva ). Menurut Trika,
Parama Siva merupakan roh dibawah pembatasan oleh kancuka ( selubung ) dan
menjadi banyak sesuai dengan teori abhasa dan tampaknya Vira Saiva lebih
mendekati pada pemikiran Trika ketimbang pemikiran Saiva Siddhanta. Seperti
Trika, Vira Saiva menelusuri asal mula dari Jiva pada Yang Maha Kuasa, dimana
Parama Siva memproyeksikan kehendaknya kehendaknya menjadi alam semesta
termasuk Jiva dan karena dibungkus oleh kancuka, tidak menyadari dirinya yang
sebenarnya, ibarat seorang bayi yang ditutupi dengan pakaian pembebat, yang secara
utuh merubahnya menjadi Purusa atau Jiva, yang oleh abhasa menjadi tak
terhitung banyaknya. Vira Saiva tidak menelusuri asal. Jiva persis seperti
pemikiran Trika ini, tetapi menganggap Jiva identik dengan Atman yang
dihasilkan langsung dari Sadasiva-murti, dengan panca mahabutha, matahari dan
bulan dan disini disebut sebagai Anga, yang menjadi Jiva apabila diproyeksikan
pada avidya dan merupakan satu aspek dari Para Brahman, yang hakekatnya adalah
Saccidananda, sedang aspek lainnya adalah Linga.
7.
Jenjang Spiritual ( Satsthala )
Sthala, adalah “tempat” dimana
seluruh alam semesta, dengan obyek bergerak maupun tak bergerak berasal,
ditunjang dan dipelihara, serta kemana nantinya ia dikembalikan. Ia adalah
‘Aksara’, tattva, intisari, yang tak terhancurkan dan tempat tertinggi bagi
mereka yang mencapai Nirvana, yaitu relisasi diri sepenuhnya. Ia adalah
Sivatattva yang tiada lain adalah Para-Brahman, yang memiliki karakteristik
Sat, Cit dan Ananda. Maswinara ( 2006 : 303 ).
Sthala pada umumnya dipergunakan dalam
pengertian “tahapan”, “jenjang” atau tempat penghentian bagai sang roh dalam
perjalan spiritualnya dan setiap Sthala merupakan suatu persiapan untuk menuju
jenjang berikutnya yang lebih tinggi. Kehidupan spiritual dari penganut Vira
Saiva diatur dalam 6 jenjang. Jiva, karena diselubungi oleh Avidya hanya
mengamati obyek material atau “bhoga” yang dianggapnya mendatangkan segala
kebahagiaan; tetapi pada suatu saat, secara ajaib timbul pemikiran bahwa
material bukanlah segalnya dan ia mengamati bahwa terdapat bebrapa tujuan
didalamnya dan kekuatan misterius berada dibelakangnya. Pemikiran ini meningkat
secara perlahan-lahan dalam keyakinannya terhadap kekuatan Yang Maha Kuasa dan
ia ingin mengetahuinya. Keadaan ini merupakan titik awal didalam pengkajian spiritual
dan berkaitan dengan awal dari Bhaktasthala, yaiut suatu tahapan dalam
kehidupan spiritual manusia dimana ia mempercayai akan keberadaan Tuhan dan
mempersembahkan rasa bhaktinya kepada-Nya.
Vira Saiva mengakui 6 jalan menuju
penyatuan akhir, dimana yang satu melampaui lainnya, yang disebut
sebagai:Varna, Pada, Mantra, Kala, Bhuvana dan Tattva. Ia juga mengakui adanya
6 bentuk anugerah atau karunia Siva, yaitu :
7.1.
Mahesvaratatvavirbhava,
yaitu kesadaran intelektual atau pencapaian Tuhan sebagai kebahagiaan abadi dan
transendental yang diperoleh melalui mendengarkan naskah-naskah suci,
perenungan terhadapnya dan visualisasi arti maksudnya.
7.2.
Sadasiva
tattva, yaitu realisasi dari kategori ketiga, yang disebut Sadasiva, yang
merupakan suatu tingkatan spiritual, di mana objektifitas dan subjektifitas,
atau “ Aku “ dan “ ini “, terbebas dari segala unsur pribadi dan sama-sama
bersinar.
7.3.
Siva
sakti samyoga, yaitu kontak dengan daya Tuhan, yang disebabkan pelaksanaan
Yoga, seperti yang diberikan dalam Saivagama dan disebut sebagai Siva-Yoga.
7.4.
Sarva-bhuvana-gamana
paroksa darsana, yaitu kemampuan untuk pergi ke semua alam dunia dan untuk
melihat yang tak dapat di amati.
7.5.
Animadyaisvarya,
yaitu pencapaian daya menjadi lembut atau meresapi segalanya, yang disebabkan pertemuan
dua udara vital, yaitu Prana dan Apana; yang berakibat pada pencapaian daya
yang menguntungkan ( kalyana vibhuti ), yang tiada lain merupakan satu bagian
dari Kesadaran Semesta ( citkalamaya ) dan mencerahi alur tengah, yaitu susumna
nadi.
7.6.
Unmanyavasthaprapti,
yaitu pencapaian keadaan transendental yang merupakan tingkatan yang tak
terpastikan, karena Manas tidak berfungsi atau terserap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar