Kamis, 26 Desember 2013

mantram tri sandhya

     Mantram puja Trisandhya

Om Bhur Bhvah Svah
T
at savitur Varenyam
B
hargoDevasya Dhimahi
D
hyo Yo Nah Pracodayat

Om Narayana Evedam Sarvam
Y
ad Bhutam Yac Ca Bhavyam
N
iskalanko Niranjano Nirvikalpo
N
irakhyatah Suddo Deva Eko
N
arayano Na Dvitiyo'sti Kascit

Om Tvam Sivah Tvam Mahadevah
Ì
svarah Paramesvarah
B
rahma Visnusca Rudrasca
P
urusah Parikirtitah

 Om Papo'ham Papakarmaham
P
apatma Papasambhavah
T
rahi Mam Pundarikaksa
S
abahyabhyantarah Sucih

OM Ksamasvamam Mahadeva
S
arvaprani Hitankara
M
am Moca Sarva Papebyah
P
alayasva Sadasiva

OM Ksantavyah Kayiko Dosah
K
santavyo Vaciko Mama
K
santavyo Manaso Dosah
T
at Pramadat Ksamasvamam

Om Santih, Santih, Santih, Om

Artinya:
OM adalah Bumi, Angkasa dan Surga. Mari kita merenungkan cahaya matahari dan semoga pikiran kita akan terinspirasi oleh cahaya suciNya.
OM, Narayana adalah semua ini, apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah dewa Narayana, Ia hanya satu tidak ada yang kedua.
OM, Engkau dipanggil Siwa , Mahadewa , Iswara , Parameswara , Brahma , Wisnu , Rudra , dan Purusa; Jiwa tertinggi, Sumber dari Segala Sesuatu.
OM, hamba ini berdosa, perbuatan hamba dosa, diri hamba ini dosa, kelahiran hamba dosa, lindungilah hamba Hyang Widhi, sucikanlah jiwa dan raga hamba.
OM, ampunilah hamba Mahadeva, yang memberikan keselamatan kepada semua makhluk, menyelamatkan hamba dari semua kesedihan ini, membimbing hamba , menebus dan melindungilah hamba Sada Siwa.
OM, ampunilah dosa anggota badan hamba, ampunilah dosa hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelahiran hamba.
OM, Semoga Damai di hati setiap mahluk, damai di alam semesta dan damai selalu, OM.

Menurut analisa saya, penyatuan siwa sidhanta pada mantram puja trisandhya yaitu Puja Trisandya dilaksanakan tiga kali sehari karena menurut Lontar Niti Sastra, kita sebagai penganut Hindu Sekte Siwa Sidanta memuja Matahari (Surya) sebagai keagungan dan kemahakuasaan Hyang Widhi. Matahari juga sumber energi atau sumber kehidupan. Pemujaan itu dimulai pagi-pagi menyongsong terbitnya matahari (sekitar jam 05.30), siang hari tepat jam 12.00 ketika Bumi berada dalam posisi yang menerima panas Matahari maksimum, dan sore hari ketika matahari menjelang “tenggelam” (sekitar jam 18.30).
Trisandya terdiri dari dua kata, yaitu “Tri” artinya tiga, “Sandya” artinya sembahyang. Jadi Trisandya artinya sembahyang tiga kali sehari. Puja Trisandya diucapkan secara lengkap keenam baitnya, karena tiga bait pertama adalah puja-puji kepada Hyang Widhi, dan tiga bait terakhir adalah permohonan ampun dan kepasrahan kepada-Nya. Bait pertama disebut Mantram Gayatri, dapat digunakan dalam waktu sempit/ penting misalnya sebelum berangkat (starter) kendaraan, ketika akan menyeberang sungai, menjelang, dan setelah kelahiran bayi, mendoakan orang sakit agar lekas sembuh, dll.
Pada bait kedua, ketiga, kelima dimana pada bait-bait mantram tersebut terdapat pemujaan terhadap dewa narayana yaitu sebutan lain bagi dewa wisnu. Dewa wisnu merupakan dewa penguasa air dan dala fungsinya sebagai tri murti beliau berfungsi sebagai pemelihara alam semesta beserta isinya serta merupakan dewa yang dipuja oleh sekte waisnawa yang ada di bali maupun yang ada di india, dewa brahma sebagai dewa penguasa api yang dipuja oleh sekte agni atau sebagai dewa penguasa api dan dalam fungsinya beliu berfungsi sebagai pencipta serta beliau juga dipuja oleh sekte brahmana ataupun sekte brahmana, dan yang terakhir adalah dewa siwa yang dimana beliau disebut dengan banyak nama seperti iswara, rudra dll, dalam fungsinya sebagai tri murti beliau berfungsi sebagai pelebur (pralina) beliau dipuja dipuja oleh sekte siwa walaupun demikian ketiga dewa tersebut adalah perwujudan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Sedangkan pada aksara Om dimana kata “Om” merupakan Aksara suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa, aksara “Om” merupakan aksara suci yang merupakan gabungan dari aksara “Ang, Ung dan Mang” yang luluh menjadi AUM dan mengalami persadian menjadi aksara “Om”. Aksara Ang merupakan aksara suci dewa Brahma yang dipuja pada sekte Brahma atau agni, Aksara Ung merupakan aksara dewa Wisnu yang dipuja oleh sekte Waisnawa dan yang terakhir aksara Mang merupakan aksara dewa Siwa yang dipuja oleh sekte siwa ataupun siwa Pasupatta.

2.   Mantram kramaning sembah
Om Atma Tattwatma Sudamam Swaha
Artinya: Tuhan, sucikanlah batin hamba

Om Aditistya Paramjoti
Rakta Teja Namo Stute
Sweta Pangkaja Madiasta
Baskaraya Namo Stute
Artinya: Tuhan, bagai sinar surya yang maha hebat, Yang bersinar merah, Yang berada di tengah-tengah teratai putih, Hamba menyembah-Mu.

Om Nama Dewa Adistanaya
Sarwa Wyapi Wai Siwaya
Padmasana Eekapratistaya
Ardanareswariyai Namo Namah.
Artinya: Tuhan yang bersemayam di tempat yang tinggi, Engkau adalah Siwa yang berada di mana-mana, Yang bersemayan di atas bunga teratai, Engkau juga Ardanareswari, hamba menyembah-Mu.

Om Anugraha Manuharam
Dewa Data Nugrahaka
Arcanam Sarwa Pujanam
Namah Sarwa Nugrahaka.
Artinya: Engkau yang memikat pemberi anugerah, Anugrah dari Tuhan, Puja-puji semuanya, Hamba menyembah-Mu pemberi anugerah.

Om Dewa Dewi Mahasidhi
Yajnanga Nirmalatmaka
Laksmi Sidisca Dirgayu
Nirwigna Suka Werdisca
Artinya: Tuhan yamg maha kuasa, Yang ber-yadnya dan maha suci, Pemberi kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur, Pemberi kebebasan, kegembiraan, dan kemajuan

Om Dewa Suksma Paramacintya Ya Namah Swaha
Artinya: Tuhan, junjunganku Yang tak terpikirkan, maha tinggi, dan gaib.

        Menurut analisa saya penyatuan siwa sidhatanda terlihat pada mantram kramananing sembah yang kedua dimana terdapat pemujaan terhadap dewa surya sebagai dewa sinar yang dipuja oleh sekte sora, pada kramaning sembah yang ketiga terdapat pemujaan terhadap dewa siwa sebagai dewa pelebur yang dipuja oleh sekte siwa pasupata dan sekte siwa.
Sedangkan pada aksara Om dimana kata “Om” merupakan Aksara suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa, aksara “Om” merupakan aksara suci yang merupakan gabungan dari aksara “Ang, Ung dan Mang” yang luluh menjadi AUM dan mengalami persadian menjadi aksara “Om”. Aksara Ang merupakan aksara suci dewa Brahma yang dipuja pada sekte Brahma atau agni, Aksara Ung merupakan aksara dewa Wisnu yang dipuja oleh sekte Waisnawa dan yang terakhir aksara Mang merupakan aksara dewa Siwa yang dipuja oleh sekte siwa ataupun siwa Pasupatta.

3.      Mantram doa sehari-hari
Membersihkan tangan: Om ang argha dwaya ya namah
Artinya: OH Hyang Widhi, semoga kedua tangan hamba bersih
Membersihkan mulut: Om jang jihwaya ya namah.
Artinya: OH Hyang Widhi, semoga mulut hamba bersih
Membersihkan kaki: Om pang pada dwaya ya namah
Artinya: OH Hyang Widhi, semoga kedua kaki hamba bersih
Menyalakan dupa: Om Ang dupam samarpayami ya namah svaha
Artinya:Ya Tuhan, hamba puja Engkau dalam sinar suciMu sebagai Brahma, pengantar bhakti hamba kepadaMu.
Menghaturkan dupa: Om Ang dupa dipastra ya namah svaha
Artimya: Ya Tuhan, hamba puja Engkau sebagai Brahma, hamba mohon ketajaman sinar sucimu dalam menyucikan dan menjadi saksi sembah hamba kepadaMu.
Membersihkan bunga dengan asap dupa: Om puspa danta ya namah svaha
Artinya: Ya Tuhan, sucikanlah kembang ini dari segala kotoran.
Mantram duduk : Om Prasadha Stiti sarira siwa suci ya namah svaha
Artinya: Om Sang Hyang Widhi Wasa, Yang Maha Suci,  pemelihara kehidupan, hamba puja dikau dengan sikap yang tenang.

      Menurut analisa saya penyatuan siwa sidhanta Bunga dan Kuwangen. Bunga dan Kuwangen adalah lambang kesucian supaya diusahakan bunga yang segar, bersih dan harum. Jika dalam persembahyangan tidak ada kewangen dapat diganti dengan bunga. Ada beberapa bunga yang tidak baik untuk sembahyang. Menurut Agastyaparwa bunga-bunga tersebut seperti berikut: Nihan Ikang kembang yogya pujakena ring bhatara: kembang uleran, kembang ruru tan inunduh, kembang laywan, laywan ngaranya alewas mekar, kembang munggah ring sema, nahan talwir ning kembang tan yogya pujakena de nika sang satwika.  Artinya: Inilah bunga yang tidak patut dipersembahkan kepada Bhatara, bunga yang berulat, bunga yang gugur tanpa digoncang, bunga-bunga yang berisi semut, bunga yang layu, yaitu bunga yang lewat masa mekarnya, bunga yang tumbuh dikuburan. Itulah jenis-jenis bunga yang tidak patut dipersembahkan oleh orang yang baik-baik.
Dupa. Apinya dupa adalah simbul Sanghyang Agni, saksi dan pengantar sembah kita kepada Sanghyang Widhi. Setiap yadnya dan pemujaan tidak luput dari penggunaan api. Hendaknya ditaruh sedemikian rupa sehingga tidak membahayakan teman-teman disebelah. Tempat Duduk. Tempat duduk hendaknya diusahakan duduk yang tidak mengganggu ketenangan untuk sembahyang. Arah duduk ialah menghadap pelinggih. Setelah persembahyangan selesai usahakan berdiri dengan rapi dan sopan sehingga tidak menganggu orang yang masih duduk sembahyang. Jika mungkin agar menggunakan alas duduk seperti tikar dan sebagainya.
Sikap Duduk. Sikap duduk dapat dipilih dengan tempat dan keadaan serta tidak mengganggu ketenangan hati. Sikap duduk yang baik pria ialah sikap duduk bersila dan badan tegak lurus, sikap ini disebut Padmasana. Sikap duduk bagi wanita ialah sikap Bajrasana yaitu sikap duduk bersimpuh dengan dua tumit kaki diduduki. Dengan sikap ini badan menjadi tegak lurus. Kedua sikap ini sangat baik untuk menenangkan pikiran.
Pada mantram pembersihan mulut dan kaki ada penggunaan air yaitu simbol pemujaan terhadap dewa wisnu sebagai penguasa air yang dipuja oleh sekte waisnawa, pada mantram pembersihyan dupa dan bunga dimana ada pemujaan terhadap agni yaitu brahma sebagai dewa penguasa api yang dipuja oleh sekte agni atau sekte brahma.
Sedangkan pada aksara Om dimana kata “Om” merupakan Aksara suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa, aksara “Om” merupakan aksara suci yang merupakan gabungan dari aksara “Ang, Ung dan Mang” yang luluh menjadi AUM dan mengalami persadian menjadi aksara “Om”. Aksara Ang merupakan aksara suci dewa Brahma yang dipuja pada sekte Brahma atau agni, Aksara Ung merupakan aksara dewa Wisnu yang dipuja oleh sekte Waisnawa dan yang terakhir aksara Mang merupakan aksara dewa Siwa yang dipuja oleh sekte siwa ataupun siwa Pasupatta.
4.      Mantram saraswati
Mantra Saraswati
Om, Brahma Putri Maha Dewi,
Brahmanya Brahma wandini,
Saraswati sayajanam, praja naya Saraswati.
Om, Saraswati dipata ya namah

Om Saraswati namastubhyam
Varade kama rupini
Siddharambha karisyami
Siddhir bhawantu me sada
Stuti & Stava 839.1

artinya: Om Hyang Widhi, Sakti-Mu selaku Maha Dewi dari Brahma, Pancaran Pradana dari Brahma. Saraswati, Dewi kemampuan berpikir, Saraswati tiada tara kebijaksanaanNya AUM, Dewi Saraswati hamba menyembah-Mu. Aum, Saraswati sebagai pemberi Anugrah, dalam bentuk yang didambakan  Semogalah atas segala dharma yang hamba lakukan sukses selalu atas karunia-Mu.


Hari Raya Saraswati yaitu hari Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati, jatuh pada tiap-tiap hari Saniscara Umanis wuku Watugunung. Pada hari itu kita umat Hindu merayakan hari yang penting itu. Terutama para pamong dan siswa-siswa khususnya, serta pengabdi-pengabdi ilmu pengetahuan pada umumnya. Dalam legenda digambarkan bahwa Saraswati adalah Dewi/ lstri Brahma. Saraswati adalah Dewi pelindung/ pelimpah pengetahuan, kesadaran (widya), dan sastra. Berkat anugerah dewi Saraswati, kita menjadi manusia yang beradab dan berkebudayaan
Dewi Saraswati digambarkan sebagai seorang wanita cantik bertangan empat, biasanya tangan- tangan tersebut memegang Genitri (tasbih) dan Kropak (lontar). Yang lain memegang Wina (alat musik / rebab) dan sekuntum bunga teratai. Di dekatnya biasanya terdapat burung merak dan undan (swan), yaitu burung besar serupa angsa (goose), tetapi dapat terbang tinggi. Upacara pada hari Saraswati, pustaka-pustaka, lontar-lontar, buku-buku dan alat-alat tulis menulis yang mengandung ajaran atau berguna untuk ajaran-ajaran agama, kesusilaan dan sebagainya, dibersihkan, dikumpulkan dan diatur pada suatu tempat, di pura, di pemerajan atau di dalam bilik untuk diupacarai
Widhi widhana (bebanten = sesajen) terdiri dari peras daksina, bebanten dan sesayut Saraswati, rayunan putih kuning serta canang-canang, pasepan, tepung tawar, bunga, sesangku (samba = gelas), air suci bersih dan bija (beras) kuning. Pemujaan / permohonan Tirtha Saraswati dilakukan mempergunakan bahan-bahan: air, bija, menyan astanggi dan bunga. Ambil setangkai bunga, pujakan mantra: Om, puspa danta ya namah.
Sesudahnya dimasukkan kedalam sangku. Ambil menyan astanggi, dengan mantram "Om, agnir, jyotir, Om, dupam samar payami". Kemudian masukkan ke dalam pedupaan (pasepan). Ambil beras kuning dengan mantram : "Om, kung kumara wijaya Om phat", Masukkan kedalam sesangku. Setangkai bunga dipegang, memusti dengan anggaranasika, dengan mantram:
Om, Saraswati namostu bhyam Warade kama rupini Siddha rastu karaksami Siddhi bhawantu sadam.     
Artinya: Om, Dewi Saraswati yang mulia dan maha indah,cantik dan maha mulia. Semoga kami dilindungi dengan sesempurna-sempurnanya. Semoga kami selalu dilimpahi kekuatan.

Om, Pranamya sarwa dewanca para matma nama wanca rupa siddhi myaham
Artinya: Om, kami selalu bersedia menerima restuMu ya para Dewa dan Hyang Widhi, yang mempunyai tangan kuat. Saraswati yang berbadan suci mulia.

Om Padma patra wimalaksi padma kesala warni nityam nama Saraswat
Artinya: Om, teratai yang tak ternoda, Padma yang indah bercahaya. Dewi yang selalu indah bercahaya, kami selalu menjungjungMu Saraswati.

Sesudahnya bunga itu dimasukkan kedalam sangku. Sekian mantram permohonan tirta Saraswati. Kalau dengan mantram itu belum mungkin, maka dengan bahasa sendiripun tirta itu dapat dimohon, terutama dengan tujuan mohon kekuatan dan kebijaksanaan, kemampuan intelek, intuisi dan lain-lainnya. Setangkai bunga diambil untuk memercikkan tirtha ke pustaka-pustaka dan banten-banten sebanyak 5 kali masing-masing dengan mantram:
 Om, Saraswati sweta warna ya namah.
Om, Saraswati nila warna ya namah.
Om, Saraswati pita warna ya namah.
Om, Saraswati rakta warna ya namah.
Om, Saraswati wisma warna ya namah.

Kemudain dilakukan penghaturan (ngayaban) banten-banten kehadapan Sang Hyang Aji Saraswati selanjutnya melakukan persembahyangan 3 kali ditujukan ke hadapan :
Sang Hyang Widhi (dalam maniftestasinya sebagai Çiwa Raditya).
Sang Hyang Widhi (dalam manifestasinya sebagai Tri Purusa) Dewi Saraswati. Ucapkan mantram berikut:
Om, adityo sya parajyote rakte tejo namastute sweta pangkaja madyaste Baskara ya namo namah. Om, rang ring sah Parama Çiwa Dityo ya nama swaha.
Artinya: Om, Tuhan Hyang Surya maha bersinar-sinar merah yang utama. Putih Iaksana tunjung di tengah air, Çiwa Raditya yang mulia. Om, Tuhan yang pada awal, tengah dan akhir selalu dipuja.

Om, Pancaksaram maha tirtham, Papakoti saha sranam Agadam bhawa sagare. Om, nama Çiwaya.
Artinya: Om, Pancaksara Iaksana tirtha yang suci. Jernih pelebur mala, beribu mala manusia olehnya. Hanyut olehnya ke laut lepas.

Om, Saraswati namostu bhyam,
Warade kama rupini,
Siddha rastu karaksami,
Siddhi bhawantume sadam.       
Artinya: Om Saraswati yang mulia indah, cantik dan maha mulia, semoga kami dilindungi sesempurna-sempurnanya, semoga selalu kami dilimpahi kekuatan.

Sesudah sembahyang dilakukan metirtha dengan cara-cara dan mantram-mantram sebagai berikut Meketis 3 kali dengan mantram:
Om, Budha maha pawitra ya namah.
Om, Dharma maha tirtha ya namah.
Om, Sanghyang maha toya ya namah.

Minum 3 kali dengan mantram:
Om, Brahma pawaka.
Om, Wisnu mrtta.
Om, Içwara Jnana.

Meraup 3 kali dengan mantram :
Om, Çiwa sampurna ya namah.
Om, Çiwa paripurna ya namah.
Om, Parama Çiwa suksma ya namah.

Terakhir melabahan Saraswati yaitu makan surudan Saraswati sekedarnya, dengan tujuan memohan agar diresapi oleh wiguna Saraswati. Setelah Saraswati puja selesai, biasanya dilakukan mesarnbang semadhi, yaitu semadhi ditempat yang suci di malam hari atau melakukan pembacaan lontar-lontar semalam suntuk dengan tujuan menernukan pencerahan Ida Hyang Saraswati
Puja astawa yang disiapkan ialah : Sesayut yoga sidhi beralas taledan dan alasnya daun sokasi berupa nasi putih daging guling, itik, raka-raka sampian kernbang payasan. Sesayut ini dihaturkan di atas tempat tidur, dipersembahkan ke hadapan Ida Sang Hyang Aji Saraswati.
Keesokan harinya dilaksanakan Banyu Pinaruh, yakni asuci laksana dipagi buta berkeramas dengan air kumkuman. Ke hadapan Hyang Saraswati dihaturkan ajuman kuning dan tamba inum. Tamba inum ini terdiri dari air cendana, beras putih dan bawang lalu diminum, sesudahnya bersantap nasi kuning garam, telur, disertai dengan puja mantram:
Om, Ang Çarira sampurna ya namah swaha.
Artinya:Semua ini mengandung maksud, mengambil air yang berkhasiat pengetahuan.
Menurut analisa saya penyatuan siwa sidhanta pada mantram saraswati yaitu ada pemujaan terhadap dewi Saraswati, dewi Saraswati merupkan dewi ilmu pengetahuan dan merupakan sakti-Nya dari dewa Brahma yang dipuja oleh sekte Brahmana atau sekte Agni, serta pemujaan terhadap dewa Surya yang dipuja oleh sekte Sora, dewi Sri yang merupakan sakti-Nya dewa Wisnu yang dipuja oleh sekte Waisnawa.
Sedangkan pada aksara Om dimana kata “Om” merupakan Aksara suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa, aksara “Om” merupakan aksara suci yang merupakan gabungan dari aksara “Ang, Ung dan Mang” yang luluh menjadi AUM dan mengalami persadian menjadi aksara “Om”. Aksara Ang merupakan aksara suci dewa Brahma yang dipuja pada sekte Brahma atau agni, Aksara Ung merupakan aksara dewa Wisnu yang dipuja oleh sekte Waisnawa dan yang terakhir aksara Mang merupakan aksara dewa Siwa yang dipuja oleh sekte siwa ataupun siwa Pasupatta.

5.      Mantram tumpek landep
Tumpek Landep adalah sebuah hari pemujaan yang penting. Karena itu pula, piodalan di Pura Manikgeni, Desa Pujungan (bersebelahan dengan Pasraman Dharmasastra Manikgeni) dilangsungkan pada hari itu, dari pagi sampai pagi esoknya. Mau datang? Silakan sambil mampir di Pasraman Manikgeni yang mempunyai Taman Baca dengan ribuan koleksi buku.
Tumpek Landep tak berdiri sendiri – hampir semua hari-hari suci umat Hindu saling berkaitan. Tumpek Landep dimulai cikal-bakalnya pada Hari Raya Saraswati, yaitu hari turunnya ilmu pengetahuan. Dewi Saraswati dipuja di sini karena Beliau yang menurunkan ilmu pengetahuan. Esoknya, orang-orang mulai melakukan pembersihan diri agar ilmu pengetahuan itu bisa masuk kedalam jiwa dengan tanpa hambatan. Orang kotor – baik kotor rohani maupun kotor phisik—akan sulit menimba ilmu pengetahuan, apalagi pengetahuan suci. Demikian seterusnya sampai suatu saat orang yang ingin mendapatkan ilmu suci itu wajib melakukan peneguhan diri, memagar dirinya dari niat dan prilaku jahat, agar ilmu pengetahuan itu menjadi lebih mantap. Pagerwesi, adalah simbul dari pagar yang maha kuat untuk peneguhan diri itu. Setelah ilmu pengetahuan suci diperoleh dan jiwa bersih plus ada rambu-rambu pagar dari wesi (simbol logam berat) silakan ilmu itu dipelajari.
Sepuluh hari setelah itu adalah simbol untuk pemantapan, dan itulah hari yang disebut Tumpek Landep. Pengetahuan atau ilmu suci itu harus dikukuhkan, dipasupati, diwinten, agar ilmu itu terus bermanfaat dan terus runcing sehingga bisa dimanfaatkan untuk membedah segala masalah yang ada di dunia ini. Runcingkan (landep) ilmu itu dengan memberkahi semua peralatan yang dipakai untuk menimba ilmu itu agar tetap memiliki kekuatan tak ternilai (taksu). Jadi, pada Tumpek Landep ada dua hal penting: pertama pasupati, peralatan dipasupati agar terus memberikan khasiat. Kedua pewintenan, penyucian diri. Itu sebabnya banyak Sulinggih yang melakukan acara pewintenan pada saat Tumpek Landep, misalnya, Ida Pandita Mpu Dwija Kerti di Gria Seririt setiap Tumpek Landep mewinten puluhan pemangku. Semua ini dilakukan agar peralatan dan diri kita tetap punya “taksu”.
Lalu apa yang dipasupati? Pisau, karena ini peralatan penting. Setiap menyelenggarakan ritual upacara, pisau pasti alat yang paling berguna. “Ilmu mejejahitan” tak lepas dari pisau. Tombak, keris, dan sebagainya juga patut dipasupati kembali. Peralatan upacara juga, misalnya sangku, bajra dan sebagainya. Jika sudah berstatus Sulinggih, tentu semua siwakrana sang Sulinggih dipasupati pula pada hari itu. Apakah mobil. komputer, radio, televisi juga dipasupati? Ya, silakan saja, tak ada yang melarang tak ada yang mengharuskan. Semuanya bisa saja dikait-kaitkan. Bukankah mobil adalah sarana yang penting untuk mencari ilmu pengetahuan? Kalau tak ada mobil atau motor, bagaimana bisa kuliah? Komputer bahkan sarana mendapatkan ilmu pengetahuan, kalau dimanfaatkan dengan baik lewat internetnya. Radio dan televisi adalah sumber informasi di mana ilmu pengetahuan berseliweran.
Yang penting adalah: jangan sampai mobil, radio, televise dan lainnya itu diberi sesajen yang utama, sementara peralatan melakukan yadnya seperti pisau, pengutik dan simbol kesakralan seperti tumbak, keris dan banyak lagi dilupakan. Kalau sesajen tidak banyak harus ada yang prioritas. Prioritas itu adalah “senjata kehidupan”, bukan “alat penunjang”. Jadi kalau pada Hari Saraswati kita memuja turunnya ilmu pengetahuan, Pager Wesi membentengi diri dari pengaruh negatif agar ilmu itu bermanfaat, Tumpek Landep kita mulai jadikan ilmu itu sebagai senjata untuk memperbaiki kwalitas diri maupun pengamalan diri.
Apa saja banten Tumpek Landep? Banten adalah simbol, tentu sangat terkait juga pada dresta (kebiasaan) setempat. Orang Bali umumnya membuat dengan rangkain (sorohan) seperti ini: Sesayut Jayeng Perang, Sesayut Kesuma Yudha, Sesayut Pasupati, Segehan (Agung) Pasupati, Sesayut Guru selain banten dasar untuk pembersihan (mereresik) seperti byakawon, prayascita dan sebagainya, termasuk ayaban dan suci yang disesuaikan dengan peralatan yang diupacarai. Kiranya ini tak usah dirinci, kalau ingin tahu buka blog Mpu Jaya Prema Ananda
Bagaimana dengan puja atau mantramnya? Wah, soal itu, pemangku atau orang yang dituakan bisa melakukan improvisasi dengan baik, dan ini biasa disebut sehe atau sesontengan. Ingat selalu, Tuhan tahu semua bahasa. Dalam beryadnya yang penting ketulusan dan keiklhasan, bahasa bukan kendala. Pakai bahasa hati juga tak masalah.
Namun, karena inti Tumpek Landep adalah mepasupati peralatan dan mewinten, baiklah dikutip dua mantra. Tentang Pasupati banyak ada jenis mantranya, di sini dikutip yang paling mudah dihafal, karena hanya “ngider bhuana” saja, yang penting kita hafal letak senjata dan nama arah anginnya.
PANCA-PASUPATI-STAWA
Om, Pasupati wajra-yudhaya, Agni raksasa rupaya, Purwa-desa mukha-sthanaya, Om, Pasupataye, Hung-Phat.
Om, Pasupati Dandha yudhaya, Agni raksasa rupaya, Daksina-desa mukha-sthanaya,Om, Pasupataye, Hung-Phat.
Om, Pasupati Pasa-yudhaya, Agni raksasa rupaya, Pascima-desa mukha-sthanaya, Om, Pasupataye, Hung-Phat.
Om, Pasupati Cakra-yudhaya, Agni raksasa rupaya, Uttara-desa mukha-sthanaya, Om, P asupataye, Hung-Phat.
Om, Pasupati Padma-yudhaya, Agni raksasa rupaya, Madhya-desa mukha sthanaya, Om, Pasupataye, Hung-Phat.
Om, Sri-Pasupati Aksobya ya namah swaha.
Om, Sri-Pasupati Ratnasambhawa ya namah swaha.
Om, Sri-Pasupati Amitabha ya namah swaha.
Om, Sri-Pasupati Amogha siddhi ya namah swaha.
Om, Sri-Pasupati Wairocana ya namah swaha.

            Menurut analisa saya pada mantram tumpek landep penyatuan siwa sidhanta yaitu adanya pemujaan terhadap dewi Sri sebagai dewi kesuburan yang merupakan sakti-Nya dewa Wisnu yang dipuja pada sekte Waisnawa, ada pula pemujaan terhadap dewa agni atau dewa api yaitu Brahma yang dipuja pada sekte Brahma atau sekte Agni, terdapat pula pemujaan terhadap dewa Siwa pada sekte Siwa pasupatta.
Sedangkan pada aksara Om dimana kata “Om” merupakan Aksara suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa, aksara “Om” merupakan aksara suci yang merupakan gabungan dari aksara “Ang, Ung dan Mang” yang luluh menjadi AUM dan mengalami persadian menjadi aksara “Om”. Aksara Ang merupakan aksara suci dewa Brahma yang dipuja pada sekte Brahma atau agni, Aksara Ung merupakan aksara dewa Wisnu yang dipuja oleh sekte Waisnawa dan yang terakhir aksara Mang merupakan aksara dewa Siwa yang dipuja oleh sekte siwa ataupun siwa Pasupatta.

6.      Mantra Pagerwesi
Om Giripati Maha Wiryam
Mahadewa Pratista Linggam
Sarwa Dewa Pranamyanam
Sarwa Jagat Pratistana
Om, Giripati Di Pata Ya Namah.

Artinya:
Ya Tuhan, bergelar Giripati yang Maha Agung, Mahadewa dngan lingga yang mantap, semua dewa sembah pada-Mu. Om Giripati, hamba memuja-Mu.

Dari mantra Pagerwesi diatas dapatr dilihat penyatuan siwa siddhantanya yaitu pada pengguanaan aksara suci OM yang merupakan aksara suci yang terbentuk dari aksara suci Ang yang merupakan aksara suci dewa Brahma yang dipuja oleh sekte Agni, aksara suci Ung yang merupakan aksara suci dewa Wisnu yang merupakan dewa yang dipuja oleh sekte Waisnawa, dan aksara suci Mang yang merupakan  dewa  Siwa yang merupakan dewa yang dipuja oleh sekte Siwa. Disamping penyebutan aksara OM tersebut, dimantra ini juga terdapat penyebutan atau pemujaan yang ditunjukan kepada dewa Giripati dan Mahadewa yang merupakan penyebutan lain dari dewa Siwa sehingga terlihat adanya pengeruh sekte Siwa didalam mantra ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar