Om Bhur Bhvah Svah
Tat savitur Varenyam
BhargoDevasya Dhimahi
Dhyo Yo Nah Pracodayat
Tat savitur Varenyam
BhargoDevasya Dhimahi
Dhyo Yo Nah Pracodayat
Om Narayana Evedam Sarvam
Yad Bhutam Yac Ca Bhavyam
Niskalanko Niranjano Nirvikalpo
Nirakhyatah Suddo Deva Eko
Narayano Na Dvitiyo'sti Kascit
Yad Bhutam Yac Ca Bhavyam
Niskalanko Niranjano Nirvikalpo
Nirakhyatah Suddo Deva Eko
Narayano Na Dvitiyo'sti Kascit
Om Tvam Sivah Tvam Mahadevah
Ìsvarah Paramesvarah
Brahma Visnusca Rudrasca
Purusah Parikirtitah
Ìsvarah Paramesvarah
Brahma Visnusca Rudrasca
Purusah Parikirtitah
Om Papo'ham Papakarmaham
Papatma Papasambhavah
Trahi Mam Pundarikaksa
Sabahyabhyantarah Sucih
Papatma Papasambhavah
Trahi Mam Pundarikaksa
Sabahyabhyantarah Sucih
OM Ksamasvamam
Mahadeva
Sarvaprani Hitankara
Mam Moca Sarva Papebyah
Palayasva Sadasiva
Sarvaprani Hitankara
Mam Moca Sarva Papebyah
Palayasva Sadasiva
OM Ksantavyah Kayiko Dosah
Ksantavyo Vaciko Mama
Ksantavyo Manaso Dosah
Tat Pramadat Ksamasvamam
Ksantavyo Vaciko Mama
Ksantavyo Manaso Dosah
Tat Pramadat Ksamasvamam
Om Santih, Santih, Santih, Om
Artinya:
OM adalah
Bumi, Angkasa dan Surga. Mari kita merenungkan cahaya matahari dan semoga
pikiran kita akan terinspirasi oleh cahaya suciNya.
OM,
Narayana adalah semua ini, apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari
noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah
dewa Narayana, Ia hanya satu tidak ada yang kedua.
OM,
Engkau dipanggil Siwa , Mahadewa , Iswara , Parameswara , Brahma , Wisnu ,
Rudra , dan Purusa; Jiwa tertinggi, Sumber dari Segala Sesuatu.
OM, hamba
ini berdosa, perbuatan hamba dosa, diri hamba ini dosa, kelahiran hamba dosa,
lindungilah hamba Hyang Widhi, sucikanlah jiwa dan raga hamba.
OM,
ampunilah hamba Mahadeva, yang memberikan keselamatan kepada semua makhluk,
menyelamatkan hamba dari semua kesedihan ini, membimbing hamba , menebus dan
melindungilah hamba Sada Siwa.
OM,
ampunilah dosa anggota badan hamba, ampunilah dosa hamba, ampunilah dosa
pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelahiran hamba.
OM,
Semoga Damai di hati setiap mahluk, damai di alam semesta dan damai selalu, OM.
Menurut analisa saya, penyatuan siwa sidhanta pada
mantram puja trisandhya yaitu Puja Trisandya
dilaksanakan tiga kali sehari karena menurut Lontar Niti Sastra, kita sebagai
penganut Hindu Sekte Siwa Sidanta memuja Matahari (Surya) sebagai keagungan dan
kemahakuasaan Hyang Widhi. Matahari juga sumber energi atau sumber kehidupan. Pemujaan itu dimulai pagi-pagi
menyongsong terbitnya matahari (sekitar jam 05.30), siang hari tepat jam 12.00
ketika Bumi berada dalam posisi yang menerima panas Matahari maksimum, dan sore
hari ketika matahari menjelang “tenggelam” (sekitar jam 18.30).
Trisandya
terdiri dari dua kata, yaitu “Tri” artinya tiga, “Sandya” artinya sembahyang.
Jadi Trisandya artinya sembahyang tiga kali sehari. Puja Trisandya diucapkan
secara lengkap keenam baitnya, karena tiga bait pertama adalah puja-puji kepada
Hyang Widhi, dan tiga bait terakhir adalah permohonan ampun dan kepasrahan
kepada-Nya. Bait
pertama disebut Mantram Gayatri, dapat digunakan dalam waktu sempit/ penting
misalnya sebelum berangkat (starter) kendaraan, ketika akan menyeberang sungai,
menjelang, dan setelah kelahiran bayi, mendoakan orang sakit agar lekas sembuh,
dll.
Pada bait kedua, ketiga, kelima dimana pada bait-bait
mantram tersebut terdapat pemujaan terhadap dewa narayana yaitu sebutan lain
bagi dewa wisnu. Dewa wisnu merupakan dewa penguasa air dan dala fungsinya
sebagai tri murti beliau berfungsi sebagai pemelihara alam semesta beserta
isinya serta merupakan dewa yang dipuja oleh sekte waisnawa yang ada di bali
maupun yang ada di india, dewa brahma sebagai dewa penguasa api yang dipuja
oleh sekte agni atau sebagai dewa penguasa api dan dalam fungsinya beliu berfungsi
sebagai pencipta serta beliau juga dipuja oleh sekte brahmana ataupun sekte
brahmana, dan yang terakhir adalah dewa siwa yang dimana beliau disebut dengan
banyak nama seperti iswara, rudra dll, dalam fungsinya sebagai tri murti beliau
berfungsi sebagai pelebur (pralina) beliau dipuja dipuja oleh sekte siwa
walaupun demikian ketiga dewa tersebut adalah perwujudan dari Ida Sang Hyang
Widhi Wasa.
Sedangkan pada aksara Om dimana kata “Om” merupakan
Aksara suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa, aksara “Om” merupakan aksara suci yang
merupakan gabungan dari aksara “Ang, Ung dan Mang” yang luluh menjadi AUM dan
mengalami persadian menjadi aksara “Om”. Aksara Ang merupakan aksara suci dewa
Brahma yang dipuja pada sekte Brahma atau agni, Aksara Ung merupakan aksara
dewa Wisnu yang dipuja oleh sekte Waisnawa dan yang terakhir aksara Mang
merupakan aksara dewa Siwa yang dipuja oleh sekte siwa ataupun siwa Pasupatta.
2.
Mantram kramaning sembah
Om Atma Tattwatma Sudamam Swaha
Artinya:
Tuhan, sucikanlah
batin hamba
Om Aditistya Paramjoti
Rakta Teja Namo Stute
Sweta Pangkaja Madiasta
Baskaraya Namo Stute
Artinya: Tuhan, bagai
sinar surya yang maha hebat, Yang bersinar merah, Yang berada di tengah-tengah teratai putih, Hamba menyembah-Mu.
Om Nama Dewa Adistanaya
Sarwa Wyapi Wai Siwaya
Padmasana Eekapratistaya
Ardanareswariyai Namo Namah.
Artinya: Tuhan yang
bersemayam di tempat yang tinggi, Engkau adalah Siwa yang berada di
mana-mana, Yang bersemayan di atas bunga
teratai, Engkau juga Ardanareswari, hamba
menyembah-Mu.
Om Anugraha Manuharam
Dewa Data Nugrahaka
Arcanam Sarwa Pujanam
Namah Sarwa Nugrahaka.
Artinya: Engkau yang
memikat pemberi anugerah, Anugrah dari Tuhan, Puja-puji semuanya, Hamba menyembah-Mu pemberi anugerah.
Om Dewa Dewi Mahasidhi
Yajnanga Nirmalatmaka
Laksmi Sidisca Dirgayu
Nirwigna Suka Werdisca
Artinya: Tuhan yamg
maha kuasa, Yang ber-yadnya dan maha suci, Pemberi kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur, Pemberi kebebasan, kegembiraan, dan kemajuan
Om Dewa Suksma Paramacintya Ya Namah Swaha
Artinya: Tuhan,
junjunganku Yang tak terpikirkan, maha tinggi,
dan gaib.
Menurut analisa saya penyatuan siwa
sidhatanda terlihat pada mantram kramananing sembah yang kedua dimana terdapat
pemujaan terhadap dewa surya sebagai dewa sinar yang dipuja oleh sekte sora,
pada kramaning sembah yang ketiga terdapat pemujaan terhadap dewa siwa sebagai
dewa pelebur yang dipuja oleh sekte siwa pasupata dan sekte siwa.
Sedangkan
pada aksara Om dimana kata “Om” merupakan Aksara suci Ida Sang Hyang Widhi
Wasa, aksara “Om” merupakan aksara suci yang merupakan gabungan dari aksara
“Ang, Ung dan Mang” yang luluh menjadi AUM dan mengalami persadian menjadi
aksara “Om”. Aksara Ang merupakan aksara suci dewa Brahma yang dipuja pada
sekte Brahma atau agni, Aksara Ung merupakan aksara dewa Wisnu yang dipuja oleh
sekte Waisnawa dan yang terakhir aksara Mang merupakan aksara dewa Siwa yang
dipuja oleh sekte siwa ataupun siwa Pasupatta.
3. Mantram doa
sehari-hari
Membersihkan tangan: Om
ang argha dwaya ya namah
Artinya: OH
Hyang Widhi, semoga kedua tangan hamba bersih
Membersihkan
mulut: Om jang
jihwaya ya namah.
Artinya: OH
Hyang Widhi, semoga mulut hamba bersih
Membersihkan
kaki: Om pang
pada dwaya ya namah
Artinya: OH
Hyang Widhi, semoga kedua kaki hamba bersih
Menyalakan
dupa: Om Ang dupam samarpayami ya
namah svaha
Artinya:Ya Tuhan,
hamba puja Engkau dalam sinar suciMu sebagai Brahma, pengantar bhakti hamba
kepadaMu.
Menghaturkan
dupa: Om Ang dupa dipastra ya namah
svaha
Artimya: Ya Tuhan,
hamba puja Engkau sebagai Brahma, hamba mohon ketajaman sinar sucimu dalam
menyucikan dan menjadi saksi sembah hamba kepadaMu.
Membersihkan bunga dengan asap dupa: Om puspa danta ya namah svaha
Artinya: Ya Tuhan, sucikanlah kembang ini dari segala kotoran.
Mantram duduk :
Om Prasadha Stiti sarira siwa suci ya
namah svaha
Artinya: Om Sang Hyang Widhi Wasa, Yang Maha Suci, pemelihara kehidupan, hamba puja
dikau dengan sikap yang tenang.
Menurut analisa saya penyatuan siwa
sidhanta Bunga dan
Kuwangen. Bunga
dan Kuwangen adalah lambang kesucian supaya diusahakan bunga yang segar, bersih
dan harum. Jika dalam persembahyangan tidak ada kewangen dapat diganti dengan
bunga. Ada beberapa bunga yang tidak baik untuk sembahyang. Menurut
Agastyaparwa bunga-bunga tersebut seperti berikut: Nihan Ikang kembang yogya
pujakena ring bhatara: kembang uleran, kembang ruru tan inunduh, kembang
laywan, laywan ngaranya alewas mekar, kembang munggah ring sema, nahan talwir
ning kembang tan yogya pujakena de nika sang satwika. Artinya: Inilah
bunga yang tidak patut dipersembahkan kepada Bhatara, bunga yang berulat, bunga
yang gugur tanpa digoncang, bunga-bunga yang berisi semut, bunga yang layu,
yaitu bunga yang lewat masa mekarnya, bunga yang tumbuh dikuburan. Itulah jenis-jenis
bunga yang tidak patut dipersembahkan oleh orang yang baik-baik.
Dupa. Apinya dupa adalah simbul Sanghyang Agni, saksi
dan pengantar sembah kita kepada Sanghyang Widhi. Setiap yadnya dan pemujaan
tidak luput dari penggunaan api. Hendaknya ditaruh sedemikian rupa sehingga
tidak membahayakan teman-teman disebelah. Tempat Duduk. Tempat
duduk hendaknya diusahakan duduk yang tidak mengganggu ketenangan untuk
sembahyang. Arah duduk ialah menghadap pelinggih. Setelah persembahyangan
selesai usahakan berdiri dengan rapi dan sopan sehingga tidak menganggu orang
yang masih duduk sembahyang. Jika mungkin agar menggunakan alas duduk seperti
tikar dan sebagainya.
Sikap Duduk. Sikap duduk dapat dipilih dengan tempat dan
keadaan serta tidak mengganggu ketenangan hati. Sikap duduk yang baik pria
ialah sikap duduk bersila dan badan tegak lurus, sikap ini disebut Padmasana.
Sikap duduk bagi wanita ialah sikap Bajrasana yaitu sikap duduk bersimpuh
dengan dua tumit kaki diduduki. Dengan sikap ini badan menjadi tegak lurus.
Kedua sikap ini sangat baik untuk menenangkan pikiran.
Pada mantram
pembersihan mulut dan kaki ada penggunaan air yaitu simbol pemujaan terhadap
dewa wisnu sebagai penguasa air yang dipuja oleh sekte waisnawa, pada mantram
pembersihyan dupa dan bunga dimana ada pemujaan terhadap agni yaitu brahma
sebagai dewa penguasa api yang dipuja oleh sekte agni atau sekte brahma.
Sedangkan
pada aksara Om dimana kata “Om” merupakan Aksara suci Ida Sang Hyang Widhi
Wasa, aksara “Om” merupakan aksara suci yang merupakan gabungan dari aksara
“Ang, Ung dan Mang” yang luluh menjadi AUM dan mengalami persadian menjadi
aksara “Om”. Aksara Ang merupakan aksara suci dewa Brahma yang dipuja pada
sekte Brahma atau agni, Aksara Ung merupakan aksara dewa Wisnu yang dipuja oleh
sekte Waisnawa dan yang terakhir aksara Mang merupakan aksara dewa Siwa yang
dipuja oleh sekte siwa ataupun siwa Pasupatta.
4.
Mantram saraswati
Mantra
Saraswati
Om, Brahma Putri
Maha Dewi,
Brahmanya Brahma
wandini,
Saraswati
sayajanam, praja naya Saraswati.
Om, Saraswati
dipata ya namah
Om Saraswati namastubhyam
Varade kama rupini
Siddharambha
karisyami
Siddhir bhawantu me
sada
Stuti & Stava
839.1
artinya: Om Hyang Widhi, Sakti-Mu selaku Maha Dewi dari Brahma, Pancaran Pradana dari Brahma. Saraswati, Dewi kemampuan berpikir, Saraswati tiada tara kebijaksanaanNya AUM, Dewi Saraswati hamba menyembah-Mu. Aum, Saraswati sebagai pemberi Anugrah, dalam bentuk yang didambakan Semogalah atas segala dharma yang hamba lakukan sukses selalu atas karunia-Mu.
Hari Raya Saraswati yaitu hari Pawedalan Sang Hyang Aji
Saraswati, jatuh pada tiap-tiap hari Saniscara Umanis wuku Watugunung. Pada
hari itu kita umat Hindu merayakan hari yang penting itu. Terutama para pamong
dan siswa-siswa khususnya, serta pengabdi-pengabdi ilmu pengetahuan pada
umumnya. Dalam legenda digambarkan bahwa Saraswati adalah Dewi/ lstri Brahma.
Saraswati adalah Dewi pelindung/ pelimpah pengetahuan, kesadaran (widya), dan
sastra. Berkat anugerah dewi Saraswati, kita menjadi manusia yang beradab dan berkebudayaan
Dewi
Saraswati digambarkan sebagai seorang wanita cantik bertangan empat, biasanya
tangan- tangan tersebut memegang Genitri (tasbih) dan Kropak (lontar). Yang
lain memegang Wina (alat musik / rebab) dan sekuntum bunga teratai. Di dekatnya
biasanya terdapat burung merak dan undan (swan), yaitu burung besar serupa
angsa (goose), tetapi dapat terbang tinggi. Upacara pada hari Saraswati,
pustaka-pustaka, lontar-lontar, buku-buku dan alat-alat tulis menulis yang
mengandung ajaran atau berguna untuk ajaran-ajaran agama, kesusilaan dan
sebagainya, dibersihkan, dikumpulkan dan diatur pada suatu tempat, di pura, di
pemerajan atau di dalam bilik untuk diupacarai
Widhi widhana (bebanten = sesajen) terdiri dari peras
daksina, bebanten dan sesayut Saraswati, rayunan putih kuning serta
canang-canang, pasepan, tepung tawar, bunga, sesangku (samba = gelas), air suci
bersih dan bija (beras) kuning. Pemujaan / permohonan Tirtha Saraswati
dilakukan mempergunakan bahan-bahan: air, bija, menyan astanggi dan bunga. Ambil
setangkai bunga, pujakan mantra: Om, puspa danta ya namah.
Sesudahnya
dimasukkan kedalam sangku. Ambil menyan astanggi, dengan mantram "Om,
agnir, jyotir, Om, dupam samar payami". Kemudian masukkan ke dalam
pedupaan (pasepan). Ambil beras kuning dengan mantram : "Om, kung kumara
wijaya Om phat", Masukkan kedalam sesangku. Setangkai bunga dipegang,
memusti dengan anggaranasika, dengan mantram:
Om,
Saraswati namostu bhyam Warade kama rupini Siddha rastu karaksami Siddhi
bhawantu sadam.
Artinya:
Om, Dewi Saraswati yang mulia dan maha indah,cantik dan maha mulia. Semoga kami
dilindungi dengan sesempurna-sempurnanya. Semoga kami selalu dilimpahi
kekuatan.
Om,
Pranamya sarwa dewanca para matma nama wanca rupa siddhi myaham
Artinya:
Om, kami selalu bersedia menerima restuMu ya para Dewa dan Hyang Widhi, yang
mempunyai tangan kuat. Saraswati yang berbadan suci mulia.
Om
Padma patra wimalaksi padma kesala warni nityam nama Saraswat
Artinya:
Om, teratai yang tak ternoda, Padma yang indah bercahaya. Dewi yang selalu
indah bercahaya, kami selalu menjungjungMu Saraswati.
Sesudahnya
bunga itu dimasukkan kedalam sangku. Sekian mantram permohonan tirta Saraswati.
Kalau dengan mantram itu belum mungkin, maka dengan bahasa sendiripun tirta itu
dapat dimohon, terutama dengan tujuan mohon kekuatan dan kebijaksanaan,
kemampuan intelek, intuisi dan lain-lainnya. Setangkai bunga diambil untuk
memercikkan tirtha ke pustaka-pustaka dan banten-banten sebanyak 5 kali
masing-masing dengan mantram:
Om, Saraswati sweta warna ya namah.
Om, Saraswati nila warna ya
namah.
Om, Saraswati pita warna ya namah.
Om, Saraswati rakta warna ya namah.
Om, Saraswati wisma warna ya namah.
Kemudain
dilakukan penghaturan (ngayaban) banten-banten kehadapan Sang Hyang Aji
Saraswati selanjutnya melakukan persembahyangan 3 kali ditujukan ke hadapan :
Sang Hyang
Widhi (dalam maniftestasinya sebagai Çiwa Raditya).
Sang
Hyang Widhi (dalam manifestasinya sebagai Tri Purusa) Dewi Saraswati. Ucapkan
mantram berikut:
Om, adityo sya parajyote rakte
tejo namastute sweta pangkaja madyaste Baskara ya namo namah. Om,
rang ring sah Parama Çiwa Dityo ya nama swaha.
Artinya:
Om, Tuhan Hyang Surya maha bersinar-sinar merah yang utama. Putih Iaksana
tunjung di tengah air, Çiwa Raditya yang mulia. Om, Tuhan yang pada awal,
tengah dan akhir selalu dipuja.
Om, Pancaksaram maha tirtham,
Papakoti saha sranam Agadam bhawa sagare. Om, nama Çiwaya.
Artinya:
Om, Pancaksara Iaksana tirtha yang suci. Jernih pelebur mala, beribu mala
manusia olehnya. Hanyut olehnya ke laut lepas.
Om, Saraswati namostu bhyam,
Warade kama rupini,
Siddha rastu karaksami,
Siddhi bhawantume sadam.
Artinya:
Om Saraswati yang mulia indah, cantik dan maha mulia, semoga kami dilindungi
sesempurna-sempurnanya, semoga selalu kami dilimpahi kekuatan.
Sesudah
sembahyang dilakukan metirtha dengan cara-cara dan mantram-mantram sebagai
berikut Meketis 3 kali dengan mantram:
Om, Budha maha pawitra ya
namah.
Om, Dharma maha tirtha ya
namah.
Om, Sanghyang maha toya ya
namah.
Minum 3 kali dengan mantram:
Om, Brahma pawaka.
Om, Wisnu mrtta.
Om, Içwara Jnana.
Meraup 3 kali dengan mantram :
Om,
Çiwa sampurna ya namah.
Om, Çiwa paripurna ya namah.
Om, Parama Çiwa suksma ya namah.
Terakhir
melabahan Saraswati yaitu makan surudan Saraswati sekedarnya, dengan tujuan
memohan agar diresapi oleh wiguna Saraswati. Setelah Saraswati puja selesai,
biasanya dilakukan mesarnbang semadhi, yaitu semadhi ditempat yang suci di
malam hari atau melakukan pembacaan lontar-lontar semalam suntuk dengan tujuan
menernukan pencerahan Ida Hyang Saraswati
Puja
astawa yang disiapkan ialah : Sesayut yoga sidhi beralas taledan dan alasnya
daun sokasi berupa nasi putih daging guling, itik, raka-raka sampian kernbang
payasan. Sesayut ini dihaturkan di atas tempat tidur, dipersembahkan ke hadapan
Ida Sang Hyang Aji Saraswati.
Keesokan
harinya dilaksanakan Banyu Pinaruh, yakni asuci laksana dipagi buta berkeramas
dengan air kumkuman. Ke hadapan Hyang Saraswati dihaturkan ajuman kuning dan
tamba inum. Tamba inum ini terdiri dari air cendana, beras putih dan bawang
lalu diminum, sesudahnya bersantap nasi kuning garam, telur, disertai dengan
puja mantram:
Om,
Ang Çarira sampurna ya namah swaha.
Artinya:Semua
ini mengandung maksud, mengambil air yang berkhasiat pengetahuan.
Menurut
analisa saya penyatuan siwa sidhanta pada mantram saraswati yaitu ada pemujaan
terhadap dewi Saraswati, dewi Saraswati merupkan dewi ilmu pengetahuan dan
merupakan sakti-Nya dari dewa Brahma yang dipuja oleh sekte Brahmana atau sekte
Agni, serta pemujaan terhadap dewa Surya yang dipuja oleh sekte Sora, dewi Sri
yang merupakan sakti-Nya dewa Wisnu yang dipuja oleh sekte Waisnawa.
Sedangkan
pada aksara Om dimana kata “Om” merupakan Aksara suci Ida Sang Hyang Widhi
Wasa, aksara “Om” merupakan aksara suci yang merupakan gabungan dari aksara
“Ang, Ung dan Mang” yang luluh menjadi AUM dan mengalami persadian menjadi
aksara “Om”. Aksara Ang merupakan aksara suci dewa Brahma yang dipuja pada
sekte Brahma atau agni, Aksara Ung merupakan aksara dewa Wisnu yang dipuja oleh
sekte Waisnawa dan yang terakhir aksara Mang merupakan aksara dewa Siwa yang
dipuja oleh sekte siwa ataupun siwa Pasupatta.
5.
Mantram tumpek landep
Tumpek
Landep adalah sebuah hari pemujaan yang penting. Karena itu pula, piodalan di
Pura Manikgeni, Desa Pujungan (bersebelahan dengan Pasraman Dharmasastra
Manikgeni) dilangsungkan pada hari itu, dari pagi sampai pagi esoknya. Mau
datang? Silakan sambil mampir di Pasraman Manikgeni yang mempunyai Taman Baca
dengan ribuan koleksi buku.
Tumpek
Landep tak berdiri sendiri – hampir semua hari-hari suci umat Hindu saling
berkaitan. Tumpek Landep dimulai cikal-bakalnya pada Hari Raya Saraswati, yaitu
hari turunnya ilmu pengetahuan. Dewi Saraswati dipuja di sini karena Beliau
yang menurunkan ilmu pengetahuan. Esoknya, orang-orang mulai melakukan
pembersihan diri agar ilmu pengetahuan itu bisa masuk kedalam jiwa dengan tanpa
hambatan. Orang kotor – baik kotor rohani maupun kotor phisik—akan sulit
menimba ilmu pengetahuan, apalagi pengetahuan suci. Demikian seterusnya sampai
suatu saat orang yang ingin mendapatkan ilmu suci itu wajib melakukan peneguhan
diri, memagar dirinya dari niat dan prilaku jahat, agar ilmu pengetahuan itu
menjadi lebih mantap. Pagerwesi, adalah simbul dari pagar yang maha kuat untuk
peneguhan diri itu. Setelah ilmu pengetahuan suci diperoleh dan jiwa bersih
plus ada rambu-rambu pagar dari wesi (simbol logam berat) silakan ilmu itu
dipelajari.
Sepuluh
hari setelah itu adalah simbol untuk pemantapan, dan itulah hari yang disebut
Tumpek Landep. Pengetahuan atau ilmu suci itu harus dikukuhkan, dipasupati,
diwinten, agar ilmu itu terus bermanfaat dan terus runcing sehingga bisa
dimanfaatkan untuk membedah segala masalah yang ada di dunia ini. Runcingkan
(landep) ilmu itu dengan memberkahi semua peralatan yang dipakai untuk menimba
ilmu itu agar tetap memiliki kekuatan tak ternilai (taksu). Jadi, pada Tumpek Landep ada dua
hal penting: pertama pasupati, peralatan dipasupati agar terus memberikan
khasiat. Kedua pewintenan, penyucian diri. Itu sebabnya banyak Sulinggih yang
melakukan acara pewintenan pada saat Tumpek Landep, misalnya, Ida Pandita Mpu
Dwija Kerti di Gria Seririt setiap Tumpek Landep mewinten puluhan pemangku.
Semua ini dilakukan agar peralatan dan diri kita tetap punya “taksu”.
Lalu
apa yang dipasupati? Pisau, karena ini peralatan penting. Setiap
menyelenggarakan ritual upacara, pisau pasti alat yang paling berguna. “Ilmu
mejejahitan” tak lepas dari pisau. Tombak, keris, dan sebagainya juga patut
dipasupati kembali. Peralatan upacara juga, misalnya sangku, bajra dan
sebagainya. Jika sudah berstatus Sulinggih, tentu semua siwakrana sang
Sulinggih dipasupati pula pada hari itu. Apakah
mobil. komputer, radio, televisi juga dipasupati? Ya, silakan saja, tak ada
yang melarang tak ada yang mengharuskan. Semuanya bisa saja dikait-kaitkan.
Bukankah mobil adalah sarana yang penting untuk mencari ilmu pengetahuan? Kalau
tak ada mobil atau motor, bagaimana bisa kuliah? Komputer bahkan sarana
mendapatkan ilmu pengetahuan, kalau dimanfaatkan dengan baik lewat internetnya.
Radio dan televisi adalah sumber informasi di mana ilmu pengetahuan
berseliweran.
Yang
penting adalah: jangan sampai mobil, radio, televise dan lainnya itu diberi
sesajen yang utama, sementara peralatan melakukan yadnya seperti pisau,
pengutik dan simbol kesakralan seperti tumbak, keris dan banyak lagi dilupakan.
Kalau sesajen tidak banyak harus ada yang prioritas. Prioritas itu adalah
“senjata kehidupan”, bukan “alat penunjang”. Jadi kalau pada Hari Saraswati kita memuja turunnya
ilmu pengetahuan, Pager Wesi membentengi diri dari pengaruh negatif agar ilmu
itu bermanfaat, Tumpek Landep kita mulai jadikan ilmu itu sebagai senjata untuk
memperbaiki kwalitas diri maupun pengamalan diri.
Apa
saja banten Tumpek Landep? Banten adalah simbol, tentu sangat terkait juga pada
dresta (kebiasaan) setempat. Orang Bali umumnya membuat dengan rangkain
(sorohan) seperti ini: Sesayut Jayeng Perang, Sesayut Kesuma Yudha, Sesayut
Pasupati, Segehan (Agung) Pasupati, Sesayut Guru selain banten dasar untuk
pembersihan (mereresik) seperti byakawon, prayascita dan sebagainya, termasuk
ayaban dan suci yang disesuaikan dengan peralatan yang diupacarai. Kiranya ini
tak usah dirinci, kalau ingin tahu buka blog Mpu Jaya Prema Ananda
Bagaimana
dengan puja atau mantramnya? Wah, soal itu, pemangku atau orang yang dituakan
bisa melakukan improvisasi dengan baik, dan ini biasa disebut sehe atau
sesontengan. Ingat selalu, Tuhan tahu semua bahasa. Dalam beryadnya yang
penting ketulusan dan keiklhasan, bahasa bukan kendala. Pakai bahasa hati juga
tak masalah.
Namun,
karena inti Tumpek Landep adalah mepasupati peralatan dan mewinten, baiklah
dikutip dua mantra. Tentang Pasupati banyak ada jenis mantranya, di sini
dikutip yang paling mudah dihafal, karena hanya “ngider bhuana” saja, yang
penting kita hafal letak senjata dan nama arah anginnya.
PANCA-PASUPATI-STAWA
Om, Pasupati wajra-yudhaya, Agni raksasa rupaya, Purwa-desa mukha-sthanaya, Om, Pasupataye, Hung-Phat.
Om, Pasupati wajra-yudhaya, Agni raksasa rupaya, Purwa-desa mukha-sthanaya, Om, Pasupataye, Hung-Phat.
Om, Pasupati Dandha
yudhaya, Agni raksasa rupaya, Daksina-desa mukha-sthanaya,Om, Pasupataye,
Hung-Phat.
Om, Pasupati
Pasa-yudhaya, Agni raksasa rupaya, Pascima-desa mukha-sthanaya, Om, Pasupataye,
Hung-Phat.
Om, Pasupati
Cakra-yudhaya, Agni raksasa rupaya, Uttara-desa mukha-sthanaya, Om, P
asupataye, Hung-Phat.
Om, Pasupati
Padma-yudhaya, Agni raksasa rupaya, Madhya-desa mukha sthanaya, Om, Pasupataye,
Hung-Phat.
Om, Sri-Pasupati
Aksobya ya namah swaha.
Om, Sri-Pasupati
Ratnasambhawa ya namah swaha.
Om, Sri-Pasupati
Amitabha ya namah swaha.
Om, Sri-Pasupati
Amogha siddhi ya namah swaha.
Om, Sri-Pasupati
Wairocana ya namah swaha.
Menurut
analisa saya pada mantram tumpek landep penyatuan siwa sidhanta yaitu adanya
pemujaan terhadap dewi Sri sebagai dewi kesuburan yang merupakan sakti-Nya dewa
Wisnu yang dipuja pada sekte Waisnawa, ada pula pemujaan terhadap dewa agni
atau dewa api yaitu Brahma yang dipuja pada sekte Brahma atau sekte Agni,
terdapat pula pemujaan terhadap dewa Siwa pada sekte Siwa pasupatta.
Sedangkan
pada aksara Om dimana kata “Om” merupakan Aksara suci Ida Sang Hyang Widhi
Wasa, aksara “Om” merupakan aksara suci yang merupakan gabungan dari aksara
“Ang, Ung dan Mang” yang luluh menjadi AUM dan mengalami persadian menjadi
aksara “Om”. Aksara Ang merupakan aksara suci dewa Brahma yang dipuja pada
sekte Brahma atau agni, Aksara Ung merupakan aksara dewa Wisnu yang dipuja oleh
sekte Waisnawa dan yang terakhir aksara Mang merupakan aksara dewa Siwa yang
dipuja oleh sekte siwa ataupun siwa Pasupatta.
6.
Mantra Pagerwesi
Om Giripati Maha Wiryam
Mahadewa Pratista Linggam
Sarwa Dewa Pranamyanam
Sarwa Jagat Pratistana
Om, Giripati Di Pata Ya Namah.
Artinya:
Ya
Tuhan, bergelar Giripati yang Maha Agung, Mahadewa dngan lingga yang mantap,
semua dewa sembah pada-Mu. Om Giripati, hamba memuja-Mu.
Dari
mantra Pagerwesi diatas dapatr dilihat penyatuan siwa siddhantanya yaitu pada
pengguanaan aksara suci OM yang merupakan aksara suci yang terbentuk dari
aksara suci Ang yang merupakan aksara suci dewa Brahma yang dipuja oleh sekte
Agni, aksara suci Ung yang merupakan aksara suci dewa Wisnu yang merupakan dewa
yang dipuja oleh sekte Waisnawa, dan aksara suci Mang yang merupakan dewa
Siwa yang merupakan dewa yang dipuja oleh sekte Siwa. Disamping
penyebutan aksara OM tersebut, dimantra ini juga terdapat penyebutan atau
pemujaan yang ditunjukan kepada dewa Giripati dan Mahadewa yang merupakan
penyebutan lain dari dewa Siwa sehingga terlihat adanya pengeruh sekte Siwa
didalam mantra ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar