PSIKOLOGI
PENDIDIKAN
Pengertian
mimpi
Mimpi adalah penglihatan, kejadian, atau pengalaman yang kita alami saat
tidur, yang melibatkan pikiran, perasaan dan indera lainnya. Kejadian dalam
mipi biasanya adalah suatu hal
yang mustail terjadi dalam dunia nyata
dan di luar
kuasa pemimpi. Pengucualiannya adalah dalam mimpi
yang disebut lucid
dreaming. Dalam mimpi demikian,
pemimpi menyadari bahwa dia sedang
bermimpi saat mimpi tersebut masih berlangsung, dan kadang-kadang mampu mengubah lingkungan dalam mimpinya serta mengendalikan beberapa aspek dalam mimpinya
tersebut.
Pengertian berpikir.
Berpikir merupakan
proses menentukan hubungan-hubungan secara bermakna antara aspek-aspek dari gabungan suatu pengetahuan.
Macam-macam kegiatan berpikir
dapat kita golongkan sebagai berikut:
1.
Berpikir asosiatif, yaitu
proses berpikir di mana suatu
ide merangsang timbulnya ide lain. Jalan pikiran dalam
proses berpikir asosiatif tidak ditentukan atau diarahkan sebelumnya. Jadi ide-ide muncul
secara bebas. Jenis-jenis berpikir asosiatif adalah :
a. Asosiasi bebas: suatu ide akan menimbulkan ide mengenai hal
lain, tanpa ada batasnya.
b. Asosiasi terkontrol:
satu ide tertentu menimbulkan ide mengenai hal
lain dalam batas-batas tertentu.
c. Melamun: menghayal
bebas, sebebas-bebasnya tanpa batas, juga
mengenai hal-hal yang tidak realistis.
d. Mimpi: ide-ide tentang berbagai hal yang timbul secara tidak disadari
pada waktu tidur. Mimpi inikadang-kadang
terlupakan pada waktu tertentu, tetapi kadang-kadang masih dapat diingat.
e. Berpikir artistic: yaitu
proses berpikir yang sangat subjektif. Jalan pikiran sangat
dipengaruhi oleh pendapat dan pandangan
diri pribadi tanpa menghiraukan keadaan sekitar. Ini sering dilakukan
oleh para seniman dalam menciptakan
karya seninya.
2.
Berpikir terarah, yaitu
proses berpikir yang sudah ditentukan sebelimnya dan diarahkan pada sesuatu, biasanya diarahkan pada pemecahan masalah. Ada 2 macam berpikir
terarah, yaitu :
a. Berpikir kritis,yaitu membuat keputusan atau pemeliharaan terhadap suatu keadaan.
b. Berpikir kreatif, yaitu berpikir untuk menentukan hubungan-hubungan baru antara berbagai hal, menentukan pemecahan baru dari suatu soal,
dan menemukan system baru dan sebagainya.
Mengenai berpikir,
selain pendapat di atas, ada
beberapa pendapat yang diantaranya menganggap bahwa berpikir adalah suatu proses
asosiasi saja. Pandangan semacam inidikemukakan oleh kaum asosiasiono=ist. Sedangkan
kaum fungsionalist memandang berpikir sebagai suatu proses
penguatan hubungan antara stimulus dan respons, diantaranya ada yang mengemukakan bahwaberpkir merupakan suatu kegiatan psikis untuk mencari
hubungan antara dua objek atau
lebih. Secara sederhana, berpikir
adalah memproses informasi secara mental atau secara kognitif.
Secara lebih formal, berpikir adalah penyusunan ulang atau manipulasi
kognitif baik informasi dari lingkungan maupun simbol-simbol yang disimpan dalam long term memory. Jadi, berpikir
adalah sebuah representasi simbol dari beberapa peristiwa
atau item (Khodijah,
2006:117). Sedangkan menurut
Drever (dalam Walgito, 1997 dikutip Khodijah, 2006:117) berpikir adalah melatih ide-ide dengan cara yang tepat
dan seksama yang dimulai dengan adanya masalah. Solso (1998 dalam Khodijah, 2006:117) berpikir adalah sebuah proses
dimana representasi mental baru dibentuk melalui
transformasi informasi dengan interaksi yang komplek atribut-atribut mental seperti penilaian, abstraksi, logika, imajinasi, dan pemecahan masalah.
Dari
pengertian tersebut tampak bahwa ada
3 pandangan dasar tentang berpikir, yaitu:
1.
Berpikir adalah kognitif,
yaitu timbul secara internal dalam pikiran tetapi dapat dipekirakan dari perilakunya.
2.
Berpikir merupakan sebuah
proses yang melibatkan beberapa manipulasi pengetahuan dalam system kognitif.
3.
Berpikir diarahkan dan
menghasilkan perilaku yang memecahkan masalah atau diarahhkan pada solusi.
Definisi yang paling umum
dari berfikir adalah berkembangnya ide dan konsep
(Bochenski, dalam Suriasumantri (ed), 1983:52 dalam http://www.andragogi.com) di dalam diri seseorang. Perkembangan
ide dan konsep
ini berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan di dalam diri
seseorang yang berupa pengertian-perngertian. Dari gambaran
ini dapat dilihat bahwa berfikir
pada dasarnya adalah proses psikologis.
Kemampuan berfikir pada manusia
alamiah sifatnya. Manusia yang lahir dalam keadaan normal akan dengan
sendirinya memiliki kemampuan ini dengan
tingkat yang relatif berbeda.
Ada berbagai jenis dan tipe
berpikir. Morgan dkk.
(1986, dalam Khodijah,
2006: 118) membagi dua jenis berpikir, yaitu berpikir autistik dan berpikir
langsung. Berpikir autistik (autistic thinking) yaitu proses berpikir
yang sangat pribadi menggunakan simbol-simbol dengan makna yang sangat pribadi, contohnya mimpi. Berpikir langsung (directed thinking) yaitu
berpikir untuk memecahkan masalah.Menurut Kartono (1996, dalam Khodijah, 2006:118) ada enam pola berpikir,
yaitu:
1.
Berpikir konkrit, yaitu
berpikir dalam dimensi ruang, waktu, dan tempat
tertentu.
2.
Berpikir abstrak, yaitu
berpikir dalam ketidakberhinggaan.
3.
Berpikir klasifikatoris, yaitu berpikir mengenai klasifikasi atau pengaturan menurut kelas-kelas tertentu.
4.
Berpikir analogis, yaitu
berpikir untuk mencari hubungan antarperistiwa atas dasar kemiripannya.
5.
Berpikir ilmiah, yaitu
berpikir dalam hubungan yang luas dengan pengertian yang lebih kompleks disertai pembuktian-pembuktian.
6.
Berpikir pendek, yaitu
lawan berpikir ilmiah yang terjadi secara lebih cepat,
lebih dangkal dan seringkali tidak logis.
Dari uraian di
atas dapat diambil suatu kesimpulan
bahwa mimpi termasuk dalam kategori berpikir, di mana mimpi
termasuk dalam berpikir asosiatif, di mana jalan
pikiran dalam proses berpikir asosiatif tidak ditentukan atau diarahkan sebelumnya sehingga ide-ide dapat muncul secara
bebas. Selain itu, mimpi juga termasuk dalam
kategori berpkir autistic
(autistic thinking). Walaupu bermimpi tersebut
dilakukan secara tidak sadar seperti
halnya dalam berpikir, karena bermimpi itu berada
di bawah alam sadar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar