SAIVA NANDI
Siva adalah dewa yang dalam
mitologi agama Hindu dikenal sebagai dewa tertinggi dan banyak pemujanya. Mitos Siva dapat dijumpai dalam beberapa kitab
suci agama Hindu
yakni, kitab-kitab Brahmana, Mahabharata, Purana dan Agama (Garret 1871, Dowson 1957, Macdonell 1897, Fausboll 1903,
Giri 1947, Bhattacharya 1921, Rao 1968, Thomas).
Dalam kitab Hindu
tertua, Veda Samhita, walaupun nama Siva sendiri tidak pernah dicantumkan,
namun sebenarnya
benih-benih perwujudan tokoh Siva itu
sendiri telah ada,
yaitu Rudra (Dowson 1957:296, Thomas:21). Dalam Rg-Veda salah satu Veda Samhita, menyebutkan Rudra sebagai dewa perusak (Macdonell
1897:75), dan tergolong sebagai dewa bawahan (Garret 1871: 520). Rudra dikenal sebagai penyebab kematian, dewa penyebab dan penyembuh penyakit,
dia juga dianggap sebagai dewa yang menguasai angin topan. Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang
berakibat buruk tersebut, maka untuk ‘menenangkan’ dan menghilangkan kemarahannya (Dowson 1957:269, Rao 1968: 39). Namun
sebagai dewa rendahan, walaupun banyak dipuja, Rudra belumlah merupakan dewa
tertinggi dan dianggap penting. Pada waktu itu yang dianggap sebagai dewa tertinggi dan dianggap penting adalah
dewa Indra. Baru dalam kitab Brahmana, Rudra diberi nama Siva, dan kedudukannya pun terus meningkat
sehingga menjadi dewa utama.
Siva sebagai Mahadeva, yaitu
Siva sebagai dewa tertinggi menurut kitab
Silparatna dalam perwujudannya digambarkan bertangan
empat, delapan, sepuluh dan enam belas. Bermata tiga (trinetra),
berpakaian kulit harimau, memakai tali kasta (upavita) ular, mengenakan hiasan telinga (kundala)
dan hiasan kepala (jatamakuta), kadang-kadang digambarkan berkendaraan sapi (Nandi) (Dubreuil 1937:18-22, Rao 1968:114-115). Di Jawa Siva Mahadewa digambarkan dalam sikap duduk atau berdiri di atas padmasana atau asana polos, bertangan dua atau empat.
Siva memiliki binatang kesayangan yang menjadi
kendaraannya, yaitu seekor lembu bernama Nandini. Siva juga memiliki pakaian
kulit harimau, melambangkan instink atau sifat binatang yang ada dalam diri
manusia, yang telah mampu ditaklukkan oleh Siva.
Kata sandi bagi Siva adalah "HARA" dan untuk Visnu adalah
"HARI". Senjata Siva adalah
trisula, atau tombak pendek bermata tiga. Ketiga mata trisula itu diartikan
dengan berbagai makna mewakili tiga phase waktu (dulu, sekarang, masa yang akan
datang); ketiga aspek yaitu penciptaan, pemeliharaan dan peleburan, ketiga guna (tiga sifat dasar suatu benda),
yaitu satvam (kesucian), rajas (sifat yang aktif), tamas (sifat bodoh dan dungu). Ketiga
guna inilah yang membuat wujud-wujud baru dari suatu bentuk. Dan untuk mencapai
persatuan dengan Siva maka seseorang
harus membakar habis semua sifat-sifat yang diwakili oleh ketiga guna itu. Semua
konsep ini telah membentuk satu wujud yang maha memenuhi, universal dari Siva, yang merupakan penguasa hidup dan
mati, baru dan yang lama, baik instink binatang maupun manusia. Keberadaan Siva yang bersifat abadi dinyatakan
dalam istilah atau gelar Sadasiva.
Didalam Kitab Purana, Lembu atau sapi disebut
Kamadhenu, juga disebut Nandini.
Dalam Kitab Aranyaka Parwa bahwa
Lembu Nandini adalah pertama dari
semua ternak. Kamadhenu yang juga
disebut Surabhi adalah sebagai dewi
kekuatan dan kecakapan yang dapat memberikan susu kepada Deva atau Rsi. Lembu Nandini adalah binatang suci yang di
hormati dan diagungkan karena Lembu Nandini lambang alam semesta, penegasan
dalam kitab suci Rg Weda, yang selalu
mengagungkan sapi :
"Gaurme
mata virsabhah pitame divah sarva jagati me pratistha"
artinya :
artinya :
"sapi betina
adalah ibu kita, sapi jantan adalah bapak kita, kedua mkhluk ini memberi kebahagiaan kepada kita baik
didunia maupun didunia setelah meninggal"
"dahamasvibhyam
payo aghnycyam sa vardhatam mahate saubhagaya"
artinya:
"sapi ini yang
tidak boleh dibunuh, mempersembahkan susu kepada Deva Asvini dan dia berkembang
demi keuntungan kita."
bhakta dan penganut peradaban
dan filsafat Veda tidak akan makan
daging sapi karena memandang sapi sebagai ibu.
Mahesa atau
Mahadewa, Siva sebagai deva yang
tertinggi atau maha agung; Siva
dianggap sebagai deva dari pada para deva. Dalam gelar ini segala kemahatahuan
berada pada Siva, sehingga disebut
penguasa dari semua pengetahuan dan Paramajnani.
Atas petunjuk Siva, Brahma membuat
kitab suci Veda diturunkan ke dunia.
Semua rsi, pertapa dan yogi memohon berkat atas pencerahan
kepada Siva. Siva juga dikatakan
sebagai penemu dari segala jenis suara termasuk aksara suci kesenangan Siva yaitu "OM" (AUM). Oleh karena itu Siva juga bergelar "OMKARA",
artinya yang menemukan suku kata "OM".
Suku kata OM juga disebut sebagai
"Pranavaksara", suku kata
ini juga berarti sejenis alat musik yang menyerupai drum. Banyak sarjana
mengakui bahwa Siva adalah OMKARA, karena suara itu keluar dari
alat musik gendang yang dimilikinya, yang
disebut "Damari" Suara ini diyakini sebagai suku kata pertama yang keluar ketika awal masa penciptaan. Mahesa atau Mahadeva merupakan tujuan dari segala jenis bhakti atau pemujaan. Umumnya ada tiga jenis pendekatan dalam pemujaan, yaitu dengan jnana atau pemujaan melalui pengetahuan, dengan jalan karma atau perbuatan, dan yang ketiga adalah dengan jalan bhakti atau pengabdian. Meskipun Siva dianggap sebagai penemu segala jenis pengetahuan, namun hanya dengan bhaktilah Siva dengan mudah berkenan pada pemujanya. Karena dalam bhakti faktor yang dibutuhkan adalah perasaan yang tulus tanpa ada pertimbangan karena faktor lain. Oleh karena itulah pemuja Siva tidak hanya manusia tetapi juga para raksasa. Kemudahan inilah yang membuat Siva sangat populer dalam masyarakat manusia, sehingga linggam Siva bisa ditemukan hampir di setiap tempat pemujaan dan bahkan di tempat yang tidak berhubungan
dengan pemujaan sekalipun.
disebut "Damari" Suara ini diyakini sebagai suku kata pertama yang keluar ketika awal masa penciptaan. Mahesa atau Mahadeva merupakan tujuan dari segala jenis bhakti atau pemujaan. Umumnya ada tiga jenis pendekatan dalam pemujaan, yaitu dengan jnana atau pemujaan melalui pengetahuan, dengan jalan karma atau perbuatan, dan yang ketiga adalah dengan jalan bhakti atau pengabdian. Meskipun Siva dianggap sebagai penemu segala jenis pengetahuan, namun hanya dengan bhaktilah Siva dengan mudah berkenan pada pemujanya. Karena dalam bhakti faktor yang dibutuhkan adalah perasaan yang tulus tanpa ada pertimbangan karena faktor lain. Oleh karena itulah pemuja Siva tidak hanya manusia tetapi juga para raksasa. Kemudahan inilah yang membuat Siva sangat populer dalam masyarakat manusia, sehingga linggam Siva bisa ditemukan hampir di setiap tempat pemujaan dan bahkan di tempat yang tidak berhubungan
dengan pemujaan sekalipun.
Bhutesvara, personifikasi Siva sebagai penguasa para hantu, jin dan mahluk halus lainnya. Bhutesvara berarti penguasa segala hal
yang ada di dunia material. Bhuta
berarti telah menjadi, dan Isvara berarti
deva yang terbaik atau utama.
Nandini (Sansekerta:"yang
menyenangkan") adalah seekor lembu betina. Lembu ini dipakai sebagai
wahana Batara Siwa. Nandini juga melambangkan sebagai lembu
kekayaan, milik Bagawan Wasista, konon terlahir dari Surabhi, sang lembu kemakmuran yang muncul ketika samudra diaduk.
Nama lain Nandini yang dikenal di
Indonesia adalah Andini dan Handini. Patungnya ada di Candi
Prambanan. Lembu Nandini dikenal mempunyai
sifat tak kenal takut.Nama Nandini juga
umum dipakai untuk nama perempuan di India dengan harapan agar yang diberi nama
akan menjadi kuat. Semakin giat
Dewa Nandi melayanani Dewa Siwa, semakin gembiralah dia. Estasi dalam tugas
pelayanan selalu saja diperolehnya secara akumulatif. Kekuatan dewanya mulai
dirasakan tiada cukup lagi untuk menopang tugas yang dicintainya, Nandi merubah
tubuhnya menjadi seekor lembu yang luar biasa, dengan keempat kaki sekokoh sari
keempat kitab Veda, bergerak, berjalan bahkan menari –nari kecil seiring
Tandava Sang Nataraja. Bicaranya disampaikan dengan lafal jelas dan
mencerahkan. Improvisasi adalah bagian dari keindahan yang selalu dinanti nanti
Iswara. Lembu Nandi sungguh jugalah sastrawan, sejarawan , seniman , dan
penghibur, ia membawa pendengarnya untuk melihat, menyelami dan merasuki sampai
ke inti samudera semesta , sambil mengagungkan Brihaspati , dan lidahnya
digerak gerakan oleh Dewi Saraswati. Ritme suaranya bagai kicau burung
Kalavinka di telinga Shambu, membuat Sadyojata tak tahan ikut berbagi;
tentang dharma, karakter, etika dan estetika. Tentang yang rasional dan yang
empiristis, penciptaan dan pemeliharaan, perubahan yang seharusnya, tentang
kesejahteraan lahir dan ketentraman batin. Lembu Nandi mengerti tuannya adalah
sang Anugerah Murti, dan lewat pelayanan , pada diri sendiri juga yang
dilayani, seisi semesta. Vocasional Lembu Nandi tidak sebatas penutur, tenaga
fisik dan terlebih pikiran, berada didalam satu kesatuan peran profesionalisme.
Sang pelayan yang selalu ingin membuat senang hati tuannya. Dan tak hendak
membuat Bethara Guru menjadi Samhara Murti. Lembu Nandi siap bekerja siang
malam, dengan dikawal Surya dan Chandra.
Nandi
atau Nandiswara adalah lembu
yang menjadi kendaraan dari dewa Siwa dalam mitologi Hindu. Candi yang
mempunyai arca Nandi biasanya dikategorikan
sebagai candi untuk pemujaan agama Hindu Siwa.Candi yang mempunyai arca Nandi
biasanya dikategorikan sebagai candi untuk pemujaan agama Hindu Siwa. Nandhi adalah lembu putih kendaraan Ciwa (Siwa) sehingga dalam satu perwujudannya siwa disebut Nandiswara. Candi yang mempunyai arca Nandhi biasanya dikategorikan sebagai
candi untuk pemujaan agama Hindu aliran Siwa.
Melintas dihadapan
Lembu Nandi yang sedang rebahan.
Tempatnya tepat di ujung lapangan hijau yang luas terbuka. Di hadapannya ada
kolam besar yang dipenuhi bunga teratai. Begitu anggun seperti yang selama ini
digambarkan orang-orang. Konon kabarnya Lembu
Nandi adalah penjaga gerbang dan kendaraan Siwa. Disebut sebagai binatang suci walaupun ada juga bangsa yang
menyebutnya sebagai berhala.(google: 18
Maret 2011: 19.30)
NANDI atau Nanda merupakan nama lembu
gumarang (lembu yang mempunyai dasar warna bulunya putih bertaburkan merah
kuning keemasan). Dalam
cerita pewayangan, Nandhi dikenal
pula dengan nama Nandini atau Handini. Nandhi adalah anak raja jin
bernama Prabu Patanam di negara
Dahulagiri, sebelah timur laut Pegunungan
Tengguru/Himalaya. Ia mempunyai saudara sekandung yang dilahirkan kembar
berwujud raksasa masing-masing bernama Cingkarabala
dan Balakupata, yang menjadi
penjaga pintu gapura Selamatangkep di
kahyangan Jonggringsaloka.
Nandi sangat sakti, kuat dan bengal. Karena kesaktiannya itu
ia menobatkan diri sebagai penguasa jagad raya, disanjung dan dipuja rakyat di
jasirah Dahulagiri. Mendengar pemujaan Nandi
yang berkebihan itu, Sanghyang
Manikmaya/Bathara Guru menjadi sangat murka. Karena di seluruh Tribuana (jagad Mayapada, Madyapada dan Arcapada) seharusnya tidak ada yang
pantas dipuja dan disembah kecuali dirinya sebagai raja Dewata. Nandi sang lembu,
wahana Dewa Siwa, melambangkan
kekuatan dan kejantanan.
Bathara Guru kemudian datang ke Dahulagiri untuk memerangi Nandi. Peperangan pun tejadilah. Dengan Aji Kamayan, Bathara Guru berhasil
menundukkan Nandi. Ia menyerah dan
mohon pengampunan. Oleh Bathara Guru,
Nandi diampuni dan diboyong ke Suralaya, dijadikan tunggangan pribadi Bathara Guru. Nandi pernah dipinjam oleh
Prabu Pandu, raja negara Astina, memenuhi permintaan Dewi Madrim, istrinya yang waktu itu
sedang mengandung Nakula dan Sadewa, untuk dinaiki terbang
berputar-putar di atas taman Kadilengleng negara Astina.
Sapi dalam Agama Hindu
adalah binatang suci “Nandini” sebagai palinggihan Ida Bhatara Siwa oleh
karenanya disakralkan, bukan diharamkan seperti babi dalam Agama Islam. Pantangan menyakiti,
membunuh, memakan dagingnya adalah dalam kaitan sujud bhakti kita ke hadapan
Ida Bhatara Siwa (Tuhan Yang Maha Esa). Bagaimana mungkin setiap hari kita
memuja-Nya, lalu di kesempatan lain kita memakan daging binatang suci
kesayangan-Nya?
Aturan-aturan mengenai
tidak menyakiti, membunuh, dan memakan daging sapi ada dalam Parasara
Dharmasastra (Smrti Kaliyuga) Bab IX.
Pasal 37:
IA YANG MENDORONG SEEKOR SAPI KE DALAM KOLAM ATAU
SUMUR ATAU MENINDIH PUNGGUNGNYA DENGAN POHON ATAU MENJUALNYA KEPADA PENGGEMAR
DAGING SAPI DINYATAKAN BERDOSA MEMBUNUH SAPI.
Pasal 62:
IA YANG TELAH MEMBUNUH SEEKOR SAPI MENCOBA
MENYEMBUNYIKAN DOSANYA DALAM KEHIDUPAN INI SETELAH MATI DICAMPAKKAN DALAM
KEPEDIHAN NERAKA KALASUTRAM.
Pasal 63:
TERLEPAS DARI NERAKA ITU IA DILAHIRKAN SEBAGAI SEORANG
YANG DIKEBIRI (WANDU?) ATAU SEORANG PENDERITA PENYAKIT KUSTA (ATAU AIDS?) ATAU
SEBAGAI SEORANG YANG MISKIN PADA TUJUH PENJELMAAN SECARA BERTURUT-TURUT.
Bagi seorang Pendeta/ Pandita (Brahmana Dwijati)
tercantum dalam Bab XI pasal 1:
SETELAH (DENGAN TIDAK SENGAJA) MAKAN DAGING SAPI ATAU
NASI SEORANG CANDALA ATAU MATERI ORGANIK KOTOR SEPERTI SPERMA DSB. SEORANG
BRAHMANA HARUS MELAKUKAN UPACARA PENEBUSAN DOSA CANDRAYANA.
Selanjutnya unsur-unsur sapi disakralkan dalam upacara
pembebasan dosa antara lain tercantum dalam Bab XI pasal 27:
KESUCIAN DAN PEMBEBAS DOSA ADALAH PANCAGAVYAM, YANG
MERUPAKAN CAMPURAN DARI AIR KENCING SAPI, TAHI SAPI, SUSU SAPI, SUSU SAPI BEKU,
MENTEGA MURNI DARI SUSU SAPI, DAN AIR CUCIAN RUMPUT KUSA.
Dalam lontar-lontar Kusumadewa dan Silakrama
dicantumkan bahwa seorang Ekajati (Jero mangku) apalagi seorang Dwijati
(Pandita) dilarang untuk: memegang tali sapi, melangkahi tali sapi, menginjak
tahi sapi, dan kencing di atas tahi sapi, di samping larangan-larangan dalam
Parasara Dharmasastra tersebut di atas. Sikap kita adalah menjalankan swadarma sebagai pemeluk
Hindu yang baik antara lain meyakini kebenaran sastra Agama tersebut.
Untuk kesehatan dan pertumbuhan badan masih banyak
sumber protein selain daging sapi yang bisa dimakan. Susu, mentega, dan keju
dari sapi boleh diminum-dimakan. Juga masih ada kambing, bebek, ayam dan hewan
lainnya. Bagi mereka yang sudah
mewinten (Ekajati) dan yang sudah madiksa (Dwijati) selain daging sapi juga
dilarang memakan daging babi, ayam, binatang melata, dan binatang lain yang
tidak wajar dimakan dagingnya seperti anjing, kucing, tikus, dll.
Daging yang dimakan mempengaruhi perilaku yang
memakannya, misalnya jika memakan daging babi akan menjadi malas seperti babi
(tamas); jika makan daging ayam akan suka berkelahi seperti ayam (rajas); jika
makan daging anjing akan terjangkit sipilis, dll.
Sesungguhnya menjadi
vegetarian bagus, selain mencegah penumpukan kolesterol, juga menurut beberapa
akhli kedokteran dikatakan bahwa manusia diciptakan sebagai mahluk yang tidak
memakan daging karena susunan gigi dan sistem pencernaan ususnya tidak sesuai. Yang cocok adalah makan
biji-bijian (beras, ketan, injin, tahu, tempe, dll), umbi-umbian (kentang, ubi,
wortel, dll), sayur-sayuran, buah-buahan, susu, dan madu. (Google: 27 maret 2012: 18.30)
PRASASTI DAN DINASTI
Tidak dapat disangkal
lagi, bahwa Nusantara adalah pusat
kebudayaan Hindu pada masanya. Sebuah
perkembangan peradaban budaya klasik yang membawa Nusantara dikenal sebagai
bangsa berbudaya adiluhur tinggi. Penemuan-penemuan arkeologi membuktikan
Nusantara pernah menjadi jalur pelayaran utama dari Asia Tenggara, Tiongkok, India hingga Asia Selatan. (Google:
27 maret 2012: 18.30)
HINDU SAIWA
Aliran agama Hindu yang memuja dewa Siwa sebagai dewa tertinggi, disebut aliran Saiwa atau Saiwisme menurut Rg Weda.
Siwa adalah bentuk Santa (bersifat baik, tenang) dari Dewa Rudra, dewa pembinasa. Dalam kitab Mahabharata,
Siwa sering disebut sebagai Maha Dewa,
yaitu dewa tertinggi diantara para dewa. Di Indonesia, salah satu bukti yang
menunjukkan kedudukan dewa Siwa lebih
penting dan lebih tinggi dibanding dengan dewa lainnya adalah isi prasasti Canggal (654 Saka /732 Masehi)
yang memuat puji-pujian kepada dewa Siwa
sebanyak 3 bait, sedangkan untuk dewa
Brahma dan Wisnu masing masing
hanya 1 bait (Poerbatjaraka 1952:44)
PERAN UTAMA NANDI
Sebagai Dewa Utama Siwa dalam Aliran Hindu Saiwa memiliki kendaraan suci yaitu sebuah Lembu Kemakmuran
yang bernama Nandi yang adalah dewa
utama dari Peradaban Agraris Lembah
Hindus. Nandi dikenal sebagai Pasupati, yang dipuja sebagai penjaga
agraris. Beberapa Purana (kitab suci), menjelaskan Nandi atau Nandishwaram
sebagai lembu sukacita yang memiliki aspek Siwa,
maka tidak mengherankan jika Nandi
digambarkan menyatu dan tersenyum bersama tuannya.
Arca Nandi adalah pertanda
keberadaan agama Hindu Saiwa, Kuil Nandi
selalu berada di depan Kuil Maha Dewa
dan pemujaan terhadap Nandi merupakan
awal pemujaan terhadap Siwa. Penemuan
arkeologi arca arca pemujaan dari batu beralih ke perunggu membuktikan bahwa
praktek menyembahan terhadap para dewa telah berkembang seiring dengan perkembangan
teknologi pengecoran logam pada masanya.
Semakin
giat Dewa Nandi melayanani Dewa Siwa, semakin gembiralah
dia. Estasi dalam tugas pelayanan selalu saja diperolehnya secara
akumulatif. Kekuatan dewanya mulai dirasakan tiada cukup lagi untuk menopang
tugas yang dicintainya, Nandi merubah tubuhnya menjadi seekor lembu yang luar
biasa, dengan keempat kaki sekokoh sari keempat kitab Veda, bergerak,
berjalan bahkan menari –nari kecil seiring Tandava Sang Nataraja.
Bicaranya disampaikan dengan lafal jelas dan mencerahkan. Improvisasi adalah
bagian dari keindahan yang selalu dinanti nanti Iswara. Lembu Nandi
sungguh jugalah sastrawan, sejarawan , seniman , dan penghibur, ia membawa
pendengarnya untuk melihat, menyelami dan merasuki sampai ke inti samudera
semesta , sambil mengagungkan Brihaspati , dan lidahnya digerak gerakan oleh Dewi
Saraswati. Ritme suaranya bagai kicau burung Kalavinka di telinga
Shambu, membuat Sadyojata tak tahan ikut berbagi; tentang dharma,
karakter, etika dan estetika. Tentang yang rasional dan yang empiristis,
penciptaan dan pemeliharaan, perubahan yang seharusnya, tentang kesejahteraan
lahir dan ketentraman batin. Lembu Nandi mengerti tuannya adalah sang
Anugerah Murti, dan lewat pelayanan , pada diri sendiri juga yang dilayani,
seisi semesta. Vocasional Lembu Nandi tidak sebatas penutur, tenaga
fisik dan terlebih pikiran, berada didalam satu kesatuan peran profesionalisme.
Sang pelayan yang selalu ingin membuat senang hati tuannya. Dan tak hendak
membuat Bethara Guru menjadi Samhara Murti. Lembu Nandi siap
bekerja siang malam, dengan dikawal Surya dan Chandra. (Google: 27 maret 2012: 18.30)
Candi Siva dan Nandi
Candi Nandi. Candi ini mempunyai satu tangga masuk yang menghadap
ke barat, yaitu ke Candi Syiwa. Nandi
adalah lembu suci tunggangan Dewa Syiwa. Jika dibandingkan dengan Candi Garuda dan Candi Angsa yang
berada di sebelah kanan dan kirinya, Candi
Nandi mempunyai bentuk yang sama, hanya ukurannya sedikit lebih besar dan
lebih tinggi. Tubuh candi berdiri di atas batur setinggi sekitar 2 m. Seperti
yang terdapat di Candi Syiwa, pada
dinding kaki terdapat dua motif pahatan yang letaknya berselang-seling. Yang
pertama merupakan gambar singa yang berdiri di antara dua pohon kalpataru dan
yang kedua merupakan gambar sepasang binatang yang berteduh di bawah pohon
kalpataru. Di atas pohon bertengger dua ekor burung. Gambar-gambar semacam ini
terdapat juga pada candi wahana lainnya. (Google: 27 maret 2012: 18.30)
Pemujaan
Terhadap Lembu Nandi atau Nandini
sejak
jaman purba banyak orang Hindu yang meninggalkan kehidupan yang ramai untuk
menyendiri di hutan-hutan, agar mereka dapat bersemedi di tengeh-tengah suasana
yang tenang dan damai. Orang ini dekat sekali dengan alam dan dengan penghuni
hutan, binatang-binatang. Bagi mereka binatang-binatang bukanlah makhluk yang
tolol, yang hyanya terdorong oleh naluri saja, melainkan makhluk yang cerdas
dan berprikemanusian. Oleh karena itu hampir diseluruh kasustraan india,
binatang-binatang mempunyai peranan yang penting. Terlebih-lebih pada jaman
Ramayana. Disitu binatang-binatang bukan hanya dipandang sebagai manusia,
tetapi bahkan dipandang sebagai titisan dewa-dewa.
Didalam
Ramayana diceritakan, bahwa sebelum wisnu menjelma sebagai Rama, sudah
diputuskan, bahwa para dewa dan makhluk sorgawi lainnya akan menitis sebagai
kera. Demikianlah ada banyak sekali kera yang berkuasa, yang dipandang sebagai
yang palng berkuasa. Diantara para kera itu adalah Hanoman. Kesetian Hanuman
kepada Rama menjadi suri tauladan di seluruh india. Hanuman menjadi simbol
kesetian dan penyerahan diri. Ia menjadi pelayan yang sempurana, yang
dicita-citakan orang.
Sedangkan
binatang Lembu, tidak diketahui bilamana lembu mulai dipuja. Sebab pada zaman
purba agaknya Lembu tidak dipandang sebagai binatang yang suci. Tetapi sekarang
Lembu dipandang sebagai binatang yang tersuci. Segla yang keluar yang kaluar
darinya dianggap suci, bahkan kotoran dan kencingnya.
Lembu
dipandang sebagai penjelmaan dewa, dan dianggap sama dengan kasta Brahmana.
Disorga lembu mendapat penghormatan yang tertinggi, sehingga sorga Wisnu yang
tertinggi, Golaka sebenarnya disebut menurut sebutan Lembu itu. Lembu jantan,
Nandi dianggap suci juga, sebab menjadi kendaraan dewa Siwa. ( Harun Hadiwijono
Dr: Agama Hindu-Buddha: 46-47)
Perkembangan
Siva Nandi
Penanggalan secara relatif situs
Patenggeng diperkirakan sejak zaman prasejarah hingga sekitar abad ke-16. Beberapa tinggalan yang bersifat
sakral seperti arca nandi dari Kampung Selaawi, Sagalaherang, arca dari Desa
Mayang, arca ganesha dan bangunan berundak di Bukitunggul, serta tinggalan yang
ada di Gunung Tampomas memperlihatkan kuatnya latar agama Siva. Untuk keperluan
pemujaan, kadang-kadang Siva digambarkan dalam bentuk lingga. Penggambarannya
dalam bentuk lingga terkandung juga dua dewa yang lain yaitu Brahma dan Wisnu.
Sebuah linga yang lengkap adalah terdiri tiga bagian yaitu bagian bawah
berbentuk segi empat disebut Brahmabhaga sebagai lambang Brahma, bagian tengah
berbentuk segi delapan disebut Wisnubhaga sebagai lambang Wisnu, dan bagian
atas (puncak) disebut Sivabhaga sebagai lambang Siva (Rao, 1916: 79).
Pada suatu
bangunan pemujaan, lingga merupakan bagian inti dari bangunan itu. Lingga dan
yoni merupakan sentral pemujaan karena merupakan lambang dewa tertinggi Siva
dengan saktinya. Di samping itu, adakalanya ditemukan pula penggambaran atau
lambang dewa pengiringnya. Salah satu pengiring dewa Siva adalah Nandisvara
atau juga disebut Nandikesvara. Penggambaranya ada beberapa macam variasi
misalnya sebagai seekor sapi jantan, manusia berkepala sapi atau sebagai
duplikat dari Siva. Jika digambarkan dalam bentuk manusia berkepala sapi dan
sebagai duplikat Siva, disebut Adhikaranandin (Shukla, 1958: 283). Arca nandi
di Selaawi mungkin merupakan kelengkapan bangunan pemujaan. (Google: 29 Maret 2012: 20.30).
Terdapat candi lembu Nandi di komplek candi Prambanan
BalasHapus